Bab 11 Cincin Inisial DS Pemberian Davis

     Motor Davis tiba di sebuah kafe yang cukup romantis. Davis membawa Silva ke dalam sebuah ruangan private kafe itu.

     Silva melongo serta heran, untuk apa sang kakak harus membawanya ke ruang private seperti ini.

     "Kenapa harus private, kan bisa yang di luar sana? Kakak ini seperti mau kasih surprise pacarnya saja," protes Silva.

     "Emang." Davis menjawab dengan cepat.

     "Emang, emang gimana maksud Kakak?" Silva mengerut heran.

     "Sekarang kamu tidak perlu banyak tanya dulu, duduklah. Kakak sudah pesankan makanan yang enak untuk makan siang kita." Davis meraih kursi dan menariknya, supaya Silva duduk di sana.

     Tidak berapa lama seorang pelayan kafe datang dengan membawa makanan yang sudah dipesan Davis. Dia meletakkan dua piring steak daging serta dua gelas berkaki jus alpukat di atas meja, di depan Davis dan Silva.

     "Silahkan dinikmati, dua steak dan dua jus alpukat," ujar pelayan itu mempersilahkan.

     "Terimakasih." Davis dan Silva kompak. Davis tersenyum bahagia mendengar Silva dan dirinya kompak.

     "Ayo, lebih baik kita makan dulu steaknya. Kamu belum lupa cara makan steak, bukan?" Davis menatap Silva untuk meyakinkan kalau dia tidak lupa cara makan steak.

     "Paling kalau steaknya alot, aku pakai tangan saja, langsung gigit pakai gigi," ujarnya sembari memulai memainkan garpu dan pisau di atas piring.

     Davis tersenyum mendengar jawaban polos sang adik. Mereka pun makan diselingi obrolan yang membuat mereka sesekali tertawa.

     "A, buka mulutmu. Biar kakak suapin." Davis mengarahkan garpu yang sudah ada steak daging, ke arah mulut Silva. Silva menggeleng, karuan saja dia merasa tidak biasa sang kakak se so sweet itu.

     "Ayo, buka mulutmu," paksa Davis. Akhirnya Silva menerima satu suapan steak dari garpu Davis.

     "Gimana rasanya, enak?" tanya Davis.

     "Enak," balas Silva sembari melanjutkan makannya.

    Makan siang mereka selesai, kini Davis siap-siap mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.

     Benda itu diletakkan di depannya. Mata Silva ikut bergulir pada benda itu. Sebuah kotak perhiasan. Silva merasa heran kenapa Davis mengeluarkan kotak perhiasan, dan untuk siapa?

     "Itu apa Kak?"

     "Ini, kotak perhiasan." Davis menjawab sembari meraih kotak itu.

     "Untuk siapa?" Silva bertanya lagi karena ia benar-benar heran.

     "Untuk kamu." Davis menjawab, lalu membuka kotak perhiasan itu yang isinya ternyata cincin emas. Cincin emas yang ia pesan kemarin sore saat pulang dari melabrak Tante Riana.

     "Cincin emas, untuk aku? Dalam rangka apa Kakak mau kasih aku cincin?" Silva sedikit terkesima, kemudian matanya bergulir ke kiri dan kanan seakan memastikan apakah ada orang yang melihat.

     "Tidak ada orang, kan ini private room. Kakak mau kasih hadiah cincin ini dalam rangka kelulusanmu, serta kamu sudah menjadi siswa terbaik di sekolah itu," jawab Davis. Namun, maksud sebenarnya bukan itu, ia memberikan cincin itu sebagai rasa cinta kasih terhadap Silva.

     Davis meraih cincin itu, di atasnya ada permata yang berkilau. Sebelum ia sematkan di jari Silva, Davis menimbang-nimbang dulu cincin itu.

     "Kamu suka tidak dengan cincin ini? Di dalam batangnya ada tulisan inisial nama kita DS," ujar Davis.

     Silva terlihat mengerutkan kening, kenapa dalam batang cincin itu ada inisial DS nya. Silva berpikir apakah DS itu.

     "Aku suka. Cuma, kenapa batang dalamnya ada inisial DS, memangnya DS itu siapa?" tanya masih belum paham kenapa Davis memberikan cincin untuknya sementara di dalamnya ada inisial nama.

     "DS itu kita, Davis Silva. Kakak sengaja memberi inisial nama kita supaya kita semakin erat," jawab Davis.

     Silva termenung sejenak, semakin hari sikap kakaknya ini semakin aneh. Dari mulai penemuan foto dirinya dan Davis yang belakangnya ada tulisan Davis Love Silva Forever, lalu kini sebuah cincin yang berinisial namanya dan nama Davis.

     Belum selesai termenung, Davis sudah bangkit menghampiri Silva, lalu meraih jari manis Silva dan menyematkan cincin itu. Setelah cincin itu tersemat, Davis langsung mencium pipi Silva, membuat Silva terkejut.

     "Kakak, ihhh, kenapa pakai cium segala? Macam sama pacarnya saja. Makanya cari pacar cepat, biar bisa romantis kayak gini," dumelnya seraya meraba pipinya yang dicium Davis tadi.

     Davis menatap Silva lekat, rasa ingin memiliki Silva begitu dalam. Ia tidak bisa menahan lebih lama untuk terus terang. Dia harus katakan bahwa dia mencintai Silva, meskipun resikonya sebuah penolakan dari Silva sendiri maupun sang mama.

     "Tapi kamu suka cincinnya?" tanya Davis dengan tatap yang datar.

     "Suka. Nanti kalau kepepet aku bisa jual cincin ini, ha ha," guyonnya diimbuhi tawa.

     "Nggak boleh. Cincin ini sakral, ikatan antara aku dan kamu." Setelah mengatakan itu Davis meraih lengan Silva lalu mengajaknya keluar dari kafe itu.

     "Ayo, kita pulang," ajaknya setelah meletakkan uang di atas bill. Davis membawa Silva keluar dari kafe itu menuju parkiran. Suasana hatinya tidak bahagia, karena sikap Silva dinilainya kurang antusias.

     "Ayo naiklah."

     "Tunggu dulu. Aku ingin beli es krim di toko itu." Silva menunjukkan sebuah swalayan berwarna hijau yang di emperannya ada bangku dan meja untuk nongkrong pengunjung.

     Davis senang dengan permintaan Silva, dengan begitu ia bisa berlama-lama berdua dengan adik angkatnya itu, bahkan kalau bisa dia terus terang tentang perasaanya dan mengatakan bahwa Silva bukan adik kandungnya.

     Silva memang suka dengan es krim yang menggunakan wadah. Seperti biasa, Davis memang sering membelikan Silva es krim kalau Silva memintanya.

     "Naiklah, kita parkir di depan swalayannya," ujar Davis seraya meraih helm lalu digunakan di kepala Silva, Silva tidak menolak.

     Tiba di swalayan, Silva dan Davis segera turun dan memasuki swalayan, lalu memilih es krim yang Silva mau.

     Setelah mendapat apa yang Silva mau, Davis mengajak Silva duduk di bangku depan swalayan untuk menikmati es krim.

     "Makanlah," titah Davis seraya membantu membukakan tutup wadah es krim itu. Silva menikmati es krim itu dengan roti kering yang tadi dibelinya di dalam.

     "Kakak nggak mau? Kakak malah beli rokok. Tahu nggak kalau rokok itu perlahan membunuhmu? Coba lihat di kemasannya, lehernya bolong, parunya hitam, jantungnya berdebar kencang, terus impoten," ceplosnya tanpa direm. Saat kalimat yang terakhir, Davis langsung menundukkan wajah, ia takut ucapan Silva terdengar oleh orang lain.

     "Suttt, jangan keras-keras bilang impotennya. Nanti terdengar orang lain. Sudah sekarang kamu makan esnya dan jangan banyak bicara dulu," peringat Davis bisik-bisik.

     Silva menyunggingkan senyum, ia merasa lucu saat Davis memperingatinya dengan berbisik. Sepertinya kakaknya merasa tersentil dengan kalimat yang terakhir. Silva melanjutkan menikmati es krim favoritnya sampai es krim itu sudah habis separuhnya.

     "Dek, ada yang mau kakak bicarakan sama kamu," ucap Davis menghentikan Silva sejenak menikmati es krim.

     "Katakan saja, aku siap mendengar," balas Silva tanpa menatap Davis yang mulai serius.

Terpopuler

Comments

Lendra malayu

Lendra malayu

semangat thorrr /Kiss//Kiss//Rose/

2025-02-20

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pantulan Tubuh di Cermin
2 Bab 2 Diejek Anak Pungut
3 Bab 3 Benarkah Aku Anak Pungut?
4 Bab 4 Mendatangi Rumah Riana
5 Bab 5 Melabrak Riana
6 Bab 6 Terpaksa Damai
7 Bab 7 Foto Silvani di Dompet Davis
8 Bab 8 Sebuah Ciuman
9 Bab 9 Ingin Merasakan Hembusan Nafasmu
10 Bab 10 Davis Posesif
11 Bab 11 Cincin Inisial DS Pemberian Davis
12 Bab 12 Perempuan Yang Sejak Dulu Dekat
13 Bab 13 Kepergok Danis
14 Bab 14 Kakak Angkat
15 Bab 15 Menerima Tawaran Ramon
16 Bab 16 Tante Suci Keceplosan
17 Bab 17 Davis Memarahi Silva
18 Bab 18 Menemui Jeng Suci
19 Bab 19 Kenapa Harus Anak Angkat?
20 Bab 20 Dari Siapa Silva Tahu Dia Anak Angkat?
21 Bab 21 Silva Akhirnya Tahu Siapa Dirinya
22 Bab 22 Davis Tetap Akan Memperjuangkan Cintanya Untuk Silva
23 Bab 23 Davis Patah Hati
24 Bab 24 Suasana Rumah Sudah Tidak Hangat Lagi
25 Bab 25 Semakin Jauh
26 Bab 26 Berpamitan
27 Bab 27 Lagi-lagi Silva Menerima Tumpangan Ramon
28 Bab 28 Ketahuan Mama Verli
29 Bab 29 Davis Makan Berdua Dengan Perempuan Muda
30 Bab 30 Keresahan Mama Verli
31 Bab 31 Mama Verli Kecewa
32 Bab 32 Davis Berhenti Pendekatan
33 Bab 33 Skenario Davis
34 Bab 34 Saling Merindu
35 Bab 35 Ikan Sudah Makan Umpan
36 Bab 36 Davis Mulai ke Rumah
37 Bab 37 Membawa Silva ke Rumah
38 Bab 38 Anggap Saja Balas Budi
39 Bab 39 Sah
40 Bab 40 Kapan Siap Malam Pertama?
41 Bab 41 Gagal Deh
42 Bab 42 Ketahuan Deh!
Episodes

Updated 42 Episodes

1
Bab 1 Pantulan Tubuh di Cermin
2
Bab 2 Diejek Anak Pungut
3
Bab 3 Benarkah Aku Anak Pungut?
4
Bab 4 Mendatangi Rumah Riana
5
Bab 5 Melabrak Riana
6
Bab 6 Terpaksa Damai
7
Bab 7 Foto Silvani di Dompet Davis
8
Bab 8 Sebuah Ciuman
9
Bab 9 Ingin Merasakan Hembusan Nafasmu
10
Bab 10 Davis Posesif
11
Bab 11 Cincin Inisial DS Pemberian Davis
12
Bab 12 Perempuan Yang Sejak Dulu Dekat
13
Bab 13 Kepergok Danis
14
Bab 14 Kakak Angkat
15
Bab 15 Menerima Tawaran Ramon
16
Bab 16 Tante Suci Keceplosan
17
Bab 17 Davis Memarahi Silva
18
Bab 18 Menemui Jeng Suci
19
Bab 19 Kenapa Harus Anak Angkat?
20
Bab 20 Dari Siapa Silva Tahu Dia Anak Angkat?
21
Bab 21 Silva Akhirnya Tahu Siapa Dirinya
22
Bab 22 Davis Tetap Akan Memperjuangkan Cintanya Untuk Silva
23
Bab 23 Davis Patah Hati
24
Bab 24 Suasana Rumah Sudah Tidak Hangat Lagi
25
Bab 25 Semakin Jauh
26
Bab 26 Berpamitan
27
Bab 27 Lagi-lagi Silva Menerima Tumpangan Ramon
28
Bab 28 Ketahuan Mama Verli
29
Bab 29 Davis Makan Berdua Dengan Perempuan Muda
30
Bab 30 Keresahan Mama Verli
31
Bab 31 Mama Verli Kecewa
32
Bab 32 Davis Berhenti Pendekatan
33
Bab 33 Skenario Davis
34
Bab 34 Saling Merindu
35
Bab 35 Ikan Sudah Makan Umpan
36
Bab 36 Davis Mulai ke Rumah
37
Bab 37 Membawa Silva ke Rumah
38
Bab 38 Anggap Saja Balas Budi
39
Bab 39 Sah
40
Bab 40 Kapan Siap Malam Pertama?
41
Bab 41 Gagal Deh
42
Bab 42 Ketahuan Deh!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!