Bab 8 Sebuah Ciuman

     "Apa ini, Ma?" Silva heran saat Mama Verli memberi kado untuknya.

     "Bukalah, itu hadiah untukmu dari mama," ujar Mama Verli dengan senyum merekah.

     "Hadiah? Mama kasih Silva hadiah? Wah, apa, ya, isinya? Pasti sendal yang Silva pengen," tebaknya girang.

     "Buka saja," suruh Mama Verli sambil tersenyum.

     Perlahan Silva membuka kertas kado berwarna merah jambu itu dengan penasaran. Bayangannya sendal merek xxyy yang selama ini ia idamkan, yang ada tali melilit ke pangkal kaki, dengan tinggi tujuh senti meter.

     Jeng, jeng.

     Mata Silva terbelalak tidak percaya, ternyata dugaannya benar. Sang mama membelikan sendal yang selama ini dia mau. Hijau toska mendominasi sendal itu, memang yang sudah diidamkannya.

     "Wawww, Mama. Mama tahu banget Silva suka sendal ini." Silva kegirangan. Sendal yang harganya dibawah tiga ratus ribu itu memang begitu ia impikan. Mungkin bagi yang lain murah, tapi baginya harga segitu mahal. Dan saat sang mama membelikan apa yang diimpikannya, rasa bahagia itu tidak terkira.

     "Kamu suka? Padahal mama pengennya belikan kamu merek lain yang lebih mahal dan kuat serta awet. Tapi, berhubung kamu pernah bilang suka sendal itu, mama belikan yang itu," ujar Mama Verli sembari menatap Silva yang kini mulai mencoba sendal itu di kakinya.

     Sendal itu pas dan cantik saat sudah dicoba Silva. Dengan kulit kaki kuning langsat, sendal yang tidak seberapa itu pas dan cocok digunakan Silva. Saat Silva mencoba berdiri dengan benar, tinggi badannya kini terasa menjulang, padahal sebelumnya tinggi badan Silva hanya 157 senti meter.

     "Tapi Silva suka sendal ini, Ma. Ini awet juga. Terimakasih banyak, ya, Ma. Mama selalu berikan yang Silva mau," ucapnya sembari menghambur ke arah Mama Verli dan memeluknya.

     Mama Verli mengusap bahu Silva, sayang. Sebenarnya Mama Verli ingin memberikan sendal yang lebih bagus, mahal dan lebih awet dari yang Silva pilih. Namun, meskipun Silva dibelikan yang mahal kalau ia tidak suka, maka Silva tidak akan antusias.

     "Iya, Sayang. Tetaplah jadi anak mama yang patuh dan baik. Buat mama itu sudah cukup. Jika kamu patuh dan selalu nurut sama mama dan papa, maka mama dan papa akan kabulkan semua keinginan kamu, selama keinginan itu tidak menyimpang," ucap Mama Verli sembari mengurai pelukannya di bahu Silva.

     "Baiklah, kamu bersiap untuk makan bersama di bawah. Mama tunggu." Mama Verli bergegas dan keluar dari kamar Silva.

     Silva masih kegirangan dengan sendal yang diberikan sang mama sehingga ia tidak menyadari kalau sejak tadi Davis memperhatikannya dari ruang tengah di lantai dua itu.

    Malam pun tiba, setelah makan malam, Silva segera bergegas menuju kamarnya. Disusul Mama Verli.

     "Silva, kamu segera masuk, kamar, ya. Jangan lupa, besok kamu persiapkan untuk mendaftar kuliah ke Universitas Lingkar Dunia," peringat Mama Verli menahan langkah Silva.

     "Siap, Ma." Silva kembali berjalan menuju kamarnya di lantai atas.

     Tiba di kamar, ia kembali memeriksa syarat-syarat untuk mendaftar ke universitas yang mamanya sebutkan tadi. Universitas negeri ternama di negeri ini yang menerima siswa beasiswa.

     Silva sangat bersemangat, sebab ia memang dari sejak dulu mengangankan bisa kuliah di universitas itu.

     "Ting." Satu pesan WA masuk di Hp Silva. Silva segera membuka Hp nya. Davis mengirimkan pesan WA.

     "Dek, pintunya jangan dikunci, ya, Kakak mau ke kamarmu," pesannya sebagai wujud permintaan.

     "Ok." Silva membalas.

     Baru saja Silva membalas, Davis sudah berada di depan pintu kamarnya. Davis segera masuk sampai mengejutkan Silva.

     "Kakak, kenapa tidak permisi dulu?" kejutnya. Davis langsung menutup mulut Silva karena takut suara Silva kedengaran ke kamar mama dan papanya.

     Davis melepas bekapannya, lalu menutup pintu kamar, tidak lupa dikuncinya.

     "Kenapa ditutup dan dikunci segala? Kakak ini aneh. Ada apa memangnya malam-malam ke kamar aku? Bukannya ini waktu tidur?" tanyanya jutek.

     "Kamu ini, Dek. Tidak apa-apa kali, kakak mau nina bobokan kamu sebelum tidur. Kamu suka film Wakanda?" alih Davis langsung membahas sebuah film.

     "Wakanda, yang orang Afrika itu? Suka-suka. Memangnya Kak Davis mau nonton?"

     "Iya, kita nonton di sini, di kamar kamu."

     "Tapi, jangan lama-lama. Besok aku harus ke kampus ULD. Aku takut ngantuk kalau nonton sampai malam," protes Silva memberi syarat.

     "Biar kakak yang nonton, kalau kamu ngantuk, kamu tidur saja. Kalau kamu sudah tidur, kakak baru keluar dari kamar ini," janjinya.

     "Baiklah, terserah Kakak, deh." Silva akhirnya mengijinkan Davis menyalakan film Wakanda yang dibilangnya tadi.

     Film sudah dimulai, baik Silva dan Davis diawal permulaan, dibuat terkekeh karena film ini memang benar-benar mengundang tawa.

     "Hoam, aku mulai ngantuk. Aku mau sambil baring," ucapnya mulai menguap. Silva membenahi diri dan berbaring dengan kepala yang diganjal tinggi.

     "Kalau kamu ngantuk tidur saja, kakak masih mau nonton," ujar Davis dengan mata masih fokus ke layar TV.

     Lamat-lamat Silva pun mulai tertidur, dengan kepala masih diganjal tinggi dengan bantal. Davis berdiri, lalu membetulkan kepala Silva. Salah satu bantal yang mengganjal di kepala Silva, ia ambil. Kepala Silva kini tidak tinggi seperti tadi.

     Deburan musik film Wakanda yang masih belum usai masih terdengar. Davis masih menyaksikan dengan sesekali menyunggingkan senyum. Film ini dari awal sampai pertengahan masih mengundang tawa. Untung saja tawa Davis tidak ngakak, ia pun sengaja tidak ngakak, karena takut ketahuan sang mama.

     Mata Davis kini beralih pada wajah Silva yang lelap. Ia menatapnya lekat penuh cinta. Wajah cantik terlelap itu, sontak saja membuat debaran cinta di dalam dada Davis semakin membara. Ia tidak kuasa lagi menahan hasrat yang menggebu, hasrat ingin memiliki Silvani.

     "Kakak mencintai kamu Silva, entah sampai kapan bisa kakak ungkap perasaan ini sama kamu maupun sama mama dan papa. Yang jelas kakak tidak mau kehilangan kamu. Kakak terlalu mencintai kamu," bisik Davis seraya menyentuh wajah Silva dengan jemarinya.

     Wajahnya, bibirnya, lentik matanya, tidak lepas dari tatapan Davis. Bahkan saat bibir Silva bergerak, rasanya Davis ingin menyentuhnya.

     Iya, Davis kini menyentuh bibir merah muda sang gadis remaja dengan kedua bibirnya. Bibir itu ditempelnya di bibir Silva, sampai hembus nafas Silva terasa, lalu ikut masuk ke dalam mulut Davis.

     Davis menikmati hembusan nafas Silva sampai ia tidak sadar sudah memagutnya, menikmati kenyalnya bibir merah muda sang gadis perawan.

     "Uahhhhh."

     Tiba-tiba Silva bergerak menggeliatkan tangannya, lalu perlahan membuka matanya. Silva tersentak saat wajah Davis sudah berada di dekat wajahnya.

     "Kak Davis, masih di sini?" kejutnya seraya meraih bibirnya dan meraba, seperti ada yang dirasakannya.

      "Kakak, nggak apa-apaan aku, kan?" tanya Silva menaruh curiga.

     "Tok, tok, tok."

     "Silva, Silva." Sebuah ketukan dan teriakan sang mama tiba-tiba menggema, menghentak Davis dan Silva yang kini asik saling lempar pandang.

Terpopuler

Comments

Mrs.Riozelino Fernandez

Mrs.Riozelino Fernandez

ya ampun kk,bahasa kamu...
mank nya Silva bayi yang masih harus dikeloni...

2025-02-18

1

Lendra malayu

Lendra malayu

naa,, si mama bs ngomel2 nih

2025-02-18

1

Mrs.Riozelino Fernandez

Mrs.Riozelino Fernandez

wayolhoooo...ke grebek buk RT 😆😆😆

2025-02-18

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pantulan Tubuh di Cermin
2 Bab 2 Diejek Anak Pungut
3 Bab 3 Benarkah Aku Anak Pungut?
4 Bab 4 Mendatangi Rumah Riana
5 Bab 5 Melabrak Riana
6 Bab 6 Terpaksa Damai
7 Bab 7 Foto Silvani di Dompet Davis
8 Bab 8 Sebuah Ciuman
9 Bab 9 Ingin Merasakan Hembusan Nafasmu
10 Bab 10 Davis Posesif
11 Bab 11 Cincin Inisial DS Pemberian Davis
12 Bab 12 Perempuan Yang Sejak Dulu Dekat
13 Bab 13 Kepergok Danis
14 Bab 14 Kakak Angkat
15 Bab 15 Menerima Tawaran Ramon
16 Bab 16 Tante Suci Keceplosan
17 Bab 17 Davis Memarahi Silva
18 Bab 18 Menemui Jeng Suci
19 Bab 19 Kenapa Harus Anak Angkat?
20 Bab 20 Dari Siapa Silva Tahu Dia Anak Angkat?
21 Bab 21 Silva Akhirnya Tahu Siapa Dirinya
22 Bab 22 Davis Tetap Akan Memperjuangkan Cintanya Untuk Silva
23 Bab 23 Davis Patah Hati
24 Bab 24 Suasana Rumah Sudah Tidak Hangat Lagi
25 Bab 25 Semakin Jauh
26 Bab 26 Berpamitan
27 Bab 27 Lagi-lagi Silva Menerima Tumpangan Ramon
28 Bab 28 Ketahuan Mama Verli
29 Bab 29 Davis Makan Berdua Dengan Perempuan Muda
30 Bab 30 Keresahan Mama Verli
31 Bab 31 Mama Verli Kecewa
32 Bab 32 Davis Berhenti Pendekatan
33 Bab 33 Skenario Davis
34 Bab 34 Saling Merindu
35 Bab 35 Ikan Sudah Makan Umpan
36 Bab 36 Davis Mulai ke Rumah
37 Bab 37 Membawa Silva ke Rumah
38 Bab 38 Anggap Saja Balas Budi
39 Bab 39 Sah
40 Bab 40 Kapan Siap Malam Pertama?
41 Bab 41 Gagal Deh
42 Bab 42 Ketahuan Deh!
Episodes

Updated 42 Episodes

1
Bab 1 Pantulan Tubuh di Cermin
2
Bab 2 Diejek Anak Pungut
3
Bab 3 Benarkah Aku Anak Pungut?
4
Bab 4 Mendatangi Rumah Riana
5
Bab 5 Melabrak Riana
6
Bab 6 Terpaksa Damai
7
Bab 7 Foto Silvani di Dompet Davis
8
Bab 8 Sebuah Ciuman
9
Bab 9 Ingin Merasakan Hembusan Nafasmu
10
Bab 10 Davis Posesif
11
Bab 11 Cincin Inisial DS Pemberian Davis
12
Bab 12 Perempuan Yang Sejak Dulu Dekat
13
Bab 13 Kepergok Danis
14
Bab 14 Kakak Angkat
15
Bab 15 Menerima Tawaran Ramon
16
Bab 16 Tante Suci Keceplosan
17
Bab 17 Davis Memarahi Silva
18
Bab 18 Menemui Jeng Suci
19
Bab 19 Kenapa Harus Anak Angkat?
20
Bab 20 Dari Siapa Silva Tahu Dia Anak Angkat?
21
Bab 21 Silva Akhirnya Tahu Siapa Dirinya
22
Bab 22 Davis Tetap Akan Memperjuangkan Cintanya Untuk Silva
23
Bab 23 Davis Patah Hati
24
Bab 24 Suasana Rumah Sudah Tidak Hangat Lagi
25
Bab 25 Semakin Jauh
26
Bab 26 Berpamitan
27
Bab 27 Lagi-lagi Silva Menerima Tumpangan Ramon
28
Bab 28 Ketahuan Mama Verli
29
Bab 29 Davis Makan Berdua Dengan Perempuan Muda
30
Bab 30 Keresahan Mama Verli
31
Bab 31 Mama Verli Kecewa
32
Bab 32 Davis Berhenti Pendekatan
33
Bab 33 Skenario Davis
34
Bab 34 Saling Merindu
35
Bab 35 Ikan Sudah Makan Umpan
36
Bab 36 Davis Mulai ke Rumah
37
Bab 37 Membawa Silva ke Rumah
38
Bab 38 Anggap Saja Balas Budi
39
Bab 39 Sah
40
Bab 40 Kapan Siap Malam Pertama?
41
Bab 41 Gagal Deh
42
Bab 42 Ketahuan Deh!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!