Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.
Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.
Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Fania memutuskan untuk kembali memejamkan matanya, karena masih ingin lebih lama merasakan kenyamanan yang suaminya berikan. Hingga pada akhirnya, Ronald yang terlebih dahulu bangun dan bersiap untuk bekerja.
Saat Ronald berada di ruang makan, menikmati sarapannya. Tampak Fania mendekat ke arahnya, mendudukkan diri dan ikut sarapan di sampingnya. Tak ada yang membuka suara diantara keduanya, hingga keheningan yang melanda mereka. Hanya suara denting sendok dan garpu yang mengisi keheningan itu.
Ronald bangkit terlebih dahulu, karena sudah menyelesaikan sarapannya lebih dulu. Tangannya terulur memberikan kunci mobil milik Fania yang memang selama ini dirinya yang menyimpan semua kunci kendaraan.
Sementara Fania menatap heran ke arah Ronald, dengan tatapan matanya ia berusaha bertanya apa yang Ronald maksudkan dengan memberikan kunci mobil miliknya.
“Carilah bahagiamu, anggap kita hanyalah dua orang asing sesuai keinginanmu.” Jelas Ronald dengan nada dinginnya, tak ada lagi kehangatan di sana, suaminya telah berubah.
Ronald berlalu, meninggalkan Fania yang masih termangu. Lagi, ada perasaan hampa yang menggerayangi hatinya. Namun disisi lain, entah mengapa ia merasakan kebebasan itu. Ia merasa bebas melakukan apapun, seolah tak akan ada lagi belenggu yang mengikatnya.
Fania memutuskan untuk segera menyelesaikan sarapannya, kemudian berangkat ke kantornya. Ia ingin merayakan hari ini, entah hari apa ia menyebutnya. Namun ia ingin merayakan kebebasan ini, bersama teman-temannya.
Seperti apa yang Fania rencanakan, ia benar-benar merayakan kebebasannya mulai hari ini. Tanpa sadar ia telah menyakiti perasaan suaminya dengan begitu dalam. Dibalik itu semua, nyatanya Ronald masih terus memantau segala kegiatan istrinya. Dan ia mengetahui bagaimana bahagianya istrinya saat ini, setelah ia membebaskan wanita itu.
***
Sementara Ronald, saat ini ia yang seharusnya sibuk dengan pekerjaannya. Justru tampak menahan rasa perih dan sesaknya melihat hasil laporan tangan kanannya yang selama ini selalu mengawasi istrinya.
“Apa kau sedang bertengkar dengan istrimu, Bos?” tanya asisten pribadi Ronald, yang memang memiliki hubungan akrab dengan atasannya itu.
Ronald menggeleng pelan. “Aku ingin bertanya padamu, aku hanya penasaran. Apa seseorang yang sudah terikat dalam pernikahan bisa kehilangan rasa pada pasangannya.”
Asistennya yang bernama Mark itu, terdiam sejenak terlihat berpikir. “Hm aku rasa itu mungkin saja, Bos. Hanya saja kebanyakan orang tak menunjukkan secara langsung pada pasangannya, hingga mereka saling tak mengetahui. Kemungkinan mereka menghindari konflik dan pertengkaran, jadi tak perlu jujur pada pasangan yang dinikahinya.” Ujar Mark, hingga ia tersentak saat pemikiran lain muncul dalam benaknya.
“Bos, apa kau sedang bosan dengan istrimu hingga mempertanyakan hal itu?” todong Mark yang menatap atasannya itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
“Ck bukan urusanmu” jawab Ronald dengan nada datarnya.
Jawaban itu membuat Mark memutar bola matanya malas, untuk apa bertanya padanya kalau atasannya itu tak mau terbuka padanya. “Ayolah, Bos siapa tau aku bisa membantumu. Mungkin kau bukan bosan dengan istrimu, hanya butuh suasana berbeda saja. Ah bisa dikatakan kalau kau bukan bosan dengan orangnya tapi bosan dengan situasinya yang monoton.” Jelas Mark demi memancing atasannya untuk mau membuka topik itu dan jujur padanya.
Bagaimana pun, Mark merasa ingin membantu permasalahan atasannya itu jika memang dibutuhkan. Namun jika atasannya itu masih ingin merahasiakan darinya, tak masalah juga. Namun rasanya aneh, karena selama ini apapun urusan Ronald, pria itu selalu meminta bantuannya untuk diurus.
***
Sebulan berlalu, Fania benar-benar merayakan kebebasannya. Tak ada lagi suaminya yang setiap detik mengganggunya untuk menanyakan kabar atau memintanya mengirim foto dimanapun dirinya berada. Rasanya hidup Fania benar-benar damai dan tak lagi terikat apapun.
“Fan, apa Ronald tak menerormu karena sudah lebih tiga minggu di sini?” tanya Chaerlina, yang merupakan sahabat Fania.
Saat ini mereka memang sedang berlibur bersama ke luar negeri. Dan tentu saja Fania tidak bersusah payah meminta izin Ronald seperti biasanya, ia hanya memberitahu dan pria itu juga terlihat biasa saja.
Fania menggeleng pelan, kemudian tersenyum lebar. “Kita bebas mau kemana pun.” Ujar Fania dengan tertawa, ia sebahagia itu terbebas dari segala aturan ketat Ronald selama ini. Namun itu menjadi tanda tanya besar untuk Chaerlina karena tak biasanya suami dari sahabatnya sesantai itu. Chaerlina memang tak mengetahui apapun tentang masalah rumah tangga keduanya.
“Fan, apa kau tak curiga. Kalau Ronald selama ini begitu ketat padamu, sementara kini dia terlihat membiarkanmu. Apa kau tak curiga dia memiliki wanita lain di luar sana?” tanya Chaerlina sesuai asumsi dalam benaknya.
Fania terdiam sejenak, perkataan Chaerlina memang masuk akal. Namun jika memang keadaan mereka baik-baik saja sebelumnya. Karena semua ini memang permintaannya pada Ronald, jadi kalau Ronald tak lagi mengganggunya itu karena kesepakatan mereka. Ia dan Ronald memang sepakat menjalani kehidupan masing-masing layaknya orang asing, sampai perasaan cintanya untuk Ronald kembali.
“Jangan salah paham, Ronald tak akan seperti itu” ujar Fania dengan yakin, karena ia mengetahui seberapa besar perasaan Ronald untuk dirinya. Dan suaminya tak mungkin akan mengkhianatinya.
Chaerlina tertawa sinis. “Hei, apa yang membuatmu yakin? Semua pria itu sama saja, saat yang dia butuhkan tak ada didekatnya, apa yang harus mereka lakukan? Apa kau yakin, suamimu akan diam saja? Kalau biasanya dia akan menyusul dan memaksamu pulang. Sementara sekarang tidak. Apa kira-kira yang akan pria lakukan hm?” tanya Chaerlina dengan sarkas menatap sinis Fania.
Chaerlina hanya ingin sahabatnya berpikir dengan rasional, tidak hanya mengikuti hatinya yang terlalu yakin pada Ronald. Dan Chaerlina berhasil, Fania terlihat diam dan tampak murung.
Sepertinya wanita itu tengah memikirkan apa yang temannya itu katakan. Namun itu hanya berlaku sebentar, karena setelahnya Fania terlihat tersenyum tipis dan menarik tangan Chaerlina untuk kembali menikmati pantai yang saat ini mereka kunjungi.
Membuat Chaerlina tercengang. “Are you crazy? Kau benar-benar tak masalah dengan sikap suamimu?” tanyanya tak percaya.
Fania menggeleng pelan. “Enough, kita nikmati liburan kita oke. Tak perlu mengkhawatirkan apapun” ujar Fania dengan nada peringatan. Ia hanya ingin menikmati waktu bebasnya kali ini, tak ingin memikirkan hal apapun terkait Ronald, suaminya.
Setelah selesai menikmati keseruan mereka di salah satu pantai yang berada di negara yang mereka kunjungi. Keduanya memutuskan kembali ke penginapan mereka.
Saat keduanya bersiap untuk mengistirahatkan tubuh, suara Chaerlina memecah keheningan mereka.
“Fan, apa sebenarnya kau tau Ronald memiliki wanita lain?” tanyanya dengan wajah penasaran.
Sontak pertanyaan Chaerlina membuat Fania tersentak. Hei, jangankan wanita lain rasanya Ronald tak akan mungkin melirik wanita manapun karena sudah merasa cukup dengan dirinya. Namun itu hanya mampu ia ucapkan dalam hatinya saja. Karena ia tak ingin sampai sahabatnya mengetahui permasalahan yang sebenarnya.
NEXT .......