NovelToon NovelToon
Cinta Posesif Arlan

Cinta Posesif Arlan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dark Romance / Posesif
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Voyager

"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari bayanganku, Mika. Karena sedetik saja kamu menghilang, aku akan pastikan dunia ini mencarimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."

Mikaela siswi SMA cantik dari keluarga yang biasa. Suatu malam mengubah segalanya. Menyaksikan dan bertemu dengan Arlan Gavriel—pria berkuasa di Kota Glazy, menghabisi nyawa seseorang dan membuatnya menjadi tawanan yang harus dimiliki Arlan sepenuhnya. Terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan, perlahan ada rasa tumbuh di benak Mika setelah mengetahui sisi lain dari Arlan. Arlan adalah monster berdarah dingin, tapi juga penyelamat bagi Mika.

Ada apa dengan Mika dan Arlan? Kenapa Arlan membuatnya sebagai Tawanan? Apakah hanya karena melihat kejadian malam itu? Atau ada sesuatu yang harus Mika bayar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Voyager, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lepas Sesaat

“Ampun, Tuan!”

Rintihan seorang pria terdengar dari sudut Kota Glazy. Pria itu bersujud di hadapan seorang pria bertubuh tegap dan berotot. Di depannya, sebuah pistol telah diarahkan tepat ke kepalanya.

“Tolong, ampuni saya, Tuan. Saya janji nggak bakal ngelakuin hal itu lagi. Saya mohon!”

Dor!

Pistol berbunyi nyaring. Pria itu langsung tersungkur bersimbah darah.

“Kirim mayat ini ke rumahnya!” perintah pria itu.

“Siap, Bos!”

Tak lama kemudian, terdengar suara dari arah semak-semak. Sebuah jeritan yang terdengar sangat jelas.

“Siapa di sana!” teriak seorang pengawal. “Bos, kayaknya ada orang yang ngintip kita!”

“Cari dia! Bawa ke hadapanku!”

Sementara itu, di balik semak-semak, seorang perempuan berseragam sekolah menunduk dan merangkak menjauh. Napasnya tersengal-sengal, jantungnya berdetak kencang tanpa henti.

“Astaga … aku barusan lihat apaan?” bisiknya sambil terus merangkak. “Kalau aku nggak cepet cabut dari sini, bisa-bisa nyawaku ikut melayang!”

Wanita itu adalah Mikaela Wijaya, biasanya orang memanggilnya Mika. Mika hidup dengan Ayah dan dua saudara tirinya. Ia adalah siswi akhir SMA Negeri Internasional. Meski hidupnya pas-pasan, ia bisa masuk SMA bergensi itu dari jalur prestasi.

Mika anak yang supel, ramah, dan cantik. Tapi ia juga memiliki panyakit Anxiety, penyakit yang telah lama ia rasakan sejak ibunya meninggal dalam sebuah kecelakaan.

Meskipun Mika cantik dan pintar namun, Kecantikkan dan kepintarannya itu tidak membuatnya menjadi idaman pria, bahkan sekedar teman pun, ia tidak punya. Di antara siswa-siswi di sekolah elit, Mika bukan level bagi mereka.

“Bos, kami nggak nemuin orang itu, tapi kayaknya dia anak sekolah. Kami nemuin ini di semak-semak!”

Pengawal itu menyerahkan sebuah bet nama. Pada bet tersebut terdapat lambang sekolah.

“Selidiki nama ini dan sekolahnya,” ujar pria itu datar. “Jangan sampai dia sempat bernapas lega.”

Sementara itu, Mika berhasil lolos dari pencarian. Ia memilih jalan memutar dari rute biasanya.

“Huff ... hampir aja aku ketahuan. Kalau sampai ketangkap, habis aku,” gumamnya pelan.

“Tapi siapa pria itu, ya? Dari postur badannya ... kayak pernah lihat. Ah, sudahlah. Nggak usah dipikirin,” lanjutnya.

Perjalanan itu memakan waktu cukup lama. Jalanan gelap semakin mencekam, membuat bulu kuduk Mika berdiri. Ia berlari kencang sampai tak sadar menabrak seseorang bertubuh besar.

Dug.

“Aduh!” Mika tersungkur. “Maaf! Aku nggak sengaja!”

“Jalan pakai mata atau cuma numpang lewat?” Suara pria itu rendah, dingin, dan berat. “Atau kamu memang pengin nyari masalah?”

Mika bangkit perlahan. Tanpa menatap wajah pria itu, ia membalas, “Aku udah minta maaf. Nggak perlu ngomong kayak gitu juga, ’kan?”

Beberapa pria lain bergerak maju. Dalam sekejap, Mika ditarik paksa hingga berdiri tegak. Pegangan mereka membuat lengannya nyeri.

“Kamu sadar nggak sama siapa kamu lagi ngomong?” desis salah satu pengawal.

“Aduh, lepasin!” Mika memberontak. “Aku nggak takut! Orang kayak gini cuma berani sama yang lemah!”

Pria itu melangkah mendekat. Jarak mereka kini sangat dekat. Ia mencengkeram dagu Mika, memaksanya menatap lurus.

“Dengar baik-baik,” katanya pelan, tapi menusuk. “Di dunia ini, orang yang terlalu berani biasanya mati paling cepat.”

Napas Mika tercekat.

“Satu teriakan aja dari kamu,” lanjut pria itu, “dan besok keluargamu nerima kabar duka. Paham?”

“Bos?” tanya para pengawal, menunggu perintah.

Pria itu terdiam sejenak, lalu melepaskan Mika dengan kasar.

“Lepasin dia.” Tatapannya masih mengunci Mika. “Hari ini kamu selamat. Tapi jangan harap keberuntunganmu panjang.”

Para pengawal mundur dan melepaskan Mika. Mereka segera pergi, meninggalkan suasana sunyi yang menyesakkan.

Mika terduduk lemas. Tangannya gemetar saat membetulkan kacamatanya. Dari kejauhan, ia hanya melihat punggung pria itu—tinggi, tegap, dan membawa ancaman.

“Siapa sih, dia?” hati Mika bertanya-tanya. “Ah, sudahlah. Lebih baik aku pulang secepatnya.”

Tiga puluh menit kemudian, Mika sampai di rumah. Belum sempat ia meletakkan tas sekolahnya, ia sudah dihadang oleh pertanyaan yang menohok.

“Heh, anak jelek, dari mana aja jam segini baru pulang?!” hardik Barra.

Mika menghela napas panjang. Matanya berputar malas, seolah enggan menjawab pertanyaan saudara tirinya itu.

“Heh, budek! Aku nanya, dari mana aja jam segini baru pulang? Kamu nggak lihat itu jam berapa?!”

Mika memutar tubuhnya. Ekspresinya dingin, penuh kebencian.

“Ya, aku kerja. Biar bisa berguna di rumah ini. Biar bisa ngidupin manusia-manusia kayak kalian semua. Biar kalian nggak mati kelaparan. Paham!” balas Mika ketus.

Ketika tangan itu melayang menuju pipi Mika, sebuah tangan besar segera menghalanginya.

“Ngapain kamu, Barra?”

“Dia ini harus dikasih pelajaran, Yah! Biar nggak kurang ajar!” jawab Barra dengan murka.

“Aduh, satu manusia lagi datang,” bisik Mika lirih.

Pria itu adalah ayahnya, Samuel Wijaya—orang yang paling tidak menyayangi Mika layaknya anak kandung.

“Mika, kamu kerja, tapi kenapa pulangnya sampai larut malam?” tanyanya dengan nada pura-pura lembut.

Mika tidak menjawab. Ia justru langsung merogoh tas sekolahnya, lalu mengeluarkan segepok uang seratus ribuan dan menyerahkannya.

“Nggak usah ribut. Ini gaji bulan ini. Ada potongan, tapi nggak seberapa,” ucap Mika ketus.

“Sama satu lagi, nggak perlu pura-pura manis ngomong sama aku.”

Setelah itu, Mika langsung pergi meninggalkan mereka.

Samuel menahan emosinya. Namun, Mika tahu betul—ayahnya hanya memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan rumah, dirinya sendiri, dan dua anak tirinya. Samuel dulunya seorang pebisnis, tetapi bangkrut karena utang besar yang tak pernah terlunasi. Sejak itu, Mika hanya dijadikan mesin uang berjalan.

Bruak!

Pintu kamar dibanting keras. Mika menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur, melepaskan semua beban yang menindih dadanya.

“Andai Mama masih ada,” bisiknya lirih.

Setelah beberapa saat meregangkan otot-otot yang kaku, Mika beranjak untuk membersihkan diri. Saat hendak membuka seragam sekolahnya, ia baru menyadari sesuatu.

“Astaga ... bet-ku mana?”

Wajahnya langsung menegang.

“Apa jatuh pas aku nabrak pria songong itu? Atau—”

Ekspresi Mika berubah drastis. Panik langsung melanda. Tubuhnya mendadak dingin, napasnya tersengal. Asmanya kambuh, disusul serangan anxiety. Keringat dingin mengalir tanpa bisa ia tahan.

“Aku jatuhin bet-ku pas kejadian itu,” gumamnya pelan.

Mika mondar-mandir, berusaha menguasai diri.

“Mika, tenangin diri kamu. Tenang ...."

Ia duduk perlahan. Kakinya gemetar hebat. Lima belas menit penuh perjuangan akhirnya membuat napasnya mulai teratur. Setelah itu, Mika pergi mandi dan tertidur pulas karena kelelahan.

Keesokan paginya, sebelum semua orang terbangun, Mika sudah menyiapkan sarapan dan membersihkan rumah. Ia mengambil sepotong roti dan memakannya di perjalanan menuju sekolah.

Namun, saat sampai di sekolah, suasananya terasa aneh. Para siswa mondar-mandir dengan wajah panik.

“Heh, ada apa?” tanya Mika.

“Itu, loh! Orang kaya yang berkuasa di kota ini mau datang ke sekolah!” jawab seorang siswa dengan suara cemas.

Mika mengerutkan kening. “Siapa?”

“Arlan Gavriel!” Siswa itu menunjuk selembar kertas di papan mading.

Saat melihat kertas itu, jantung Mika seakan berhenti berdetak.

“Di—dia ...." Napasnya tercekat. “Pria itu.”

1
Moon
ak jdi mika langsung ku tonjok itu
Voyager: sabar bro jangan emosi ah, nggak jelas kali kau. ayo serbu yang di sebelah
total 1 replies
Moon
model!????
Moon
entah kenapa Arlan ini aku bingung sama sifatnya. lanjut Thor. apa nanti si Mika ketemu lagi dg Arlan ? soalnya Arlan itu kn sangat berkuasa! eh iya Thor sepertinya belum di Spil perlkerjaab Arlan pngen tau
Moon
hm, knp ya orang kyak Mika gini selalu digituin dlm novel cba Thor karakter Mika jadi tangguh aj gtu biar nggk di tindas orang. sih Kamalia juga cewek lenje 😤😤😤
Moon: haha GG bxa sbr ak. tau NDRI kesabaranku setipis tisu
total 2 replies
cleo lara91
lanjut lg dong kak , seruu😍
Moon
Rekomendasi banget ini cerita. tokoh pria bikin mengubah emosi pembaca, greget, sifatnya bener" bikin geleng kepala. tokoh wanita pun bikin kita iba, apalagi ketika penyakitnya kambuh. oh ya keluarga tokoh wanita ih bikin emosi parah apalagi dengan saudara tiri yang mokondo
Moon
up 5 bab sehari thor
Voyager: busett haha nanti ya. ayo nulis juga
total 1 replies
Voyager
Arlan gila. anak SMA dibuat nggak berkutik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!