Bab 5 Melabrak Riana

     "Tadi di sekolah, anak saya Silva mengatakan, salah satu teman laki-lakinya Ardo, dan Risa anak kalian, mengatai Silva dengan anak pungut dapat mungut dari pembuangan sampah. Mereka bilang kalau mereka mengatai Silva seperti itu karena tahu dari Jeng Riana, istri Pak Riwa," jelas Mama Verli seadanya sesuai yang dia dengar dari mulut Silva.

     Riana terlihat kaget dan shock, wajahnya langsung gugup kala suaminya menatapnya dengan penuh tanda tanya.

     "Ti-tidak, Jeng. Maaf, saya tidak merasa bilang seperti itu." Riana menyangkal dengan nada gugup. Mama Verli berdecih, dia tahu Riana sedang menyembunyikan borok dari suaminya. Sepertinya Riana takut mendapat kemarahan dari suaminya.

     "Mama, benarkah apa yang dikatakan Bu Vero? Mama tidak mengatakan hal itu, kan, pada teman laki-laki Risa maupun Risa?" tanya Pak Riwa penasaran.

     "Benar, Pa. Sumpah. Mama tidak katakan itu," sangkalnya dengan wajah memerah.

     "Kalau Jeng Riana tidak mengaku, lalu dari siapa Silva tahu kalau dirinya anak pungut? Dan kenapa dia bisa bilang Ardo dan Risa mengatakan kalau mereka mengatai anak pungut dapat mulung dari pembuangan sampah kalau tidak dari Jeng Riana? Silva tidak mungkin bohong. Dia selama ini selalu kami didik dengan kejujuran dan kedisiplinan, jadi tidak mungkin dia bohong."

     "Bisa saja anak Jeng Verli ngarang cerita, atau bisa jadi dia sebenarnya sudah tahu kalau dia anak pungut, dari pembicaraan kalian misalnya. Lalu Silva menuduh saya yang mengatakan pada Risa kalau dia anak pungut." Riana masih menyangkal.

     "Tidak mungkin, selama ini Silva tidak tahu kalau dia bukan anak kandung kami. Kami tidak pernah membicarakan status dia anak pungut di rumah kami dengan kata-kata yang lantang dan keras. Justru kami selalu menjaga supaya dia tidak mengetahui kalau sebenarnya bukan darah daging kami. Jadi, tidak mungkin dia tahu dari kami. Dan tidak mungkin Silva menuduh sembarangan atau memfitnah," tutur Mama Verli tidak terima kalau Riana justru balik menuduh Silva.

     "Aku tidak mengatakan itu, lagipula buat apa aku menyebarkan hal itu, bukan urusan aku, kok," tukasnya masih menyangkal supaya suaminya percaya.

     "Kalau begitu, coba panggil Risa anak Jeng Riana. Saya juga mau panggil Ardo, supaya dia memberikan kesaksian, siapa sebenarnya yang bohong," ucap Mama Verli sedikit membuat Riana was-was.

     "Ya ampun Jeng, kamu tega mendatangi kami dan labrak kami, hanya karena masalah yang belum tentu benar aku lakukan. Aku jujur, aku tidak merasa mengatakan itu. Anakmu itu sepertinya ngarang cerita untuk menyebar fitnah dan mengadu domba kita," oceh Riana lagi masih menyangkal.

     "Tidak mungkin Silva ngarang cerita atau dia sengaja mau fitnah orang, saya tahu watak putri saya. Tujuan saya ke sini hanya meluruskan bukan tega mau melabrak seperti yang tadi Jeng Riana bilang. Saya hanya tidak suka, orang luar ikut campur urusan dalam rumah tangga saya. Terlepas Silva anak pungut atau bukan, saya tidak terima kalau orang lain yang bukan anggota keluarga menyebarkan privasi kami dan mengolok-olok status dia. Saya tidak terima," tekan Mama Verli meradang.

     Bersamaan dengan itu, tiba-tiba Papa Vero dan Davis datang, mereka mengucap salam bersamaan. Pak Riwa dan Riana nampak terkejut melihat kedatangan suami dan anaknya Mama Verli.

     "Assalamualaikum, Pak Riwa, Bu Riana," ucap Papa Vero sembari duduk di samping Mama Verli yang tersentak, dia pikir suami dan anaknya tidak akan menyusul.

     "Waalaikumsalam Pak Vero dan Nak Davis. Silahkan duduk." Pak Riwa mempersilahkan duduk padahal kedua tamunya yang baru datang ini sudah duduk duluan di sofa.

     "Aduh maaf, jika kedatangan istri saya membuat Pak Riwa sekeluarga terganggu." Papa Vero berbasa-basi, dia takut antara istrinya dan istri Pak Riwa terlibat pertengkaran hebat.

     "Tidak, istri Pak Vero datang untuk meluruskan suatu masalah dengan istri saya. Namun, istri saya tidak merasa telah mengatakan kalau putri Pak Vero adalah anak pungut, begitu Pak Vero kira-kira," jelas Pak Riwa terlihat tenang, sementara di sebelahnya, Riana terlihat panik.

     "Seperti itu, ya? Lalu bagaimana sekarang, Ma? Apa sudah selesai pembicaraannya?" Papa Vero mengalihkan tanya pada sang istri.

     "Maaf Pak Riwa, saya jelaskan sekali lagi. Sepertinya istri Anda sedang berbohong, dia menyangkal karena takut oleh Anda. Kalau Jeng Riana merasa difitnah, saya mohon hadirkan Risa anak kalian di sini, biar dia ikut memberikan kesaksian," pinta Mama Verli meminta Risa dihadirkan.

     Sementara Risa yang sejak tadi sudah menguping pembicaraan orang tuanya dan orang tua Silva, jantungnya berdebar-debar karena merasa takut, sebab tadi ia pun sempat mengata-ngatai Silva anak pungut.

     "Tidak. Risa sedang tidur sore, dia tidak bisa diganggu," halau Riana seakan takut.

    "Mama, sudah, Ma." Papa Vero mencoba menyudahi sang istri yang terlihat masih belum puas. Tapi Mama Verli tidak mau diam selama unek-uneknya belum tersampaikan. Sementara Davis, sibuk memegang Hp nya dan merekam situasi itu ke dalam Hp nya.

     "Tidak apa-apa jika putri kalian tidak dihadirkan. Yang jelas inti dari kedatangan saya ini, hanyalah menegur Jeng Riana agar tidak berkata-kata yang sembarangan tentang privasi orang lain, karena saya tidak terima. Bahkan sampai putri kami dikatain anak pungut dapat mungut dari pembuangan sampah."

     "Sakit hati saya mendengarnya, sementara kami yang merawatnya dari orok, bicarapun sangat hati-hati di depan putri kami, karena kami tidak ingin menyakiti hatinya," terang Mama Verli belum berhenti meskipun sejak tadi siku Papa Vero tidak berhenti menyikut memberikan kode supaya Mama Verli menyudahi masalah ini.

     "Mohon maaf, sekali lagi saya sebagai suami dari Riana jika memang dia telah mengatakan itu. Sungguh ini di luar ketidaktahuan saya," balas Pak Riwa meminta maaf.

     "Kami akan memaafkan Pak Riwa, asal istri bapak tidak mengulang perbuatan itu lagi. Karena kalau dia mengulangnya, maka tidak segan-segan saya membawa masalah ini ke jalur hukum atas perbuatan kurang menyenangkan. Apalagi masalah ini bukan sekedar menyebar privasi putri saya saja. Ada motif lain di balik olok-olok itu yakni rasa iri putri Anda terhadap putri kami."

     "Apa lagi, Bu Vero, kenapa dengan anak saya?" Pak Riwa penasaran serta kaget saat nama putrinya ikut terseret.

     "Silva putri saya mendengar langsung dari bibir Risa, kalau Risa mencibirnya dengan kalimat yang mengandung unsur iri. Putri Anda bilang, muak dengan sekolah yang memihak anak pungut menjadi juara umum di sekolahnya. Kalau Pak Riwa tidak percaya, tolong hadirkan putri bapak di sini, agar kesannya tidak difitnah," ujar Mama Verli lagi. Papa Vero yang berada di samping tidak berani lagi mencegah sang istri.

     "Masa iya putri saya seperti itu, rasanya tidak mungkin. Coba, panggilkan Risa sebentar, Ma." Pak Riwa menyuruh Riana memanggil Risa.

     "Kalau begitu saya juga bisa katakan, tidak mungkin putri saya bohong. Sepertinya putri Anda iri dengan putri saya yang selalu juara umum di sekolahnya. Perlu saya tekankan di sini, putri saya selalu mendapat juara umum, bukan hasil nyogok atau memberi uang pelicin pada Guru-guru. Itu murni hasil otak dia yang alhamdulillah cerdas. Dan kalau seumpama saya melakukan sogok terhadap pihak sekolah, saya siap dipertemukan dengan pihak sekolah dan dipermalukan jika itu memang benar," tantang Mama Vero tidak takut.

     Jantung Riana dan Risa mendadak tidak aman, mereka berdebar tidak karuan meskipun mereka berada dalam ruangan yang berbeda.

Terpopuler

Comments

Miftahur Rahmi23

Miftahur Rahmi23

Gambaran manusia sekarang nih, apalagi di medsos, banyak nih komen2 kek gini. dia yg nyerang dia pula yg merasa terzholimi /Facepalm/

2025-02-21

1

Mrs.Riozelino Fernandez

Mrs.Riozelino Fernandez

keren mama Verli...
mulut Risa sama Riana mank ember...usil dengan kehidupan orang lain...mau anak pungut,mau anak adopsi mank urusan lu...mereka juga gak minta uang buat biayai kehidupan mereka selama ini...
Hajjar Ma 👹

2025-02-17

0

Lendra malayu

Lendra malayu

bagus mama vero,, lawan terus si mulut ember itu

2025-02-17

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pantulan Tubuh di Cermin
2 Bab 2 Diejek Anak Pungut
3 Bab 3 Benarkah Aku Anak Pungut?
4 Bab 4 Mendatangi Rumah Riana
5 Bab 5 Melabrak Riana
6 Bab 6 Terpaksa Damai
7 Bab 7 Foto Silvani di Dompet Davis
8 Bab 8 Sebuah Ciuman
9 Bab 9 Ingin Merasakan Hembusan Nafasmu
10 Bab 10 Davis Posesif
11 Bab 11 Cincin Inisial DS Pemberian Davis
12 Bab 12 Perempuan Yang Sejak Dulu Dekat
13 Bab 13 Kepergok Danis
14 Bab 14 Kakak Angkat
15 Bab 15 Menerima Tawaran Ramon
16 Bab 16 Tante Suci Keceplosan
17 Bab 17 Davis Memarahi Silva
18 Bab 18 Menemui Jeng Suci
19 Bab 19 Kenapa Harus Anak Angkat?
20 Bab 20 Dari Siapa Silva Tahu Dia Anak Angkat?
21 Bab 21 Silva Akhirnya Tahu Siapa Dirinya
22 Bab 22 Davis Tetap Akan Memperjuangkan Cintanya Untuk Silva
23 Bab 23 Davis Patah Hati
24 Bab 24 Suasana Rumah Sudah Tidak Hangat Lagi
25 Bab 25 Semakin Jauh
26 Bab 26 Berpamitan
27 Bab 27 Lagi-lagi Silva Menerima Tumpangan Ramon
28 Bab 28 Ketahuan Mama Verli
29 Bab 29 Davis Makan Berdua Dengan Perempuan Muda
30 Bab 30 Keresahan Mama Verli
31 Bab 31 Mama Verli Kecewa
32 Bab 32 Davis Berhenti Pendekatan
33 Bab 33 Skenario Davis
34 Bab 34 Saling Merindu
35 Bab 35 Ikan Sudah Makan Umpan
36 Bab 36 Davis Mulai ke Rumah
37 Bab 37 Membawa Silva ke Rumah
38 Bab 38 Anggap Saja Balas Budi
39 Bab 39 Sah
40 Bab 40 Kapan Siap Malam Pertama?
41 Bab 41 Gagal Deh
42 Bab 42 Ketahuan Deh!
Episodes

Updated 42 Episodes

1
Bab 1 Pantulan Tubuh di Cermin
2
Bab 2 Diejek Anak Pungut
3
Bab 3 Benarkah Aku Anak Pungut?
4
Bab 4 Mendatangi Rumah Riana
5
Bab 5 Melabrak Riana
6
Bab 6 Terpaksa Damai
7
Bab 7 Foto Silvani di Dompet Davis
8
Bab 8 Sebuah Ciuman
9
Bab 9 Ingin Merasakan Hembusan Nafasmu
10
Bab 10 Davis Posesif
11
Bab 11 Cincin Inisial DS Pemberian Davis
12
Bab 12 Perempuan Yang Sejak Dulu Dekat
13
Bab 13 Kepergok Danis
14
Bab 14 Kakak Angkat
15
Bab 15 Menerima Tawaran Ramon
16
Bab 16 Tante Suci Keceplosan
17
Bab 17 Davis Memarahi Silva
18
Bab 18 Menemui Jeng Suci
19
Bab 19 Kenapa Harus Anak Angkat?
20
Bab 20 Dari Siapa Silva Tahu Dia Anak Angkat?
21
Bab 21 Silva Akhirnya Tahu Siapa Dirinya
22
Bab 22 Davis Tetap Akan Memperjuangkan Cintanya Untuk Silva
23
Bab 23 Davis Patah Hati
24
Bab 24 Suasana Rumah Sudah Tidak Hangat Lagi
25
Bab 25 Semakin Jauh
26
Bab 26 Berpamitan
27
Bab 27 Lagi-lagi Silva Menerima Tumpangan Ramon
28
Bab 28 Ketahuan Mama Verli
29
Bab 29 Davis Makan Berdua Dengan Perempuan Muda
30
Bab 30 Keresahan Mama Verli
31
Bab 31 Mama Verli Kecewa
32
Bab 32 Davis Berhenti Pendekatan
33
Bab 33 Skenario Davis
34
Bab 34 Saling Merindu
35
Bab 35 Ikan Sudah Makan Umpan
36
Bab 36 Davis Mulai ke Rumah
37
Bab 37 Membawa Silva ke Rumah
38
Bab 38 Anggap Saja Balas Budi
39
Bab 39 Sah
40
Bab 40 Kapan Siap Malam Pertama?
41
Bab 41 Gagal Deh
42
Bab 42 Ketahuan Deh!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!