NovelToon NovelToon
Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Status: tamat
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:94.6k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.

Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.

Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.

Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.

Tapi mereka lupa satu hal.

Dia bukan korban.

Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.

Termasuk dirinya.

Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.

Kakaknya menginginkan kematiannya.

Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.

Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.

Dunia mengira Sabrina akan tunduk.

Mereka salah.

Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...

dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.

Membunuh… atau kehilangan anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Pesta Keluarga

Lampu kristal raksasa di ballroom Halim Group menyilaukan mata. Ratusan pasang mata menatap pintu masuk.

Kilatan blitz kamera dari area jurnalis berkedip membabi buta. Sabrina menyipitkan matanya. Korset pembentuk tubuh yang membalut pinggangnya menekan keras luka jahitan jalan lahirnya. Ia meminta gaun tempur berwarna hitam malam itu. Tapi Adrian memaksakan gaun sutra putih panjang berpotongan leher tinggi ini kepadanya. Pria itu ingin memamerkan citra istri yang suci dan rapuh. Sebuah ilusi visual untuk memuaskan birahi pasar saham.

"Tersenyumlah," perintah Adrian. Telapak tangan pria itu menempel di pinggang belakang Sabrina. "Tunjukkan pada mereka kau tidak kehilangan akal sehatmu di gunung itu."

Sabrina melangkah maju. Sepatu hak pendek tiga sentimeter miliknya beradu dengan marmer. Keseimbangan tempur jarak dekat jauh lebih utama daripada estetika kaki jenjang ala sosialita.

"Aku minta gaun hitam, Adrian." Sabrina membiarkan kukunya menggores pelan lengan jas suaminya. "Kau sengaja memakaikan kain kafan ini padaku."

Adrian memandu langkah mereka menembus kerumunan. Aroma cerutu, alkohol, dan parfum floral murahan bertabrakan menjejali udara.

"Hitam itu warna duka," balas Adrian tanpa menoleh. "Malam ini kita menjual stabilitas. Gaun putih ini bukti kau murni di bawah perlindunganku. Mereka menyukai narasi tiran yang merawat istrinya yang sakit."

"Kau menjual barang palsu."

"Aku memegang kendali papan catur ini."

Bisik-bisik berdengung layaknya sarang lebah saat mereka lewat. Kawanan omnivora berbalut perhiasan mahal itu mulai saling melempar racun verbal.

"Dengar kabar dia melahirkan di pinggir selokan. Menjijikkan."

"Adrian pasti membuangnya setelah bayi itu disapih. Perempuan kampung itu cuma beruntung punya rahim subur."

"Lihat wajahnya yang pucat. Kania bilang dia halusinasi mencekik pelayannya sendiri."

Sabrina merekam setiap wajah pemilik suara sumbang tersebut.

Bibir berlipstik merah menyala, leher keriput sisa operasi plastik, tawa palsu yang menutupi kebangkrutan moral. Ia tidak merasakan amarah.

Otak pembunuhnya hanya membuat daftar prioritas anatomi mana yang paling cepat diputus jika mereka berani menyerang secara fisik.

"Sapa mereka, Istriku," perintah Adrian, nadanya setengah mengejek.

Sabrina menghentikan langkah kakinya tepat di tengah ruangan. Ia menoleh perlahan ke arah dua wanita tua itu.

Tidak ada senyum, tidak ada anggukan ramah. Sorot matanya kosong, sedingin lapisan es di danau beku. Ia menatap tepat di tengah dahi kedua wanita itu, titik mati ideal untuk satu peluru kaliber sembilan milimeter.

Aura membunuh yang pekat tanpa suara itu merayap membelah jarak. Dua wanita berkalung berlian itu mendadak menghentikan tawa mereka.

Kipas bulu merak berhenti berkibas. Hawa dingin merayapi tengkuk mereka, memaksa insting purba mamalia untuk menundukkan kepala.

Sabrina memutus kontak mata itu, lalu kembali menatap ke depan. Mode dingin aktif seratus persen. Tidak ada gunanya merespons gonggongan anjing pudel peliharaan.

Adrian mempererat cengkeramannya di pinggang Sabrina, menariknya sedikit terlalu kasar. Pria itu menyukai ketegangan ini. Ia menyukai istrinya yang tidak menangis di depan publik.

Seorang wanita bergaun emas payet memblokir jalur mereka. Lidia Halim. Adik perempuan dari ayah Adrian. Pemilik lima persen saham dominan yang terkenal suka menginjak harga diri klan Tanjung.

"Adrian, Sayang." Lidia menempelkan pipinya ke udara di dekat wajah Adrian. Mata tuanya langsung meluncur tajam menguliti postur Sabrina. "Istrimu terlihat seperti baru keluar dari ruang jenazah. Kurus dan pucat sekali. Apa gen keluarga Tanjung memang seburuk ini dalam memproduksi anak?"

Adrian mengambil segelas sampanye dari nampan pelayan yang lewat. Ia memutar cairan keemasan itu lambat-lambat. Pria ini sengaja melempar istrinya ke kandang singa tua ini untuk menguji reaksi.

Sabrina mengambil gelas air mineral. Ia membasahi kerongkongannya yang terasa kering akibat hawa dingin pendingin sentral.

"Kerapuhan fisik bisa diperbaiki dengan nutrisi, Tante Lidia." Sabrina membalas dengan nada suara sedatar lantai marmer.

Lidia mendengkus remeh. "Kau berani menjawabku sekarang? Tugasmu cuma menyusui pewaris kami. Biarkan Adrian yang mengurus dunia orang dewasa. Otakmu tidak punya kapasitas untuk itu."

Sabrina melangkah separuh tindak memotong zona nyaman sosialita tua tersebut.

"Dunia orang dewasa." Sabrina mengeja frasa itu pelan. "Maksud Tante Lidia adalah menghabiskan belasan miliar rupiah setiap bulan di meja baccarat Makau, lalu memaksa Kania menutupi hutang-hutang itu memakai dana yayasan amal perusahaan? Begitu cara kerja orang dewasa di keluarga ini?"

Lidia membeku. Gelas sampanye di tangannya bergoyang hebat hingga isinya tumpah mengenai cincin berliannya. Rahasia paling kotor miliknya ditelanjangi tanpa ampun di tengah lautan manusia.

"Kau... jaga mulutmu." Lidia menoleh panik ke kanan dan kiri. Wajahnya memucat pasi kehilangan darah.

"Atur napasmu, Tante." Sabrina menatap lurus menembus pupil wanita itu. "Gaun sutra putih ini terlalu mahal untuk kotor terkena cipratan air liurmu jika kau mendadak terkena serangan stroke di sini."

Lidia memutar tubuhnya cepat. Wanita tua itu berjalan menjauh menembus kerumunan tanpa berani menatap Adrian.

Adrian mendekatkan bibirnya ke telinga Sabrina. "Kau membongkar kartu as yang kusimpan untuk rapat dewan direksi besok."

"Kau terlalu lambat memakai kartumu," sahut Sabrina tenang. "Aku menyingkirkan hama sebelum mereka sempat menggigit."

Di sudut ruangan yang lebih privat, dikelilingi pagar betis berlapis dari empat pengawal khusus Halim Group, sebuah inkubator portabel berdinding kaca anti peluru berdiri angkuh. Sebastian tidur nyenyak di dalamnya.

Sensor udara terus mengukur tingkat steril oksigen yang masuk. Tirta, sang dokter pribadi, duduk kaku di kursi sebelah inkubator dengan tas medis terbuka.

Sabrina telah berhasil memaksa Adrian mengamankan area bayinya dengan protokol militer. Ratusan tamu ini hanya diizinkan melihat Sebastian dari jarak tiga meter.

"Kau berlebihan dengan inkubator itu, Sabrina," bisik Adrian saat mereka melintasi kerumunan direksi. "Ini pesta ulang tahun perusahaan, bukan zona karantina wabah. Beberapa kolega penting ingin menyentuh ahli warisku."

"Sentuhan kolega pentingmu membawa ribuan bakteri, Adrian." Sabrina membalas tanpa menoleh. "Jika kau berani memerintahkan doktermu membuka kaca itu, aku akan melempar gelas anggur ini tepat ke wajah kolega pentingmu."

"Kau lupa sedang mengancam siapa malam ini."

"Aku hanya mengingatkanmu pada batas wilayah yang sudah kita sepakati."

Langkah stiletto merah menyala mendekat dari arah meja bar. Kania Tanjung muncul menembus kerumunan.

Gaun merah marun yang ia kenakan menjiplak setiap lekuk tubuhnya dengan provokatif. Wajah Kania terpoles kosmetik tebal, menyembunyikan lingkaran hitam pekat di bawah matanya. Efek kurang tidur akibat ketakutan pasca insiden di kamar bayi masih membekas jelas.

"Adrian, Sayang!" Kania menyapa riang. Ia sengaja mengabaikan eksistensi Sabrina dan langsung mencium pipi kiri dan kanan sang taipan. Bau parfum Baccarat Rouge yang terlalu tajam kembali memicu rasa mual di perut Sabrina.

"Kania." Adrian membalas sapaan itu formal, menjaga jarak profesional yang mengisyaratkan batasan jelas.

Kania memutar tubuhnya, menatap Sabrina dari atas sampai bawah. Matanya menyipit menilai gaun hitam elegan yang membungkus tubuh pucat istri suaminya itu.

"Sabrina, gue kira lo bakal pakai piyama rumah sakit malam ini," ejek Kania dengan tawa dibuat-buat. "Luar biasa ya, teknologi bedah plastik zaman sekarang bisa bikin perempuan yang habis pendarahan parah kelihatan bisa berdiri tegak."

Sabrina tidak merespons. Ia membiarkan keheningan mengambil alih percakapan, sebuah taktik dominasi pasif yang sukses membuat senyum Kania perlahan memudar kaku.

"Kau terlihat kurang tidur, Kania," ucap Sabrina akhirnya. Suaranya datar tanpa intonasi peduli. "Efek Zolpidem sepuluh miligrammu mulai kebal? Mungkin kau butuh suntikan penenang yang lebih permanen."

Kalimat itu meluncur tajam menyobek sisa kewarasan Kania. Ancaman kematian di kamar bayi itu kembali berputar di kepala sang saudari angkat. Kania menelan ludah, refleks memundurkan bahunya selangkah. Tangannya tanpa sadar meraba lehernya sendiri, mencari ilusi jarum suntik yang pernah Sabrina deskripsikan.

Adrian melirik pertarungan mental dua perempuan itu dengan ujung matanya. Ia tidak berniat menengahi. Ia murni mengobservasi cara istrinya mengunci pergerakan musuh tanpa meninggikan volume suara satu oktaf pun.

"Gue... gue cuma mau ngambil minum," Kania tergagap, segera memutar tumit stilettosnya mencari alasan menjauh.

Genggaman Adrian di pinggangnya sangat posesif. Ini bukan perlindungan, ini pameran trofi.

1
Endang Sulistia
seru..menegangkan..keren...
lee zha
bagus...tegang penuh intrik 🥳🥳🤩🤩semangat Thor...
Anonim
aneh ya tirannya lembek nggak bisa ngapa ngapain
Sandisalbiah
LUAR BIASA
Sandisalbiah
hanya untuk menyambut satu org perempuan Vincent mengerahkan seluruh tim elit ordo sutra... kau yg terlalu pengecut buat hadapin Maureen sendiri atau kau ngerasa gak mampu buat menghadapi dia sendirian, Vincent..? bahkan kau mempersiapkan segala jebakan secara maksimal dan totalitas... sebegitu menyeramkan sosok Maureen bagimu ternyata... dasar banci..
Sandisalbiah
untungnya Adrian sudah memberi mandat utk Sabrina akan kekuasaan mutlak yg tak bisa di banyak oleh bawahan Adrian.. siapa sangka musuh begitu lihai, licik dan licin.. Sabrina kudu ekstra kerja keras.. memaksa otot dan otak kolaborasi buat menghadapi lawan..
Sandisalbiah
intinya Adrian percaya sepenuhnya pd Sabrina.. good job.. krn emang Sabrina yg paling paham apa yg sedang mereka hadapi juga mengingat insting nya yg lebih tajam dan peka...
Sandisalbiah
mereka berdua mulai berdamai dgn kondisi dan sedikit mengarah pd perdamaian hati.. mungkin..
Sandisalbiah
Sabrina dan Vincent ibarat raga dan bayangan.. satu sama lai saling memahami keunggulan dan keahlian masing² .. insting yg sama² tajam.. jadi waspada dan siaga total adalah solusi terbaik buat pertahanan diri..
Sandisalbiah
Sabrina seolah menghadapi dirinya sendiri, itu sebabnya dia faham betul apa yg perlu dia lakukan dan dia siapkan..
Sandisalbiah
harusnya kepala dan tubuh Kania ini dipisahkan dan di kirim dlm paket yg berbeda... otak bebalnya gak pernah belajar dr yg sudah dia alami.. masih aja menjual kesedihan dgn fitnah murahan menjadi senjatanya.. gak merah dgn ending yg selalu Sabrina berikan
Sandisalbiah
Sabrina selalu memprovokasi lawan utk menyatukan mental mereka.. lawan mendapat serangan kepanikan krn tekanan psikologis drnya
Sandisalbiah
hem.. akhirnya sang tiran mengakui kekuatan Sabrina dan tunduk patuh padanya.. ya walau gak sepenuhnya tunduk rp jelas dia mengakui kalau Sabrina itu lebih dr mampu..
Sandisalbiah
sadar sepenuhnya kalau itu jebakan tp masih di ladenin.. konyol si kalau sampai Sandrina gak punya rencana sebelumnya... krn dia faham betul situasinya kan..?
Sandisalbiah
hah.. selalu ya.. kenapa musih selalu mudah menebak, memprediksi gerakan atau mencium siapa yg jd target mereka.. dan sayangnya Adrian terlalu bebal utk mpercayai insting istrinya walau berulang kali Sabrina sudah mbuktikan bahkan beraksi dlm melindungi mereka...
Sandisalbiah
Sabrina adalah korban Vincent tepatnya Maureen lah korban yang dan Sabrina adalah target Vincent... dia bukan ragu tp waspada pd pengawal bayaran itu.. krn uanglah tuan mereka yg sesungguhnya dan uang bisa merubah dr yg harus di jaga malah menjadi target..
Sandisalbiah
istriku.. istriku.. mulai lembek hati lu.. Adrian.. ishh
Sandisalbiah
lagian manusia bodoh mana yg akan merasa aman tinggal seatap dgn perempuan yg sudah menculiknya dan menyewa preman buat membunuh dia dan bayinya seperti binatang.. di tambah suami iblis yg otaknya sebelas duabelas belas dgn iblis dan hewan predator tanpa ada sisi kemanusiaan yang sama sekali.. lalu dr segi mana Sabrina harus merasa aman Adrian.. lu tololl apa buta atau sengaja biar Sabrina beneran mati kah..
Sandisalbiah
itu suami dajjal si Sabrina membawa mereka ke tempat paling aman katanya tp justru Menyerahkannya ke sarang yg isinya anjing penjaga Kania... otak Adrian itu bodoh atau tololl sebenarnya.. jd gedeg sendiri...
Dewi Kasinji
si Adrian ini tiran apa ya ??? kok kyk e ceroboh banget 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!