Lily terjebak dalam sebuah pernikahan yang tidak bahagia. Dante tidak pernah mencintainya. Dante menikahi Lily hanya untuk membayar hutang Budi orang tuanya kepada orang tua Lily.
Namun sebuah kecelakaan membuat keadaan berubah. Dante didiagnosa menderita cedera otak parah yang membuatnya kehilangan ingatan jangka pendek.
Dante hanya mengingat apa yang terjadi hari ini, lalu setelah dia tertidur dia akan melupakan semua. Begitu setiap harinya.
Inilah kesempatan bagi Lily untuk membuat suaminya bisa menerima dan mencintainya sepenuh hati.
Inilah kesempatan bagi Dante untuk memperbaiki kesalahan besar yang telah dia perbuat.
Namun, kehidupan tidak semudah itu untuk memberi mereka kebahagiaan.
berhasilkah mereka membangun Rumah tangga bahagia atau bahkan perceraian adalah jalan terbaik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tata Tetott, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Lily memandangi album foto pernikahannya enam bulan lalu. Raut bahagia terlukis di wajah semua orang yang ada dalam foto. Kecuali satu orang. Dante, suami Lily.
Saat itu Lily tidak tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Dante. Yang dia tahu, mereka berdua menikah tanpa saling mencintai sebelumnya. Tapi, tidak bisakah Dante memasang wajah bahagia di hari pernikahannya? Walau hanya pura-pura.
"Mas Dante, mau ke mana?" tanya Lily saat melihat suaminya berjalan melewatinya yang sedang duduk di ruang keluarga.
Dante tidak menjawab dan terus berjalan menuju pintu depan. Lily berdiri untuk mengejarnya.
"Mas, mau ke mana?" tanya Lily sekali lagi saat dia berhasil menangkap tangan suaminya yang hendak membuka gagang pintu.
Dante menatap kesal pada tangan Lily yang memegangi tangannya. Dia lalu menarik tangannya dengan paksa untuk terlepas dari tangan Lily.
"Aku mau ke apartemen Laura," kata Dante dengan suara yang sangat dingin.
Laura adalah wanita idaman Dante, kekasih Dante sejak bertahun-tahun sebelum pernikahannya dengan Lily.
"Tapi ini sudah malam." Lily tahu tentang perempuan lain yang ada dalam hati suaminya itu. Tapi Lily berusaha diam, walau sebenarnya hatinya sangat sakit.
Dante tidak peduli, dia tetap menekan gagang pintu.
"Mas apa kata orang kalau kamu mendatangi tempat wanita lain malam-malam begini? Besok masih bisa, Mas." Lily memohon agar suaminya tetap tinggal di sini. Menghabiskan malam di rumah besar mereka ini. Walau mereka tak pernah tidur sekamar.
"Kamu tidak punya hak untuk melarangku mengunjungi Laura kapan pun aku mau." Dante melotot dan mendesis tajam pada Lily. "Ingat! Kamu itu cuma penganggu dalam hubunganku dan Laura." Dante menunjuk kasar di depan wajah Lily sebelum Dia membuka pintu secara kasar lalu pergi dari rumah.
Malam ini cerah dengan taburan ribuan bintang, tapi tidak bagi Lily. Lily merasakan gemuruh petir mengisi ruang di kepalanya. Seperti ada badai besar juga dalam dadanya yang membuatnya sesak nyaris sulit untuk bernafas.