NovelToon NovelToon
Sekolah Hantu

Sekolah Hantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Sistem
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: I'ts Roomie

SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.

Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.

Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?

Since: 10-04-2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Undangan

Aroma melati dari Ruang Musik masih tertinggal di ujung indra penciuman Arga, namun atmosfer di koridor menuju Aula Utama kini berubah menjadi sangat dingin dan kering.

Setiap napas yang mereka keluarkan membentuk kabut putih. Lintang merapatkan jaketnya, sementara Raka bersandar pada bahu Arga, kakinya masih gemetar setelah menghadapi guncangan frekuensi di Ruang Musik.

"Dengar itu?" bisik Raka tiba-tiba.

Arga menajamkan pendengarannya. Di kejauhan, dari balik kelokan koridor yang gelap, terdengar suara dentingan piano. Nadanya tidak liar dan disonan seperti di Ruang Musik tadi.

Melodi ini sangat teratur, sangat lambat, dan memiliki irama yang menghipnotis. Sebuah lullaby yang terasa seperti undangan menuju tidur abadi.

Begitu mereka melewati belokan, mereka melihatnya. Di tengah koridor yang luas, sebuah piano tegak upright piano berwarna hitam legam berdiri tanpa kursi. Tidak ada siapa-siapa di sana, namun tuts-tutsnya bergerak sendiri, naik dan turun dengan presisi mekanis yang mengerikan.

Setiap dentuman nada menghasilkan riak di udara yang menyebarkan debu-debu keemasan yang berkilauan—debu yang jika dihirup, akan membuat kelopak mata terasa sangat berat.

"Jangan hirup debunya!" perintah Arga sambil menutup hidung Raka dengan kain seragamnya.

"Arga, lihat lantainya," Lintang menunjuk ke arah bawah piano.

Di bawah piano yang bermain sendiri itu, terdapat puluhan siswa yang terbaring dalam posisi meringkuk seperti janin.

Mereka tampak tertidur pulas, namun kulit mereka perlahan-lahan berubah menjadi transparan, memperlihatkan aliran energi Indigo yang sedang disedot oleh kaki-kaki piano tersebut.

Mereka adalah murid-murid yang terjebak dalam Mimpi Indah yang diciptakan oleh Sang Arsitek sebagai sistem cadangan energi.

"Mereka dijadikan baterai hidup," geram Arga. "Piano ini bukan cuma instrumen, ini adalah alat penyulingan jiwa."

Begitu Arga melangkah maju untuk mendekat, melodi piano itu mendadak berubah. Iramanya menjadi sangat cepat dan agresif. Debu keemasan di udara berkumpul, membentuk sosok-sosok bayangan tanpa wajah yang mengenakan kostum balerina.

Mereka tidak menari dengan indah; gerakan mereka patah-patah, dengan tangan yang berakhir pada bilah pisau tipis.

"Penjaga Melodi," desis Arga.

Dua balerina bayangan itu melesat ke arah mereka. Arga segera merentangkan sayap logam peraknya, menangkis serangan bilah pisau mereka dengan suara denting logam yang nyaring.

Sisik di punggung tangan Arga bersinar, memancarkan gelombang panas yang membakar bayangan-bayangan tersebut. Namun, setiap kali satu balerina hancur, piano itu akan memainkan nada tinggi yang menciptakan dua balerina baru.

"Selama piano itu terus bermain, mereka tidak akan berhenti!" teriak Lintang.

Ia mencoba menggunakan sisa energinya untuk melemparkan jimat pelindung ke arah siswa-siswa yang tertidur, namun jimat itu langsung hancur terserap oleh frekuensi piano.

Arga menyadari bahwa ia tidak bisa mematikan piano ini hanya dengan kekuatan fisik. Ia harus mematahkan melodi itu dari dalam. Ia meraih harmonika peraknya, namun kali ini ia merasakan penolakan.

Cairan perak di dalam nadinya mulai memberontak; seolah-olah kekuatan dari Damar dan kekuatan dari ibunya sedang berebut kendali di dalam tubuhnya.

"Arga, matamu!" Lintang memekik.

Mata Arga kini terbagi, satu mata memancarkan cahaya Indigo yang murni dari ibunya, sementara mata lainnya memancarkan cahaya perak metalik dari formula Damar. Visi Arga terdistorsi.

Di satu sisi ia melihat koridor sebagai tempat penuh penderitaan, di sisi lain ia melihatnya sebagai rangkaian sirkuit mekanis yang sempurna.

"Tutup telingamu, Lintang! Raka!" Arga meraung.

Ia tidak meniup harmonikanya kali ini. Ia mencengkeram instrumen itu dengan kuat hingga jari-jarinya berdarah, lalu ia menghantamkan tangan peraknya langsung ke atas papan tuts piano yang sedang bermain sendiri itu.

BRAAAKKK!

Denting nada yang sangat kacau meledak keluar. Arga menggunakan cakar peraknya untuk merobek bagian dalam piano, mencoba memutuskan senar-senar yang sedang bergetar.

Namun, piano itu bereaksi. Tuts-tutsnya menjepit tangan Arga seperti rahang binatang buas. Senar-senar di dalamnya melilit lengan Arga, mencoba menyuntikkan kembali cairan hijau yang telah ia buang.

"Kau ingin memutus simfoni ini?" Suara Sang Arsitek terdengar dari dalam rongga piano.

"Piano ini adalah detak jantung dari Sektor 6. Jika kau menghancurkannya, semua siswa yang tertidur ini akan mati bersamanya!"

Arga membeku. Ia menatap siswa-siswa di bawah kakinya. Jika ia meledakkan piano ini dengan energi anti-materinya, ia akan membunuh teman-temannya sendiri. Dilema ini adalah apa yang diinginkan oleh Sang Arsitek, melumpuhkan Arga dengan nuraninya sendiri.

"Jangan dengarkan dia, Arga!" Raka berteriak dari kejauhan, ia merangkak mendekat meski tubuhnya sangat lemah.

"Piano itu berbohong! Jiwa mereka tidak di dalam piano, mereka hanya terhubung lewat frekuensi! Cari... cari nada dasarnya! Ubah melodinya menjadi nada mayor!"

Arga menarik napas dalam. Ia memejamkan mata, mengabaikan rasa sakit pada tangannya yang terjepit.

Ia mendengarkan detak jantung Raka, lalu detak jantung ibunya yang masih tertinggal di jiwanya. Ia menemukan nada dasarnya, sebuah nada rendah yang terus berulang di pedal piano.

Dengan kaki peraknya, Arga menginjak pedal piano itu sekuat tenaga, sementara tangannya yang bebas memainkan melodi baru di atas tuts yang menjepitnya. Ia memainkan melodi yang berbeda, sebuah lagu yang melambangkan kebangkitan.

Deng... Deng... Deng...

Setiap nada yang dimainkan Arga bertabrakan dengan nada mekanis piano. Cahaya putih mulai mengalir dari tangan Arga ke dalam kayu piano yang hitam.

Debu keemasan di udara berubah menjadi jernih. Satu per satu, siswa yang terbaring di lantai mulai terbatuk dan membuka mata mereka. Ikatan frekuensi yang menyedot jiwa mereka terputus.

"Berhasil..." bisik Lintang.

Namun, piano itu tidak menyerah tanpa perlawanan. Dalam upaya terakhirnya, instrumen itu mengeluarkan ledakan sonik yang sangat besar, melempar Arga hingga menghantam langit-langit sebelum jatuh keras ke lantai. Piano itu kemudian hancur berkeping-keping, meninggalkan tumpukan kayu hitam yang terbakar.

Arga terkapar di lantai, tubuhnya kembali ke bentuk manusia normal, namun kulitnya tampak sangat pucat. Cairan perak di nadinya tampak tenang, namun pola sirkuit di tangannya kini menjadi permanen dan berwarna hitam pekat.

Para siswa yang terbangun tampak kebingungan dan ketakutan. Mereka mulai berlarian menjauh, menuju pintu keluar yang menurut mereka aman, tanpa menyadari bahwa sekolah ini masih memiliki banyak jebakan.

"Biarkan mereka lari," Arga berkata dengan lemah saat Lintang membantunya berdiri. "Setidaknya mereka punya kesempatan."

Di sisa-sisa reruntuhan piano, Arga menemukan selembar kertas yang tidak terbakar. Itu bukan partitur, melainkan sebuah undangan resmi yang ditulis dengan tinta emas.

"PERJAMUAN DI AULA UTAMA. HADIRILAH DUEL GAIB TERAKHIR."

"Dia sudah menunggu kita," Arga menatap ke arah pintu besar Aula di ujung koridor.

"Arga, kau sudah terlalu banyak menggunakan energimu," Lintang tampak sangat khawatir. "Kau butuh istirahat."

"Tidak ada waktu lagi, Lintang. Partitur Nyanyian Kematian di Ruang Musik tadi hanyalah pembukaan. Duel yang sebenarnya ada di Aula. Sang Arsitek akan menunjukkan wujud aslinya di sana."

Arga memandang tangannya yang kini memiliki tanda permanen. Ia merasa seolah-olah kemanusiaannya sedang digerogoti dari dalam, namun setiap kali ia melihat Raka, tekadnya kembali pulih.

Mereka melangkah maju, meninggalkan koridor yang kini dipenuhi puing piano. Di depan mereka, pintu Aula terbuka perlahan, menyingkap sebuah ruangan yang luasnya seolah tak terbatas, di mana ribuan lilin melayang di udara dan sebuah panggung megah telah disiapkan untuk pertunjukan terakhir.

Dan di tengah panggung itu, berdiri Sang Arsitek, memegang sebuah tongkat konduktor yang terbuat dari tulang manusia.

1
cintanya ningning
jadi tu jahat atau baik ya?
papi junkyung: yg mana ka?
total 1 replies
Xiao Juan
lanjutt lagi
rimaa~~~°
lanjut lagi thor
Cleo
masi harus berjuang lagi di pintu berikutnya wkwk, semangat arga💪
Cleo
lanjut lagi dong, up 2 tor sehari hehe, maap ngelunjak🤭🙏
papi junkyung
keren mom ceritanya
Sartika Monik
mana lagi lanjutannya,,duh padahal lagi penasaran banget bun haha🤭
cintanya ningning
lanjuttt
yeol
lagi dungg tor, tadi update di fb langsung ke sini haha
Fimela Angelia
duh masi gantung banget ni
Koo Eun Tak
next thor
Cleo
lanjut💪
Cleo
widih kata katanya bagus, resonansi indigo mutlak/Drool/
Fimela Angelia
cepetan update huhu/Sob//Sob/
Fimela Angelia
ini ya tangan perak yang dimaksud di blurb nya
Xiao Juan
lanjutinn author semangat kutunggu crazy up mu
Xiao Juan
fantasi banget hahaha keren keren tor🤭
Koo Eun Tak
lanjut lanjut
Cleo
gantung banget tor/Frown/
papi junkyung
mana lagi ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!