Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan Pertama di Perpustakaan Terlarang
Setelah insiden "Genderuwo Wangi Jeruk Nipis" yang menggemparkan dunia astral akhir pekan lalu, Satria berharap hari Seninnya akan dimulai dengan tenang. Namun, ia lupa bahwa sekolahnya bukan sekadar bangunan bata dan semen, melainkan sebuah entitas yang punya selera humor gelap.
Pagi itu, Arini menghampirinya di depan loker dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan rasa antusias sekaligus ngeri. "Sat, ingat tugas Sejarah tentang arsitektur kolonial yang dikasih Pak Broto kemarin? Sumber bukunya cuma ada di sayap barat. Di Perpustakaan Terlarang."
Satria tersedak ludahnya sendiri. "Perpustakaan Terlarang? Maksud lo gudang buku yang kuncinya harus dirapal pakai bahasa Belanda kuno itu?"
Arini mengangguk. "Dan karena kita sudah 'tim', aku pikir... ini bisa jadi kencan pertama kita. Ya, kencan sambil mengerjakan tugas. Gimana?"
Mendengar kata "kencan", otak Satria langsung mengalami short circuit. Ia mengabaikan fakta bahwa Perpustakaan Terlarang itu adalah tempat di mana hantu pustakawan zaman dulu sering menjahit mulut siswa yang berisik. "Oke. Jam istirahat kedua. Kita ke sana."
Sayap barat SMA Wijaya Kusuma adalah area yang jarang terjamah matahari. Lantainya tertutup karpet merah yang sudah memudar warnanya menjadi cokelat kering, mirip darah yang sudah lama. Di ujung lorong, berdiri sebuah pintu ganda dari kayu ek hitam dengan ukiran wajah singa yang matanya tampak mengikuti setiap langkah mereka.
"Meneer, Anda tidak mau membukakan pintunya untuk kami?" tanya Satria pada sosok perwira tanpa kepala yang melayang di samping Arini.
Meneer Van De Berg tampak ragu. “Tempat itu... bahkan bagi kami yang sudah mati, terlalu 'dingin'. Ada pustakawan tua di sana yang tidak suka bukunya disentuh oleh tangan manusia yang penuh keringat.”
"Tenang, Meneer. Gue sudah bawa tisu basah," sahut Satria semprul.
Arini mengeluarkan kunci besar yang ia "pinjam" dari ruang TU (dengan bantuan Ucok si tuyul yang disogok dua keping koin cokelat). Begitu pintu terbuka, bau kertas tua, debu, dan parfum melati yang sangat menyengat langsung menyerbu indra penciuman mereka.
Ruangan itu sangat luas. Rak-rak buku setinggi lima meter berjajar seperti labirin. Anehnya, tidak ada lampu. Hanya ada lilin-lilin yang menyala sendiri dengan api berwarna biru pucat saat mereka melangkah masuk.
"Romantis ya, Sat?" bisik Arini sambil menggandeng tangan Satria. Tangannya sedikit gemetar, tapi ia berusaha kuat.
"Iya, Rin. Romantis banget. Sampai-sampai bulu kuduk gue lagi dengerin lagu klasik sambil berdiri," jawab Satria, mencoba mencairkan suasana.
Mereka mulai mencari buku berjudul Anatomie van de Koloniale Gebouwen. Saat Satria sedang memanjat tangga kayu tua untuk mengecek rak bagian atas, sebuah suara sssttttt yang sangat panjang bergema di seluruh ruangan.
"Rin, itu lo?" tanya Satria.
"Bukan, Sat. Aku malah baru mau tanya itu kamu atau bukan."
Mereka menoleh ke arah meja pustakawan di tengah ruangan. Di sana, duduk seorang wanita tua dengan pakaian suster Belanda. Wajahnya tertutup kerudung putih, tapi tangan kirinya sedang memegang jarum besar, dan tangan kanannya memegang benang hitam yang panjang.
Itu adalah Zuster Maria, sang penjaga buku.
“Dilarang... berbicara...” suara itu bukan berasal dari mulutnya, melainkan dari getaran benang yang ia tarik. “Satu kata... satu jahitan di bibir...”
Satria segera menutup mulutnya dengan kedua tangan. Arini melakukan hal yang sama. Mereka saling berpandangan, bicara lewat mata. Gimana ini? tanya mata Arini. Tenang, gue punya ide, balas mata Satria (meskipun sebenarnya ia cuma sedang panik).
Satria turun dari tangga pelan-pelan. Sialnya, tangga itu berderit. KRIEEEK!
Zuster Maria langsung menoleh. Kepalanya berputar 180 derajat ke belakang dengan suara tulang patah yang sangat renyah. Ia mulai melayang mendekati mereka, jarum besarnya berkilat di bawah cahaya lilin biru.
“Kau... berisik...”
Arini mundur ketakutan, namun ia tersandung tumpukan buku di lantai. "Aduh!"
Suara itu bagi Zuster Maria seperti undangan makan malam. Ia mengangkat jarumnya tinggi-tinggi, siap menusuk bibir Arini.
Satria tidak punya waktu untuk menyiapkan sabun colek atau garam. Ia merogoh saku seragamnya dan menemukan sesuatu: sebuah lakban hitam yang ia bawa untuk memperbaiki sol sepatunya yang copot.
"ZUSTER! TUNGGU!" teriak Satria nekat.
Zuster Maria berhenti, jarumnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Arini. “Kau... berani... berteriak?”
"Bukan berteriak, Sus! Saya cuma mau menawarkan teknologi terbaru dari masa depan!" Satria melangkah maju dengan percaya diri yang dipaksakan. "Suster capek kan harus jahit mulut orang satu-satu? Jari Suster pasti keriput dan pegal. Lihat ini!"
Satria menunjukkan gulungan lakban hitam itu. "Ini namanya Lakban Anti-Ghibah. Sekali tempel, mulut langsung mingkem tanpa rasa sakit, tanpa benang, dan tersedia dalam warna hitam yang sangat gothic sesuai selera Suster!"
Zuster Maria tampak tertegun. Ia menurunkan jarumnya, tampak tertarik melihat benda elastis di tangan Satria. “Tunjukkan... cara kerjanya...”
Satria menelan ludah. Ia menatap Arini yang masih terduduk di lantai. "Rin, maaf ya. Ini demi keselamatan kita."
SRET!
Satria menempelkan sepotong kecil lakban di mulutnya sendiri, lalu ia memberikan jempol ke arah Zuster Maria sambil bergumam, "Mmm-hmmm! Mmm-nnngg!" (Artinya: Lihat! Saya tidak bisa bicara!).
Zuster Maria tampak sangat terkesan. Ia mengambil lakban itu dari tangan Satria dengan jarinya yang dingin seperti es. Ia mencoba menempelkan lakban itu ke meja pustakawan, ke buku, dan akhirnya ke mulutnya sendiri yang memang sudah compang-camping.
Zuster Maria tampak bahagia—atau setidaknya, aura membunuhnya meredup. Ia kembali ke mejanya, asyik bermain dengan lakban baru miliknya, meninggalkan jarum dan benang jahatnya begitu saja.
Arini berdiri, lalu perlahan melepas lakban di mulut Satria. "Kamu... kamu bener-bener gila, Sat. Tapi makasih ya."
Satria mengusap bibirnya yang sedikit perih karena lem lakban. "Apapun buat lo, Rin. Meskipun bibir gue harus jadi korban uji coba alat pertukangan."
Mereka akhirnya menemukan buku yang dicari di rak paling pojok yang tersembunyi. Di sana, di antara bayangan buku-buku tua dan cahaya lilin yang temaram, suasana mendadak menjadi sangat sunyi dan privat.
"Sat," panggil Arini pelan. Ia menatap Satria dengan tatapan yang sangat dalam. "Kenapa kamu selalu punya cara yang aneh buat nyelametin aku? Kenapa nggak pakai doa atau jimat kayak orang-orang sakti lainnya?"
Satria tersenyum, menyandarkan punggungnya di rak buku. "Karena hantu juga 'orang', Rin. Mereka punya rasa bosen, punya masalah, dan kadang cuma butuh solusi praktis. Lagian, kalau gue terlalu serius, nanti kita nggak bisa ketawa lagi, kan?"
Arini mendekat, memperpendek jarak di antara mereka. Bau parfum melati yang tadinya menyeramkan, kini tertutup oleh aroma parfum Arini yang menenangkan. "Makasih ya, Sat. Kencan di perpustakaan berhantu ini... jujur, lebih berkesan daripada nonton film di bioskop."
Arini tiba-tiba mengecup pipi Satria dengan cepat, lalu ia lari menuju pintu keluar sambil membawa buku sejarah mereka, meninggalkan Satria yang mematung dengan wajah semerah cabai rawit.
Meneer Van De Berg melayang di depan Satria, memberikan pandangan menghina. “Anak muda, kau terlihat seperti udang rebus. Cepat jalan, sebelum Zuster Maria sadar kalau lakban itu bakal bikin dia susah makan sesajen!”
Satria tersentak. "Eh, iya! Tunggu, Rin!"
Satria berlari menyusul Arini. Di belakangnya, terdengar suara SRET... SRET... dari meja pustakawan. Zuster Maria rupanya sedang sibuk melakban seluruh permukaan mejanya karena terlalu bersemangat.
Kencan pertama mereka berakhir dengan satu buku sejarah, satu ciuman di pipi, dan satu hantu pustakawan yang kini punya hobi baru sebagai tukang packing. Satria tahu, perjalanan ini baru mencapai bab ke-9, tapi baginya, setiap detik bersama Arini di SMA Wijaya Kusuma adalah petualangan yang tidak akan ia tukar dengan kehidupan normal mana pun.
"Rin! Tunggu! Lakban itu harganya sepuluh ribu, nanti ganti ya!" teriak Satria sambil tertawa.
Arini hanya membalas dengan tawa yang menggema di lorong sepi, sebuah melodi indah yang mengusir segala ketakutan ghaib di hati Satria.