Menikah dengan Aris (28 tahun), seorang bos pertambangan yang wajahnya setampan aktor film tapi sedingin es di kutub utara, seharusnya membuat hidup Maya (24 tahun) tenang. Namun, pindah ke rumah mewah di pinggiran kota justru menjadi awal dari kegilaan hidupnya.
Aris itu aneh. Dia posesifnya bukan main, tapi bukan ke sesama manusia. Dia melarang Maya keluar rumah lewat magrib bukan karena cemburu, tapi karena takut Maya "disapa" oleh penghuni pohon kamboja depan rumah. Dia memasang CCTV di setiap sudut, bukan untuk maling, tapi untuk memantau pergerakan bayangan putih yang hobi duduk di ruang tamu mereka.
Maya yang aslinya penakut tapi hobi ngelawak dan hobi menebar gombalan "maut" ke suaminya yang kaku itu, mulai merasa ada yang tidak beres. Apalagi para tetangga—Geng Gibah Bu RT—mulai nyinyir. Mereka bilang Maya itu tumbal pesugihan Aris karena Aris kaya raya tapi istrinya seperti dikurung di istana berhantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dekapan yang hangat 18+
Pagi itu, meski lukanya belum kering benar, Aris sudah sibuk di ruang kerjanya yang kedap suara. Ia tidak pergi ke kantor tambang.
Baginya, ancaman di dalam rumah jauh lebih mendesak daripada urusan batu bara di luar sana.
Maya membawakan secangkir teh hangat, namun langkahnya terhenti di ambang pintu. Ia melihat Aris sedang menatap sebuah benda di atas meja: sebuah bungkusan kain kafan kecil yang sudah kotor terkena tanah, berisi potongan kuku, rambut, dan jarum karatan.
"Mas... itu apa?" suara Maya bergetar.
Aris menoleh, kilat matanya tajam dan gelap. Ia segera menutupi benda itu dengan kain hitam.
"Ini yang Mas temukan terkubur di bawah pot bunga depan gerbang kita semalam, Maya. Ini alasan kenapa pagar gaib rumah ini bisa tembus."
"Jadi... benar Bu RT yang naruh?"
"Bukan dia otaknya. Dia cuma disuruh," Aris berdiri, menghampiri Maya dan mengambil cangkir teh itu, lalu meletakkannya di meja tanpa meminumnya.
Ia menarik Maya ke dalam pelukannya, jemarinya mengusap tengkuk Maya dengan posesif.
"Seseorang tahu kalau kamu hamil, Maya. Seseorang yang tahu sejarah kelam tanah ini ingin menggunakan bayi kita untuk mengembalikan kejayaan mereka yang sudah mati.
Aris menunduk, menghirup aroma leher Maya dengan dalam, seolah mencoba menenangkan gejolak amarah di dadanya. "Mulai sekarang, jangan pernah bicara dengan siapapun lewat gerbang. Bahkan kalau mereka teriak ada kebakaran sekalipun, jangan keluar tanpa Mas."
Malam harinya, hujan turun lebih deras dari biasanya. Listrik di komplek itu padam total, membuat rumah mewah mereka hanya diterangi oleh beberapa lilin aromaterapi yang dinyalakan Maya.
Suasana sunyi, hanya ada suara rintik hujan yang menghantam kaca jendela.
Aris baru saja selesai mengganti perban di dadanya. Saat ia keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan celana panjang hitam, ia melihat Maya sedang berdiri di dekat jendela kamar, menatap kegelapan di luar.
"Mas bilang apa? Jangan dekat-dekat jendela," suara Aris rendah, terdengar seperti peringatan di tengah kesunyian.
Maya berbalik. "Aku cuma ngerasa... di luar sepi banget, Mas. Kayak nggak ada kehidupan."
Aris berjalan mendekat. Langkah kakinya yang berat terdengar jelas di atas lantai kayu. Ia berhenti tepat di belakang Maya, melingkarkan lengannya yang kokoh di pinggang istrinya. Dada bidangnya yang hangat bersentuhan langsung dengan punggung Maya.
"Ada Mas di sini. Kamu nggak butuh kehidupan lain di luar sana," bisik Aris. Ia membalikkan tubuh Maya agar menghadapnya.
Dalam temaram cahaya lilin, wajah Aris tampak sangat maskulin sekaligus mengintimidasi. Tatapannya tidak lagi dingin, melainkan penuh dengan keinginan yang mendalam. Aris menarik Maya lebih dekat, hingga tidak ada jarak di antara mereka.
"Mas... luka Mas nanti sakit lagi," bisik Maya pelan, namun tangannya justru melingkar di leher Aris, merasakan otot bahu suaminya yang mengeras.
"Luka ini nggak sebanding sama rasa takut Mas kalau kamu jauh," jawab Aris parau.
Aris mulai mencium Maya awal yang lembut namun perlahan berubah menjadi tuntutan yang intens. Ada rasa posesif yang kuat dalam setiap sentuhannya, seolah ia sedang menandai bahwa setiap inci tubuh Maya adalah wilayah kekuasaannya yang tidak boleh diganggu oleh makhluk apa pun.
Aris mengangkat tubuh Maya dengan mudah, membaringkannya di atas ranjang king size mereka. Di tengah kegelapan dan ancaman gaib yang mengintai di luar kamar, mereka justru tenggelam dalam keintiman yang panas.
Bagi Aris, ini bukan sekadar hubungan suami istri, melainkan caranya meyakinkan diri bahwa Maya masih ada, masih nyata, dan masih miliknya.
Sentuhan Aris terasa menuntut namun sangat protektif. Setiap kali suara petir menggelegar di luar, Aris justru semakin erat mendekap Maya, menyatukan napas mereka dalam irama yang sama. Di kamar itu, pagar gaib yang paling kuat bukanlah paku emas atau garam doa, melainkan raga Aris yang mengunci Maya dalam dekapan yang tak terlepaskan.
Setelah semuanya tenang, Maya tertidur pulas karena kelelahan di dada Aris. Aris sendiri tetap terjaga. Matanya menatap tajam ke arah pintu kamar yang tertutup.
Ia tahu, di balik pintu itu, jejak lumpur hitam kembali muncul. Dan suara cakaran di pintu kamar mereka terdengar lagi, lebih halus namun lebih penuh kebencian.
Aris mempererat pelukannya pada Maya yang terlelap, mencium kening istrinya dengan posesif yang mendarah daging.
"Cobalah masuk," batin Aris menantang kegelapan di luar sana. "Akan kubakar kalian semua sebelum kalian bisa menyentuh miliku."
kurang keras bantingnya, butuh parutan gk? ni aq ada
mayan buat marut kuyang🤣🤣🤣🤣