Bab 19 Pintu yang Tidak Pernah Tertutup

Arga kembali ke desanya, membawa tubuh yang lelah namun jiwa yang diliputi kecemasan. Ia duduk di tepi ranjang, mencoba mencerna semua yang terjadi di Hutan Giripati. Bagaimana mungkin hutan itu menyimpan begitu banyak kegelapan, dan mengapa ia merasa Danu belum benar-benar pergi?

Setiap kali ia menutup mata, bayangan Danu dan Maya kembali menghantuinya. Arga merasa bahwa meskipun liontin telah hancur, energi gelap yang pernah menguasai altar itu belum sepenuhnya menghilang. Ia bisa merasakan sesuatu yang berdenyut, seolah hutan masih hidup—masih menunggu.

Namun, ia mencoba mengabaikannya. Itu hanya mimpi buruk, pikirnya, pengaruh trauma dari pengalaman di hutan itu.

Tetapi kebenaran tidak semudah itu dilupakan.

---

Beberapa minggu setelah insiden itu, penduduk desa yang tinggal di dekat Hutan Giripati mulai melaporkan kejadian aneh.

Anak-anak yang bermain di pinggiran hutan mulai berbicara tentang "bayangan besar" yang mereka lihat di antara pepohonan. Ternak yang dibiarkan merumput di dekat hutan sering kali ditemukan mati keesokan harinya, tubuh mereka membusuk dengan cepat tanpa tanda gigitan atau luka fisik.

Penduduk desa semakin takut untuk mendekati hutan, tetapi rasa penasaran mereka juga tak terbendung. Desas-desus tentang Maya yang masih hidup, atau setidaknya jejak energinya yang masih bergentayangan, mulai tersebar.

---

Arga yang Tertarik Kembali

Arga mencoba melanjutkan hidupnya, tetapi rasa bersalah terus menghantuinya. Danu mengorbankan dirinya untuk melindungi hutan itu. Namun, apa yang sebenarnya tersisa di sana sekarang?

Malam itu, ketika ia duduk di beranda rumahnya, suara bisikan yang pernah ia dengar di hutan kembali terdengar. Itu bukan suara Danu, bukan pula Maya. Suara itu terdengar seperti ribuan orang berbicara serempak, namun tidak ada kata-kata yang jelas.

“Arga…”

Ia bangkit dari kursinya, memandang ke arah hutan yang terlihat dari kejauhan. Suara itu semakin jelas, seolah memanggilnya. Dan meskipun akal sehatnya mengatakan untuk tidak mendekat, sesuatu di dalam dirinya mendorongnya untuk kembali.

---

Dengan senter dan parang di tangan, Arga memasuki Hutan Giripati sekali lagi. Malam itu gelap tanpa cahaya bulan, dan udara di dalam hutan terasa lebih berat dari biasanya. Suara-suara binatang yang biasanya ramai justru menghilang, digantikan oleh keheningan yang memekakkan telinga.

Semakin dalam ia melangkah, semakin aneh suasananya. Pepohonan yang dulu tampak familiar kini terlihat seperti membentuk lorong panjang, seperti memandu langkahnya ke suatu tempat.

Setelah berjalan selama beberapa jam, ia tiba di sebuah area terbuka yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Di tengahnya, terdapat sebuah pohon raksasa dengan akar-akar yang membentuk lingkaran, seperti altar alami. Di batang pohon itu, ada bekas luka besar, seolah-olah sesuatu pernah terbelah di sana.

Dan di depan pohon itu, berdiri sosok yang ia kenal.

“Danu?”

Sosok itu menoleh, tetapi wajahnya tidak sepenuhnya manusia. Danu kini tampak seperti makhluk bayangan, dengan tubuh yang hampir transparan dan mata yang bersinar merah samar.

“Kenapa kamu kembali?” suara Danu terdengar berat, seperti berasal dari dalam kegelapan itu sendiri.

“Aku… aku merasa sesuatu belum selesai,” jawab Arga, suaranya gemetar.

Danu menatapnya dalam diam, sebelum akhirnya berkata, “Kamu benar. Pintu itu masih terbuka.”

-**

Danu menjelaskan bahwa altar mungkin telah hancur, tetapi portal yang menghubungkan dunia manusia dengan dimensi gelap belum sepenuhnya tertutup. Selama energi dari altar itu masih ada di hutan, makhluk-makhluk dari dimensi lain akan terus mencari cara untuk masuk.

“Aku menahan mereka selama ini,” ujar Danu, “tapi aku tidak bisa bertahan selamanya.”

Arga merasakan ketakutan yang menusuk. “Lalu apa yang bisa kita lakukan? Aku sudah menghancurkan liontin itu, bukan?”

“Liontin itu hanya kunci. Portalnya masih ada—dan sekarang, ada sesuatu yang lebih besar yang mencoba melewatinya.”

Danu menoleh ke arah pohon raksasa. Arga melihat bahwa akar-akar di sekelilingnya perlahan bergerak, seperti ular yang sedang menggeliat.

“Apa itu?” tanya Arga, suaranya bergetar.

“Sang Penjaga,” jawab Danu singkat. “Makhluk yang dulu dikurung untuk melindungi dunia ini. Tapi kurungan itu melemah, dan jika ia bangkit, semuanya akan berakhir.”

Tiba-tiba, pohon raksasa itu bergetar. Tanah di sekitarnya retak, dan suara gemuruh terdengar dari dalam. Dari balik akar-akar yang melilit pohon, muncul sebuah tangan besar yang terbuat dari bayangan, dengan kuku-kuku panjang yang tajam.

Arga mundur ketakutan. “Apa itu?”

“Itu adalah bagian dari kegelapan yang lebih tua dari dunia ini,” ujar Danu. “Jika ia berhasil bebas, dunia manusia tidak akan bisa bertahan.”

Danu menoleh ke Arga, matanya menyala lebih terang. “Kamu harus membantuku menghentikannya.”

“Bagaimana caranya?” tanya Arga.

Danu menunjuk ke arah akar-akar yang bergerak. “Kamu harus memotong akar-akar itu sebelum makhluk itu bangkit sepenuhnya. Jika tidak, ia akan keluar, dan kita tidak akan bisa menghentikannya.”

Dengan parang di tangan, Arga berlari ke arah akar-akar itu. Ia mulai memotong satu per satu, meskipun setiap kali ia menyentuhnya, rasa sakit seperti terbakar menjalar di tangannya.

Sementara itu, Danu menggunakan seluruh kekuatannya untuk menahan tangan besar yang mencoba keluar dari pohon. Setiap kali makhluk itu bergerak, hutan di sekitarnya berguncang, seperti gempa kecil.

“Ayo, Arga! Cepat!” teriak Danu.

Akar-akar itu bergerak lebih cepat, mencoba melilit Arga. Salah satu akar berhasil melingkari kakinya, menariknya ke tanah. Namun, dengan perjuangan keras, Arga berhasil memotong akar itu dan melanjutkan pekerjaannya.

Ketika akar terakhir terputus, pohon itu mengeluarkan suara jeritan mengerikan. Bayangan besar yang hampir keluar dari pohon itu tertarik kembali, dan tanah di sekitarnya mulai menutup.

Setelah semuanya selesai, Danu berdiri dengan lemah. Sosoknya yang terbuat dari bayangan mulai memudar.

“Kamu berhasil,” katanya kepada Arga. “Pintu itu tertutup… setidaknya untuk sekarang.”

Arga mencoba mendekatinya, tetapi Danu mengangkat tangannya. “Tugasku di sini sudah selesai. Hutan ini aman… tapi aku tidak bisa tinggal lebih lama.”

Sebelum menghilang sepenuhnya, Danu menatap Arga dengan senyum samar. “Terima kasih. Hutan ini sekarang adalah milikmu untuk dijaga.”

Dan dengan itu, Danu lenyap, meninggalkan Arga sendirian di tengah hutan yang kembali sunyi.

Namun, meski portal telah tertutup, Arga tahu bahwa Hutan Giripati tidak akan pernah menjadi tempat biasa. Hutan itu masih menyimpan rahasia-rahasia gelapnya—dan kini, ia adalah penjaga baru.

Episodes
1 Bab 1: "Langkah ke Dalam Bayang"
2 Bab 2: Jejak yang Hilang
3 Bab 3: Bayangan di Belakang
4 Bab 4: Kegelapan yang Menelan
5 Bab 5: Korban Pertama
6 Bab 6 Jejak Bayangan
7 Bab 7 Korban Bayangan
8 Bab 8 Pohon Kematian
9 Bab 9 Bayangan yang Tak Terhapus
10 Bab 10 Korban Baru
11 Bab 11 Bayangan yang Mengintai
12 Bab 12 Kebenaran Tersembunyi
13 Bab 13 Hutan Itu Hidup
14 Bab 14 Jerit dari Masa Lalu
15 Bab 15 Jejak yang hilang
16 Bab 16 Hutan yang Tidak Pernah Tidur
17 Bab 17 Penjaga yang Terperangkap
18 Bab 18 Jejak baru
19 Bab 19 Pintu yang Tidak Pernah Tertutup
20 Bab 20 Kembali ke desa
21 Bab 21 Jantung Kegelapan
22 Bab 22 Bisikan Yang Mengikuti
23 Bab 23 Kehilangan jati diri
24 Bab 24 Panggilan dari Kegelapan
25 Bab 25 Kembali ke Dalam Kegelapan
26 Bab 26 Desa yang Terkutuk
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Bab 1: "Langkah ke Dalam Bayang"
2
Bab 2: Jejak yang Hilang
3
Bab 3: Bayangan di Belakang
4
Bab 4: Kegelapan yang Menelan
5
Bab 5: Korban Pertama
6
Bab 6 Jejak Bayangan
7
Bab 7 Korban Bayangan
8
Bab 8 Pohon Kematian
9
Bab 9 Bayangan yang Tak Terhapus
10
Bab 10 Korban Baru
11
Bab 11 Bayangan yang Mengintai
12
Bab 12 Kebenaran Tersembunyi
13
Bab 13 Hutan Itu Hidup
14
Bab 14 Jerit dari Masa Lalu
15
Bab 15 Jejak yang hilang
16
Bab 16 Hutan yang Tidak Pernah Tidur
17
Bab 17 Penjaga yang Terperangkap
18
Bab 18 Jejak baru
19
Bab 19 Pintu yang Tidak Pernah Tertutup
20
Bab 20 Kembali ke desa
21
Bab 21 Jantung Kegelapan
22
Bab 22 Bisikan Yang Mengikuti
23
Bab 23 Kehilangan jati diri
24
Bab 24 Panggilan dari Kegelapan
25
Bab 25 Kembali ke Dalam Kegelapan
26
Bab 26 Desa yang Terkutuk
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!