Bab 2 Diejek Anak Pungut

     Jam satu siang acara perpisahan di sekolah Silva baru saja selesai. Silva mulai keluar dari gerbang sekolah dengan memegang buket bunga di tangannya, sebagai simbol bahwa Silva merupakan lulusan terbaik sekolah itu.

     "Silva, kamu mau langsung pulang? Aku antar, ya," sapa seseorang menawarkan tumpangan. Silva menolehkan wajah ke arah orang itu.

     "Ramon! Aku mau naik grab saja, aku baru mau pesan grab," jawab Silva sembari meraih Hp nya dalam tasnya.

     "Nggak usah, biar aku antar sampai rumah." Anak lelaki seusia Silva itu terus memaksa untuk mengantar Silva pulang.

     Silva jadi serba salah, tapi tangannya sibuk membuka aplikasi grab.

     "Gimana?" lanjut Ramon lagi meminta kepastian.

     "Tapi, aku sudah mau pesan grab. Kamu duluan saja, aku tidak apa-apa kok," tolak Silva. Silva masih teguh pada pendiriannya, karena ia selalu ingat kata Davis yang melarangnya untuk menolak jika diajak orang lain pulang bersama.

     "Ya, sudah, aku tungguin kamu sampai kamu dapat grab saja. Tidak apa-apa, kan?" Ramon meminta persetujuan Silva.

     "Nggak apa-apa. Terserah kamu saja, Ram," balas Silva.

     "Mon, ngapain lu di sini? Mau nemenin anak pungut? Percuma pandai kalau asal usul tidak jelas," ejek salah satu teman Ramon tiba-tiba.

     Silva terhenyak, dia tidak mengerti kenapa Ardo salah satu teman Ramon tiba-tiba mengejeknya anak pungut. Tapi benarkah Ardo bicara seperti itu ditujukan padanya? Untuk meyakinkan, Silva menoleh ke kiri dan kanan depan dan belakang, barangkali Ardo sedang berbicara pada orang lain.

     Anehnya, tidak ada seorang pun selain dirinya, Ramon dan Ardo.

     "Elu anak pungut, kata mamanya si Risa, elu itu sebenarnya anak pungut. Anak dapat nemu dari pembuangan sampah," tunjuk Ardo ke arah Silva tanpa rasa bersalah.

     "Anak pungut?" herannya bingung.

     "Iya, elu anak pungut atau anak dapat mulung dari sampah. Emangnya elu tidak dapat cerita dari nyokap sama bokap elu kalau elu anak pungut?" tekan Ardo lagi berapi-api seakan ingin puas.

     "Do, apaan sih lu? Siapa yang elu kata anak pungut? Silva? Omong kosong? Dasar tukang gosip," hardik Ramon balik marah pada Ardo yang sudah mengata-ngatai Silva anak pungut.

     "Tanya saja sama mamanya si Risa. Tuh, tanya. Mumpung mereka mau lewat sini," tunjuk Ardo menuju pada iringan Risa dan teman-temannya serta mamanya.

     Silva menatap ke arah Risa dan mamanya Risa. Benaknya bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba mamanya Risa menyebarkan gosip kalau dirinya anak pungut.

     "Tante Riana," panggil Silva seraya menghalangi jalan mereka.

     Risa dan teman-temannya serta Tante Riana, alias mamanya Risa menghentikan langkahnya, lalu menatap Silva dengan tatapan tidak biasa.

     "Tante Riana ...."

     "Ayo, Ma. Kita cepat pulang saja. Aku sudah muak dengan sekolah ini, sekolah kok memihak pada anak yang nggak jelas asal-usulnya. Masa juara umum selalu saja si anak pungut," bisik Risa masih terdengar oleh Silva.

     "Risa, apa maksudnya?" Silva ingin mengejar Risa untuk meminta penjelasan, tapi Risa dan mamanya keburu pergi.

     Ardo pun demikian, dia pergi sebelum Silva mencari tahu kenapa tiba-tiba mereka mengejeknya anak pungut.

     "Silva, gimana, grabnya sudah ada yang nyangkut?" Ramon tiba-tiba bertanya setelah melihat drama ejek anak pungut tadi.

     "Belum Ram," jawab Silva mendadak murung.

     "Silva, kamu pasti sedih gara-gara diejek anak pungut, kan? Sepertinya mereka itu iri melihat kamu juara umum terus, lalu mereka dengan dengkinya menyebar gosip kalau kamu anak pungut," hibur Ramon.

     "Aku juga bingung Ram, kenapa mereka tiba-tiba mengatai aku anak pungut?"

     "Biarkan saja. Mereka memang iri sama kamu, karena kamu setiap tahun selalu mendapat juara umum. Selamat, ya, Silva. Kamu memang keren. Lalu, setelah ini kamu mau ambil kuliah di mana? Kamu dapat beasiswa, kan?"

     "Entahlah, Ram. Aku juga masih bingung. Biar nanti aku diskusikan sama mama dan papa aku di rumah," jawab Silva dengan pikiran yang masih melayang pada ejekan Risa tadi.

     "Dek, ayo." Tiba-tiba sebuah motor berbody besar berwarna hitam berhenti di depan Silva dan Ramon. Silva tersentak, karena kedatangan Davis tidak disadarinya. Pria berseragam loreng itu menatap Ramon kurang suka. Ramon menunduk, lalu memilih mengalah dan menyalakan motornya, kemudian meninggalkan Davis dan Silva setelah ia sempat berpamitan pada Silva.

     "Silva aku duluan, ya," pamit Ramon seraya memacu kuda besinya.

     "Siapa dia, sepertinya perhatian banget sama kamu?" curiga Davis terdengar posesif.

     "Teman aku. Emangnya kenapa? Kakak curiga dia pacar aku?" Silva balik kesal dengan kecurigaan sang kakak.

     "Lagian, cara menatap kamu, sangat berbeda. Dia sepertinya menyukaimu," ujar Davis cemburu.

     "Biarkan saja, kalau Ramon suka sama aku, itu artinya aku masih menarik di mata cowok," tepis Silva membuat Davis muak, karena Silva seperti membela Ramon.

     "Ayo, naiklah. Kamu masih mau membahas teman kamu itu dan tinggal lebih lama di depan gerbang sekolah ini? Ya, sudah, kakak tinggal."

     "Kak Davis ih, kejam banget. Nanti bilangin mama, lho," rajuk Silva dengan bibirnya maju beberapa senti. Hal ini membuat Davis gemas ingin mencubit bibir Silva.

     "Naiklah. Kita pulang ke rumah," ajaknya kembali lembut. Silva menaiki motor Davis di belakangnya dengan kaki mengangkang.

     "Pegangan yang erat," perintah Davis. Silvani memegang besi belakang motor sangat erat sesuai perintah Davis.

     "Dek, dengar apa kata kakak, nggak? Pegangan yang kuat, kakak takut kamu jatuh," tegur Davis karena Silva belum juga memegang pinggangnya.

     "Aku udah pegangan kok. Kakak, kan nggak lihat," ujar Silva.

     "Bukan pegang besi belakang, tapi pinggang kakak. Ayo, pindahkan tangannya," titah Davis tidak mau dibantah.

     "Ih, kakak ini. Yang penting sudah pegangan. Ngapain aku harus pegangan di pinggang kakak, aku nggak mau seperti kemarin. Motornya kakak kejut-kejut, dada aku jadi sakit karena membentur punggung kakak," ungkapnya kesal.

     "Kamu tidak paham artinya romantis, sih, Dek."

     "Apa? Coba ulang sekali lagi?" pinta Silva seperti ada yang janggal dengan ucapan Davis barusan.

     "Huh, kakak ini memang omes alias otak mesum. Masa adiknya dikerjain? Nanti tahu rasa kalau tiba-tiba ceweknya cemburu gara-gara lihat aku dibonceng kakak, bisa-bisa aku dituding selingkuhan kakak, padahal bukan," dumelnya. Davis kecewa mendengar omelan Silva barusan.

     Davis mempercepat laju motornya mirip orang kesetanan, membuat Silva di belakangnya ketakutan dan terpaksa berpegangan erat pada pinggang Davis. Davis pun senang karena memang itu yang ia inginkan.

     Tiba di rumah, kepulangan Silva dan Davis disambut mama Verli yang kebetulan baru pulang juga dari butik miliknya.

     "Silva, cepat turun, ngapain pelukan begitu?" sambut Mama Verli dengan mata melotot, karena tidak suka melihat tangan Silva melilit di pinggang Davis.

     Silva segera turun dan menyambut tangan sang mama, lalu diciumnya. Mereka bertiga masuk ke rumah membawa pikirannya masing-masing.

Terpopuler

Comments

Mrs.Riozelino Fernandez

Mrs.Riozelino Fernandez

ini cowok mulut nya kok lemes banget...Aldo berubah jadi Alda seharusnya...😤😤😤😤

2025-02-14

1

MifadiruMzn

MifadiruMzn

Modus Davis /Facepalm/ kalau misalnya mereka bukan saudara kandung sih gak apa apa, tapi kalau saudara kandung, parah itu/Smug/

2025-02-15

1

Mrs.Riozelino Fernandez

Mrs.Riozelino Fernandez

makanya ma dikasi tau sama Silva dan Davis...kalau mereka bukan saudara kandung,biar mereka punya batasan...

2025-02-14

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pantulan Tubuh di Cermin
2 Bab 2 Diejek Anak Pungut
3 Bab 3 Benarkah Aku Anak Pungut?
4 Bab 4 Mendatangi Rumah Riana
5 Bab 5 Melabrak Riana
6 Bab 6 Terpaksa Damai
7 Bab 7 Foto Silvani di Dompet Davis
8 Bab 8 Sebuah Ciuman
9 Bab 9 Ingin Merasakan Hembusan Nafasmu
10 Bab 10 Davis Posesif
11 Bab 11 Cincin Inisial DS Pemberian Davis
12 Bab 12 Perempuan Yang Sejak Dulu Dekat
13 Bab 13 Kepergok Danis
14 Bab 14 Kakak Angkat
15 Bab 15 Menerima Tawaran Ramon
16 Bab 16 Tante Suci Keceplosan
17 Bab 17 Davis Memarahi Silva
18 Bab 18 Menemui Jeng Suci
19 Bab 19 Kenapa Harus Anak Angkat?
20 Bab 20 Dari Siapa Silva Tahu Dia Anak Angkat?
21 Bab 21 Silva Akhirnya Tahu Siapa Dirinya
22 Bab 22 Davis Tetap Akan Memperjuangkan Cintanya Untuk Silva
23 Bab 23 Davis Patah Hati
24 Bab 24 Suasana Rumah Sudah Tidak Hangat Lagi
25 Bab 25 Semakin Jauh
26 Bab 26 Berpamitan
27 Bab 27 Lagi-lagi Silva Menerima Tumpangan Ramon
28 Bab 28 Ketahuan Mama Verli
29 Bab 29 Davis Makan Berdua Dengan Perempuan Muda
30 Bab 30 Keresahan Mama Verli
31 Bab 31 Mama Verli Kecewa
32 Bab 32 Davis Berhenti Pendekatan
33 Bab 33 Skenario Davis
34 Bab 34 Saling Merindu
35 Bab 35 Ikan Sudah Makan Umpan
36 Bab 36 Davis Mulai ke Rumah
37 Bab 37 Membawa Silva ke Rumah
38 Bab 38 Anggap Saja Balas Budi
39 Bab 39 Sah
40 Bab 40 Kapan Siap Malam Pertama?
41 Bab 41 Gagal Deh
42 Bab 42 Ketahuan Deh!
Episodes

Updated 42 Episodes

1
Bab 1 Pantulan Tubuh di Cermin
2
Bab 2 Diejek Anak Pungut
3
Bab 3 Benarkah Aku Anak Pungut?
4
Bab 4 Mendatangi Rumah Riana
5
Bab 5 Melabrak Riana
6
Bab 6 Terpaksa Damai
7
Bab 7 Foto Silvani di Dompet Davis
8
Bab 8 Sebuah Ciuman
9
Bab 9 Ingin Merasakan Hembusan Nafasmu
10
Bab 10 Davis Posesif
11
Bab 11 Cincin Inisial DS Pemberian Davis
12
Bab 12 Perempuan Yang Sejak Dulu Dekat
13
Bab 13 Kepergok Danis
14
Bab 14 Kakak Angkat
15
Bab 15 Menerima Tawaran Ramon
16
Bab 16 Tante Suci Keceplosan
17
Bab 17 Davis Memarahi Silva
18
Bab 18 Menemui Jeng Suci
19
Bab 19 Kenapa Harus Anak Angkat?
20
Bab 20 Dari Siapa Silva Tahu Dia Anak Angkat?
21
Bab 21 Silva Akhirnya Tahu Siapa Dirinya
22
Bab 22 Davis Tetap Akan Memperjuangkan Cintanya Untuk Silva
23
Bab 23 Davis Patah Hati
24
Bab 24 Suasana Rumah Sudah Tidak Hangat Lagi
25
Bab 25 Semakin Jauh
26
Bab 26 Berpamitan
27
Bab 27 Lagi-lagi Silva Menerima Tumpangan Ramon
28
Bab 28 Ketahuan Mama Verli
29
Bab 29 Davis Makan Berdua Dengan Perempuan Muda
30
Bab 30 Keresahan Mama Verli
31
Bab 31 Mama Verli Kecewa
32
Bab 32 Davis Berhenti Pendekatan
33
Bab 33 Skenario Davis
34
Bab 34 Saling Merindu
35
Bab 35 Ikan Sudah Makan Umpan
36
Bab 36 Davis Mulai ke Rumah
37
Bab 37 Membawa Silva ke Rumah
38
Bab 38 Anggap Saja Balas Budi
39
Bab 39 Sah
40
Bab 40 Kapan Siap Malam Pertama?
41
Bab 41 Gagal Deh
42
Bab 42 Ketahuan Deh!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!