Ivan hanyalah seorang remaja dari desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk stadion besar dan sorotan kamera. Namun, impiannya menjulang tinggi—ia ingin bermain di Eropa dan dikenal sebagai legenda sepak bola dunia.
Sayangnya, jalan itu tidak mulus. Ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki, menentang keras keinginannya. Bagi sang ibu, sepak bola hanyalah mimpi kosong yang tak bisa menjamin masa depan.
Namun Ivan tak menyerah.
Diam-diam ia berlatih siang dan malam, di lapangan berdebu, di bawah hujan deras, bahkan saat dunia terlelap. Hanya rumput, bola, dan keyakinan yang menemaninya.
Sampai akhirnya, takdir mulai berpihak. Sebuah klub kecil datang menawarkan kesempatan, dan ibunya pun perlahan luluh melihat kegigihan sang anak. Dari sinilah, langkah pertama Ivan menuju mimpi besarnya dimulai...
Namun, bisakah Ivan bertahan di dunia sepak bola yang kejam, penuh tekanan dan kompetisi? Akankah mimpinya tetap menyala ketika badai cobaan datang silih berganti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Perkenalan kehidupan Ivan
"Namaku Ivan Alfarizi. Umurku sekarang 16 tahun. Aku tinggal di kota surabaya, tapi di daerah pedesaan yang agak jauh dari pusat kota" gumamku.
"Ivan! Cepat ke sini, makan!" panggil ibu dari dapur.
"Iya!" sahutku dari dalam kamar.
"Dia ibuku. Walaupun agak galak tapi aku tetap menyayanginya" batinku sambil berjalan ke dapur.
Sesampainya di dapur, aku duduk di kursi lalu membuka tudung saji. Makanannya sederhana tempe dan telur. Tapi aku sudah terbiasa dengan itu.
"Maaf ya, Ivan. Kalau ibu besok punya uang, pasti ibu belikan ayam atau ikan. Nggak apa-apa kan, untuk hari ini makan tempe dan telur dulu?" tanya ibu Ivan sambil meletakkan piring.
"Nggak papa kok bu, bisa makan aja Ivan sudah bersyukur!" jawabku sambil mengambil nasi.
"Yaudah, Ivan. Setelah makan kamu bantu ibu bersih-bersih rumah, karena kamu lagi libur ya!" ujar ibu.
"Tapi Bu, rencananya hari ini aku mau latihan bola sama temen-temen" jawabku sambil mengunyah makanan.
"Kamu ini, mikirnya cuman bola terus. Lihat anak Pak Samat, dia mau bantuin ayahnya di sawah. Sedangkan kamu!!" ucap Ibu Ivan yang sedikit emosi.
"Iya ibu" jawabku pelan.
"Yaudah, cepet habisin makannya" ujar ibu sebelum pergi ke luar.
Ibu lalu pergi keluar untuk bekerja di rumah tetangga, ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga.
Setelah makan aku lalu membantu ibu membersihkan rumah.
"Ah... Bersih-bersih rumah" ucapku pelan.
Aku lalu menyapu rumah.
"Ivan!" panggil teman-temanku dari luar.
"Iya sebentar!" sahutku dari dalam, aku lalu berjalan keluar untuk menghampiri teman-temanku.
"Ada apa?!" tanyaku.
"Katanya mau latihan bola, tapi kok kita tungguin dari pagi kamu nggak datang-datang?!" tanya Andika.
"Hmm.... Bukannya nggak mau nih, tapi aku disuruh bersih-bersih rumah" jawabku sambil masih memegang sapu.
"Yaudah, kalau udah selesai langsung aja kelapangan. Disana temen-temen yang lain udah nungguin!" ujar Azzam.
"Iya, nanti aku kesana" jawabku.
Setelah itu teman-temanku lalu pergi, sementara aku masih harus melanjutkan membersihkan rumah.
Saat sudah selesai bersih-bersih aku lalu melihat jam sebelum pergi keluar.
"Ah... Selesai juga, sekarang jam berapa? Hah! Udah jam 11?! Aku harus buru-buru kelapangan!" ujarku sebelum pergi.
Aku lalu pergi kelapangan, sesampainya dilapangan aku kaget karena sudah tidak ada orang selain Azzam disana.
"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kaki Ivan.
"Ah... Ah... Ah..." aku yang terengah-engah.
"Dimana yang lain?!" tanyaku ke Azzam yang masih disana.
"Yang lain sudah pulang. Soalnya kamu kelamaan bersih-bersih rumahnya!" jawab Azzam sambil meminum air ditangannya.
"Yah" batinku.
"Jadi, masih mau main, Zam?!" tanyaku ke Azzam.
"Besok aja, sekarang udah siang" jawab Azzam sebelum pergi dari lapangan.
Azzam lalu pergi meninggalkan ku sendirian dilapangan, aku lalu duduk dan bersandar di tiang gawang untuk menikmati angin yang berhembus pelan.
"Hah...." aku menghela napas.
Angin berhembus melewati tubuh Ivan secara perlahan. Daun-daun terbang tertiup angin, serta rerumputan seperti menari-nari karena hembusan angin.
"Besok...? Apa aku besok dibolehin main bola sama ibu?!" batinku pelan.
"Seandainya ayah nggak pergi keluar kota untuk kerja, pasti aku bisa diajarin main bola ayah!" batinku yang mengenang ayah.
"Kenapa ayah pergi saat aku masih kecil?" batinku.
Tanpa sadar air mataku menetes perlahan, sedikit demi sedikit.
Waktu cepat berlalu saat aku mengenang ayah, aku lalu berdiri dan berjalan pulang ke rumah.
"Saatnya pulang" batinku.
Aku lalu pulang ke rumahku, walaupun rumahku sederhana tapi itu sudah cukup untuk menjadi tempat berlindung.
"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kaki Ivan.
"Hmm... Kapan ya desa ngadain lomba sepak bola, atau minimal tarkam?!" batinku sambil terus berjalan.
Sesampainya di rumah aku langsung masuk ke kamarku. Kamarku sederhana tapi di tembok terpajang beberapa poster pemain bola, seperti Cristiano Ronaldo, dan Lionel Messi, dan kelihatannya ibu belum pulang kerumah.
"Tidur dulu ah" ujarku.
Aku lalu berbaring dan tidur sejenak untuk mengistirahatkan tubuhku yang agak lelah.
"Meong" suara kucing dari luar rumahku.
Ivan tertidur pulas di kamarnya yang agak berantakan, sementara itu ibu Ivan yang sedang bekerja sebagai ibu rumah tangga di rumah tetangga.
"Udah jam segini, Ivan sudah selesai bersih-bersih rumah belum ya?!" batin ibu Ivan.
"Bu, Lastri. Saya sudah selesai bersih-bersih, jadi saya mau pulang" ujar ibu Ivan sebelum pulang.
"Oh, Iya" sahut bu Lastri.
Ibunya Ivan lalu pulang ke rumah.
"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kaki ibu Ivan.
Sesampainya di rumah, ibu Ivan langsung mencoba masuk tapi tidak bisa karena pintunya dikunci dari dalam.
"Terkunci?!" batin ibu Ivan.
"Tok... Tok... Tok..." Ibu Ivan mengetuk pintu.
"Ivan... Ivan... Ivan..." panggil ibu Ivan dari luar.
"Kayaknya Ivan lagi tidur" batin ibu Ivan.
Ivan yang masih tertidur jadi terbangun karena suara ketukan pintu.
"Siapa sih?!" batinku sambil mengusap mata.
"Ivan!!" suara ibu.
"Astaga, ibu!" ujarku panik.
Aku lalu berjalan cepat ke depan pintu.
"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kakiku
"Krek" suaraku membuka pintu.
"Kamu tidur?!" tanya ibu sebelum masuk kerumah.
"Iya, soalnya ngantuk. Hehehe" jawabku sambil tertawa pelan.
"Yaudah" ujar ibu.
Ibu lalu masuk ke dalam rumah, dan aku masuk ke kamarku.
"Krek" suara pintu kamarku.
Aku masuk dan mencari bola yang diberikan ayahku sewaktu kecil, aku terus mencari sampai akhirnya aku menemukan bola itu.
"Aku coba cari bola pemberian ayah. Dimana ya?!" gumamku sambil terus mencari.
Aku terus mencari dan tanpa ku sadari hari sudah sore, tapi beruntung aku berhasil menemukan bola itu.
"Aha... Ini bolanya!" batinku sambil mengambil bola.
"Bola adalah teman!!" ujarku yang membaca tulisan di bolanya.
"Bola adalah teman? Apa maksudnya?! gumamku pelan sambil terus memandangi bola itu.
" Ivan!! Kesini makan, udah sore!!" panggil ibu dari dalam dapur.
"Iya!!" sahutku dari dalam kamar.
Aku lalu menyimpan bolaku, dan langsung ke dapur untuk makan.
"Tap... Tap... Tap..." suara langkah kakiku.
Sesampainya di dapur, aku lalu duduk dan membuka tudung saji.
"Sayur kangkung? Dapat dari mana bu?!" tanyaku sebelum makan.
"Tadi diberi bu Lastri" jawab ibu.
Aku lalu makan, dan setelah makan aku disuruh ibu untuk mandi.
"Ivan, setelah makan langsung mandi ya" ujar ibuku.
Aku hanya menganggukkan kepalaku secara perlahan.
Dan setelah selesai makan, aku segera mandi agar tidak dimarahi ibu.
"Mandi, habis itu belajar" batinku sambil terus berjalan ke kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi, aku lalu mandi sebelum pergi belajar di kamar. Aku hanya menggunakan gayung untuk mengambil air, tapi itu sudah cukup untuk ku dan ibuku.
Setelah selesai mandi, aku lalu bergegas ke kamar untuk belajar.
"Belajar lagi" batinku.
Dari sore ke malam hari, aku hanya berada di kamar untuk belajar. Setelah selesai belajar aku lalu tidur.
"Huah!!" aku mengantuk.
"Tidur dulu" ujarku.
Aku lalu tidur untuk melewati malam.
Ivan pun menutup matanya, berharap esok pagi akan membawa sedikit cahaya dan mungkin, sedikit izin untuk bermain bola.
Bersambung...