Bab 14 Kakak Angkat

     Davis sudah siap dengan seragam kantornya. Sebelum turun ke bawah untuk sarapan, ia membelokkan kakinya ke kamar Silva. Tanpa mengetuk, Davis sudah mendorong pintu itu lalu masuk.

     Davis sudah melihat Silva duduk di depan meja rias, tapi masih berhanduk sedada.

     "Cuppp."

     Davis tiba-tiba mencium pipi Silva dengan dalam dan penuh perasaan.

     "Ya ampun, Kakak. Kebiasaan masuk kamar tanpa mengetuk pintu." Silva protes lalu fokus kembali dengan skin care di wajahnya.

     "Cantik banget kamu, Dek. Awas, jangan sampai kamu pacaran di luaran. Kakak tidak kasih ijin," ujarnya lagi muncul kembali posesifnya.

     "Hampir bosan aku dengar Kakak bilang seperti itu. Aku juga tahu, aku ini mau fokus kuliah," sergah Silva seraya mengurai rambut panjangnya, lalu disisirnya.

      Davis merebut sisir itu, lalu ia menyisir rambut Silva yang panjang sepinggang. Harum sampo begitu menusuk masuk ke lubang hidung Davis, sehingga ia mendengusnya dengan penuh perasaan.

     "Kakak. Sini, biar aku saja," pinta Silva seraya meraih sisir yang dipegang Davis. Davis memegangnya erat, sampai tubuh Silva menghadapnya, lalu dengan cepat Davis kembali mencium pipi Silva. Silva melotot, dia merasa kecolongan untuk yang kedua kalinya.

     "Kakak, kenapa sih cium-cium terus, jangan begini dong?! Aku mau dandan dulu. Sana keluar, aku belum pakai daleman. Keluar," usirnya. Kali ini Davis mengalah dan membiarkan Silva berdandan di dalam kamarnya.

     Setelah tubuh Davis berhasil keluar, tiba-tiba tangan Davis ditarik seseorang.

     "Sini dulu." Ternyata Danis yang menarik tangan Davis. Davis bertanya-tanya kenapa Danis menarik tangannya.

     "Ada apa Bang?" tanyanya tanpa dosa.

     "Ada apa ada apa? Kalau kamu benar-benar mencintai Silva, jangan begitu caranya. Tadi itu sama saja kamu mau melecehkannya. Aku kurang setuju melihatnya. Kemarin sore kamu tindih-tindih tubuhnya, terus barusan kamu cium-cium pipinya dengan paksa. Apa itu bukan pelecehan namanya? Silva tidak akan suka apabila akhirnya dia tahu kalau dia bukan adik kandung kita, dia malah nanti ilfil dan menjauhimu," tegur Danis keras.

     "Lalu aku harus bagaimana, Bang? Abang tidak merasakan deburan cinta dalam dada aku, jadi gampang saja kalau ngomong."

     "Sudah aku bilang, jangan terlalu brutal kamu tunjukkan perasaanmu. Nanti Silva malah sebal dan kesal dengan sikapmu seperti itu. Alih-alih cinta, dia justru menjauhimu. Aku sarankan, cukup berikan perhatian. Tahan dulu deburan ombak cintanya, kamu paham tidak?"

     Davis merenungi apa yang dikatakan kakaknya barusan. Dia memang begitu menggebu-gebu mencintai Silva, sehingga ia tidak bisa menyembunyikan lagi perasaan cintanya terhadap Silva.

    "Yang harus kamu lakukan sekarang hanyalah berikan perhatian dan rasa cinta, bukan sikap-sikap mesum seperti tadi. Aku yakin setelah Silva merasakan perhatianmu berbeda, ia akan berpikir kalau kamu semakin hari semakin dewasa. Aku yakin Silva akan merindukan sosok yang dewasa dan perhatian. Setelah itu baru kamu ungkapkan perasaanmu dan jujur kalau dia bukanlah adik kandung kita," tutur Danis panjang lebar.

     "Lalu setelah itu?" Davis penasaran dengan kelanjutannya.

     "Kamu tinggal bicarakan semua dengan mama. Apabila mama menolak, kalian tinggal pastikan kalau cinta kalian sudah terbangun. Aku yakin, lama-kelamaan mama akan luluh dan merestui cinta kalian," lanjut Danis lagi.

     "Teori sih gampang, Bang. Tapi prakteknya yang sulit," cebik Davis putus asa.

     "Terserah mu saja. Mau pakai caraku ok, tapi kalau nggak pakaipun terserah. Kalau kamu punya cara sendiri, pakai saja caramu itu. Tapi ingat sekali lagi, jangan coba-coba lecehkan Silva, apalagi sampai menodainya. Mama dan Silva akan kecewa sama kamu," ujar Danis seraya menjauh meninggalkan Davis yang kini termenung.

     "Menodainya? Enak saja, aku tidak sejahat itu kali Bang," dengusnya tidak setuju.

     Tidak lama dari itu, Silva keluar dari kamarnya. Dia sudah rapi dengan dandanan seperti biasanya.

     "Ayo, kita turun ke bawah untuk sarapan," ajak Davis seraya menarik lengan Silva. Silva terkejut, ternyata Davis sejak tadi menungguinya.

     Mereka menuruni tangga bersama dengan lengan yang dipegang Davis. Beberapa langkah menuju meja makan, Davis melepaskan tangan Silva. Di meja makan sudah ada Mama Verli dan Papa Vero juga Danis.

     "Ayo, cepatlah duduk. Kalian ini lama banget di atas. Mau sarapan juga lama ditungguin," dumel Mama Verli seraya meraih piring untuk Davis maupun Silva. Danis hanya melirik sekilas saat sang mama ngomel.

    Sarapan pagi pun dimulai, sesekali diselingi obrolan ringan. Setelah sarapan, Davis dan Danis juga Silva berpamitan pada mama dan papanya.

     "Dav, jangan lupa nanti jemput Silva," ucap Mama Verli mengingatkan.

     "Siap, Ma. Dengan senang hati," girangnya seraya meraih jemari Silva lalu merematnya dan membawanya ke depan.

     "Davis ...." panggilnya. Namun Mama Verli tidak melanjutkan kalimat yang sebenarnya masih mau diucapkan, sayangnya Papa Vero memberi kode supaya Mama Verli diam.

     "Sudahlah, mereka berdua hanya saling remat tangan, bukankah itu sudah biasa mereka lakukan dan sering kita lihat? Mama jangan terlalu berlebihan, nanti kalau berlebihan, Papa takut mereka nekad," ucap Papa Vero menakuti Mama Verli.

     Mama Verli dan Papa Vero mengantar kepergian ketiga anaknya setelah mereka berpamitan.

     "Ayo naiklah. Biar kakak antar sampai depan kampus," suruh Davis seraya memasang helm di kepala Silva.

     "Aku duluan," ujar Danis seraya membunyikan klakson satu kali pada Davis.

     Davis melambaikan tangan pada sang kakak yang mulai melajukan mobilnya.

     Setelah siap dan Silva naik motor, Davis segera memacu motornya menuju kampus ULD.

     Sepanjang jalan, Davis meremat jemari Silva yang berpegangan di pinggangnya. Padahal Silva ingin melepaskannya karena merasa risih.

     "Nanti, sepulang dari kampus, kakak mau bicara serius sama kamu," ucapnya lembut seraya menoleh ke belakang menatap Silva.

     "Dari waktu itu Kakak mau bicara, tapi tidak juga. Memangnya mau bicara apa? Bukankah di rumah di sini, Kakak sudah bicara sama aku," tukas Silva heran.

     "Pokoknya nanti siang kakak akan bicara. Kamu tungguin saja. Kamu siapkan mental saja saat mendengarnya," ujar Davis.

     Tidak terasa motor Davis sudah tiba di depan kampus ULD. Silva menuruni motor Davis.

     "Dek, hati-hati, ya. Belajar yang benar. Jangan lupa pesan kakak, jangan dekat-dekat sama lelaki lain," ujar Davis kembali memperingatkan. Silva hanya mengangguk lalu membalikkan badannya. Davis baru pergi setelah Silva benar-benar masuk ke dalam lingkungan kampus.

     Baru tiba di depan pintu kelas, Silva sudah diberondong pertanyaan dan pernyataan dari teman-teman barunya.

     "Wahhh, pacar kamu ternyata seorang anggota TNI, tampan lagi," seru salah satu teman Silva. Belum juga Silva menyangkal, yang lain ikut bicara dan menuding sama bahwa Davis adalah pacar Silva.

     "Kalian diam dulu, yang barusan itu bukan pacar aku, tapi kakak aku," sangkalnya.

     "Alahhh bohong, kakak. Kakak angkat maksudnya, kakak yang sewaktu-waktu bisa mengangkat kamu, ha ha ha," seru mereka diakhiri tawa.

Terpopuler

Comments

Mrs.Riozelino Fernandez

Mrs.Riozelino Fernandez

kok aku jijik jadinya dengan Davis ya...
klo menurut ku ini gak cinta sih,nafsu namanya...agak lain gaya pacaran nya...klo cinta itu pasti dijaga,orang pacaran sehat aja gak mau tiap sebentar cap cip cup...

2025-02-22

0

Lendra malayu

Lendra malayu

mksh thorr udah rajin up 🥰/Rose//Rose/

2025-02-21

1

Mrs.Riozelino Fernandez

Mrs.Riozelino Fernandez

naaah bener nih kata Danis👍👍👍👍👍

2025-02-22

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pantulan Tubuh di Cermin
2 Bab 2 Diejek Anak Pungut
3 Bab 3 Benarkah Aku Anak Pungut?
4 Bab 4 Mendatangi Rumah Riana
5 Bab 5 Melabrak Riana
6 Bab 6 Terpaksa Damai
7 Bab 7 Foto Silvani di Dompet Davis
8 Bab 8 Sebuah Ciuman
9 Bab 9 Ingin Merasakan Hembusan Nafasmu
10 Bab 10 Davis Posesif
11 Bab 11 Cincin Inisial DS Pemberian Davis
12 Bab 12 Perempuan Yang Sejak Dulu Dekat
13 Bab 13 Kepergok Danis
14 Bab 14 Kakak Angkat
15 Bab 15 Menerima Tawaran Ramon
16 Bab 16 Tante Suci Keceplosan
17 Bab 17 Davis Memarahi Silva
18 Bab 18 Menemui Jeng Suci
19 Bab 19 Kenapa Harus Anak Angkat?
20 Bab 20 Dari Siapa Silva Tahu Dia Anak Angkat?
21 Bab 21 Silva Akhirnya Tahu Siapa Dirinya
22 Bab 22 Davis Tetap Akan Memperjuangkan Cintanya Untuk Silva
23 Bab 23 Davis Patah Hati
24 Bab 24 Suasana Rumah Sudah Tidak Hangat Lagi
25 Bab 25 Semakin Jauh
26 Bab 26 Berpamitan
27 Bab 27 Lagi-lagi Silva Menerima Tumpangan Ramon
28 Bab 28 Ketahuan Mama Verli
29 Bab 29 Davis Makan Berdua Dengan Perempuan Muda
30 Bab 30 Keresahan Mama Verli
31 Bab 31 Mama Verli Kecewa
32 Bab 32 Davis Berhenti Pendekatan
33 Bab 33 Skenario Davis
34 Bab 34 Saling Merindu
35 Bab 35 Ikan Sudah Makan Umpan
36 Bab 36 Davis Mulai ke Rumah
37 Bab 37 Membawa Silva ke Rumah
38 Bab 38 Anggap Saja Balas Budi
39 Bab 39 Sah
40 Bab 40 Kapan Siap Malam Pertama?
41 Bab 41 Gagal Deh
42 Bab 42 Ketahuan Deh!
Episodes

Updated 42 Episodes

1
Bab 1 Pantulan Tubuh di Cermin
2
Bab 2 Diejek Anak Pungut
3
Bab 3 Benarkah Aku Anak Pungut?
4
Bab 4 Mendatangi Rumah Riana
5
Bab 5 Melabrak Riana
6
Bab 6 Terpaksa Damai
7
Bab 7 Foto Silvani di Dompet Davis
8
Bab 8 Sebuah Ciuman
9
Bab 9 Ingin Merasakan Hembusan Nafasmu
10
Bab 10 Davis Posesif
11
Bab 11 Cincin Inisial DS Pemberian Davis
12
Bab 12 Perempuan Yang Sejak Dulu Dekat
13
Bab 13 Kepergok Danis
14
Bab 14 Kakak Angkat
15
Bab 15 Menerima Tawaran Ramon
16
Bab 16 Tante Suci Keceplosan
17
Bab 17 Davis Memarahi Silva
18
Bab 18 Menemui Jeng Suci
19
Bab 19 Kenapa Harus Anak Angkat?
20
Bab 20 Dari Siapa Silva Tahu Dia Anak Angkat?
21
Bab 21 Silva Akhirnya Tahu Siapa Dirinya
22
Bab 22 Davis Tetap Akan Memperjuangkan Cintanya Untuk Silva
23
Bab 23 Davis Patah Hati
24
Bab 24 Suasana Rumah Sudah Tidak Hangat Lagi
25
Bab 25 Semakin Jauh
26
Bab 26 Berpamitan
27
Bab 27 Lagi-lagi Silva Menerima Tumpangan Ramon
28
Bab 28 Ketahuan Mama Verli
29
Bab 29 Davis Makan Berdua Dengan Perempuan Muda
30
Bab 30 Keresahan Mama Verli
31
Bab 31 Mama Verli Kecewa
32
Bab 32 Davis Berhenti Pendekatan
33
Bab 33 Skenario Davis
34
Bab 34 Saling Merindu
35
Bab 35 Ikan Sudah Makan Umpan
36
Bab 36 Davis Mulai ke Rumah
37
Bab 37 Membawa Silva ke Rumah
38
Bab 38 Anggap Saja Balas Budi
39
Bab 39 Sah
40
Bab 40 Kapan Siap Malam Pertama?
41
Bab 41 Gagal Deh
42
Bab 42 Ketahuan Deh!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!