Devan menuju sofa yang ada di dekat jendela. Ia menyamankan posisinya. Menaruh satu tangan di atas kepalanya. Dan satunya lagi berada di dadanya. Dalam sekejap ia pun terlelap.
******
Beberapa jam kemudian.
Samar, netra dengan binar kesedihan itu mengerjap. Kepalanya sedikit sakit. Tubuhnya serasa remuk, seperti habis dipukuli. Aira belum begitu fokus, ketika ia melihat sekeliling ruangan. Begitu ia sadar secara penuh. Terdengar bunyi dari monitor yang ada di sampingnya.
Para medis langsung berdatangan. Aira hanya tertegun, bagaimana semua orang yang berpakaian putih itu dengan cekatan melakukan pemeriksaan.
"Apa yang terjadi?" Suara berat yang Aira kenali.
'Tidak mungkin. Itu tidak mungkin dia!" Sergah Aira dalam hati, tak percaya.
"Bisa menjauh sedikit Pak. Biar kami tangani. Sepertinya pasien sadar," ujar salah satu perawat menghalangi Devan untuk mendekat.
Dokter Rendra datang dengan sebuah catatan di tangannya. Dengan cekatan ia langsung memeriksa keadaan gadis yang berbaring lemah.
Devan membelalakkan mata ketika melihat jari-jemari dokter pria yang merawat istrinya, menyentuh dada. Devan menggerakkan rahangnya. Mengepal erat jemari tangan hingga memutih. Sungguh ia tidak rela.
Tapi, untuk melarang. Pasti malah pria tampan itu yang akan diketawai.
Dengan gusar, ia melangkah lebar keluar ruangan.
Tanpa Devan sadari, Ia telah ditumbuhi rasa cemburu. Cemburu pada pria yang mendekati Aira istrinya.
Devan hanya bisa mendengkus napas kasar. Ia baru saja tertidur beberapa jam. Kepalanya masih pusing belum lagi perutnya belum terisi semenjak kemarin sore, dan ketika terbangun, ia mendapati istrinya tengah dijamah oleh pria lain. Sungguh hal itu membuatnya kesal bukan main.
Tiba-tiba dering ponsel berbunyi cukup keras dan mengagetkannya. Tulisan "Mama" memanggil. Devan langsung menyentuh tombol warna hijau. Menaruh ponsel itu pada telinganya.
"Halo Ma."
"Kau ada.di mana?!" suara lembut penuh nada khawatir bertanya di ujung telepon.
"Iya, Ma, aku berada di rumah sakit Mulia Insan di kota Y," jawab Devan datar.
"Iya, Mama sudah tahu kalau kalian ada di rumah sakit ini. Mama sudah di depan, Kalian di ruangan apa?" tanya Linda di ujung telepon.
"Oh, Mama sudah di depan? Masuk saja Ma. Aira masih di ruang UGD."
Devan memutuskan ponsel, setelah ibunya menelpon.
Sesaat ia tersadar. Matanya membesar seketika.
"Mampus! Mama datang!"
Entah apa yang pria tinggi dan tampan itu pikirkan. Sepertinya, ia ingin menggali lubang dan mengubur dirinya sendiri.
Jika papanya, Rehan Bramantyo yang datang. Devan masih bisa mengatasinya, walau sulit. Tapi, jika Mamanya yang datang. Ia tak.uakin bisa mengatasi ibunya. Yang pasti ia tak akan selamat dari cecaran pertanyaan.
Pria itu bukannya takut pada sang mama. Tapi, rasa segan dan cinta membuatnya takut mengatakan sesuatu yang selama ini ditutupinya.
Devan menanti kedatangan kedua orang tuanya dengan perasaan cemas.
Berkali-kali ia menelan saliva kasar. Tapi, tenggorokannya tetap kering.
Benar saja. Wajah Devan seketika pias, melihat, Linda, mamanya berjalan cepat menghampirinya.
"Mana Aira? Bagaimana keadaannya? Kenapa bisa ia di sini?" dan serentetan pertanyaan yang membuat Devan hanya bisa mematung, tanpa bisa menjawab apapun
Bersambung.
Makanya... Jangan gitu.
Hai ... Readers aku update lagi nih. Tapi biar tambah semangat boleh dong like dan komentar positifnya.
boleh juga kasih votenya.
jangan lupa masukkan kisah ini pada ranjang baca kalian ya.
Sekali lagi mohon dukungannya.
Makasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Yus Warkop
ketauan sekarang ada barang bukti aira bawa tas mau pergi juga cincin nikah yg dilepas
2024-11-02
1
Dewi Dama
yang ngabarin..aira ke celakaan kan mama nya ...kenapa mm.nya harus tanya lagi...kenapa jd.begini...membingungkan...
2024-10-06
1
Renireni Reni
sini ma aq bantu jawab...soalnya devan pasti gk bisa jawab
2024-07-18
0