bagaimana jika saat izana yang berjalan dengan santai tiba tiba di sergap? dia dipaksa untuk ikut dan setelah dia bangu, tiba tiba tubuhnya menjadi seorang wanita, tidak lama kemudian izana menemukan pemuda yang adalah anggota Toman, dia menguji coba serum yang dia temukan hingga membuat pemuda itu juga sama seperti nya.
"wanita cantik" takemichi
"apa kau lihat lihat!?" izana
"garang sekali" takemichi
"kau sekarang sama denganku" izana
"hah?" takemichi nge-lag
"waaaaaa kau jahat sekali izana!!" takemichi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sit nur Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
percobaan ilmuwan gila
Apa apaan ini semua?
.
.
.
Pada saat itu, Izana yang tengah berjalan ditarik oleh seseorang ke dalam sebuah gang yang sepi. Dia terus meronta dan mencoba untuk melawan dengan sekuat tenaga. Namun, tepat saat dia ingin melayangkan tendangan mautnya, sebuah tangan tiba-tiba membungkam mulut dan hidungnya dari belakang. Izana yang tidak siap pada saat itu langsung kehilangan kesadaran dalam sekejap.
Ketika perlahan membuka mata, dia mendapati dirinya berada di sebuah ruangan asing. Di sana, seorang pemuda misterius tampak tengah memegang sebuah suntikan yang berisi cairan aneh. Tanpa memedulikan kondisi Izana yang masih lemas, pemuda itu menyuntikkan cairan tersebut ke tubuhnya. Izana kembali tidak bisa bergerak dan kesadarannya perlahan meredup lagi akibat reaksi obat yang sangat kuat.
"Pada saat kau bangun nanti, kau akan tahu takdir apa yang akan kau miliki," bisik pemuda itu misterius sebelum semuanya menjadi gelap gulita.
"Ugh... aku merasa aneh," ucap Izana saat terbangun.
Dia mengernyit bingung. Seingatnya, samar-samar dia berada di sebuah ruangan bernuansa putih bersih seperti rumah sakit. Namun, mengapa sekarang dia justru terduduk di gang sepi tempat dia dibuat pingsan tadi? Izana yang kebingungan pun segera bangkit berdiri.
"Tubuhku nampak sangat berat, seperti ada yang menggandul di dadaku," ucapnya sembari langsung meremas dadanya sendiri.
Dia benar-benar tidak menyadari perubahan yang terjadi di balik kemejanya. Sedetik kemudian, wajah Izana langsung memerah padam. Dia merasakan sesuatu yang sangat lembut tengah memanjakan tangannya yang meremas dadanya sendiri.
"Oh, apa ini? Kenapa dadaku nampak sangat besar? Apakah aku meletakkan balon di sini?" Izana bergumam tidak percaya. Tanpa sadar, dia langsung mengintip ke balik kaos dan kemejanya.
Pssst!
"Waaagh! Ada dua semangka di dadaku!!" teriak Izana histeris.
"Aaaaaaa, asetku menghilang!! Ini sebuah penghinaan terhadap diriku sebagai laki-laki jantan!" ucap Izana yang langsung menangis gaib meratapi nasibnya. "Hiks... Kakucho, tolong..." rintih Izana yang hampir menangis sungguhan.
Mungkin sejak tertimpa masalah aneh ini, mentalnya menjadi sangat rapuh. Dia bergegas merogoh kantong celananya, berencana untuk menelepon Kakucho agar menjemputnya. Dia benar-benar terlalu malu jika harus bertemu dengan teman-temannya dalam kondisi seperti ini. Namun, alih-alih hanya menemukan ponsel, tangannya justru menyentuh sebuah botol kecil.
Itu adalah sebuah serum aneh berwarna hijau. Izana menatapnya curiga karena seingatnya, dia disuntik menggunakan cairan dengan warna yang persis sama.
"Ini apa?" ucap Izana sambil memiringkan kepalanya.
Tingkahnya nampak sangat menggemaskan saat sedang kebingungan seperti itu. Jika saja ada orang lain di gang sepi itu, mungkin Izana sudah dimasukkan ke dalam karung oleh seseorang yang dibuat gemas oleh penampilannya yang sekarang.
"Apakah ini penawar? Jika benar, maka aku harus meminumnya," ucap Izana sembari membuka penutup botol kaca yang didesain mirip wadah permen tersebut. Namun, dia mendadak ragu.
"Eh tunggu, jika aku meminumnya dan efeknya malah menjadi semakin parah, maka aku sendiri yang akan susah," ucap Izana sambil manggut-manggut pintar.
Dia pun memutuskan untuk menyimpan botol itu dan langsung mengeratkan jaket berwarna cokelat cream yang dikenakannya. Jaket yang sebenarnya sengaja dia pakai hari ini untuk menghampiri Mikey, adik angkatnya. Saat sedang merapikan pakaian, pandangannya tidak sengaja menangkap sosok siluet yang sangat familier di ujung gang.
"Bukankah itu anggota Toman?" ucap Izana sambil menyipitkan matanya. Dia melihat seorang pemuda berambut kuning yang berjalan sendirian sambil menjinjing kantong belanjaan.
"Hehe... sepertinya ini akan semakin menarik jika mengujinya ke anak itu," ucap Izana tersenyum menyeringai licik.
Di sisi lain jalan, pemuda berambut kuning itu sedang berjalan santai sembari bergumam riang.
"Ini sudah selesai dibeli. Wah, komik kesukaanku akhirnya sudah keluar! Chifuyu pasti akan langsung meminjamnya jika aku tidak segera membacanya terlebih dahulu."
Greb!
Bruk!
"Waaagh! Siapa kau?! Gadis?! Hei, menyingkir dari situ!" ucap Takemichi panik bukan main. Tiba-tiba saja Izana menerjangnya hingga mereka berdua terjatuh, dan kini Izana sudah menduduki perutnya.
"Nah, sepertinya aku harus mengujinya kepadamu," ucap Izana tersenyum penuh arti.
"Hah? Hei, menyingkir!" ucap Takemichi dengan wajah yang mendadak memerah karena posisi mereka yang terlalu intim.
Plak!
Sret!
"Hmmp?!"
Dengan gerakan yang sangat cepat, Izana menyumpal mulut pemuda di bawahnya dan langsung memasukkan paksa cairan dari botol hijau tadi ke dalam tenggorokannya.
"Hm, kau harus menelannya, Hanagaki," ucap Izana memastikan obat itu tertelan sempurna.
"Agh... kenapa kau melakukan ini kepadaku..." ucap Takemichi yang sudah meneteskan air mata di sudut matanya karena tersedak, sebelum akhirnya pandangannya menggelap dan dia tidak sadarkan diri.
Beberapa menit kemudian, Izana dengan setia menunggu di sampingnya. Takemichi perlahan terbangun dari tidurnya yang tidak direncanakan itu, lalu mengucek matanya dengan lemas.
"Kau sudah bangun? Memang benar dugaanku, serum itu akan membuatku menjadi sangat fatal jika aku nekat meminumnya sendiri," ucap Izana yang kini berdiri tegak sembari bersandar di dinding gang dengan satu kaki yang ditekuk.
"Uhm... apa yang kau lakukan padaku?" ucap Takemichi linglung. Otaknya masih berusaha memproses apa yang baru saja terjadi.
Dia perlahan berdiri dan langsung tertegun saat melihat gadis cantik di depannya. Gadis itu benar-benar terlihat sangat luar biasa cantik saat Takemichi memandangnya dengan teliti dari dekat. Wajahnya menawan dengan bentuk tubuh yang ramping, kulit tan yang eksotis, bermata ungu indah, serta rambut putih yang kontras. Jangan lupakan bulu matanya yang lentik sempurna dan bibir mungil berwarna pink cherry yang terlihat segar.
Ah, sepertinya Takemichi benar-benar dibuat terpesona oleh kecantikan gadis di hadapannya ini. Namun, kenapa auranya terasa sangat garang? Ternyata benar kata orang, jika berurusan dengan perempuan itu jangan pernah main-main.
Plak!
Tanpa sadar, Takemichi langsung menampar pipinya sendiri dengan cukup keras.
"Sadar, Takemichi. Kau sudah punya Hina!" gumamnya memperingatkan diri sendiri.
"Kenapa kau malah menampar wajahmu sendiri?!" ucap Izana yang sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran pemuda di depannya.
"Eh? Haha... kenapa ya?" ucap Takemichi tersenyum canggung dengan wajah yang mulai dibanjiri keringat dingin sembari menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Kau sekarang sudah sama denganku, Hanagaki," ucap Izana berjalan menghampiri Takemichi yang otaknya mendadak blank alias nge-lag.
"Hah? Sama? Sama apanya?" bingung Takemichi.
"Tuh lihat, kita sama-sama jadi wanita sekarang," ucap Izana santai sambil menunjuk ke arah dada Takemichi yang kini tampak menonjol dan terasa berat.
"Haaaaa?! Apa-apaan ini?! Kau mengubahku menjadi perempuan?! Kau jahat sekali!! Sekarang bagaimana caranya aku bisa ikut tawuran dengan Tenjiku?! Waaaa, ini sangat memalukan!!!" ucap Takemichi heboh luar biasa sambil memegangi dadanya.
"Hiss, diam! Kau berisik sekali!" ucap Izana kesal sambil menutup telinga.
"Hiks... kau jahat! Kau yang mengubahku menjadi seperti ini," ucap Takemichi mewek dengan wajah memelas yang sangat menyedihkan.
"Sudahlah, ayo kita pergi mencari penawarnya bersama-sama. Kau tidak perlu menangis cengeng seperti itu," ucap Izana mencoba menenangkannya.
"Lalu aku harus bagaimana sekarang? Apakah aku harus tetap ikut tawuran dengan penampilan seperti ini?" ucap Takemichi dengan mata yang masih berkaca-kaca.
"Mikirlah, bodoh! Kau harus menyembunyikan perubahan itu dengan sesuatu agar tetap bisa mengikuti tawuran tanpa dicurigai," ucap Izana memberi solusi.
"Baiklah... Oh iya, sebenarnya siapa namamu?" ucap Takemichi perlahan mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
"Izana," ucapnya cuek tanpa berniat menjabat tangan Takemichi yang terulur pasrah.
"Izana? Bukankah kau... ketua Tenjiku?!" ucap Takemichi langsung memiringkan kepalanya terkejut.
"Iya," ucap Izana singkat sambil bersedekap.
"Lalu apa sekarang kau akan tetap tawuran dengan Mikey-kun?" tanya Takemichi lagi.
"Tentu saja, bodoh! Kau dari tadi hanya bicara dan bertanya terus. Ayo ikut aku," ucap Izana langsung menyambar tangan Takemichi dan menariknya pergi menuju suatu tempat.
"Ini rumahmu?" tanya Takemichi saat mereka tiba di depan sebuah bangunan.
"Ayo masuk," ajak Izana.
Mereka akhirnya masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu. Izana kemudian berjalan ke dapur untuk mengambilkan minuman dingin serta beberapa makanan ringan untuk Takemichi.
Sebenarnya, diam-diam Izana suka melihat wajah Takemichi yang tampak canggung dan menangis seperti tadi. Wajah itu nampak sangat menggemaskan baginya. Takemichi memang memiliki wajah imut bawaan yang bisa membuat siapa saja merasa gemas. Bagaimana tidak, sepasang mata birunya yang berbinar cerah dipadukan dengan ekspresi wajah polosnya yang tanpa dosa membuat siapa pun goyah. Ditambah lagi dengan bibir mungil berwarna merah muda yang terlihat manis.
"Makanlah. Dan mulai sekarang kita adalah partner karena harus mencari ilmuwan yang sudah membuatku menjadi seperti ini. Setelah selesai makan, segera tutupi dadamu dengan perban khusus ini," ucap Izana setelah meletakkan nampan berisi minuman dan makanan ringan, sembari menenteng dua gulung perban putih yang biasa digunakan oleh anak tomboi.
"Bagaimana cara aku memakainya?" tanya Takemichi menatap polos ke arah Izana.
Tanpa banyak bicara, Izana langsung menyuruh Takemichi berdiri dan membantunya mengenakan perban khusus itu hingga bagian dadanya tampak lebih rata di balik pakaian.
"Sudah selesai. Lain kali aku akan memberikan pakaian dalam yang seperti tank top agar lebih mudah," ucap Izana setelah merapikan balutan perbannya.
Entah mengapa Izana bisa tahu banyak tentang hal-hal seperti ini secara mendadak. Tindakan itu tentu saja sangat mencurigakan.
"Huum," Takemichi mengangguk patuh dan langsung duduk kembali di sofa. "Apakah kau akan tetap menjadi ketua Tenjiku dengan kondisi seperti ini?" tanya Takemichi penasaran.
"Mungkin aku akan membuat skenario kematian palsu untuk diriku sendiri. Kalau kau bagaimana?" tanya Izana balik.
"Aku mungkin akan meninggalkan Toman untuk sementara waktu dan membuat alasan kepada yang lain kalau aku ingin fokus bersekolah dulu," ucap Takemichi menimbang-nimbang.
"Haih, baiklah. Kita berdua memang harus bisa beradaptasi dengan semua kegilaan ini," ucap Izana menghela napas panjang.
"Kalau begitu, aku akan pulang sekarang. Dadah," ucap Takemichi bersiap meninggalkan rumah Izana.
"Eh, tunggu! Berikan aku kontak ponselmu. Dan... apakah aku boleh memanggil namamu dengan lebih akrab?" ucap Izana sedikit ragu.
"Tentu saja boleh, Izana. Dan ini nomor teleponku," ucap Takemichi tersenyum manis sambil memberikan ponselnya agar dicatat oleh Izana.
"Baiklah, sekarang kau boleh pergi," ucap Izana berusaha menyembunyikan senyumnya.
"Baiklah, aku pulang dulu!" ucap Takemichi sekali lagi sembari melambaikan tangan dengan riang..
.
.
.
.
...-TO BE CONTINUED-...
makasih ya kak udah up banyak
hore kakak up
makasih ya kak udah up
up nya jangan lama lama ya kak
semangat ya kak