SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.
Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.
Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?
Since: 10-04-2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Umpan
Platform logam itu bergetar hebat, seakan-akan seluruh perut bumi di bawah SMA Nusantara sedang mengalami kejang hebat. Arga terengah-engah, mencoba mengais oksigen yang kini terasa tipis dan berbau logam terbakar.
Di belakangnya, lubang raksasa di Aula Utama masih mengeluarkan suara gemuruh reruntuhan, namun di depannya, lorong yang memancarkan cahaya biru murni itu seolah memanggilnya dengan frekuensi yang tak bisa diabaikan.
Arga mencoba berdiri, namun lututnya lemas. Cairan perak yang sebelumnya menstabilkan mutasinya kini justru terasa seperti merkuri mendidih yang mencoba menjebol dinding pembuluh darahnya.
Tinta hitam di tangannya bukan lagi sekadar pola; ia merambat naik ke leher, wajah, hingga menyentuh pelipisnya.
"Sial... sedikit lagi..." desis Arga.
Begitu ia melangkah masuk ke dalam lorong cahaya biru itu, gravitasi seolah-olah lenyap. Arga tidak lagi berjalan di atas lantai, melainkan mengapung di tengah arus energi yang sangat padat.
Ini bukan lagi Sektor 6 atau Sektor 7. Ini adalah Titik Nol, pusat dari segala anomali. Cahaya biru ini adalah bentuk murni dari energi Indigo yang telah diekstraksi dari ribuan siswa selama puluhan tahun, dikumpulkan di sini sebagai bahan bakar abadi bagi SMA Nusantara.
Tiba-tiba, sebuah gelombang tekanan menghantam kesadarannya.
Arga berlutut di udara. Penglihatannya memutih. Ia tidak lagi melihat lorong, melainkan melihat jalinan takdir jutaan jiwa yang terikat pada sekolah ini.
Ia merasakan setiap kesedihan, setiap rasa sakit, dan setiap keputusasaan yang pernah terjadi di dalam kelas-kelas gelap itu. Energi itu terlalu besar. Kapasitas tubuh Arga sebagai wadah mulai retak.
"Arga! Kau harus mengendalikannya! Jangan biarkan energi itu mengambil alih!"
Suara Lintang terdengar jauh, mungkin melalui sisa-sisa koneksi batin yang terbentuk selama petualangan ini. Tapi Arga tidak bisa menjawab. Mulutnya mengeluarkan cahaya biru yang menyilaukan.
Pori-pori kulitnya mulai meneteskan cahaya, seolah-olah ia sedang hancur dari dalam untuk berubah menjadi entitas energi murni.
Inilah yang diinginkan Sang Arsitek. Arga bukan dihancurkan, tapi dipaksa untuk meluap agar energinya bisa diserap oleh sistem sekolah yang sedang sekarat.
"Hentikan... kumohon..." Arga mencengkeram dadanya.
Di tengah badai energi itu, sosok bayangan Sang Arsitek muncul kembali dalam bentuk proyeksi raksasa di dinding cahaya. Wajahnya tidak lagi berupa lubang hitam, melainkan ribuan sirkuit yang menyerupai saraf manusia.
"Lihatlah, Arga! Inilah evolusi yang sesungguhnya!" tawa Sang Arsitek bergema di dalam tengkorak Arga. "Kau tidak lagi membutuhkan daging yang lemah ini. Jadilah cahaya! Jadilah mata bagi sekolah ini! Biarkan kekuatan Indigo-mu mengalir ke setiap sudut gedung, dan kita akan hidup selamanya sebagai satu kesadaran!"
Arga merasakan egonya mulai menipis. Namanya, ingatannya tentang Raka, tentang Ayahnya, tentang melodi ibunya,semuanya mulai terseret oleh arus biru yang sangat kuat.
Ia mulai merasa bahwa menjadi cahaya adalah hal yang indah. Tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada lagi beban. Hanya ada pengetahuan yang tak terbatas.
Namun, di titik nadir kesadarannya, sebuah sentuhan dingin mendarat di bahunya. Bukan sentuhan ibunya yang transparan, melainkan sentuhan kasar dan nyata.
Arga membuka matanya sedikit. Di sana, di tengah arus energi yang mematikan itu, berdiri Raka. Wajah kakaknya pucat, namun matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan.
Di belakang Raka, Lintang memegang tangan Raka, menyalurkan sisa energinya untuk melindungi mereka berdua dengan perisai perak yang retak-retak.
"Arga... kembali..." Raka berbicara dengan susah payah. Tubuhnya yang sebelumnya dijadikan mesin oleh Sang Arsitek ternyata memiliki resistansi yang tidak disadari. Sebagai Subjek 01, Raka adalah jangkar bagi Subjek 02.
"Kak... pergi dari sini... aku akan meledak..." geram Arga, tubuhnya kini bergetar dengan frekuensi yang mampu menghancurkan beton.
"Kalau kau meledak, kami ikut bersamamu!" Lintang berteriak, air mata mengalir di pipinya namun segera menguap oleh panas energi Indigo.
"Kau ingat janji kita? Kita masuk bersama, kita keluar bersama!"
Sentuhan Raka dan Lintang memberikan Arga sesuatu yang tidak dimiliki oleh cahaya biru itu: Batas.
Arga menyadari bahwa kekuatan Indigo yang meluap ini adalah air bah, dan ia harus menjadi bendungannya. Ia tidak lagi mencoba menahan energi itu di dalam dirinya.
Sebaliknya, ia mulai mengarahkan energi itu ke arah yang berbeda. Ia menggunakan pola sirkuit hitam di tangannya sebagai saluran pembuangan.
Arga merentangkan tangannya. Cahaya biru yang meluap dari tubuhnya kini ia tembakkan ke arah dinding-dinding Titik Nol. Ia tidak menyerang Sang Arsitek, melainkan menyerang saraf-saraf biologis yang menyedot energi tersebut.
Setiap tembakan energi Indigo Arga menghancurkan satu demi satu node transmisi Sektor Bawah. Cahaya biru di ruangan itu mulai berkedip-kedip tidak stabil.
"Apa yang kau lakukan?! Kau menghancurkan sumber kehidupanmu sendiri!" raung Sang Arsitek, proyeksinya mulai terdistorsi.
"Ini bukan kehidupan! Ini adalah pencurian!" Arga meraung kembali.
Dengan satu hentakan terakhir, Arga melepaskan seluruh sisa kekuatan Indigo yang meluap itu dalam satu ledakan melingkar. Ledakan itu tidak menghancurkan daging, tapi menghapus semua program gaib yang ada di sana.
Cahaya biru yang tadinya liar kini meredup, kembali menjadi partikel-partikel kecil yang tenang, lalu menghilang ke dalam tanah.
Keheningan yang mencekam menyelimuti Titik Nol.
Arga jatuh tersungkur ke lantai platform. Tubuhnya kembali ke bentuk manusia seutuhnya. Sisik obsidiannya hilang, sayap peraknya lenyap.
Yang tersisa hanyalah tato hitam permanen yang kini merayap dari pergelangan tangan hingga ke lehernya, sebuah tanda bahwa ia telah berhasil menjinakkan kekuatan tersebut, meski dengan harga kemanusiaan yang semakin menipis.
Raka dan Lintang jatuh di sampingnya, kelelahan namun masih bernapas.
"Kau melakukannya, Arga..." bisik Raka, memeluk adiknya.
Arga tidak menjawab. Ia menatap telapak tangannya. Cahaya biru itu memang sudah tenang, namun ia bisa merasakan sesuatu yang baru.
Ia bisa merasakan setiap detak jantung di sekolah ini. Ia tidak lagi hanya memiliki kekuatan Indigo, ia telah menjadi penguasa frekuensi sekolah ini.
Namun, kemenangan itu terasa pahit. Di sudut ruangan, sebuah pintu rahasia terbuka. Dari sana, keluar sekelompok siswa yang mengenakan seragam putih bersih, sangat berbeda dengan unit Osis Malam yang hitam. Mereka tidak membawa senjata, melainkan membawa buku catatan dan alat pengukur frekuensi.
Di tengah mereka, berdiri seorang siswa yang sangat mirip dengan Arga, namun dengan tatapan yang jauh lebih dewasa dan dingin.
"Kerja bagus, Arga Widya," ujar siswa itu.
"Kau baru saja menyelesaikan fase pembersihan. Sekarang, saatnya untuk fase yang sebenarnya: Administrasi Baru."
Lintang berdiri, menghunus belati peraknya yang patah. "Siapa kalian?"
"Kami adalah mereka yang mengamati dari balik layar," jawab siswa itu. "Dan kami baru saja menyadari bahwa ada pengkhianat di antara kita yang memberikan Arga harmonika itu."
Arga berdiri perlahan, matanya kini memancarkan cahaya biru yang sangat tipis namun tajam. Ia menyadari bahwa kekuatannya yang meluap tadi bukan hanya menghancurkan Sang Arsitek, tapi juga mengundang perhatian dari pihak yang jauh lebih berbahaya, faksi rahasia di dalam sekolah yang selama ini membiarkan Sang Arsitek bermain sebagai umpan.
"Pengkhianat?" tanya Arga.
"Ya. Dan dia ada di ruangan ini sekarang," siswa berseragam putih itu menunjuk ke arah... Lintang.
Arga terpaku. Dunia di sekelilingnya seakan berhenti berputar sekali lagi. Investigasinya belum berakhir. Di tengah luapan kekuatannya, ia baru saja menyadari bahwa jebakan yang sebenarnya bukan berasal dari monster, melainkan dari mereka yang berdiri paling dekat dengannya.