Karma tidak pernah salah alamat.
Gusti Kanjeng Raden Ayu Kusumawati—ningrat tinggi yang ditakuti, yang telah menghancurkan hidup puluhan perempuan yang mencoba merebut suaminya—terbangun di ranjang dengan pria Eropa yang mengira dia pelacur seharga 550 gulden.
Namanya sekarang Suketi binti Suketo. Statusnya gundik. Milik mantan perwira laut setinggi dua meter. Pria itu posesif. Tergila-gila. Dan tidak akan melepaskannya untuk alasan apa pun.
Akankah Kusumawati berhasil kembali ke kehidupan lamanya yang nyaman penuh pelayan dan kemewahan? Atau kesialan akan terus mengejarnya, memaksanya membayar dosa-dosa masa lalu dengan cara yang tidak pernah dibayangkannya?
Dilarang plagiat, mengambil sebagian scene atau mengubah cerita menjadi video atau bentuk lainnya. Laporkan plagiat ke Ig/FB: @hayisaaaroon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Suketi binti Suketo
Sensasi asing di telapak kaki membuat Kusumawati terbangun.
Basah, hangat, lembut, seperti kain yang ditekan dengan sangat hati-hati, bergerak perlahan dari tumit ke jari-jari.
Mata masih terpejam. Tubuh masih sangat lelah. Tapi sensasi itu terus berulang. Telapak kaki kanan, lalu kiri, lalu kanan lagi.
"Luar biasa ...."
Suara berat bergumam di ujung tempat tidur. Suara yang terdengar sangat takjub.
"Halus sekali ... seperti lumut basah di bebatuan sungai ... tidak, lebih halus lagi ...."
Sensasi basah itu berhenti. Digantikan oleh sesuatu yang berbeda … kering, kasar … seperti ... bulu?
Kusumawati membeku. Jantung mulai berdebar lebih cepat.
Sesuatu yang berbulu menggesek telapak kakinya. Perlahan. Lembut. Naik dari tumit, menyusuri lengkungan kaki, sampai ke jari-jari.
Sensasi itu membuat seluruh tubuhnya meremang sampai ke ubun-ubun, bibir terbuka, napas tertahan.
"Gadis-gadis yang dulu kubeli, telapak kakinya seperti kulit pohon jati tua. Kering. Pecah-pecah. Retak seperti tanah musim kemarau." Kecupan lagi, lebih lama, membuat punggung Kusumawati melengkung ke belakang. "Tapi ini ... ini seperti kelopak anggrek hutan yang baru mekar."
Kusumawati membuka mata dan langsung mendelik.
Seorang pria Eropa raksasa sedang duduk di ujung tempat tidur, memegang telapak kakinya dengan kedua tangan besar, mengusap-usap seperti mengusap barang antik yang sangat berharga.
Jenggot cokelat keemasan yang lebat. Wajah seperti singa. Mata biru menatap telapak kakinya dengan penuh kekaguman.
Mendiang suaminya tidak pernah mencium kakinya. Bercinta dengan suaminya selalu mengikuti aturan ketat; lampu mati, selimut menutupi, tidak ada suara, hanya untuk satu tujuan: mendapatkan keturunan. Setelah putranya lahir, hubungan itu tak berkembang, tetap kaku.
Tapi pria asing ini ... mencium telapak kakinya seperti menyembah dewi.
"Lepas!" Suaranya serak.
Kusumawati menarik kakinya, tapi tangan besar itu masih memegang—erat tapi lembut, seperti memegang burung yang tidak ingin dilepas tapi juga tidak ingin diremukkan.
"Kenapa?" Jan Coen mendongak dengan mata polos. "Apa sentuhanku menyakitimu?"
Kusumawati menyentak kakinya sekali lagi, kali ini berhasil terlepas. Dia mundur ke sandaran tempat tidur, menarik selimut tipis untuk menutupi tubuh yang baru disadarinya tanpa sehelai benang pun.
"Berani-beraninya kau mencium kakiku!" bentaknya dengan suara yang masih serak. "Kau tahu aku siapa?!"
Jan Coen memiringkan kepala, menatap dengan tatapan menilai.
"Kau? Kau Suketi binti Suketo. Baru kubeli kemarin dari rumah bordil dengan harga 550 gulden."
"Suketi?” Kusumawati mengerutkan dahi. “Siapa Suketi? Aku bukan suketi. Aku Gusti Kanjeng Raden Ayu Kusumawati! Istri mendiang Bupati! Ibu dari Bupati yang sekarang berkuasa! Bagaimana bisa kau membeliku dengan harga yang sangat murah? Tubuhku tidak ternilai harganya! Ini tidak masuk akal, ini pasti mimpi buruk!"
Hening.
Jan Coen tidak tertawa. Tidak mengejek. Dia hanya menatap, lalu mengangguk pelan penuh pengertian.
Dia bangkit dari posisi duduk, tinggi badannya yang mencapai 2 meter lebih membuat langit-langit kamar terasa rendah.
Kusumawati mendongak. “Siapa kau? Aku tidak mengenalmu sama sekali!”
“Aku?” Mata biru Jan Coen melebar. "Ahh … ya, kita bahkan belum sempat berkenalan. Kalau begitu, aku akan memperkenalkan diri."
Dia menegakkan punggung, mengangkat dagu, tiba-tiba terlihat seperti perwira militer yang sedang dalam upacara resmi.
"Jan Johannes Coen. Luitenant-Kommandeur Koninklijke Marine, Armada Hindia Timur. Dua puluh tiga tahun mengabdi di lautan. Sekarang ditugaskan sebagai Kepala Pengawas Hutan Lindung Wilayah Selatan—karena tidak ada orang lain yang cukup kuat untuk pekerjaan ini."
Dia tersenyum.
Kusumawati membeku, potongan ingatan mulai merayap masuk perlahan. Dia kemarin terbangun di atas tempat tidur bersama pria ini, mencoba kabur dan berakhir dengan para pria mabuk yang mencoba memperkosanya, dan diselamatkan laki-laki ini. Kepalanya berdenyut.
Dia menatap sekeliling kamar. Dinding kayu sederhana. Langit-langit rendah. Jendela dengan kisi-kisi kayu. Bau dupa murah bercampur dengan parfum pria Eropa.
“Ini bukan kadipaten," bisiknya, lebih kepada diri sendiri. "Seorang raden ayu tidak mungkin di tempat seperti ini, dan direndahkan seperti semalam. Jadi, siapa aku sebenarnya?"
Jan Coen duduk di tepi tempat tidur, membuat kasur melesak dalam. Matanya menatap Kusumawati dengan tatapan yang berbeda sekarang, lebih lembut.
"Tidak apa kalau kau lupa siapa dirimu sebenarnya. Itu wajar setelah apa yang kau lewati semalam. Aku sudah melihat ini sebelumnya. Di kapal perang. Prajurit yang selamat dari pertempuran hebat. Mereka bangun dengan tidak ingat siapa diri mereka. Atau lebih buruk ... mereka ingat, tapi ingatan itu bercampur dengan khayalan."
Dia mengulurkan tangan, menyentuh pipi Kusumawati dengan punggung jarinya.
"Kau mengalami malam yang sangat buruk kemarin. Dikeroyok pria-pria brengsek itu. Hampir ...." Dia tidak melanjutkan. "Wajar kalau pikiranmu terguncang."
Kusumawati tidak menjawab. Matanya menatap kosong ke depan, mencoba mengumpulkan kepingan-kepingan ingatan yang berserakan.
‘Aku Kusumawati. Aku tinggal di kadipaten. Aku punya putra bernama Soedarsono. Aku ....’
Tapi bagaimana dia bisa berakhir di kamar asing ini, padahal penjagaannya di kadipaten sangat ketat?
"Yang membuatku heran …," Suara Jan Coen memecah lamunan, "Kau tidak menangis."
Kusumawati mendongak.
"Apa?" Dahinya berkerut bingung.
"Kau tidak menangis." Jan Coen mengulangi dengan nada yang terdengar ... kagum? "Gadis-gadis yang kubeli, semuanya menangis. Dari pertama dibawa sampai berhari-hari kemudian. Menangis, meratap, memohon. Seperti burung gagak yang tidak berhenti berteriak. Membuatku gila."
Dia mencondongkan tubuh, wajah singanya lebih dekat sekarang.
"Tapi kau? Setelah semua yang terjadi semalam?" Senyumnya melebar. "Kau bangun dan langsung membentakku. Menyebutkan gelar tinggi bangsawan lokal. Menatap dengan mata yang ingin mencabik-cabikku."
Tawa rendah keluar dari dadanya.
"Kau seperti harimau betina. Terluka, terpojok, tapi masih menggeram dan siap mencakar."
Tangannya turun dari pipi ke dagu Kusumawati, mengangkat wajahnya.
"Aku suka itu. Sangat suka."
Mata biru itu berkilat, ada kegilaan di sana, tapi juga kekaguman yang tulus.
"Di hutan, hanya yang kuat yang bertahan. Yang lemah mati lebih dulu." Ibu jarinya mengusap bibir bawah Kusumawati. "Kau akan bertahan di sisiku, tidak cepat mati seperti gadis-gadis yang pernah kubeli. Aku yakin itu."
Kusumawati menepis tangan itu dengan keras.
"Jangan sentuh aku!"
Jan Coen tertawa, tidak tersinggung sama sekali.
"Lihat? Harimau betina." Dia bangkit, berjalan ke arah meja di mana nampan makanan sudah tersedia. "Kau boleh jadi Raden Ayu atau bahkan Ratu Belanda. Boleh jadi siapa saja."
Dia menoleh dengan senyum yang sangat lebar.
"Aku akan memanggilmu Raden Ayu setiap hari kalau itu membuatmu senang. Asal ...."
"Asal apa?" Kusumawati masih tampak bingung.
"Asal kau ingat satu hal, kau adalah milikku."
Hening yang sangat berat.
Kusumawati menatap pria raksasa yang sekarang sedang menuangkan teh ke cangkir dengan gerakan yang sangat santai. Punggung selebar pintu. Lengan berotot yang bisa meremukkan tulang. Suara yang bisa menggelegar seperti guntur.
jgn khawatir, bupati baru itu ga diragukan lgi kemampuannya. dijamin ga bakal menyesal telah menggantikan putramu 😁
gak sabar saat mereka dipertemukan lagi dAlam keadaan Keti sedang hamil... 🤭
knp dlu kau singkirkan hadeh kejam kan kau
tp skrg apa coba
Heu heu kangen update arjo lg ndoro..
maturnuwun uda update🙏