Kenangan yang hilang

Di kamar tempat Jacob membawanya, Kari duduk di tepi tempat tidur, tangannya mencengkeram erat selimut. Pikirannya masih kacau. Selama beberapa tahun ia hanya mengenal satu kehidupan, sebagai bagian dari keluarganya juga keluarga Rafael, meski kehidupannya jauh dari kebahagiaan.

Dia juga tidak tahu apa yang terjadi padanya beberapa tahun silam. Yang pasti, memang ada banyak sekali ingatan yang hilang seperti setelah ia terbangun dari tidurnya. Kata orangtuanya itu karena dirinya mengalami kecelakaan maut yang hampir merenggut nyawanya. Tetapi selama ini, dia baik-baik saja dengan keluarganya. Mereka semua memperlakukannya dengan sangat baik, bahkan bisa di bilang sangat menyayanginya. Kari bahagia dengan mereka.

Saat Jacob memanggilnya Siya, rasanya tidak masuk akal.

Tetapi, kenapa hatinya terasa berat setiap kali mendengar nama itu?

Kari menggigit bibir bawahnya. Ia harus keluar dari tempat ini. Ia tidak bisa percaya begitu saja pada Jacob. Mungkin pria itu hanya ingin memanfaatkannya seperti Lordan.

Pelan-pelan, ia berjalan ke meja di sudut kamar. Di sana ada vas kaca kecil dengan bunga yang sudah layu. Dengan hati-hati, ia mengambil vas itu, mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu menjatuhkannya ke lantai.

PRAAANG!

Kaca pecah berhamburan di lantai. Kari buru-buru meraih pecahan kaca terbesar dan menggenggamnya erat. Ia harus mencoba kabur, tidak peduli seberapa kecil peluangnya.

Namun, sebelum ia sempat bergerak lebih jauh, pintu terbuka dengan cepat. Seorang pria bertubuh besar dengan senjata di pinggangnya berdiri di ambang pintu.

"Apa yang kau lakukan?" suara pria itu berat dan waspada.

Kari menggenggam pecahan kaca lebih erat.

"Jangan mendekat," suaranya bergetar, tetapi penuh tekad. Sarat akan ancaman.

Pria itu, yang ternyata adalah Matt mendengus pelan.

"Nyonya, anda benar-benar ingin melukai diri anda sendiri?"

Kari tidak menjawab. Ia hanya mundur perlahan, mendekati jendela. Jika beruntung, ia bisa melukai pria ini dan melarikan diri. Tetapi dia berada di lantai atas, melarikan diri dari jendela rasanya sulit sekali.

Matt tidak menunjukkan tanda-tanda panik. Ia malah mengangkat tangannya dengan santai.

"Kalau nyonya menyakiti diri nyonya sendiri, bos akan lebih marah. Dan percayalah, suami anda itu kalau marah sangat mengerikan nyonya."

"Dia bukan suamiku!" Teriak Kari lantang.

Ia merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya. Apakah Jacob benar-benar pria berbahaya seperti yang Matt katakan saat dia marah. Benar, laki-laki monster. Lihat saja bagaimana dia menghabisi nyawa Lucas Rafael tadi. Sosok penguasa keluarga Rafael yang tak dapat di bantah oleh siapapun. Kalau Jacob saja bisa melawannya, berarti kekuasaannya jauh melebihi keluarga itu.

"Ayo, taruh pecahan kaca itu. Kau tidak akan bisa pergi ke mana-mana," lanjut Matt dengan nada lebih lembut.

Kari menggertakkan giginya. Dengan gerakan cepat, ia mencoba berlari melewati Matt, tetapi pria itu jauh lebih cepat. Dalam sekejap, ia sudah menangkap pergelangan tangannya dan merampas pecahan kaca dari tangannya. Matt adalah sosok laki-laki yang sudah terbiasa dalam peperangan, tidak mungkin dia akan kalah dengan wanita lemah seperti Kari.

"Aku menyuruhmu istirahat, bukan membuat kekacauan, Siya." suara Jacob tiba-tiba terdengar.

Kari menoleh dan melihat pria itu berdiri di ambang pintu dengan ekspresi dingin. Ia mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung, memperlihatkan otot lengannya yang tegang. Matanya tajam, penuh ketegasan serta kemarahan karena Kari yang terus menguji kesabarannya.

Jacob melangkah mendekat. Matt segera mundur dan membiarkan bosnya berhadapan langsung dengan Kari.

"Kau boleh pergi Matt, aku yang akan mengurusnya sekarang." kata Jacob tanpa mengalihkan tatapannya dari Kari. Matt mengangguk lalu berbalik keluar tak lupa menutup pintu.

Jacob sudah berdiri di hadapan Kari.

"Kau benar-benar tidak percaya padaku?" Jacob bertanya pelan, menahan amarahnya.

Kari mengangkat dagunya.

"Kenapa aku harus percaya pada pria yang menculikku?!"

Jacob terkekeh kecil, tetapi tidak ada humor dalam suaranya.

"Karena kenyataannya aku memang suamimu. Aku tidak menculikmu, aku hanya membawamu pulang ke rumah."

Kari mendengus keras. Tangannya terangkat hendak menampar pipi Jacob, tetapi pria itu dengan cepat menahannya membuat Kari makin kesal. Ia menatap Jacob penuh emosi, sesaat kemudian ia melompat ke pria itu dan memukul-mukul Jacob dengan membabi buta.

Jacob tetap diam saat Kari melampiaskan kemarahannya, membiarkan setiap pukulan kecil mendarat di dadanya. Tangannya tetap berada di sisinya, tidak berusaha menghentikan wanita itu. Napas Kari tersengal, dadanya naik turun cepat karena emosi yang tak terbendung.

"Dasar bajingan!" Kari berteriak, matanya berkilat penuh kebencian.

"Aku tidak tahu siapa kau, dan aku tidak peduli! Lepaskan aku sekarang juga penjahat!"

Jacob akhirnya bergerak. Dengan satu gerakan cepat, ia menangkap kedua pergelangan tangan Kari, menghentikan serangannya.

"Sudah selesai?" suara Jacob rendah, hampir seperti bisikan, tetapi penuh bahaya.

Kari berusaha melepaskan diri, tetapi genggaman Jacob terlalu kuat. Pria itu menariknya lebih dekat, membuat hidung mereka hampir bersentuhan.

Kaki Kari melingkar dengan kuat di pinggang pria itu, ia takut jatuh karena Jacob menahan tangannya.

Sesaat kemudian Jacob membantingnya di atas tempat tidur, tubuh pria itu menindihnya, menatapnya dengan mata tajam mengintimidasi.

Kari terengah-engah, berusaha melawan, tetapi Jacob sama sekali tidak bergerak dari posisinya. Tatapan pria itu begitu menusuk hingga Kari merasa terkurung, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional.

"Sudah kubilang, aku tidak akan menyakitimu," suara Jacob lebih rendah, hampir seperti bisikan yang menggema di telinga Kari.

"Tapi kau terus memaksaku untuk bertindak lebih keras."

Kari menelan ludah. Hatinya berdebar kencang. Ia mencoba menggerakkan tangannya, tetapi Jacob masih menggenggamnya erat di atas kepalanya. Nafas pria itu hangat di wajahnya, menciptakan sensasi yang membuatnya semakin terjebak dalam kebingungan.

"Kumohon ... biarkan aku pergi," suara Kari melemah, lebih terdengar seperti bisikan putus asa.

Jacob menatapnya lama, seolah mencari sesuatu di dalam matanya.

"Aku tidak bisa," jawabnya, nada suaranya berubah lebih lembut.

"Aku sudah terlalu lama kehilanganmu. Aku tidak akan mengulanginya lagi."

Kari menggeleng cepat.

"Aku bukan Siya. Aku tidak mengenalmu!"

Jacob tersenyum miring, tetapi senyum itu tidak menunjukkan kebahagiaan.

"Bahkan jika ingatanmu hilang, hatimu tidak bisa berbohong, Siya."

Dada Kari terasa sesak. Ada sesuatu di dalam dirinya yang bereaksi setiap kali mendengar nama itu. Tetapi ia tidak bisa mempercayai perasaan yang bahkan tidak ia mengerti.

Jacob akhirnya melepaskan cengkeramannya dan bangkit, tetapi matanya tetap tertuju pada Kari.

"Tidurlah. Dan jangan coba-coba kabur lagi atau melakukan sesuatu yang melukai dirimu sendiri."

Kari hanya diam, menatap pria itu dengan kebencian yang bercampur dengan ketakutan.

Jacob berjalan duduk di sofa panjang bagian tengah kamar. Ia ingin sekali berbaring di sisi Kari, tapi ia tahu kalau dia melakukannya sekarang, dirinya hanya akan menakuti wanita itu. Jadi dia menahan diri. Malam ini dia akan tidur di sofa saja.

Kari yang masih terpaku di tempat tidur, jantungnya berdetak kencang, pikirannya kacau balau karena Jacob. Dan ia menganggap semua yang dia rasakan sekarang adalah kebenciannya terhadap lelaki itu.

Terpopuler

Comments

Dwi Winarni Wina

Dwi Winarni Wina

kari dibilangin sm suami hrs menurut jgn ngeyel jacob itu bukan monter yg jahat dan kejam....
jacob sangat mencintaimu dan sangat kehilanganmu telah menemukanmu kembali akan menjaga dan melindungimu....

Smg ingat kari secepatnya pulih kasian noah butuh kasih sayang ibunya dan noah pasti sangat senang bertemu ibunya....

Jacob akan berusaha mencari dokter yg terbaik tuk menyembuhkan kari/siya agar ingatannya secepatnya pulih....
Sabar jacob menghadapi kari merasa ketakutan dan penuh kebencian didepan mata kari jacob menghabisi lucas rafael...

jacob tidak akan melepaskan istrinya lagi bertahun2 siya dianggap telah meninggal ternyata msh hidup mengalami amnesia.....

lanjut thor....
semangat selalu.....
sehat selalu......

2025-03-29

4

Ais

Ais

ya namanya juga lagi amnesia dan kebetulan banget orangtua yg menyelamatkan ziya adalah orangtua yg sngt pandai bermain peran dihadapan kari pdhl aslinya mereka adalah kaki tangan lucas rafael dan ngak menutup kemungkinan klo ziya yg dianggap mati sm jacob ada kaitannya sm lucas yg mng sdh merencanakan kejahatannya sedemikian rupa pd jacob

2025-03-29

0

Miss Typo

Miss Typo

blm saatnya ingatan Siya pulih skrg, suatu saat nanti pasti akan mengingat kembali dan hidup bahagia bersama keluarga kecil kalian berdua

2025-03-29

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!