Kau ingin pergi? Silakan

Kari tetap terdiam, mengatur napasnya yang masih tersengal. Ia mencengkram erat selimut di sekitarnya, menatap punggung Jacob yang kini duduk di sofa dengan punggung bersandar dan tangan terlipat di dada. Pria itu tampak santai, seolah tidak terjadi apa-apa barusan. Seolah dia tidak baru saja  mengucapkan kata-kata yang mengoyakkan Kari.

Hatinya masih berdebar, bukan karena rasa takut, tetapi karena sesuatu yang lebih dalam, yang ia sendiri tak berani namakan. Nama 'Siya' yang terus diucapkan Jacob menggema di benaknya. Ada sesuatu yang mengusik ketenangannya setiap kali nama itu disebut. Tapi dia tidak ingin memikirkannya. Tidak ingin mempercayai kata-kata pria itu.

Dia masih takut. Masih tidak berani percaya karena pengaruh semasa dirinya hidup dengan Lordan. Kebejatan Lordan sangat mempengaruhi kepercayaannya terhadap laki-laki lain. Saat ini, Kari menganggap semua laki-laki yang mendekatinya hanya ingin memanfaatkan dan mempermainkannya.

Matanya menyusuri ruangan, mencari cara lain untuk melarikan diri. Tapi dengan Matt dan anak buah Jacob lainnya yang berjaga di luar, serta Jacob sendiri yang masih berada di dalam, kemungkinan untuk kabur benar-benar nol. Perlahan, Kari memejamkan matanya, mencoba menenangkan pikirannya.

Hening. Hanya suara detak jam yang terdengar, dan sesekali suara hembusan napas Jacob yang begitu teratur. Kari melirik ke arahnya lagi. Pria itu masih dalam posisi yang sama, tetapi matanya terpejam, seakan sudah tertidur. Ini bisa menjadi kesempatan baginya.

Dengan sangat hati-hati, ia menggeser tubuhnya ke tepi tempat tidur. Jantungnya berdetak kencang saat kakinya menyentuh lantai. Ia melirik ke arah Jacob lagi. Masih diam. Pelan-pelan, ia bergerak menuju pintu, menahan napas agar tak membuat suara sekecil apa pun. Jemarinya hampir menyentuh gagang pintu saat suara berat itu kembali terdengar.

"Apa kau benar-benar berpikir bisa kabur dariku, Siya?"

Kari membeku. Perlahan, ia menoleh dan mendapati Jacob menatapnya dengan mata yang kini terbuka lebar. Matanya tajam, penuh kewaspadaan. Pria itu sudah berdiri, tubuhnya yang tinggi dan tegap mendominasi ruangan, membuat Kari semakin merasa kecil.

"Aku sudah bilang," lanjut Jacob, langkahnya mendekat.

"Jangan mencoba kabur."

Kari menggigit bibirnya, tubuhnya refleks mundur hingga punggungnya menempel di pintu. Tangannya mencengkeram bajunya dengan erat.

"Aku bukan Siya." serunya, suaranya terdengar lebih putus asa daripada yang ia harapkan.

Jacob berhenti beberapa langkah di depannya, menatapnya lama seolah mencari sesuatu dalam matanya.

"Kalau begitu, kenapa kau begitu gelisah saat mendengar nama itu?"

Kari terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Bahkan ia sendiri tidak mengerti mengapa hatinya terasa sesak setiap kali mendengar nama itu. Apakah mungkin dia memang Siya? Tidak! Itu tidak mungkin! Ia mencoba melawan pikirannya

Jacob menghela napas panjang sebelum akhirnya menyingkirkan dirinya dari jalur pintu.

"Kau ingin pergi? Silakan. Aku tidak akan menghentikanmu."

Kari menatapnya dengan penuh curiga.

"Apa?"

"Aku bilang, pergi saja kalau itu yang kau inginkan," ulang Jacob dengan nada lebih tegas.

Kari tidak langsung bergerak. Ini terlalu aneh. Jacob bukan tipe pria yang menyerah begitu saja. Ada sesuatu yang salah di sini. Namun, rasa ingin bebasnya jauh lebih besar daripada kecurigaannya. Ia mengulurkan tangan, menggenggam gagang pintu, dan menariknya dengan cepat.

Tapi pintu itu tidak terbuka.

Kari memutar kenopnya beberapa kali, mencoba mendorongnya, tetapi tetap tidak bergerak. Ia menoleh ke arah Jacob yang kini bersedekap dengan ekspresi santai.

"Aku tidak bilang kalau pintunya tidak terkunci," kata pria itu dengan smirk di wajahnya.

Kari merasakan panas di dadanya. Laki-laki sialan. Ia sengaja mempermainkannya.

Kari berbalik dan melayangkan pukulannya ke dada Jacob, tetapi pria itu dengan mudah menahannya seperti sebelumnya, menariknya mendekat, hingga tubuh mereka hampir bersentuhan.

Jacob hanya menatap, tidak bicara apapun. Ia menatap Kari dengan tatapan yang dalam, begitu dalam hingga menembus sampai ke hati Kari, membuat wanita itu berdebar-debar tak karuan. Dengan cepat ia memalingkan wajahnya dari pria itu takut pria itu akan menyadari kalau jantungnya berdetak cepat karena laki-laki itu.

Jacob sendiri tersenyum. Walaupun sikap Kari masih sarkas, jutek, menganggapnya musuh dan membencinya, ia meyakini kalau  jauh di dalam lubuk hati wanita itu masih tersimpan namanya. Meski kenangan mereka bersama dulu telah dia lupakan, rasa cinta itu tidak mungkin hilang. Jacob bisa merasakannya. Hanya saja isterinya masih bingung dan tidak percaya padanya.

Tidak apa-apa. Dia bisa menunggu. Yang penting dia bisa memastikan hari ini, wanita itu ada di dekatnya, berada dalam jangkauannya. Tak akan dia biarkan hilang atau disakiti orang lain lagi.

"Tidurlah, Siya. Aku tidak ingin bertengkar lagi malam ini. Kalau kau ingin bertengkar denganku, tunggu sampai besok pagi." gumam Jacob melonggarkan tangannya yang masih melingkari pinggang Kari.

Kari menelan ludahnya dengan susah payah. Dia ingin berontak, ingin mendorong tubuh Jacob agar menjauh darinya, tapi entah mengapa tubuhnya terasa lemah. Kedekatan mereka mengusik pikirannya, membuatnya kehilangan fokus.

Jacob akhirnya melepaskan Kari sepenuhnya dan berbalik, berjalan menuju sofa. Ia menjatuhkan diri ke sana dengan nyaman, menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa dan memejamkan mata.

Kari masih berdiri di dekat pintu, hatinya berkecamuk. Dia ingin marah, ingin menolak semua ini, tetapi sesuatu dalam dirinya membuatnya tetap diam. Mengapa hatinya berdebar setiap kali melihat sorot mata pria itu?

Kari akhirnya menyerah pada kelelahan yang melandanya. Ia berjalan menuju tempat tidur dan duduk di tepinya. Pikirannya penuh dengan berbagai spekulasi yang tak masuk akal. Ia menghela napas berat dan berbaring, menatap langit-langit dengan pandangan kosong.

Ruangan kembali hening, hanya ada suara napas mereka berdua. Mata Kari mulai terasa berat. Mungkin karena kelelahan, mungkin juga karena semua kekacauan dalam pikirannya. Sebelum ia benar-benar tenggelam dalam tidur, ia mendengar suara Jacob bergumam lirih, hampir seperti bisikan di antara kesadarannya yang memudar.

"Aku akan membuatmu ingat, istriku ... Aku janji."

Jantung Kari berdenyut aneh mendengar itu, tetapi ia sudah terlalu lelah untuk memikirkan lebih jauh. Kesadarannya perlahan menghilang, ia tertidur nyaman di kasur besar itu. Bahkan ia tidak pernah merasa senyaman ini saat berada di rumah Lordan, suaminya.

Terpopuler

Comments

Dwi Winarni Wina

Dwi Winarni Wina

Kari berdekatan dgn jacob jantungnya berdebar deg-degan dan begitu familiar....

kari jgn ngeyel dengarin kata jacob adalah suamimu,,,smg ingatan kari secepatnya pulih...

jacob carikan dokter terbaik buat kari biar cpt sembuh ingatnya pulih...

lanjutt thor....
semangat selalu...
sehat selalu......

2025-03-31

1

Rafki Al fat

Rafki Al fat

semoga ingatan karl cepat kembali

2025-03-30

0

Ahmad Zaki Zulkarnain

Ahmad Zaki Zulkarnain

mantaaap jiwa lanjut updatenya thor makin seru bikin penasaran sama kelanjutan cerita nya terimakasih

2025-03-30

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!