NovelToon NovelToon
Dijodohkan Dengan Presdir Arogan

Dijodohkan Dengan Presdir Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Karina Dyah Pramesti, it-girl global sekaligus putri kandung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, harus menelan pahitnya kehancuran karier di Korea Selatan akibat skandal politik yang menjebaknya.
-
Dipulangkan paksa ke tanah air, Karina tidak punya pilihan selain tunduk pada misi terakhir ayahnya: Pernikahan Politik.
Demi menyatukan kekuatan militer dan supremasi ekonomi, Karina dijodohkan dengan Darma Mangkuluhur, pewaris klan Cendana yang dingin dan ambisius. Di tengah kemewahan yang menyesakkan dan intrik kekuasaan antara dua keluarga raksasa, Karina harus memutuskan—menjadi bidak catur yang pasrah, atau bangkit menjadi penguasa baru untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan impiannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 32

***

Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden sutra di kamar utama mansion Menteng, membawa kehangatan yang kontras dengan suasana sunyi di dalam ruangan. Karina perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa pening yang berputar di kepalanya, diikuti oleh rasa nyeri yang luar biasa menjalar dari pinggang hingga ke seluruh kaki jenjangnya.

Ia mencoba bergerak, namun lengan kokoh Darma masih melingkar protektif di perutnya, seolah mengunci keberadaannya bahkan dalam tidur. Karina mendesis pelan.

Ingatannya tentang semalam kembali berputar bagaimana ia mencoba memimpin namun berakhir dihancurkan tanpa ampun oleh stamina sang suami yang di luar akal sehat.

Tiba-tiba, sebuah gelombang mual yang hebat menghantam ulu hatinya.

"Ughhh..."

Kesadaran Karina mendadak naik seratus persen. Dengan gerakan panik, ia menghempaskan tangan Darma yang biasanya seberat beban olahraga dan mencoba bangkit dari ranjang. Namun, begitu kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin, dunianya berputar.

Bruk!

Tubuh Karina terasa seperti jeli tak bertulang. Ia jatuh terduduk di atas marmer dingin, tanpa sehelai benang pun, dengan rambut hitam panjang yang menutupi bahunya.

"Karina?" Suara berat dan serak khas bangun tidur Darma terdengar seketika. Darma langsung terduduk tegak di ranjang, matanya yang tajam langsung menangkap sosok istrinya yang gemetar di lantai. "Kamu kenapa?"

Darma langsung melompat turun dari ranjang, mengabaikan fakta bahwa ia juga belum mengenakan pakaian. Ia berlutut di samping Karina, wajahnya yang biasanya sedingin es kini memancarkan kecemasan yang nyata.

"Huek... aku mual banget, Mas... tapi kaki aku lemas, nggak bisa berdiri," bisik Karina dengan wajah pucat pasi. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena rasa mual yang menekan dadanya.

"Kenapa tidak bangunkan saya?" tanya Darma, suaranya merendah. Ada nada menyesal yang terselip di sana saat melihat kondisi istrinya yang memprihatinkan.

"Ck... huek... heukk..." Karina tidak sanggup lagi menjawab. Ia hanya bisa memegangi perutnya yang terasa diaduk-aduk.

Tanpa membuang waktu, Darma mengangkat tubuh mungil Karina ke dalam gendongannya. Ia membawa istrinya itu ke kamar mandi mewah mereka. Di sana, Karina hanya memuntahkan cairan bening karena memang sedari kemarin ia hanya mengonsumsi es krim matcha tanpa nasi sebutir pun.

Darma memijat tengkuk Karina dengan lembut, sebuah perhatian yang sangat jarang ia tunjukkan. "Kamu kenapa? Apa es krim kemarin itu sudah kedaluwarsa?"

"Kayanya masuk angin aja deh, Mas... gara-gara semalam kita nggak pakai selimut dan Mas... Mas terlalu lama..." keluh Karina dengan suara parau setelah mencuci mulutnya.

Darma terdiam. Ia menatap jejak-jejak kemerah-merahan di leher dan bahu Karina yang merupakan hasil karyanya semalam. "Maaf. Saya sepertinya memang terlalu berlebihan semalam. Sekarang, saya siapkan air hangat. Kamu harus berendam supaya ototmu rileks."

"Makasih, Mas," sahut Karina lemas.

Pagi itu, tidak ada gairah. Hanya ada Darma yang dengan telaten membantu Karina berendam di bathtub besar mereka. Darma ikut masuk ke dalam air hangat, namun kali ini ia hanya menjadi sandaran bagi tubuh lemas Karina. Ia membiarkan Karina memejamkan mata di dadanya, sementara tangannya perlahan memijat kaki istrinya yang kaku.

**

Siang harinya, atmosfer di mansion Menteng yang biasanya tenang mendadak berubah menjadi mencekam. Karina, yang sedari pagi merasa tubuhnya limbung, mencoba memaksakan diri untuk turun ke lantai bawah. Namun, baru saja ia mencapai anak tangga teratas, pandangannya menggelap secara total. Dunianya berputar, dan tubuh mungilnya jatuh terkulai, berguling di anak tangga sebelum akhirnya tergeletak tak berdaya di lantai marmer yang dingin.

"Ibu! Ibu Karina!" teriak salah satu pelayan yang histeris melihat nyonya rumahnya tak sadarkan diri.

Darma, yang saat itu sedang berada di ruang kerjanya untuk persiapan rapat penting, langsung berlari keluar. Jantungnya berdegup kencang saat melihat Karina terbaring diam dengan wajah sepucat salju. Tanpa sepatah kata pun, Darma mengangkat Karina kembali ke kamar, wajahnya mengeras, menyembunyikan badai kepanikan yang jarang ia rasakan.

"Batalkan seluruh rapat. Kosongkan jadwal saya hari ini. Hubungi Iqbal sekarang!" perintahnya dengan nada otoriter yang tak terbantahkan.

Satu jam kemudian, Iqbal sang dokter pribadi sekaligus sahabat Darma masuk ke dalam kamar utama dengan langkah yang awalnya santai. Namun, begitu ia melihat Karina yang terbaring kaku di bawah selimut, wajah Iqbal langsung menegang. Sebagai penggemar berat Karina sejak masa Global Idol, melihat sang Permaisuri dalam keadaan menyedihkan seperti itu membuatnya ingin marah.

Iqbal melirik Darma yang berdiri mematung di sudut ruangan dengan tangan bersedekap, menatap tajam ke arah ranjang.

"Dar... gila lo ya? Ini bini lo, bukan samsak tinju!" ucap Iqbal dengan nada dramatis yang sarat akan amarah. "Lo apain si Karina sampe dia pingsan nggak sadarkan diri begini? Lihat kulitnya, lihat wajahnya! Ini sih namanya penyiksaan terhadap aset negara, Dar!"

"Cukup, Iqbal. Diam dan lakukan saja tugasmu," sahut Darma dingin. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, jemari Darma sedikit bergetar. "Dia pingsan di tangga. Periksa semuanya."

"Ck, ancemannya selalu pake muka kaku. Dasar old money nggak punya hati," gerutu Iqbal sambil mulai mengeluarkan stetoskop dan alat pemeriksanya.

Iqbal melakukan pemeriksaan fisik dengan sangat teliti. Ia mengecek denyut nadi, pupil mata, dan melakukan pengambilan sampel darah cepat. Selama proses itu, Darma hanya diam, matanya tak lepas dari wajah Karina yang masih terpejam. Di dalam benaknya, Darma sibuk menghitung risiko—apakah ini kelelahan karena "aktivitas" mereka semalam, atau ada penyakit lain yang bisa mengganggu stabilitas aliansi mereka.

Tiba-tiba, Iqbal menghentikan gerakannya. Ia menatap alat tes kecil di tangannya dengan mata membelalak. Ia menoleh ke arah Darma dengan ekspresi yang sangat sulit dijelaskan campuran antara takjub, ngeri, dan bingung.

"Kenapa? Dia cuma kelelahan, kan?" tanya Darma, melangkah maju satu tindak.

Iqbal menarik napas panjang, meletakkan alatnya, dan menatap Darma tepat di mata. "Dar, lo dengerin gue baik-baik. Karina pingsan, mual, dan lemas total bukan cuma karena lo gempur habis-habisan semalam. Tapi karena ada nyawa lain yang tumbuh di perutnya."

Darma mengerutkan kening, otaknya yang biasanya memproses strategi bisnis triliunan rupiah mendadak stuck. "Maksudmu?"

"Karina hamil, Dar! Dia mengandung darah daging lo!" seru Iqbal.

Suasana kamar mendadak sunyi senyap. Darma terdiam seribu bahasa. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa dunianya terhenti.

Hamil?

Di dalam hati Darma, terjadi pergulatan yang hebat. Senang? Mungkin ada secuil rasa bangga sebagai pria. Sedih? Ia merasa terbebani. Hatinya masih sekeras batu. Baginya, Karina adalah mitra kontrak, wanita yang ia nikahi demi proyek energi dan kekuatan militer Jenderal Agus. Tidak ada cinta di dalam dokumen yang mereka tanda tangani. Hadirnya seorang anak bukanlah bagian dari rencana. Ini adalah variabel liar yang bisa merusak segala hitungan logikanya.

"Bagaimana mungkin..." bisik Darma pelan.

"Mungkin bangetlah! Lo pikir lo robot yang nggak punya benih?" semprot Iqbal kesal.

"Pak Darma yang terhormat, Anda harus memperhatikan kapasitas ranjang Anda mulai sekarang. Ini masih trimester awal, sangat rawan. Kalau lo nggak bisa ngerem stamina lo yang kayak kuda liar itu, mending lo tidur di halaman depan! Karina pingsan karena tubuhnya belum siap menerima beban ganda ditambah 'serangan' lo yang nggak masuk akal itu!"

Iqbal merapikan alat-alatnya dengan gusar. "Gue peringatin lo ya, Dar. Gue aduin lo ke fanbase internasional Karina, habis lo dihujat satu dunia karena bikin idola mereka pingsan tak sadarkan diri pas lagi hamil!"

"Diam, Iqbal. Keluar kamu," perintah Darma dengan suara rendah namun tajam.

Setelah Iqbal keluar, Darma melangkah perlahan menuju ranjang. Ia menatap wajah Karina yang mulai menunjukkan sedikit pergerakan di kelopak matanya. Darma duduk di tepi ranjang, menatap perut Karina yang masih rata.

"Mas..." Suara lemah Karina terdengar saat matanya perlahan terbuka. Ia menatap langit-langit kamar dengan bingung sebelum matanya tertuju pada Darma. "Aku... aku kenapa? Tadi semuanya gelap."

Darma meraih tangan Karina, namun pegangannya terasa kaku. "Kamu pingsan di tangga."

"Maaf... aku lemas sekali, Mas," Karina mencoba bangun, namun Darma menahannya.

"Diamlah. Ada sesuatu yang harus kamu tahu," Darma menjeda kalimatnya, matanya menatap Karina dengan tatapan yang sulit diartikan—dingin namun ada secercah

kecemasan. "Iqbal bilang... kamu hamil."

Karina tertegun. Matanya membelalak, mulutnya sedikit terbuka namun tak ada suara yang keluar. "Hamil?" bisiknya gemetar.

"Tapi... Mas, kontrak kita... perjanjian pernikahan kita membahas soal anak hanya. Mas sendiri yang bilang kita hanya butuh aliansi."

Darma menghela napas panjang, ia membuang muka sejenak. "Saya tahu. Ini di luar rencana."

Hati Karina mencelos melihat reaksi dingin Darma. Ia tahu suaminya tidak mencintainya. Ia tahu pernikahan ini hanyalah transaksi. Tapi mendengar Darma menyebut kehadiran janin ini sebagai di luar rencana membuatnya merasa sangat kecil.

"Lalu... Mas ingin aku bagaimana?" tanya Karina dengan suara yang mulai serak, menahan tangis.

Darma menatap Karina kembali. Melihat mata istrinya yang berkaca-kaca, ada sesuatu yang berdenyut di dada Darma rasa yang asing dan tidak logis. Ia menarik Karina ke dalam pelukannya secara perlahan, meski gerakannya masih terasa canggung karena egonya yang setinggi langit.

"Kontrak itu... biarlah tetap jadi kontrak. Tapi anak ini adalah darah daging Hutomo," ucap Darma pelan di telinga Karina. "Lupakan soal strategi untuk saat ini. Kamu cukup diam dan jaga kesehatanmu."

"Tapi Mas tidak senang, kan?" tanya Karina lirih di dada Darma.

Darma terdiam. Ia tidak bisa berbohong bahwa ia senang, tapi ia juga tidak bisa bilang ia sedih. "Saya... saya hanya bingung. Tapi saya akan pastikan tidak ada yang menyentuhmu. Termasuk rencana Papa kamu yang mungkin akan memanfaatkan situasi ini."

Karina menyandarkan kepalanya, merasa hatinya sedikit sakit. Di rumah semegah ini, ia merasa memiliki segalanya, namun tetap merasa kosong karena pria yang memeluknya memiliki hati yang sekeras batu.

"Mas... aku pengen es krim matcha," gumam Karina tiba-tiba, mencoba mengalihkan rasa sesak di dadanya.

Darma sedikit menjauhkan tubuhnya, menatap Karina dengan kening berkerut. "Kamu baru saja pingsan tak sadarkan diri, dan yang kamu minta adalah es krim?"

"Matcha bisa bikin aku tenang," sahut Karina manja, meski matanya masih merah.

Darma menghela napas, namun sudut bibirnya sedikit berkedut—hampir membentuk senyuman kecil. "Saya akan beli pabriknya kalau perlu. Tapi kamu harus makan nasi setelah itu. Untuk aset Hutomo di dalam perutmu, dan untuk dirimu sendiri."

Di balik kedinginannya, Darma sadar bahwa mulai hari ini, "investasi"-nya telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit daripada sekadar angka di atas kertas.

Bersambung...

1
aku
karina megang lengannya darma, tangan kanan darma melingkari pinggang karina. aku blm nemu gambarannya 😭😭
Tika maya Sari
kak update yg banyak* 🤣
Heresnanaa_: stay tune ya kak 😚❤️
total 1 replies
Nessa
sokooooooorrrrrrr
aku
makan tuh ego! 😌
aku
next 😁
Tika maya Sari
di tunggu kelanjutan nya kak
Nessa
👍🏻👍🏻
aku
udah pak gk usah puyeng. udh terkabul tuh mau mu.
mbk karin keren. pkirin diri sm calon debay aja mbk. yg lain biarin. 😁
olyv
jiaaaahhhhh.....otewe darma junior 😍
Nessa
wah setelah ini ayin pasti hamil 😄
Ivy
darma cembokur nih yee 🤭
Ivy
darma 😤😤😤
Ivy
😭😭😭🤣🤣🤣🤣nantangin
olyv
hareudang euy 🤭🤪
olyv
gaassslah ayin 🤭😂
Ivy
humm angel 🤔 ulet² Keket kah
Ivy
gemushhh bangett 🥰🥰🥰
olyv
astgaa kamu main api salah orang angel 😂
olyv
sukses darma bikin karina cemburu 😂😂
olyv
🤣 niceeeeeee.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!