Bab 4 Mendatangi Rumah Riana

     Mama Verli meradang mendengar pengakuan Silva tadi di meja makan, dia tidak habis pikir Riana yang dia kenal baik, tiba-tiba menyebarkan privasinya. Tidak sepantasnya dia sebagai orang lain ikut campur dalam urusan rumah tangganya, termasuk mengungkap siapa sebenarnya Silva dalam keluarganya.

     Baginya, Silva anak yang sudah dia dan suaminya anggap sebagai anak kandung, walaupun pada kenyataannya hanya anak yang diadopsi 17 tahun lalu. Silva secara hukum perdata merupakan anaknya, karena sudah tercatat di dalam kartu keluarganya.

     Kini, ketika ada yang mengusik dan mengolok-olok Silva sebagai anak pungut, dan parahnya lagi dikatakan mungut dari tempat sampah, betapa sakitnya hati Mama Verli.

     "Keterlaluan si Riana, mulutnya perlu dikasih pelajaran. Dia sengaja ingin menghinakan Silva. Meskipun dia tahu Silva adalah anak adopsi, tapi tidak seharusnya dia menyebar hal itu di luaran, bahkan sampai menjadi bahan ejekan. Mereka dasarnya iri melihat Silva selalu juara, sedangkan anaknya hanya cukup masuk sepuluh besar," sungut Mama Verli emosi.

     "Padahal si Silva tidak pernah sombong atau jumawa selama ia mendapat juara umum, tapi mengapa dia mempengaruhi anaknya supaya iri dengki? Ini tidak bisa dibiarkan, Pa. Mama harus beri Riana pelajaran, biar nyaho dia," lanjutnya penuh ancaman dan emosi.

     "Mama tahan dulu, jangan emosi seperti ini. Biarkan saja mereka seperti itu, toh kita tetap tidak akan berubah sama Silva, kita akan tetap jadi orang tuanya yang sayang dan tulus sama dia," bujuk Papa Vero berusaha meredam emosi sang istri.

     "Papa ini, jangan mentang-mentang baru pensiun dari TNI, sikapnya lembek tidak ada taji. Ini menyangkut harga diri putri kita, Pa. Meskipun Silva anak adopsi, mama tidak sudi orang lain ikut menghina. Memangnya dia ikut andil besarkan Silva? Ayo, antar mama melabrak si Riana. Suaminya sama-sama pensiunan TNI juga sama kaya Papa. Papa jangan takut seperti itu, demi harga diri anggota keluarga, mama siap melawan si Riana."

     "Mama, bukan papa lembek. Begini, Ma. Ada kalanya hinaan orang itu kita balas dengan diam atau kelembutan. Mama tahu dengan diam itu emas? Kita jangan kepancing emosi. Papa bukan tidak mau membela harga diri keluarga, tapi papa lebih baik menghindar dari sebuah perselisihan. Papa takut nanti kita bermusuhan. Lebih baik kita biarkan ocehan tidak bermaknanya, nanti lama-lama dia lelah juga karena kita diamkan," balas Papa Vero, membuat emosi Mama Verli semakin meledak.

     "Baiklah kalau diam itu emas bagi Papa, tapi tidak bagi mama. Mama tetap akan pergi dan memberikan pelajaran sama si Riana." Mama Verli bergegas dengan langkah cepat meraih kunci motornya lalu segera keluar, menghidupkan motor. Tidak lama deru motor itu terdengar pertanda Mama Verli nekad pergi.

     "Aduh, Mama tunggu, Ma. Ya ampun, dia malah pergi." Papa Vero serba salah, lalu ia bergegas menuju kamar Davis untuk meminjam kunci motor. Tidak mungkin dia memakai mobil untuk menyusul istrinya karena justru jalannya akan banyak terhambat.

     "Dav, Davis, mana kunci motormu, papa pinjam?" teriak Papa Vero seraya mengetuk pintu kamar Davis yang langsung didorong saat itu juga.

     Davis yang tengah melamun di kamarnya, sampai tersentak saat melihat sang papa masuk ke kamarnya dengan wajah yang kalut.

     "Papa kenapa? Bukankah Papa selalu pakai mobil kalau mau bepergian?"

     "Pinjam dulu kunci motormu, papa mau susul mamamu. Mamamu mau melabrak Tante Riana, orang yang sudah menyebarkan kalau Silva anak pungut," ujar Papa Vero.

     "Apa, mama mau melabrak orang?"

     "Sudah, jangan banyak tanya. Mana kunci motormu?"

     "Davis antar, Pa. Davis juga khawatir sama mama dan papa. Ayo." Davis merasa harus ikut, karena ia takut terjadi apa-apa terhadap mama dan papanya, setidaknya ia akan mendokumentasikan kejadian ini, sebagai bukti.

     "Ayo, Pa," ajak Davis seraya menyambar kunci motornya di atas paku.

     "Tapi, Dav, jangan sampai Silva tahu kita mau ke mana," peringat Papa Vero khawatir.

     "Tenang saja, Davis tahu, kok."

     Davis dan Papa Vero keluar dari kamar Davis. Mereka segera menuju tangga. Namun sebelum tiba di tangga, Silva yang baru saja keluar dari kamarnya melihat Davis dan Papa Vero, ia menghampiri keheranan.

     "Kakak sama Papa mau ke mana, seperti tergesa?" Seketika wajah Davis dan Papa Vero memerah dan terlihat gugup. Tapi Davis segera tenang kembali.

     "Kakak mau antar Papa menemui temannya satu leting. Sudah, kamu diam di rumah. Kami pergi dulu," ujar Davis berbohong, Papa Vero tersenyum mendengar kebohongan Davis.

     "Oh, ok." Silva tidak banyak bertanya lagi, dia menatap kepergian kakak dan papanya dengan sedikit heran karena mereka tergesa-gesa.

     "Sebaiknya aku ke kamar Kak Davis saja. Aku mau cari tahu, siapa sih pacar Kakak. Masa udah mau 27 tahun masih jomblo. Huhhh, kayaknya Kak Davis bohong kalau jomblo. Padahal aku yakin, Kak Davis ceweknya di mana-mana, secara dia kan aparat, pasti suka tebar-tebar pesona," duga Silva seraya berjalan menuju kamar Davis.

***

     Mama Verli kini sudah berada di depan rumah Riana, mamanya Risa teman Silva. Rumah yang berada di kawasan komplek menengah ke atas.

     Jari Mama Verli yang ditekuk mulai menempel di daun pintu dan kini diketuk-ketuk.

     "Tok, tok, tok. Assalamu'alaikum." Ketukan itu diiringi ucapan salam. Meskipun emosi sudah memuncak, Mama Verli punya adab jika bertamu ke rumah orang.

     "Waalaikumsalam. Ehh, Bu Vero. Dengan siapa ke sini? Masuk-masuk, Bu. Sebentar saya panggilkan istri saya di kamar," sambut pria paruh baya yang kurang lebih sebaya dengan suaminya sedikit heran tapi ramah. Mama Verli mengangguk, membiarkan Pak Riwa suaminya Riana ke dalam memanggil istrinya.

     Tidak berapa lama Riana muncul diantar Pak Riwa, Pak Riwa masih tersenyum ramah dan belum tahu apa maksud kedatangan Mama Verli ini.

     "Jeng Verli, ada apa nih, tumben-tumbenan sore begini tiba-tiba datang seperti ini? Bawa kabar apa nih Jeng?" tanya Riana masih belum tahu maksud kedatangan teman dekatnya ini apa.

     "Iya nih, Jeng. Saya sengaja datang kemari karena ada sesuatu yang ingin saya sampaikan. Pak Riwa, kalau bisa tidak perlu tinggalkan kami, karena apa yang akan saya sampaikan justru harus diketahui Pak Riwa juga," ucap Mama Verli seraya mencegah Pak Riwa yang tadinya mau angkat kaki dari ruang tamu.

     "Oh, baiklah Bu Vero. Silahkan, apa sebenarnya yang mau Bu Vero sampaikan? Sepertinya dinas banget nih," ujar Pak Riwa diakhiri tawa.

     "Iya, begini Pak Riwa, Jeng Riana. Tapi sebelumnya saya mau minta maaf jika kedatangan saya ini mengganggu waktu kalian dan membuat keadaan jadi tidak nyaman."

     Pak Riwa dan Riana menatap Mama Verli tidak sabar.

     "Memangnya ada apa, sampai kami harus merasa tidak nyaman?" tanya Riana tidak sabar, mengundang senyum kecut di bibir Mama Verli.

Episodes
1 Bab 1 Pantulan Tubuh di Cermin
2 Bab 2 Diejek Anak Pungut
3 Bab 3 Benarkah Aku Anak Pungut?
4 Bab 4 Mendatangi Rumah Riana
5 Bab 5 Melabrak Riana
6 Bab 6 Terpaksa Damai
7 Bab 7 Foto Silvani di Dompet Davis
8 Bab 8 Sebuah Ciuman
9 Bab 9 Ingin Merasakan Hembusan Nafasmu
10 Bab 10 Davis Posesif
11 Bab 11 Cincin Inisial DS Pemberian Davis
12 Bab 12 Perempuan Yang Sejak Dulu Dekat
13 Bab 13 Kepergok Danis
14 Bab 14 Kakak Angkat
15 Bab 15 Menerima Tawaran Ramon
16 Bab 16 Tante Suci Keceplosan
17 Bab 17 Davis Memarahi Silva
18 Bab 18 Menemui Jeng Suci
19 Bab 19 Kenapa Harus Anak Angkat?
20 Bab 20 Dari Siapa Silva Tahu Dia Anak Angkat?
21 Bab 21 Silva Akhirnya Tahu Siapa Dirinya
22 Bab 22 Davis Tetap Akan Memperjuangkan Cintanya Untuk Silva
23 Bab 23 Davis Patah Hati
24 Bab 24 Suasana Rumah Sudah Tidak Hangat Lagi
25 Bab 25 Semakin Jauh
26 Bab 26 Berpamitan
27 Bab 27 Lagi-lagi Silva Menerima Tumpangan Ramon
28 Bab 28 Ketahuan Mama Verli
29 Bab 29 Davis Makan Berdua Dengan Perempuan Muda
30 Bab 30 Keresahan Mama Verli
31 Bab 31 Mama Verli Kecewa
32 Bab 32 Davis Berhenti Pendekatan
33 Bab 33 Skenario Davis
34 Bab 34 Saling Merindu
35 Bab 35 Ikan Sudah Makan Umpan
36 Bab 36 Davis Mulai ke Rumah
37 Bab 37 Membawa Silva ke Rumah
38 Bab 38 Anggap Saja Balas Budi
39 Bab 39 Sah
40 Bab 40 Kapan Siap Malam Pertama?
41 Bab 41 Gagal Deh
42 Bab 42 Ketahuan Deh!
Episodes

Updated 42 Episodes

1
Bab 1 Pantulan Tubuh di Cermin
2
Bab 2 Diejek Anak Pungut
3
Bab 3 Benarkah Aku Anak Pungut?
4
Bab 4 Mendatangi Rumah Riana
5
Bab 5 Melabrak Riana
6
Bab 6 Terpaksa Damai
7
Bab 7 Foto Silvani di Dompet Davis
8
Bab 8 Sebuah Ciuman
9
Bab 9 Ingin Merasakan Hembusan Nafasmu
10
Bab 10 Davis Posesif
11
Bab 11 Cincin Inisial DS Pemberian Davis
12
Bab 12 Perempuan Yang Sejak Dulu Dekat
13
Bab 13 Kepergok Danis
14
Bab 14 Kakak Angkat
15
Bab 15 Menerima Tawaran Ramon
16
Bab 16 Tante Suci Keceplosan
17
Bab 17 Davis Memarahi Silva
18
Bab 18 Menemui Jeng Suci
19
Bab 19 Kenapa Harus Anak Angkat?
20
Bab 20 Dari Siapa Silva Tahu Dia Anak Angkat?
21
Bab 21 Silva Akhirnya Tahu Siapa Dirinya
22
Bab 22 Davis Tetap Akan Memperjuangkan Cintanya Untuk Silva
23
Bab 23 Davis Patah Hati
24
Bab 24 Suasana Rumah Sudah Tidak Hangat Lagi
25
Bab 25 Semakin Jauh
26
Bab 26 Berpamitan
27
Bab 27 Lagi-lagi Silva Menerima Tumpangan Ramon
28
Bab 28 Ketahuan Mama Verli
29
Bab 29 Davis Makan Berdua Dengan Perempuan Muda
30
Bab 30 Keresahan Mama Verli
31
Bab 31 Mama Verli Kecewa
32
Bab 32 Davis Berhenti Pendekatan
33
Bab 33 Skenario Davis
34
Bab 34 Saling Merindu
35
Bab 35 Ikan Sudah Makan Umpan
36
Bab 36 Davis Mulai ke Rumah
37
Bab 37 Membawa Silva ke Rumah
38
Bab 38 Anggap Saja Balas Budi
39
Bab 39 Sah
40
Bab 40 Kapan Siap Malam Pertama?
41
Bab 41 Gagal Deh
42
Bab 42 Ketahuan Deh!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!