"Aira!"
Tak ada sahutan. Sepi. Itu yang pertama Devan rasakan. Ada sedikit rasa getar yang aneh, saat ia tak mendapati senyum tulus istrinya.
Devan menatap kamar pelayan yang biasa Aira tempati, kosong. Pria itu tak menemukan wanita yang menjadi istrinya di manapun. Sudut bibir Devan ditarik sebelah. Seringai sinis kepuasan terpancar dari raut wajahnya.
"Akhirnya. Wanita itu tahu diri juga untuk pergi," ujarnya pada diri sendiri.
Ia melangkah ringan. Entah mengapa tangan yang menampar pipi gadis itu terangkat.
Devan mengingat semua kelakuannya.
Agak sedikit khawatir jika gadis itu mengadu dengan pipi membengkak.
Mamanya pasti marah besar. Ia melewati vase itu. Ia menatap benda yang melingkar di tangan kirinya.
Pukul 20.32. Tidak mungkin wanita itu datang ke rumah Mama.
'Jika, iya. Mama sudah ada di sini menungguku,' gumamnya dalam
hati.
'Tapi, apa yang harus kukatakan jika Mama bertanya?' lanjutnya.
"Ah ... bodohnya Kau Devan!" Makinya pada diri sendiri.
Devan mulai kalut. Ia panik. Ingin ia menghubungi Aira. Tapi ia segera sadar. Jika ia tidak tahu sama sekali nomor ponsel gadis itu.
Untuk bertanya ke panti di mana tempat gadis itu tinggal. Devan sangat takut. Baru kali ini, pria itu begitu ketakutan setengah mati.
"Kenapa kau lakukan itu bodoh!" Lagi-lagi ia memaki dirinya.
Tiba-tiba ponselnya berdering keras. Sedikit ragu ia menerima panggilan itu. Ia melihat nama yang tertera pada ponselnya.
"Mama ...!" Serunya panik.
Lama ia tak mengangkat ponsel itu. Hanya menatapnya saja. Dering itu perlahan mati. Devan masih menunggu.
Lagi-lagi ponsel itu berdering. Pria itu makin gelisah. Hingga panggilan ke empat ia baru menerima telepon itu.
"Ha-halo Ma," ucapnya terbata.
Sedang di ujung sana Linda berteriak kencang.
"Kamu di mana! Aira kecelakaan! Cepat ke rumah sakit. Sekarang!"
"Apa!" teriak Devan tak percaya.
Ponsel yang dipegangnya merosot ke bawah. Wajah tampan itu berubah pucat. Lidahnya kelu.
Pikirannya kosong.
"Bagaimana bisa wanita itu kecelakaan. Mau kemana dia?" Pikirannya melayang.
Devan tersadar. Ia masih mendengar mamanya berteriak di sana. Pria itu segera mengambil ponsel yang tadi terjatuh.
"Iya Ma. Aku segera kesana!" Ucap Devan langsung memutus sambungan teleponnya.
Tanpa pikir panjang. Ia langsung berlari menuju mobilnya. Dan langsung tancap gas, menuju rumah sakit di mana Aira ditangani.
POV'S Aira
~Kesalahan terbesarku adalah, mencintainya teramat sangat.~ Aira.
Salahkah aku jika aku sangat mencintainya. Bahkan teramat sangat. Walau tatapannya membunuh jiwaku. Tapi, aku tak bisa berpaling darinya.
Berkali-kali ia menghinaku. Aku tetap sabar dan selalu tersenyum menyambut kepulangannya. Sedikit pun aku tak mengeluhkan perbuatannya padaku. Entah karena aku bodoh disebabkan cinta ini. Aku tak perduli.
Namun. Kekuatanku hancur saat dengan gamblang memperlihatkan noda lipstik di kemejanya, bahwa itu kepunyaan kekasihnya.
Tubuhku bergetar hebat. Air mata yang kusembunyikan mengalir tanpa bisa aku hentikan.
Ia marah besar, saat aku berkata, aku adalah istrinya. Apakah aku salah? Aku benar kan istrinya.
"Lihatlah dirimu yang tak jelas asal usulnya ini. Apakah pantas menjadi istriku?" Tanyanya penuh penekanan dan penghinaan. "Kau hanya budak!"
Ia mengusirku. Laki-laki yang aku cintai itu menyuruh aku pergi. Dengan satu tamparan keras di pipi. Aku terhenyak. Seumur hidupku aku tak pernah diperlakukan kasar seperti ini.
Aku menatapnya. Nanar. Ia pergi begitu saja. Cintaku hilang laksana debu.
Kubuka cincin kawin yang melekat. Kutaruh di atas nakas. Aku hanya membawa beberapa pakaian yang memang punyaku.
Aku pergi. Hari itu sudah menunjukkan pukul 15.12. adzan ashar sebentar lagi berkumandang. Kutatap sekali lagi rumah setengah neraka itu. Tak ada satu memory kebahagiaan di sana. Perlahan. Aku mantapkan langkah. Menaiki angkot yang lewat. Entah kemana aku tak tahu.
Sudah dua kali aku naik turun kendaraan umum. Tak terasa hari menjelang malam. Aku melewatkan ashar juga maghrib.
Tersenyum, setan telah menguasai hatiku.
Menatap keadaan sekitar. Ramai. Gedung-gedung tinggi menjulang.
'Di mana aku?' tanyaku dalam hati.
Seperti arang linglung. Aku berjalan menuju halte sepi. Berdiri seorang diri.
Tiba-tiba di arah sebelah kiri. Sebuah bus menyerobot kencang menuju arahku.
Brak!
Aku seperti menabrak sesuatu. Sakit. Pandanganku gelap seketika.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
senjasabdaalam
busnya rem blong?
2025-02-06
0
Renireni Reni
heemmmm
2024-07-17
0
Pristiwati Aja
😭😭😭😭😭😭😭😭
2022-04-07
1