NovelToon NovelToon
Pemilik Hati Ku

Pemilik Hati Ku

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Angst / Tamat
Popularitas:174.3k
Nilai: 5
Nama Author: shalsyalala

Follow Ige author : Shalsyala


"Apa kamu lupa? aku menyetujui pernikahan ini hanya untuk menyelamatkan kehormatan keluarga ku dari rasa malu kak..?"
Livia Gunawan Baskoro.

"Aku tidak pernah mengingat apapun itu, yang aku ingat kamu sekarang adalah istriku, dan kamu sangat mencintaiku sejak dulu, tapi sekarang kenapa aku tak lagi melihat cinta itu?"
Anggara Wisnu Hutama

Dua anak manusia itu terikat hubungan persahabatan sejak kecil dan di kehidupan sekarang keduanya terikat dalam sebuah pernikahan tanpa rencana yang dilakukan Angga dalam menyelamatkan Livia dari rasa malu.

Mampukah mereka mempertahankan mahligai rumah tangga yang berlandaskan cinta yang berlimpah dari Livia namun tidak untuk Angga yang hati dan cintanya masih dimiliki orang lain?



Yuuuk merapat langsung baca yaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shalsyalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

01

"Saya terima nikah dan kawinnya Livia Gunawan Baskoro binti Gunawan Baskoro dengan mas kawin cincin emas sepuluh gram dibayar tunai!"

"Saaaah.. saaaah.."

Ucapan janji suci antara wanita dengan laki laki yang telah menjadi suami istri selama hampir lima bulan lamanya itu masih terdengar mendayu dayu ditelinga seorang Livia yang kali ini tengah berdiri di depan foto pernikahannya.

Bibirnya mengulas senyum penuh ironi. Matanya menerawang mengingat perjalanan hidup dan cintanya yang telah berada di titik ini. Perjalanan dalam mendapatkan cinta laki laki yang kini telah menjadi suaminya. Ya, sosok Anggara Wisnu Hutama yang sejak lama memenuhi hatinya, kini dirinya telah berhasil mendapatkan diri laki laki itu, namun tidak dengan hatinya. Livi masih tak bisa mendapatkan hati dan cinta suaminya.

"Kamu sudah siap?" tanya Angga yang sudah duduk diatas motor sport merah miliknya.

Livi tersenyum riang sambil mengangguk. "Siap donk!" Ia segera memakai helm lalu naik ke atas motor milik Angga.

"Pegangan!" Angga menarik kedua tangan Livi agar melingkari diperutnya.

"I-iya." Rona merah bersemu di tulang pipi Livi.

Motor yang membawa dua muda mudi berseragam putih abu abu itu pun segera melaju dikepadatan jalan raya.

"Kak! setelah kamu kuliah aku berangkat sama siapa?" tanya Livi saat motor berhenti di tengah jalan menunggu lampu merah berganti hijau.

"Sudah saatnya kamu nurut sama om Gunawan, berangkat pulang sekolah pakai mobil. Kamu setahun lho Liv bareng aku naik motor. Kepanasan kena debu kayak gini." Kata Angga lalu bersiap menarik gagang gas ditangannya saat melihat lampu sudah berganti kuning.

"Tapi aku suka naik motor bareng kamu kayak gini."

"Kamu suka naik motornya apa suka sama yang punya motor?"

Deg!!

Livi merenggangkan tangannya yang melingkar diperut Angga. Hatinya ragu ragu hendak manjawab pertanyaan Angga.

"A-aku suka sama kamu!!"

Bersamaan dengan itu sebuah motor rakitan dengan knalpot tidak standart yang mengeluarkan bunyi berisik lewat disamping motor Angga.

"Apa Liv? Kamu bilang apa?" tanya Angga.

"Kak Angga tidak mendengar ucapanku?"

Livi menghembuskan nafas lega saat kalimatnya tak didengar Angga. Keberanian yang datang tuba tiba itu seketika menciut saat selesai mengucapkan pernyataan sukanya. Sudah sejak lama ia memendam perasaan pada pemuda yang ia kenal sejak taman kanak kanak dulu, namun ia tak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Terlalu malu bagi dirinya untuk mengungkapkan isi hatinya.

"Aku tungguin nanti pulangnya." Ucap Angga setelah gadis berwajah bule itu turun dari motornya.

"Oke. Tunggu aku di tempat biasa." Jawab Livi sembari memberikan helm pada Angga.

Keduanya pun kembali meneruskan langkah masing masing. Angga yang tahun ini telah menyelesaikan masa SMA nya, kini mengunjungi sekolahnya hanya untuk melengkapi perihal acara wisuda yang akan digelar beberapa hari lagi. Sedang Livi hadir disekolah untuk melihat pembagian kelas dimana ia berada di tahun kedua di SMA itu.

"Astaga! Kenapa penuh sekali." Gumam Livi saat melihat para siswa lain berjubel di depan papan pengumuman.

Buughh!!!

"Maaf maaf tidak sengaja!" Ucap seorang siswi yang tanpa sengaja menyenggol lengannya, entah siapa Livia merasa tidak pernah melihah gadis itu meski telah setahun bersekolah di sana.

"Ck! Hati hati doonk!" Sentaknya dengan wajah sebal melirik sinis kearah siswi itu.

"Maafkan aku, aku tidak sengaja." Ucap siswi itu dengan wajah bersalah.

"Udah sana sana!" Seru Livi sambil mengibaskan tangannya.

Ya, itulah salah satu sifat dari seorang Livia. Gadis berparas cantik blasteran dengan garis keturunan milik sang ibu seorang warga negara asing dengan sang ayah seorang asli pribumi. Terlahir sebagai anak tunggal dari keluarga yang memiliki kerajaan bisnis dimana mana, membuat ia tak segan untuk bersikap arogan pada semua yang menyinggung perasaannya atau berbuat tidak baik padanya.

Setahun bersekolah di SMA itu, tak membuat dirinya memiliki banyak teman. Pertemanan yang sering ia jalin dengan siswa siswi lain selalu tak bertahan lama. Ia akan memilih untuk bersikap acuh dan hanya bertegur sapa saat benar benar terpaksa. Karena banyak dari mereka berteman dengan Livi hanya untuk memanfaatkan, kepopuleran, kepintaran, kecantikan juga harta yang dimiliki gadis yang hampir mendekati kata sempurna dari berbagai sisi itu.

Dan selama setahun bersekolah Livi hanya berteman baik dengan Angga yang notabene adalah teman masa kecilnya. Mulai dari berangkat sekolah, jam istirahat hingga pulang sekolah pun ia selalu menempel pada Angga.

Hampir setiap hari dan selama setahun ini ia selalu sedekat ini dengan Angga. Sosok laki laki yang ia kenal sejak taman kanak kanak hingga di masa remajanya. Dan entah sejak kapan sosok Anga telah memenuhi hatinya hingga di detik ini, tak pernah berkurang dan malah terus bertambah.

Setelah membiarkan siswi yang tak sengaja menabraknya tadi, Livi melanjutkan langkahnya menuju papan pengumuman sambil mengotak atik ponsel ditangannya.

Bugghh!!

Karena tak melihat jalan didepannya, Livi menubruk tubuh seseorang didepannya yang sepertinya sedang melihat papan pengumuman juga.

"Astaga, kamu tidak apa apa?" Livi mencoba menegur gadis yang ia tabrak.

Saat gadis itu berbalik, Livi terkejut saat melihat seragam putih dan rok abu abu yang dikenakan gadis itu basah, kemeja seragam putihnya basah berwarna merah terkena tumpahan minuman yang berada di tangan gadis itu.

"Bajumu basah!" Ujar Livi penuh rasa bersalah.

"Aku tidak apa apa. Kamu baik baik saja?" Gadis itu tersenyum, tak ada wajah kesal atau marah yang ia tunjukkan. Padahal jelas jelas Livi yang menabraknya.

Livi terpaku ditempatnya. Mengamati wajah gadis yang tak pernah ia lihat sebelumnya disekolah ini. "A-aku tidak apa apa?" Jawab Livi.

"Kamu Livia kan?"

"Kamu kenal dengan ku?"

"Tidak!" Gadis itu tersenyum. "Tapi siapa yang tidak tahu seorang Livia Gunawan. Satu satunya siswa bule disekolah kita." Suara kekehan terdengar.

Livi hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan gadis itu.

"Kamu mau lihat pembagian kelas juga? Kita satu kelas lho?"

"Benarkah?"

"Iya. Kenalin nama ku Alya!" Gadis bernama Alya itu mengulurkan tangannya.

"Livi." Balas Livi. "Tapi ini bagaimana? Aku yang salah, kamu tidak marah?" Livi mengamati baju Alya yang basah.

Alya terkekeh sambil mengusap ujung roknya. "Akan sangat lucu marah hanya untuk hal seperti ini. Toh, kamu juga tidak sengaja kan?"

Livi mengangguk.

"Baiklah, aku ke toilet dulu ya. Semoga harimu menyenangkan." Ujar Alya lalu berlalu meninggalkan Livia yang masih mematung ditempatnya.

Kejadian yang dialaminya barusan seolah menampar dirinya sendiri. Sikap arogan yang ia berikan pada seseorang yang tak sengaja menabrak dirinya sesaat lalu berbanding terbalik dengan apa yang ia terima saat juga tak sengaja menabrak orang lain. Ia berfikir, dirinya yang keterlaluan atau memang gadis bernama Alya itu memang gadis yang baik hati.

*******

Tepat pukul sebelas siang, sebagian siswa memilih untuk pulang karena memang masih belum ada jadwal mata pelajaran, mengingat masih dalam masa masa Class Meeting.

Begitu pun dengan Livia, gadis itu berjalan menuju parkiran sekolah. Livi melambaikan tangannya saat melihat Angga duduk di teras mushollah sekolah yang berdekatan dengan area parkir.

"Udah lama nunggunya?" tanya Livi. Gadis itu duduk bersebelahan dengan Angga.

"Aku baru selesai. Mau langsung pulang?" tanya Angga.

"Kita jalan jalan dulu yuuk kak, mumpung masih siang gini."

"Kemana?"

"Jalan dulu aja pokoknya."

Angga pun mengangguk, lalu berdiri diikuti Livi. Keduanya menuju motor Angga terparkir. Baru beberapa langkah, Livi menghentikan langkah lalu melambaikan tangannya pada seseorang yang sedang berdiri di bawah pohon beringin tak jauh dari area parkir.

"Alya!"

Panggilan dari Livi membuat Alya menoleh. Gadis berparas manis itu tersenyum sambil melambaikan tangan.

"Mau pulang?" Livi berucap tanpa suara hanya gerakan tangan untuk memperjelas ucapannya.

Alya seolah mengerti, gadis itu mengangguk lalu kembali melambaikan tangan. "Aku duluan." Ucapnya lalu berlari menghampiri sebuah motor yang sudah berhenti di depan gerbang sekolah.

"Kamu punya temen sekarang?"

Angga memecah lamunan Livi saat melihat kepergian Alya. "Ihh.. pertanyaan apa itu? Kakak kira gak ada yang mau temenan sama aku?"

Angga tertawa lalu mengacak puncak kepala Livi. "Banyak lah. Tapi kamu yang gak mau membaur dengan mereka."

"Mereka gak tulus, aku gak suka!"

"Terus tadi?"

"Alya?"

"Namanya Alya, sesuai dengan wajahnya." Angga manggut manggut sambil mengingat wajah Alya sekilas lalu.

"Kenapa?"

"Namanya manis seperti wajahnya."

DEG!!

Livi merasa hatinya mencelos keluar mendengar pujian Angga untuk Alya. Sudut hatinya tiba tiba terasa sakit.

"Kamu tahu Alya sebelumnya?" tanya Livi berusaha menenangkan gejolak hatinya.

"Baru tau ini, ternyata ada ya makhluk semanis itu disekolah kita. Aku selama ini kemana saja sampai tidak tahu. Apa mungkin dia anak baru?" tanya Angga, pemuda itu lalu memundurkan motornya dari barisan motor motor lain.

Livi tertegun ditempatnya mendengar ucapan Angga. Masih tak percaya dengan apa yang Angga katakan. Setelah sekian tahun bersama dengan Angga, Livi tahu betul pemuda yang menjadi tambatan hatinya itu sekalipun tak pernah setertarik ini dengan gadis diawal jumpa.

"Jadi jalan jalan gak?" Angga membuyarkan lamunan Livi.

"Eeh?"

"Ayo!" Angga memberikan helm.

"I-ya ayo." Livi pun segera memakai helm dan duduk di atas jok motor Angga.

"Pegangan!" Angga melingkarkan tangan Livi di perutnya. "Kenapa sih harus di ingetin dulu!" Omelnya.

Debaran jantung Livi saat berada sedekat ini dengan Angga membuat iramanya tak beraturan. Ia mengerjabkan matanya berulang, menarik nafas lalu menghembuskannya kasar. "A-ku lupa kak." Jawabnya.

Angga tak membalas ucapan Livi, dirinya hanya mengulas senyum di balik helm teropong yang ia pakai. Segera ia pun menarik gagang gas motornya dan bersiap memecah kepadatan jalanan.

****

Haaaiii semunya..

Ini karya ku yang kedua ya, semoga kalian suka. Meneruskan dari ceritaku yang pertama tapi kali ini bukan Alya dan Akbar yang dibahas melainkan Livia dan Angga.

Dukung Author dengan komen dan like di tiap part-nya ya.

Happy Reading🥰

1
senja indah
torrr...apa g ada pgn bikin cerita ank kembar mereka hhh
senja indah: penasaran kisah mereka...LunaYumi
total 3 replies
Kaira Caem
aku yg gc nyambung apa cerita nya yaaa,,,kok tiba2 uda nikah aja gimana sih
AZura Hasan
👍👍👍👍👍
AZura Hasan
makin seru aj
AZura Hasan
perasaan gk bisa di paksakan
Regita Regita
kita tidak bisa menghujat atau menyalahkan Angga,karena kita ridak bisa memaksa atau mengatur perasaan oranglain.Angga yang sudah sangat lama berada dalam zona persahabatan dan menganggap Livi sebagai adiknya yang selalu ingin Angga lindungi,mesti merubah perasaannya menjadi cinta kepada Livi sementara Angga sangat mencintai Alya walaupun Angga juga sadar kalau sudah tidak mungkin untuk memiliki Alya.Angga ada pada titik bingung memastikan perasaannya pada Livi. seperti apa yang Akbar bilang pada Alya,seandainya Akbar jadi menikah dengan Livi,mungkin keaadaannya akan sama seperti Angga,Angga akan tetap mencintai Alya walaupun sudah menikah dengan Livi. ya...akhirnya kembali bahwa kita tidak bisa mengatur atau memaksa perasaan orang lain untuk memilih.kita kembalikan kepada Allah yang Maha membolak balikan hati manusia. karena ini dunia halu,kita kembalikan pada AUTHOR yang mengatur segalanya.semangat Author...ceritamu The Best.tetap semangat,semoga makin banyak yang baca.bunga dan kopi meluncur....💖💖💖
Shalsyalala: Huuu terharuuu kalau ada pembaca kayak kakak giniiii❤️❤️
total 1 replies
Regita Regita
sepertinya Vero,Nisya dan Dipta berkomplot untuk mengahancurkan rumahtangga Angga dan Livi...
Regita Regita
ceritanya bagus,tapi yang baca masih sedikit padahal udah lama ya? apa belum banyak yang menemukan judulnya,sama kaya aku yang baru menemukan dan langsung mampir.semangat kak...semoga makin banyak yang baca.
senja indah
ini cerita super keren tpi kok like y g ada ratusan....oh no...tetap semangat berkarya otor soleha
senja indah: aku.baca udah 2 kli torr...superrr keren...tpi sedih bgt...knpa readers y dikit bgt yaaa
total 2 replies
ani suchaeni
bagussss, alur ceritanya
Shalsyalala: makasih kak udah mau baca😍😍
total 1 replies
Fransiska Siba
makan itu kebodohan mu Livia, coba kau tidak memberi cela Vero dlu maka tidak akan sepeti itu
Fransiska Siba
itulah Alya ga peka perasaan org lain, pengen dia yg dimengerti terus
Shalsyalala: Jangan lupa baca kisah Alya juga ya kak 😘
total 1 replies
Fransiska Siba
untung Livia tidak salah dalam pergaulan di luar negeri ya krn tidak mendapat sandaran hidup. ini yg aku suka dari Livia dia bisa membatasi diri dalam bergaul dan dia mempunyai cita2 sederhana yaitu menjadi ibu yg baik dan istri yg baik, dia tidak mau mengulangi kesalahan org tuanya dikemudian hari, dia tidak mau menjadi seperti org tuanya, dia tidak mau anak2 nya merasakan apa yg dirasakan olehnya dlu.
Livia hidup kesepian tanpa arahan org tuanya, tp dia tahu arahan hidupnya menjadi lebih baik
Fransiska Siba
tp jujur aku lebih suka Livia dibandingkan dengan Alya, Alya banyak teman tp kesan murahan dan kurang peka perasaan org sekitarnya.
sedangkan Livia tidak banyak teman tp dia memantapkan hati pada satu hati dan dan dia benar2 pilih yg tulus padanya, meskipun dia harus merelahkan laki2 yg ia cintai bersama sahabatnya.
aku lebih suka sifat Livia
Mega Chai
ortua yg keras n memaksa anak untuk jadi no 1 seperti ortua livia adalah ortua yg akan membuat anak nya frustasi, didunia nyata utk org2 yg sudah jadi ortua,semoga kita semua tidak menjadi ortua seperti ortua livia,mw prestasi anak seperti apa pun kita harus ttp memberikan anak semangat utk menjadi lbh baik lagi bukan malah memaksa anak,krn sebagai anak pun mereka sudah berusaha utk mendapatkan prestasi yg terbaik,kita pun pernah diposisi anak kita dulu sebagai pelajar,
Shalsyalala: hai kakak salam kenal. Makasih ya sudah mau baca karyaku🤗
total 1 replies
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
❤️❤️❤️❤️💜💜💜💜💙💙💙💙
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙
Shalsyalala: makasih dukungannya kak
total 1 replies
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!