Bab 13 Hutan Itu Hidup

Hana kembali ke kehidupannya yang biasa, meskipun ia tahu bahwa dirinya tidak akan pernah benar-benar bebas dari bayangan Hutan Giripati. Ia mencoba melanjutkan hidup dengan menghadiri sesi terapi dan menjauh dari semua orang yang bertanya tentang hutan itu. Namun, mimpi buruknya tidak pernah berhenti.

Setiap malam, ia bermimpi berada di tengah hutan itu lagi. Dalam mimpinya, ia selalu melihat sosok Galih, Ratna, Rio, dan Siska berdiri dalam lingkaran, dengan mata hitam pekat. Mereka tidak berbicara, tetapi seolah memanggilnya.

Satu malam, ia terbangun dengan bekas tanah basah di kakinya—seolah ia baru saja berjalan melalui lumpur hutan.

---

Peringatan yang Terlambat

Seminggu kemudian, Hana menerima panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal.

“Halo?” katanya dengan suara gemetar.

Tidak ada suara di ujung telepon, hanya bunyi napas berat. Kemudian, suara lelaki yang familiar berbicara.

“Kamu harus kembali, Hana. Hutan itu tidak akan melepaskanmu.”

Hana membeku. Itu suara Galih.

Telepon itu terputus sebelum ia sempat merespons.

Hari berikutnya, Hana mulai melihat hal-hal aneh di rumahnya. Daun-daun kering tiba-tiba muncul di lantai kamarnya, meski jendelanya tertutup rapat. Cermin di kamar mandi berembun, meski udara di rumah tidak lembap, dan di atasnya ada tulisan: “Dia melihatmu.”

Hana mencoba mengabaikan semua tanda itu, menganggapnya sebagai halusinasi. Tapi semuanya berubah ketika ia terbangun malam itu dengan suara ranting patah di ruang tamunya.

Ketika ia turun untuk memeriksa, ia melihat bayangan hitam besar dengan mata merah menyala berdiri di sudut ruangan.

“Kamu adalah bagian dari kami sekarang,” bisiknya, sebelum menghilang.

--

Putus asa, Hana memutuskan untuk mengunjungi rumah Pak Wira. Namun, ketika ia tiba, ia menemukan rumah itu kosong. Tetangga sekitar mengatakan bahwa Pak Wira menghilang dua hari setelah mereka kembali dari hutan.

Namun, di dalam rumahnya, Hana menemukan sebuah buku catatan milik Pak Wira. Dalam catatan itu, tertulis:

“Hutan Giripati bukan sekadar tempat. Ia adalah makhluk hidup, dan ia membutuhkan jiwa untuk bertahan. Ketika seseorang masuk, mereka menjadi bagian darinya, terlepas apakah mereka selamat atau tidak. Tidak ada jalan keluar yang sebenarnya.”

Di halaman terakhir, ada gambar lingkaran dengan simbol-simbol kuno yang sama seperti di batu besar di hutan. Di bawahnya tertulis:

“Satu-satunya cara menghentikan hutan adalah dengan memberikan persembahan terakhir. Orang yang terpilih tidak akan bisa lari selamanya.”

Hana merasa tubuhnya gemetar. Ia sadar, ia adalah “orang terpilih” yang dimaksud dalam catatan itu.

---

Malam itu, Hana mencoba membakar buku catatan Pak Wira, berharap bisa menghentikan teror itu. Namun, api tidak mampu membakar kertas itu. Bahkan, setelah ia mencoba merobeknya, halaman-halaman buku itu kembali utuh dalam sekejap.

Saat ia terdiam ketakutan, suara familiar terdengar dari belakangnya.

“Hana…”

Ia berbalik dan melihat Galih berdiri di sana. Namun, wajah Galih kini berubah, dengan kulitnya membusuk dan matanya tetap hitam pekat.

“Kamu harus kembali. Atau mereka akan datang untukmu,” katanya dengan nada datar.

Sebelum Hana sempat menjawab, tubuh Galih tiba-tiba tersentak dan menghilang menjadi kabut hitam.

---

Hana menyadari bahwa ia tidak punya pilihan lain selain kembali ke Hutan Giripati. Ia mengumpulkan keberaniannya dan membawa buku catatan Pak Wira sebagai satu-satunya petunjuk.

Saat ia tiba di tepi hutan, ia merasa udara berubah. Hutan itu seolah menunggunya.

Dengan langkah berat, Hana masuk ke dalam hutan, dan jalur setapak yang familiar mulai muncul di depannya. Namun, kali ini, semuanya terasa berbeda. Pohon-pohon terlihat seperti bergerak, dan suara bisikan terdengar lebih jelas, memanggil namanya.

Di tengah perjalanan, ia menemukan Nanda dan Surya, tapi tubuh mereka tidak lagi seperti manusia. Mereka terlihat seperti patung kayu yang hidup, dengan ekspresi kesakitan di wajah mereka.

“Hana… lari…” bisik Nanda dengan suara serak.

Namun, sebelum ia sempat menjawab, akar-akar pohon mencengkeram tubuh Nanda dan Surya, menarik mereka kembali ke tanah.

---

Hana akhirnya tiba di tempat di mana batu besar itu dulu berdiri. Namun, batu itu kini telah digantikan oleh sebuah lubang besar yang bersinar merah. Di sekelilingnya berdiri bayangan-bayangan hitam yang ia kenali sebagai jiwa-jiwa yang terperangkap di dalam hutan.

“Selamat datang kembali, Hana,” suara besar itu bergema.

Sosok hitam besar dengan mata merah muncul di atas lubang itu.

“Kamu adalah persembahan terakhir yang aku butuhkan. Denganmu, aku akan hidup selamanya.”

Namun, Hana memegang buku catatan Pak Wira dengan erat. Ia membuka halaman terakhir, di mana ada mantra yang ditulis untuk melawan kekuatan hutan.

Dengan suara bergetar, ia mulai melafalkan mantra itu.

Bayangan besar itu mulai menggeliat kesakitan. Namun, sebelum ia selesai melafalkan mantra, bayangan-bayangan di sekelilingnya mulai menyerangnya, mencakar dan melilit tubuhnya.

“Berhenti! Jangan ganggu dia!” teriak suara lain.

Hana terkejut melihat sosok Galih, kini dengan wujud manusia yang utuh, menyerang bayangan-bayangan itu.

“Lanjutkan, Hana!” teriak Galih, meskipun tubuhnya mulai terkoyak oleh bayangan hitam.

Dengan air mata mengalir, Hana melafalkan mantra itu hingga selesai. Lubang besar itu mulai menutup, dan suara jeritan terdengar dari seluruh penjuru hutan.

Sosok hitam besar itu menghilang, bersama dengan semua bayangan lainnya.

---

Hana terbangun di tepi Hutan Giripati, sendirian. Tubuhnya penuh luka, tapi ia masih hidup.

Namun, saat ia kembali ke desa, ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Tidak ada yang mengenalnya. Orang-orang tidak lagi ingat siapa dirinya, bahkan keluarganya sendiri.

Hana mencoba memeriksa identitasnya, tapi semuanya hilang. Seolah-olah ia tidak pernah ada.

Hutan Giripati mungkin telah membiarkannya pergi, tapi ia telah mengambil hal yang lebih besar: keberadaannya.

Kini, Hana hanya menjadi bayangan di dunia nyata, terhapus dari ingatan semua orang, sementara bisikan dari hutan itu masih menghantui malam-malamnya.

Hutan Giripati belum benar-benar selesai dengannya… atau kita.

Episodes
1 Bab 1: "Langkah ke Dalam Bayang"
2 Bab 2: Jejak yang Hilang
3 Bab 3: Bayangan di Belakang
4 Bab 4: Kegelapan yang Menelan
5 Bab 5: Korban Pertama
6 Bab 6 Jejak Bayangan
7 Bab 7 Korban Bayangan
8 Bab 8 Pohon Kematian
9 Bab 9 Bayangan yang Tak Terhapus
10 Bab 10 Korban Baru
11 Bab 11 Bayangan yang Mengintai
12 Bab 12 Kebenaran Tersembunyi
13 Bab 13 Hutan Itu Hidup
14 Bab 14 Jerit dari Masa Lalu
15 Bab 15 Jejak yang hilang
16 Bab 16 Hutan yang Tidak Pernah Tidur
17 Bab 17 Penjaga yang Terperangkap
18 Bab 18 Jejak baru
19 Bab 19 Pintu yang Tidak Pernah Tertutup
20 Bab 20 Kembali ke desa
21 Bab 21 Jantung Kegelapan
22 Bab 22 Bisikan Yang Mengikuti
23 Bab 23 Kehilangan jati diri
24 Bab 24 Panggilan dari Kegelapan
25 Bab 25 Kembali ke Dalam Kegelapan
26 Bab 26 Desa yang Terkutuk
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Bab 1: "Langkah ke Dalam Bayang"
2
Bab 2: Jejak yang Hilang
3
Bab 3: Bayangan di Belakang
4
Bab 4: Kegelapan yang Menelan
5
Bab 5: Korban Pertama
6
Bab 6 Jejak Bayangan
7
Bab 7 Korban Bayangan
8
Bab 8 Pohon Kematian
9
Bab 9 Bayangan yang Tak Terhapus
10
Bab 10 Korban Baru
11
Bab 11 Bayangan yang Mengintai
12
Bab 12 Kebenaran Tersembunyi
13
Bab 13 Hutan Itu Hidup
14
Bab 14 Jerit dari Masa Lalu
15
Bab 15 Jejak yang hilang
16
Bab 16 Hutan yang Tidak Pernah Tidur
17
Bab 17 Penjaga yang Terperangkap
18
Bab 18 Jejak baru
19
Bab 19 Pintu yang Tidak Pernah Tertutup
20
Bab 20 Kembali ke desa
21
Bab 21 Jantung Kegelapan
22
Bab 22 Bisikan Yang Mengikuti
23
Bab 23 Kehilangan jati diri
24
Bab 24 Panggilan dari Kegelapan
25
Bab 25 Kembali ke Dalam Kegelapan
26
Bab 26 Desa yang Terkutuk
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!