Menuju pantai

Joko mengeluarkan kardus yang pertama dari toko,

di susul Bude yang mengangkat kardus yg lebih kecil.

"Mbak aku ga punya helm, gimana ya?"tanya Joko.

"Pake helmku aja ko.!"

Bude menjawabnya, dan berjalan menuju toko.

"Ko, ini gimana ya bawanya?" Rani bertanya.

"Gimana kalau aku yg di depan Mbak?

Tapi aku ga punya SIM?"

"Waduh gimana Ko,

nanti malah di tilang polisi?"

"Ya kalau pake helm, kan ga mungkin ditilang polisi kan Mbak?"

"Ya juga sih, tapi wajahmu itu masih anak-anak Ko,

nanti pas di lampu merah itu lho?

nanti aja Ko, gantian pas udah keluar kota," ungkap Rani.

"Ko, ini helm nya," Bude Atun keluar dari toko dengan membawa helm.

"Ya Bude,"

Joko menghampiri Bude.

Helm putih seperti helm proyek,

Helm yang sama seperti punya mbak Rani,

Pada tahun 2004 pemerintah belum menerapkan helm berSNI

Dan 95 % pemotor masih memakai helm seperti itu.

"Pamit ya bude.?"

Joko mengulurkan tangannya dan mencium tangan Bude, di susul Rani.

"Hati-hati ya, Ran,

Santai aja jangan ngebut-ngebut," Bude menasehati.

"Ya, Bu,"

Rani menjawabnya.

Joko mengangkat kardus yang kecil, dan menaruhnya di depan dan menalinya.

"Gimana Mbak?

Bisa kan, ini kardus yang kecil, yang besar nanti aku yang bawa.

Coba Mbak naik dulu."

Rani menaiki motornya dengan kardus yang sudah tertali di depannya.

"Bisa kayaknya, tapi kakinya harus mengkangkang gini ya?" Rani menaiki motor tersebut.

"Ya gimana lagi mbak,

ini aku udah bawa kardus yang besar Mbak," ungkap Joko.

"Ya udah yok,

Kayaknya bisa."

Joko membonceng Mbak Rani dengan membawa kardus yang besar.

Joko menaruh kardus itu di atas pahanya yang sebelah kanan.

"Yok Mbak,

mari Bude."

Rani mulai menjalankan motornya.

Bude melambaikan tangannya sejenak dan masuk ke toko lagi.

***

Jalan menuju desa bulek Siti, lumayan cukup jauh.

Melewati beberapa lampu merah, jalan yang menanjak, dan menurun.

Saat di pertengahan jalan Joko merasa tangan dan kakinya pegal, dan kesemutan.

"Dah mau sampai belum Mbak?" tanya Joko.

"Ini sudah masuk perdesaan Ko," jawab Rani yang sedang fokus menyetir.

"Setelah jembatan itu ada lampu merah terakhir,

kita makan dulu di situ."

Rani menenangkan Joko.

Joko merasa agak lega tapi tangan dan kakinya terasa sangat pegal sekali.

Setelah melewati desa pertama, Rani membelokkan motornya, dan berhenti di suatu teras rumah.

Terdapat juga beberapa motor di sana.,

Joko turun dari motor dan menaruh kardus itu di atas pagar dari semen.

Tidak lama kemudian datang sosok laki-laki tua yang menghampiri.

"Pak titip ya," ungkap Rani pada laki-laki tua itu.

"Taruh di atas meja itu aja,"

Pak tua menyuruh kardus yang di taruh Joko di atas pagar, untuk di pindahkan kemeja.

Joko mengangkat kardus itu dan menaruhnya di meja.

"Dimana ini Mbak?" Joko bertanya ke Mbak Rani.

"yuk makan dulu"

Rani menjawabnya.

Joko nampak melihat-liat lokasi itu, ia berjalan mengikuti Rani di belakangnya.

Mereka berjalan melewati rumah itu dari samping.

Dan masuk ke satu gang,

setelah masuk gang, Joko di kagetkan dengan pemandangan yang indah,

di hadapannya.

Di sana Joko melihat bentangan sawah yang nampak hijau.

Terdapat beberapa tempat duduk yang tertata rapi, dan terlihat juga pantai dari kejauhan.

"Mau makan apa Ko?"

Rani menepuk pundak Joko.

"Terserah Mbak aja," jawab Joko.

"Ya jangan terserah dong!,"

Rani meminta.

"Ga papa mbak.! terserah Mbak aja," ungkap Joko sambil memandang wajah Mbak Rani

"Ya udah, tak kasih pilihan,

Mau lauk telor, tempe, atau ayam?" ungkap Rani sambil menatap Joko.

"Ya jelas ayam dong," joko menjawab.

"Terus sayurnya apa?"

"Terserah Mbak aja,"

"Kamu ini Ko, terserah terus," Rani pun beranjak berdiri dan berjalan ingin memesannnya.

"O iya minumnya apa?" Rani berbalik.

"Es jeruk aja Mbak,"

Joko menjawabnya.

"Ya udah, bentar ya tak pesenin dulu," ungkap Rani.

Setelah pesan makanan Rani duduk di sebelah Joko dan ikut melihat pemandangannya.

"Mbak udah sering kesini ya?," Joko bertanya.

"Ya ga juga sih,

cuma kalau mau kepantai aja, atau ke rumah bulek Siti aja."

"Ko, nanti kalau dah sampai

Sana jangan heran ya," Rani memberi peringatan.

"Heran gimana Mbak?" jawab Joko.

"Ya jangan heran aja, kalau banyak cewek yang

seksi-seksi," Rani menatap Joko dan tersenyum.

"Ya namanya juga pantai, Mbak,"

Joko teringat pantai yang ada di bali saat nonton televisi di rumahnya.

"Bukan di pantainya,

tapi di tempat bulekku nanti," ungkap Rani.

"Emang nya banyak wanita seksi Mbak disana?" tanya Joko penasaran.

Rani terlihat bingung menjawabnya.

Terlihat ibu-ibu mengantarkan makanan yang telah di pesan mbak Rani .

"Makasih buk.!"

Rani mengucapkan terima kasih sambil menggeser makanan dan minumannya.

"Emang bu lek siti itu punya anak banyak Mbak?atau saudara banyak,? terus

Cewek semua apa gimana Mbak?"

"Ya ga lah.!

bulekku itu ga punya anak,

tapi dulu pernah aborsi,"

"Aborsi?"

Joko terlihat bingung, ngak tau maksud Mbak Rani.

Rani tersenyum kepada Joko.

"Aborsi itu,

Sudah hamil tapi digugurkan," Rani menjelaskan.

"Kenapa? kok digugurkan?" Joko penasaran.

"Ceritanya panjang Ko,

Dah makan dulu aja."

Joko terlihat bingung

Dengan apa yg di bicarakan Mbak Rani.

Setelah makan dan beristirah, menikmati pemandangan yang ada di warung ramesan itu,

Rani dan Joko melanjutkan perjalanannya.

Joko berada di depan bergantian dengan Rani yang membonceng di belakangnya, dan memandu si Joko.

Meraka tiba di lokasi sekitar pukul setengah 3 sore hari.

"Sampai juga," Rani merasa lega, karena sudah sampai di desa buleknya.

"Emang rumahnya yang mana Mbak?"

Joko merasa penasaran, Sepanjang desa itu

banyak wanita yang berada di depan rumahnya,

dan memakai celana yang pendek-pendek dan baju yang seksi-seksi.

"Itu, tembok warna ungu," Rani menunjuk rumah yang ada di depan.

Joko langsung membelokkan motornya kerumah yang di tunjuk Rani.

Rumah yang dari depannya nampak seperti warung. Samping rumahnya ada garasi yang cukup besar dengan beberapa motor terparkir di sana.

"Parkir di sini Mbak?"

"Iya,"

Rani menjawabnya.

Rani turun dari motor dan menaruh kardus itu dikursi,

Joko membuka ikatan kardus yang tadi di ikatkannya ke motor.

"Dah sampai Ran"

Joko melihat ibu2 seumuran Bude Atun dengan memakai celana pendek,

Dan baju longgar yg menampakkan leher dan garis dadanya, juga pundak nya.

"Iya bu lek,"

Rani menjawab nya.

"Kamu sama siapa?

"itu adik keponakanku," Rani menjawabnya.

"Ayo masuk,

Bulek siti mempersilahkan Rani masuk.

"Ayo Ko,"

Rani mengajak Joko.

"Taruh mana ini Bulek?" Rani bertanya ke Bulek.

"Taruh situ aja, Ran,"

Bulek Siti menunjuk meja yang dideket Rani.

"Yg ini Mbak?"

Joko bertanya pada Rani.

"Itu juga taruh situ aja,!"

Bulek Siti yang menjawab nya.

"Duduk situ Ran,"

Bulek siti mempersilahkan duduk di sofa.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!