NovelToon NovelToon
Saat Aku Memilih Pergi

Saat Aku Memilih Pergi

Status: tamat
Genre:Poligami / Tamat
Popularitas:35.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mau menunggu bunda pulang

“Siapa dia?” Ratna bergumam sambil menyaksikan Nadia masuk ke mobil mewah itu.

Tatapannya tidak lepas dari kendaraan yang perlahan menjauh meninggalkan halaman rumah. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.

“Kamu tahu siapa dia?” Raka yang ada di belakang Ratna ikut bertanya.

Ratna membalikkan badan. Hampir saja kepalanya berbenturan dengan Raka.

“Kamu ini, Mas, ngagetin aja.”

Ratna menepuk pundak Raka kesal.

Raka tidak menjawab. Pikirannya masih tertuju pada wanita yang menjemput Nadia.

“Kamu tahu siapa wanita itu?”

“Aku enggak tahu.”

Ratna menggelengkan kepala, kemudian melangkah kembali ke ruang tamu dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa.

“Siapa yang menjemput Nadia?” tanya Yuni kepada Ratna.

“Aku enggak tahu, Mah. Taksi premium mungkin.”

“Sepertinya itu teman Nadia. Kalau sopir tidak mungkin secantik itu dan bajunya berkelas seperti itu.”

“Kamu suka sama dia?”

Ratna mendengus kesal. Baru saja Nadia pergi, suaminya sudah memperhatikan wanita lain.

“Sudah, jangan bahas yang enggak penting,” Yuni menengahi mereka.

Suasana kembali hening.

Masing-masing larut dalam pikirannya sendiri.

Ratna menggigit bibir bawahnya pelan.

“Siapa dia? Jangan-jangan harta Nadia dipegang orang itu. Ini enggak bisa dibiarkan. Ayah harus tahu, biar dia cepat bergerak.”

Pikiran itu terus berputar di kepalanya.

Sementara itu, Raka duduk mematung. Hatinya terasa sesak.

Baru beberapa menit yang lalu dia resmi menceraikan Nadia.

Wanita yang selama enam tahun mendampinginya.

Wanita yang membesarkan Nanda dengan seluruh kasih sayang yang dia punya.

“Biasanya kalau di film Indosiar aku akan kena azab. Ah, enggak mungkin. Aku kan anak baik, berbakti sama orang tua. Tidak mungkin aku kena azab,” pikir Raka.

Sedangkan Yuni tampak paling tenang.

Namun justru pikirannyalah yang paling berisik.

“Ratna, kenapa kamu masih menyimpan bukti itu? Bukankah kita sudah sepakat untuk menyembunyikannya?” tanya Yuni.

“Kalian ini benar-benar licin, pandai berbohong. Nadia saja yang begitu baik bisa kalian khianati, apalagi aku.”

Ratna menjawab santai.

Mereka semua menyimpan rahasia masing-masing.

Tidak ada yang benar-benar lebih baik dari yang lain.

“Kamu keterlaluan, Ratna. Kenapa sih kamu selalu ingin menyakiti Nadia?” Raka berdecak kesal.

“Apanya yang menyakiti? Kamu yang menghamiliku, aku yang melahirkan Nanda. Aku sudah banyak berkorban untuk kamu. Kalau tidak, mana mungkin kamu punya keturunan, Mas?”

Raka terdiam.

Untuk pertama kalinya dia tidak menemukan bantahan.

“Sudahlah. Aku hanya ingin kalian menerima Nadia saat dia akan kembali ke rumah ini.”

“Mamah pikir aku mau Nadia cerai dengan Raka? Aku ini saudaranya Nadia. Mana mungkin aku mau menyaksikan rumah tanggaku berantakan?”

Ratna menjawab seolah-olah dirinya sangat peduli.

Padahal di dalam hati dia kesal bukan main.

Nadia menyerah terlalu cepat.

Padahal masih banyak hal yang ingin dia tunjukkan.

Masih banyak luka yang ingin dia goreskan.

“Sudahlah. Sekarang kita mending jemput Nanda saja,” ajak Yuni.

“Ya, sebaiknya kita jemput Nanda,” Raka menyetujui.

Tak lama kemudian mereka bertiga berangkat menuju pusat perbelanjaan tempat Nanda berada.

Sepanjang perjalanan suasana mobil terasa sunyi.

“Nadia baik sekali. Dia tidak menjelek-jelekkan kita. Nadia benar-benar menjaga pikiran Nanda agar tidak membenci kita,” Raka berkata memecah suasana sambil memegang setir.

“Ya, dia memang baik.”

Suara Yuni terdengar pelan dan serak.

“Ya, baik dan bodoh memang beda dikit.”

Tentu saja perkataan itu hanya Ratna ucapkan dalam hati.

Di permukaan, dia tetap menjadi saudara yang tampak peduli.

Tak butuh waktu lama, mereka tiba di pusat perbelanjaan.

Lampu-lampu terang menyambut kedatangan mereka.

Setelah memarkir kendaraan, Raka, Yuni, dan Ratna langsung menuju wahana Timezone.

Udara dingin dari pendingin ruangan menyapu wajah mereka.

Suara mesin permainan bercampur dengan tawa serta teriakan anak-anak yang sedang bersenang-senang.

“Itu Nanda,” ucap Yuni melihat Nanda sedang bermain bola basket.

Mereka segera menghampiri.

Mbak Tari yang melihat kedatangan mereka tampak gugup.

Wajahnya dipenuhi rasa bersalah.

“Terima kasih, Mbak Tari,” ucap Raka.

Seketika Mbak Tari mengembuskan napas lega.

“Maafkan saya, Pak.”

“Sudah, jangan dipikirkan. Kamu sudah habis berapa?”

“Pakai uang Bu Nadia, Pak. Saya enggak punya uang.”

Lagi-lagi Nadia.

Bahkan untuk mengisi saldo permainan pun Nadia sudah memikirkannya.

“Papah!”

Raka menoleh.

Nanda berlari kecil ke arahnya.

Pipi bocah itu memerah karena lelah bermain. Beberapa helai rambut menempel di pelipis yang basah oleh keringat.

“Benar kata Bunda. Kata Bunda, Papah, Omah, dan Mamah Ratna akan menemani Nanda main.”

Deg.

Hati Raka kembali terasa sesak.

Nadia memang bisa saja menanamkan kebencian pada anak itu.

Tidak ada yang akan menyalahkannya.

Namun wanita itu memilih menjaga hati Nanda.

Menjaga agar tidak  tumbuh dengan kebencian.

“Yeh, Mamah Ratna juga ada, Omah juga ada,” ucap Nanda riang. “Mau mainkan sama Nanda.”

“Iya, Omah mau main sama Nanda.”

Yuni mengelus kepala Nanda dengan penuh sayang.

“Yah, asik. Aku bisa ditemani main.”

“Yah, kamu bisa main sepuasnya dan makan apa pun yang kamu inginkan.”

Ratna berkata sambil tersenyum.

Nanda menatap Ratna penuh harap.

“Benarkah itu?”

“Tentu saja.”

“Yes!” ucap Nanda.

Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat.

Wajah mungilnya perlahan berubah muram.

“Nanti Bunda marah sama Nanda, Mah.”

Nanda mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Mencari sosok yang paling dia tunggu.

“Papah,” ucap Nanda, “ke mana Bunda?”

Pertanyaan itu membuat jantung Raka seolah diremas.

Dia sudah menyiapkan banyak jawaban.

Namun semua kata yang disusunnya mendadak menghilang.

Ratna datang mendekat dan memeluk nanda

“Bunda pergi, sayang,” bisik Ratna pada Nanda.

“Pergi ke mana, Mah?” Nanda mulai berkaca-kaca.

“Bunda marah ya?”

“Tentu saja tidak, mana mungkin Bunda marah sama Nanda?”

“Kalau ga marah, kenapa Bunda ga ada?” Suara Nanda semakin kecil semakin rapuh

“Bunda hanya pergi sebentar, nanti juga pulang.”

“Bunda kenapa pergi, Nanda nakal ya?”

“Nanda ga nakal, Bunda hanya lelah, perlu istirahat.”

“Kapan Bunda pulang?” Tatapan Nanda penuh pengharapan

“Ya nanti juga pulang,” jawab Ratna.

“Mamah ga bohong kan?”

“Mana mungkin Mamah bohong.” Ratna membelai wajah Nanda perlahan menyeka air mata yang turun

Tangis Nanda reda.

“Perlahan aku akan membuat Nanda membenci Nadia. Kalau aku langsung menjelek-jelekkan Nadia, mana mungkin dia percaya? Yang ada, dia malah membenciku. Ah, ini menarik sekali. Saat Nanda membenci Nadia, aku akan mempertemukan mereka. Aku akan menyaksikan Nadia dibenci oleh orang yang paling dia sayangi,” ucap Ratna dalam hati.

Ratna menepuk-nepuk pundak Nanda. Akhirnya, tangis Nanda reda.

“Sekarang Nanda mau makan apa? Seblak, Coca-Cola, Fanta, atau ayam geprek?”

Nanda menggeleng. “Nanda mau pulang. Mau nunggu Bunda pulang.”

Rahang Ratna mengeras. Tangannya mengepal.

Sialan kamu, Nadia,geramnya dalam hati.

Namun, di permukaan ia berkata, “Baiklah, kalau Nanda mau pulang.”

1
Talnis Marsy
semangat thor
Talnis Marsy
lho kok
nunik rahyuni
klo suami menunjukan hal2 yg diluar kebiasaan secara terus menerus itu perlu di curigai..knp g kmu selidiki..ikuti pkai taksi online kan bisa ..jgn terlalu oon..duit kan banyak..buntuti selidiki jgn mau di bodohi terus
nunik rahyuni
kebiasaandiam malah di injak injak terus ..
melawan itu perlu demi kewarasan..kesehatan mental biar g jadi orang yg lemah ...aq paling benci kli melihat orang diam kli di singgung di kata katai mkinya klo mertua yg ngatai..langsung q lawan..g ada istilah mertua julid hatus di hormati..yg ada harus dihindari biar sehat jiwa raga
Marni Marlina
lnjuut
fatmiatun sahono
heran juga ma si Nadia. dia TDK sadar apa itu muda Nanda mirip siapa krg peka sama sekitar nya ne....
Marni Marlina
lnjuut
siswati etty
lha dah tamat to.....
selamat berkarya Thor ditunggu cerita seru selanjutnya....tetap semangat Thor 💪💪
Alim
lo kok tamat thor
Anonim
Jujur aja andre biarin novi tau siapa ibu nya ,pasti novi milih nadia nanti
Suanti
semoga cepat punya baby 🤭
Suanti
ayok novi bantu papa nya tolak wanita yg mau jodoh kan jadi mama baru mu 🤭🤣🤣🤣
Alim
hah kok cepet mati thor🤭🤭🤭
siswati etty
ternyata...... dari atasnya gak benar jadinya gak benar jg seterusnya...
SOPYAN KAMALGrab
menyedihkan
Alim
apa yg trjadi
Alim
lsnjutkan thor
Inarrr Ulfah
semgat KA 💪
siswati etty
tetep semangat... ditunggu lanjutannya thor
Machmudah
semangat othor.....jd semangat jg bacanya kl upnya banyak....Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!