Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 01. Awal
...~•Happy Reading•~...
Suatu hari di halte bus dekat stasiun kereta api, duduk seorang pria muda sambil memegang belakang kepala dengan kedua tangan sambil menunduk diam. Semua orang yang lewat atau duduk di halte, hanya melihat atau melirik sekilas tanpa peduli padanya.
Menjelang sore, seorang anak lelaki yang baru pulang sekolah duduk di sampingnya untuk menunggu bus. Dia heran melihat pria itu tidak menunjukan reaksi terhadap sekitarnya. Sehingga dia memberanikan diri mendorong pelan bahunya.
Pria itu bergerak dan menggerakan kepala ke samping untuk melihatnya, tanpa mengangkat kepala. Juano terkejut melihat mata pria itu sangat merah. "Maaf, saya mengganggu, Kak." Juano jadi merasa bersalah, sebab mengira sudah membangunkan.
"Kau punya minuman?" Tanya pria itu dengan suara serak. "Punya, Kak. Tapi tinggal sedikit." Juano mengeluarkan botol minuman dari dalam tas sekolahnya.
"Boleh buat saya?" Tanya pria itu lagi.
"Kalau kakak mau minum, saya beli saja." Juano langsung berdiri dan berlari ke tempat menjual air mineral.
Kemudian dia berikan sebotol kecil air mineral dengan kedua tangan. "Terima kasih." Pria itu menerima dan langsung minum dalam sekali teguk. "Siapa namamu?" Pria itu bertanya sambil berusaha menegakan punggung.
"Juano, Kak." Entah mengapa, Juano menjawab jujur. "Saya Rafael. Terima kasih." Rafael jadi melihat berwajah polos yang sedang menatapnya.
"Kak Rafa, kalau minumnya masih kurang, ini minum punya saya lagi." Juano kembali menawarkan, karena uangnya tidak cukup untuk beli lagi.
"Boleh." Jawab Rafael singkat. Juano mengambil botol air mineral kosong di tangan Rafael, lalu menuangkan air dari botol minumannya.
"Ini Kak Rafa. Minum pelan-pelan saja." Ucapan Juano mengalir begitu saja, seiring rasa sayang yang mengalir melihat kondisi Rafael yang mengenaskan.
"Terima kasih, Juan." Rafael kembali berterima kasih setelah menghabiskan minuman.
"Kak Rafa mau kemana?" Juano memberanikan diri bertanya.
Namun pertanyaan itu bagaikan sabetan lidi yang menyentak kesadaran Rafael, hingga dia menggeleng berkali-kali.
"Juan, saya dari kampung, mau bertemu teman di sini. Tapi tidak bisa bertemu, karna ada yang ambil ranselku di kereta."
Juano agak menjauh, sebab mengira sedang dibohongi. "Kok bisa, Kak?"
"Tadi saya bangun, ransel sudah tidak ada. Semua bawaan saya ada dalam ransel itu. Jadi saya tidak bisa telpon teman...." Rafael menceritakan kejadian yang menimpanya. Sehingga dia hanya duduk di halte tanpa tahu mau ke mana.
Juano merasa yang dikatakan benar. Dia kembali mendekat. "Kak Rafa sudah lapor polisi?"
Rafael mengangguk. "Ini surat keterangan kehilangan dari stasiun." Rafael mengeluarkan lipatan kertas dari saku celana jeans. "Hanya ini yang ada."
"Jadi Kak Rafa gak ada uang?" Juano mulai mengerti keadaan Rafael.
"Iya. Saya terlalu bodo memasukan semuanya dalam ransel..." Rafael menarik nafas panjang penuh penyesalan.
"Kak Rafa mau ikut saya ke rumah?" Tawaran Juano meluncur begitu saja. Sebab dia melihat mata Rafael berwarna merah berkaca-kaca menceritakan keadaannya yang tidak punya apa-apa dan tidak punya siapa-siapa di kota yang baru didatangi.
Rafael terdiam dan melihat wajah polos tampan, siswa SMP yang duduk di sampingnya. 'Tuhan, apakah ini pertolongan-Mu padaku?' Rafael membatin.
"Juan, tinggal dengan siapa?"
"Mama, Papa dan kakak, Kak."
"Apa kau tidak dimarahi?"
"Pasti dimarahi, Kak. Saya dilarang bicara dengan orang gak dikenal..." Juano menceritakan larangan orang tua dan kakaknya.
"Tapi gak pa'pa, Kak. Dimarahi sedikit saja. Biar Kak Rafa duduk di depan rumah saya, dari pada di sini." Juano merasa kasihan meninggalkan Rafael sendiri. Dia yakin Rafael orang baik.
"Terima kasih, Juan." Rafael berdiri menggerakan kakinya yang kaku karena kelamaan duduk.
"Kak, itu ada kantor polisi. Kak Rafa lapor lagi dan kasih alamat dan telpon saya, supaya kalau ransel kakak ditemukan, bisa telpon saya." Juano menunjuk kantor polisi yang agak jauh dari halte.
"Kau sangat pintar...." Rafael terharu mendengar jalan keluar yang ditawarkan Juano.
~••
Beberapa waktu kemudian, mereka tiba di rumah Juano yang cukup luas dan bagus di pinggiran kota. Juano tidak jadi membiarkan Rafael menunggu di taman depan rumah.
"Silahkan masuk, Kak." Juano membuka pagar dan mempersilahkan Rafael masuk.
Rafael tidak jadi masuk, karena melihat rumahnya sangat sepi. "Tidak ada orang di rumah?"
"Ada Mama dan Bibi, Kak. Papa dan Kakak belum pulang kerja." Juano menjelaskan.
Rafael mengangguk dan mengikuti Juano. "Ma, Juan pulang." Teriak Juano sambil menekan bel.
Bibi yang membuka pintu, terkejut melihat Juano tidak sendiri. "Juan, Mama lagi keluar. Ini siapa?" Bibi menggerakan mata ke arah Rafael.
"Teman Juan, Bi." Bibi makin terkejut mengetahui Juano mengajak pria dewasa ke dalam rumah. Tapi dia tidak bisa mencegah.
"Bi, kami lapar. Tolong bikin mie instan dua, ya." Juano meminta tanpa bertanya kepada Rafael. Dia yakin, Rafael belum makan.
Bibi hanya bisa mengangguk lalu berjalan cepat ke dapur. "Juan, saya duduk di luar saja." Rafael merasa tidak nyaman melihat respon Bibi.
"Nanti saja, Kak. Kita makan dulu." Juano mendesak.
"Juan tidak ganti baju dulu?" Bibi tercengang melihat Juano masuk ke ruang makan masih pakai seragam sekolah.
"Nanti saja, Bi. Sudah lapar." Juano hanya meletakan tas, lalu mempersilahkan Rafael duduk.
Setelah makan, Juano mengajak Rafael masuk ke kamarnya untuk mandi dan ganti baju. "Kak Rafa, mandi. Ini pakai kaos saya yang paling besar." Apa yang dilakukan Juano membuat Rafael makin terharu.
Ketika Rafael masuk ke kamar mandi, Juano ingat kaos Papanya. Dia segera keluar menuju kamar orang tuanya. Namun dia terkejut melihat kakaknya sudah pulang kerja dan berbicara serius dengan Bibi.
"Ke sini, kau." Bentak kakaknya sambil menggerakan tangan. "Siapa yang kau ajak. Siapa?"
"Kak Laras, pelankan suaranya. Nanti Juan jelaskan." Juano meletakan jari di bibir, karena khawatir didengar Rafael.
"Tidak ada nanti. Sekarang, jelaskan. Sudah dibilang berulang kali, pergunakan isi kepalamu kalau mau lakukan sesuatu." Kakaknya mengetok kepalanya.
"Kau disuru sekolah, tapi bergaul dengan siapa?" Kakaknya memukul pantatnya dengan telapak tangan, membuat Juano mengusap pantatnya sambil menghindar.
"Kak Laras, tunggu Juan jelaskan. Juan hanya mau menolong..."
"Menolong? Kau kira dia kucing atau anjing yang bisa kau bawa pulang? Kau tidak tahu resiko bawa orang asing ke dalam rumah? Hmmm....?" Kakaknya menjewer telinganya dengan kuat.
"Sakit, Kak. Sakiiiittt..." Juano menjerit sambil memegang tangan kakaknya.
Rafael yang sudah selesai mandi, langsung melepaskan kaos Juano dan memakai kaosnya lagi, lalu segera keluar dari kamar.
Laras tercengang melihat Rafael keluar dari kamar Juano dengan rambut basah dan berantakan. "Siapa kau?" Tanya Laras dengan suara lantang. Rafael tidak menjawab, tapi menarik tangan Laras dari telinga Juano.
Laras semakin marah. "Kau berteman dengan orang dewasa?" Laras mengangkat tangan untuk memukul Juano, tetapi Rafael menarik Juano dan menghalangi pukulan Laras dengan punggungnya.
"Pukul saja saya. Jangan sakiti Juan. Dia tidak salah." Rafael melindungi Juano sambil mengusap telinganya yang memerah.
...~•••~...
...~•○♡○•~...