Bab 10 Korban Baru

Pagi itu, kabut tebal menyelimuti Hutan Giripati. Di jalan setapak yang hampir tertutup semak, sekelompok remaja tiba di pintu masuk hutan. Mereka berempat: Galih, pemimpin kelompok yang membawa pisau survival dan peta lusuh; Ratna, gadis pemberani yang selalu skeptis; Rio, videografer amatir yang gila konten; dan Siska, si pendiam yang terlihat paling ragu untuk ikut.

“Gue nggak tahu kenapa, tapi hutan ini terasa salah,” bisik Siska sambil memandangi batang-batang pohon tua yang tinggi menjulang.

“Ah, biasa aja kali,” ujar Rio santai sambil mengangkat kamera, mulai merekam. “Bayangin aja, konten ini bakal booming. Judulnya: ‘Menjelajah Hutan Misterius yang Tidak Pernah Ditemukan di Google Maps.’”

“Dulu juga gitu ceritanya,” sahut Galih, suaranya berat. “Ada kelompok lain yang pernah masuk ke sini dan nggak pernah keluar lagi.”

Ratna mendelik. “Kok malah cerita horor? Kita di sini cuma mau ambil jalur singkat lewat hutan ini, kan? Nggak usah nyari-nyari sensasi.”

Galih mengangguk, tapi matanya tampak gelisah. “Iya, tapi tetap hati-hati. Hutan ini nggak cuma terkenal karena angkernya. Banyak orang bilang jalurnya sering berubah-ubah.”

---

Saat mereka mulai berjalan, suasana hutan terasa semakin berat. Pepohonan yang tinggi menutupi sinar matahari, membuat jalur setapak itu lebih gelap dari seharusnya. Rio terus merekam setiap sudut hutan, sesekali berhenti untuk mengambil gambar akar-akar pohon atau suara burung yang tiba-tiba terdiam.

Namun, setelah beberapa jam, mereka menyadari sesuatu yang aneh.

“Gue yakin banget tadi kita lewat sini,” ujar Ratna, menunjuk sebuah pohon besar dengan goresan di batangnya.

“Apa lo yakin?” tanya Galih.

“Yakin banget! Tadi gue liat ada bekas tanda aneh ini di pohon,” jawab Ratna.

Rio tertawa kecil. “Santai, mungkin lo salah ingat.”

Tapi tak lama kemudian, mereka melewati batu besar yang sama untuk ketiga kalinya.

“Gue bilang juga apa? Kita cuma muter-muter!” seru Siska panik.

Galih memeriksa peta dan GPS di ponselnya, tapi keduanya tak membantu. GPS menunjukkan titik mereka berada di tengah-tengah hutan, tapi tidak ada jalur keluar.

“Ini nggak masuk akal. Jalur ini jelas ada di peta,” gumam Galih.

“Tapi sekarang nggak ada!” balas Ratna.

---

Mereka memutuskan untuk berhenti di sebuah area yang agak terbuka untuk menyusun rencana. Namun, suasana semakin mencekam. Angin tiba-tiba berhenti, dan hutan menjadi sunyi, seperti tidak ada kehidupan lagi.

Ratna, yang duduk sambil mengamati peta, tiba-tiba merasa ada sesuatu yang aneh. Ia mengangkat wajahnya dan menatap ke dalam hutan. “Eh, kalian denger nggak?”

Yang lain berhenti berbicara. Dalam keheningan, terdengar suara langkah kaki. Pelan, tapi berat.

Galih berdiri cepat, mencabut pisaunya. “Siapa di sana?!”

Tidak ada jawaban. Tapi langkah itu semakin dekat, membuat dedaunan di tanah berdesir.

Ratna mengambil batu dari tanah, bersiap melempar. “Gue nggak suka ini. Kita harus pergi sekarang!”

Namun, ketika mereka berbalik, jalan yang mereka lalui sebelumnya tertutup oleh akar-akar pohon yang bergerak perlahan, seolah hidup.

“Ini apa lagi?!” teriak Siska panik.

“Akar ini tadi nggak ada!” Galih mencoba menebas akar dengan pisaunya, tapi akar itu kembali tumbuh, lebih tebal dari sebelumnya.

--

Sementara itu, Rio masih sibuk merekam meski tangannya gemetar. Tiba-tiba, melalui layar kameranya, ia melihat sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Di kejauhan, di antara pepohonan, tampak sosok tinggi dengan tubuh hitam pekat dan mata merah menyala.

“Eh, gue… gue liat sesuatu,” bisik Rio, matanya terpaku pada layar.

“Mana?!” tanya Ratna.

Rio mengarahkan kameranya ke arah sosok itu, tapi saat yang lain melihat langsung, sosok itu lenyap.

“Gue serius! Dia tadi ada di situ!” Rio mengarahkan kameranya lagi, tapi yang muncul di layar hanyalah bayangan hitam yang tak berbentuk.

“Mungkin kita harus…”

Sebelum Ratna menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara jeritan dari belakang mereka. Mereka semua menoleh cepat dan melihat Siska berdiri mematung, wajahnya pucat.

“Siska, lo kenapa?” tanya Galih, mendekatinya.

Namun, ketika ia memegang bahu Siska, tubuh gadis itu tiba-tiba terlempar ke belakang, menabrak pohon dengan keras. Darah mengalir dari mulutnya, dan matanya menatap kosong ke depan.

“Siska!!” teriak Ratna, mendekati tubuh temannya yang kini tak bergerak.

Namun, sebelum mereka bisa melakukan apa pun, akar-akar pohon mulai melilit tubuh Siska, menariknya perlahan ke dalam tanah.

“Lepasin dia!!” Galih mencoba menebas akar itu, tapi sia-sia. Dalam hitungan detik, tubuh Siska lenyap di bawah tanah, meninggalkan noda darah di atas akar.

---

“Kita harus keluar dari sini sekarang!” teriak Ratna, air mata mengalir di pipinya.

Mereka berlari tanpa arah, mencoba menemukan jalur keluar. Tapi setiap jalan yang mereka lalui selalu membawa mereka kembali ke tempat yang sama.

Sementara itu, Rio yang masih membawa kameranya terus merekam, meskipun tangannya gemetar hebat. Ketika ia memeriksa rekaman itu, ia melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.

Di setiap rekaman, meski kamera diarahkan ke depan, sosok Siska yang sudah mati terlihat berdiri di belakang mereka, menatap dengan senyum menyeramkan.

“Gue… gue nggak mau di sini lagi…” Rio mulai menangis, menjatuhkan kameranya ke tanah.

“Fokus, Rio! Kita pasti bisa keluar!” teriak Galih, meski suaranya juga penuh ketakutan.

Namun, sebelum mereka sempat melangkah lebih jauh, suara tawa lembut terdengar dari arah pepohonan.

Tawa itu semakin keras, berubah menjadi jeritan yang memekakkan telinga. Dari bayang-bayang pepohonan, sosok hitam besar dengan mata merah menyala muncul, melayang perlahan ke arah mereka.

“Kalian milik hutan ini sekarang,” suara itu bergema, dingin dan tanpa emosi.

---

Korban Selanjutnya

Galih, Ratna, dan Rio mencoba melawan, tapi sia-sia. Hutan itu hidup, mengendalikan segala sesuatu di sekitarnya. Ratna adalah korban selanjutnya, tubuhnya ditarik oleh akar-akar pohon hingga hanya tersisa jeritannya yang menggema.

Rio, yang berusaha melarikan diri, akhirnya tersandung dan jatuh. Sosok hitam itu mendekatinya, dan kamera yang ia jatuhkan merekam detik-detik terakhirnya sebelum layar menjadi gelap.

Galih, yang kini sendirian, hanya bisa menatap dengan putus asa saat sosok hitam itu melingkupinya.

Hutan Giripati tidak pernah membiarkan siapa pun pergi.

Episodes
1 Bab 1: "Langkah ke Dalam Bayang"
2 Bab 2: Jejak yang Hilang
3 Bab 3: Bayangan di Belakang
4 Bab 4: Kegelapan yang Menelan
5 Bab 5: Korban Pertama
6 Bab 6 Jejak Bayangan
7 Bab 7 Korban Bayangan
8 Bab 8 Pohon Kematian
9 Bab 9 Bayangan yang Tak Terhapus
10 Bab 10 Korban Baru
11 Bab 11 Bayangan yang Mengintai
12 Bab 12 Kebenaran Tersembunyi
13 Bab 13 Hutan Itu Hidup
14 Bab 14 Jerit dari Masa Lalu
15 Bab 15 Jejak yang hilang
16 Bab 16 Hutan yang Tidak Pernah Tidur
17 Bab 17 Penjaga yang Terperangkap
18 Bab 18 Jejak baru
19 Bab 19 Pintu yang Tidak Pernah Tertutup
20 Bab 20 Kembali ke desa
21 Bab 21 Jantung Kegelapan
22 Bab 22 Bisikan Yang Mengikuti
23 Bab 23 Kehilangan jati diri
24 Bab 24 Panggilan dari Kegelapan
25 Bab 25 Kembali ke Dalam Kegelapan
26 Bab 26 Desa yang Terkutuk
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Bab 1: "Langkah ke Dalam Bayang"
2
Bab 2: Jejak yang Hilang
3
Bab 3: Bayangan di Belakang
4
Bab 4: Kegelapan yang Menelan
5
Bab 5: Korban Pertama
6
Bab 6 Jejak Bayangan
7
Bab 7 Korban Bayangan
8
Bab 8 Pohon Kematian
9
Bab 9 Bayangan yang Tak Terhapus
10
Bab 10 Korban Baru
11
Bab 11 Bayangan yang Mengintai
12
Bab 12 Kebenaran Tersembunyi
13
Bab 13 Hutan Itu Hidup
14
Bab 14 Jerit dari Masa Lalu
15
Bab 15 Jejak yang hilang
16
Bab 16 Hutan yang Tidak Pernah Tidur
17
Bab 17 Penjaga yang Terperangkap
18
Bab 18 Jejak baru
19
Bab 19 Pintu yang Tidak Pernah Tertutup
20
Bab 20 Kembali ke desa
21
Bab 21 Jantung Kegelapan
22
Bab 22 Bisikan Yang Mengikuti
23
Bab 23 Kehilangan jati diri
24
Bab 24 Panggilan dari Kegelapan
25
Bab 25 Kembali ke Dalam Kegelapan
26
Bab 26 Desa yang Terkutuk
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!