Baru beberapa menit para petugas kepolisian pergi. Devan didatangi tiga orang berpakaian rapi.
"Maaf Pak, apa benar Anda suami dari korban?" Tanya salah satu pria berkemeja biru tua bercelana jeans.
Devan mengangguk membenarkan. Sebenarnya ia sudah sangat lelah, bahkan hari mulai beranjak pagi. Ia ingin segera masuk ruangan den merebahkan diri.
"Kami dari pihak supir, ingin mengajukan damai, Pak. Jika berkenan. Kami akan memberikan kompensasi sebesar seratus ju-..."
"Kalian pikir saya butuh uang apa!" Potong Devan cepat.
Tatapan datar dan dingin, membuat ketiga orang yang hendak bernegosiasi padanya menelan saliva kasar.
"Me-mang ti-dak ... tapi ...."
"Pergi kalian dari hadapanku. Sampai ketemu di pengadilan!" Potong Devan kembali menyudahi percakapan.
Ketiga orang tersebut saling pandang. Melihat ketiga orang itu bergeming di tempat. Devan makin emosi.
"Jika kalian masih ngotot. Aku pastikan besok perusahaan kalian rata dengan tanah!" Ancam Devan sungguh-sungguh.
"Ba-baik, Pak. Kami permisi. Selamat malam," ujar pria satunya yang berbadan sedikit kekar.
Mereka bertiga bergegas pergi dari hadapan Devan. Tampak pria tampan yang kini terlihat lelah itu mengusap wajahnya kasar.
Setelah agak jauh dari Devan. Tampak ketiga orang itu frustasi.
"Bagaimana ini?" Tanya pria yang tadi berbicara dengan Devan. "Siapa sih, Dia. Kok pake ngancam kita segala?"
"Kau nggak tahu?" Tanya pria yang berbadan sedikit kekar.
Pria berkemeja biru menggeleng. Sedang yang satunya hanya diam mengamati.
"Dia itu Devano Bramantyo. Presdir dari PT. Anugrah Citra," jelas pria berbadan kekar.
Tampak pria berkemeja biru mendadak pias. Siapa yang tidak mengenal sosok pria yang sekarang wajahnya wara-wiri di layar kaca karena mendapatkan berbagai penghargaan di bidang bisnis.
"Tuan muda Devano Bramantyo?" Tanyanya sekali lagi meyakini diri.
Pria berbadan kekar itu mengangguk. Tak ada lagi percakapan setelah itu. Mereka bertiga mulai berkecamuk dengan pikiran masing-masing.
Setelah kepergian ketiga orang itu. Devan memasuki ruangan.
Menatap sosok lemah yang terbaring di brangkar. Semua alat terpasang di dadanya yang kurus. Baru kali ini Devan melihat wujud istrinya secara detail.
Biasanya pria itu enggan menatap. Bahkan pertemuan terakhir mereka bisa di pastikan, Devan tidak memperhatikan wajah sang istri.
Wajah tirus dan pucat itu sangat cantik. Devan akui itu. Sepasang mata yang tengah tertutup rapat itu dihiasi bulu mata lentik dan tebal. Belum lagi alis yang melengkung indah tanpa bantuan pensil alis. Hidung mancung dan bibir sedikit tebal.
Devan menatap tubuh yang kurus dan berkulit putih mulus. Rambutnya hitam. Pria itu tak tahu pasti bentuk rambut istrinya, apakah ikal, lurus atau keriting. Karena tengah tertidur dan rambutnya terselip di belakang kepalanya.
Namun jika dilihat, anak-anakan rambut Aira. Sepertinya gadis itu berambut keriting.
Perlahan, Devan merapikan riapan rambut yang menutupi wajah Aira.
Deg
Deg
Deg
Devan segera menyentuh dadanya.
'Ada apa ini. Kenapa hanya dengan menyentuhnya saja. Jantungku berdetak kencang begini?' tanyanya dalam hati.
Devan menatap benda bulat yang menempel di dinding. Baru pukul 02.11 dini hari.
Devan menuju sofa yang terletak di sudut ruang. Ia mengatur suhu pendingin ruangan. Setelah dirasanya pas.
Ia membaringkan tubuhnya di sofa tersebut.
Pria itu meletakkan tangan kanannya di kepala. Sedang tangan kirinya di perut. Dalam hitungan menit. Devan pun tertidur.
Bersambung.
Itu baru kamu sentuh Dev. Belum kamu apa-apain. Jika udah apa2in kamu yang kelepek2 nti. Othor janji... 😂😂😂
yuk dukung terus semua karya-karyaku... makasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Yus Warkop
setelah sadar biarkan suamimu berikan pelajaran bersikapdaya
2024-11-02
0
Katherina Ajawaila
najis amat liat Devan, jijik. pengen tonjok aja 😡
2025-02-08
0
senjasabdaalam
emang ga ada double bad ya kan vvip
2025-02-06
0