Bab 3: Bayangan di Belakang

Ruangan di dalam gubuk tua itu gelap pekat, dengan hanya sedikit cahaya bulan yang masuk melalui celah-celah dinding kayu yang lapuk. Udara di dalam terasa dingin, lembap, dan berat—seolah-olah sesuatu di sana tidak ingin mereka tinggal. Mereka berdiri saling berdekatan, tubuh mereka kaku, mendengar suara napas berat yang terdengar begitu dekat.

“Ini... bukan cuma perasaan gue, kan?” bisik Andre, nyaris tak bersuara.

Tidak ada yang menjawab. Semua terdiam, terlalu takut untuk bergerak. Napas berat itu terdengar seperti berasal dari makhluk besar, hanya beberapa langkah di belakang mereka.

“Jangan… berbalik,” ulang Raka, lebih pelan, nyaris seperti doa.

Namun, ketegangan itu terlalu berat untuk ditahan. Citra, yang berdiri paling dekat dengan dinding, bergetar hebat. Dia menggigit bibirnya, mencoba menahan teriakannya, tapi tubuhnya seakan ingin lari. Tiba-tiba, sebuah tangan dingin menyentuh pundaknya.

Citra menjerit.

Jeritannya memecah keheningan, membuat semua orang spontan berbalik. Namun saat mereka melihat ke belakang, tidak ada apa-apa.

Hanya bayangan gelap di sudut ruangan.

“APA ITU!” teriak Bima sambil menunjuk sudut ruangan, tempat sebuah sosok perlahan terlihat dari kegelapan. Sosok itu tinggi, sangat tinggi, lebih besar daripada manusia biasa. Tubuhnya hitam pekat, seolah tidak sepenuhnya berbentuk, seperti bayangan yang hidup. Mata merah menyala itu kembali menatap mereka, menyiratkan rasa lapar yang tidak terjelaskan.

Raka mengangkat sebuah kayu tua dari lantai, memegangnya seperti senjata. “Jangan dekati kami!” teriaknya, meski jelas ia ketakutan.

Makhluk itu tidak bergerak. Hanya berdiri, memandang mereka. Tapi semakin lama mereka menatapnya, semakin mereka merasa sesuatu sedang menarik mereka. Ruangan itu terasa berputar, menjadi lebih gelap, lebih kecil. Suara-suara aneh mulai terdengar—gumaman-gumaman dalam bahasa yang tidak mereka mengerti, bercampur dengan tawa kecil yang menyeramkan.

“Ini bukan nyata… ini bukan nyata…” Andre bergumam sambil memegangi kepalanya.

“Keluar dari sini! SEKARANG!” teriak Dinda, menarik tangan Citra yang masih gemetar.

Raka membuka pintu dengan paksa. Mereka semua berlari keluar, meninggalkan gubuk itu tanpa menoleh ke belakang. Udara dingin malam menyambut mereka, tapi hutan di luar terasa lebih menakutkan daripada sebelumnya. Pohon-pohon tinggi tampak seperti raksasa yang mengawasi, dan bayang-bayang mereka bergerak dengan cara yang tidak alami.

“Kita ke mana sekarang?” tanya Andre dengan suara putus asa. Kamera di tangannya kini tergantung lemah, lensa pecah akibat jatuh saat mereka berlari keluar.

“Kita harus cari jalan keluar!” balas Bima.

“Jalan keluar? Kita bahkan nggak tahu di mana kita sekarang!” balas Andre, hampir menangis.

Tiba-tiba, suara itu terdengar lagi. Langkah kaki berat. Kali ini lebih cepat, lebih keras. Mereka menoleh ke arah suara, dan bayangan hitam itu terlihat lagi. Berjalan perlahan, tetapi setiap langkahnya mengguncang tanah di bawah mereka.

“Cepat!” Raka berteriak. “Ikut gue!”

Mereka berlari mengikuti Raka, yang membawa mereka lebih jauh ke dalam hutan. Setiap langkah terasa semakin berat, seolah-olah tanah di bawah mereka menarik mereka masuk. Ranting-ranting tajam mencakar kulit mereka, udara semakin dingin hingga napas mereka terlihat seperti uap putih.

Namun, bayangan itu tetap mengikuti, tak pernah jauh di belakang.

---

Setelah berlari tanpa arah selama beberapa menit, mereka tiba di sebuah celah di antara dua tebing batu yang curam. Di dalamnya terdapat sebuah lorong sempit yang tampak seperti jalan keluar.

“Lewat sini!” teriak Raka, meski hatinya ragu. Lorong itu gelap, dan udara di sekitarnya terasa lebih dingin. Tapi mereka tidak punya pilihan lain.

Satu per satu, mereka masuk ke dalam lorong itu. Suasana di dalam lebih mencekam. Dinding-dinding batu yang sempit menekan mereka dari kedua sisi, dan suara langkah kaki mereka menggema, menciptakan ilusi bahwa mereka tidak sendiri.

“Apa kita… aman?” tanya Citra, suaranya hampir tak terdengar.

Sebelum ada yang sempat menjawab, sebuah tangan kurus dengan kuku panjang mencengkeram bahu Andre dari belakang.

Andre menjerit, tubuhnya ditarik dengan kekuatan luar biasa ke dalam kegelapan lorong. “TOLONG GUE!” teriaknya, tangannya meraih ke depan, mencoba mencari pegangan.

“ANDRE!” Raka dan Bima berusaha menariknya, tapi kekuatan itu terlalu besar. Dalam sekejap, Andre menghilang, lenyap di balik kegelapan lorong.

Semua terdiam, napas mereka terengah-engah. Hanya suara napas mereka yang tersisa, hingga akhirnya, suara langkah berat itu terdengar lagi—kali ini dari dalam lorong.

“Kita harus terus jalan,” bisik Raka, suaranya serak.

“Tapi Andre—” Dinda mulai bicara, tapi Raka memotongnya. “Kita nggak bisa nolong dia kalau kita mati!”

Mereka melanjutkan perjalanan, meski hati mereka penuh rasa bersalah. Langkah mereka semakin cepat, mencoba mengabaikan suara langkah berat yang terus mengikuti dari belakang.

Lorong itu membawa mereka ke sebuah ruang terbuka. Namun, pemandangan yang mereka temukan jauh dari yang mereka harapkan. Di depan mereka berdiri sebuah altar batu besar, dengan simbol-simbol aneh yang terukir di permukaannya. Di sekitar altar, lilin-lilin besar menyala dengan api biru, meski tidak ada angin yang berhembus.

“Ini apa…” bisik Citra, tubuhnya menggigil.

Sebelum ada yang menjawab, suara gumaman tadi terdengar lagi. Kali ini, lebih jelas, lebih keras. Mereka menyadari bahwa suara itu berasal dari altar. Dan di atas altar itu, perlahan, sesosok tubuh mulai terbentuk dari kegelapan.

Mata merah menyala itu kembali menatap mereka, kali ini disertai tawa kecil yang membuat darah mereka membeku.

“Kita nggak akan keluar dari sini…” ujar Bima dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Namun, Raka melangkah maju. Dengan tangan gemetar, ia mengambil kayu dari lantai dan berteriak, “Kalau kita mati, kita lawan sampai akhir!”

Sosok itu hanya tersenyum, menunjukkan gigi-giginya yang tajam. Dan sebelum ada yang sempat bergerak, bayangan itu melompat ke arah mereka, menelan seluruh ruangan dalam kegelapan yang mencekam.

Episodes
1 Bab 1: "Langkah ke Dalam Bayang"
2 Bab 2: Jejak yang Hilang
3 Bab 3: Bayangan di Belakang
4 Bab 4: Kegelapan yang Menelan
5 Bab 5: Korban Pertama
6 Bab 6 Jejak Bayangan
7 Bab 7 Korban Bayangan
8 Bab 8 Pohon Kematian
9 Bab 9 Bayangan yang Tak Terhapus
10 Bab 10 Korban Baru
11 Bab 11 Bayangan yang Mengintai
12 Bab 12 Kebenaran Tersembunyi
13 Bab 13 Hutan Itu Hidup
14 Bab 14 Jerit dari Masa Lalu
15 Bab 15 Jejak yang hilang
16 Bab 16 Hutan yang Tidak Pernah Tidur
17 Bab 17 Penjaga yang Terperangkap
18 Bab 18 Jejak baru
19 Bab 19 Pintu yang Tidak Pernah Tertutup
20 Bab 20 Kembali ke desa
21 Bab 21 Jantung Kegelapan
22 Bab 22 Bisikan Yang Mengikuti
23 Bab 23 Kehilangan jati diri
24 Bab 24 Panggilan dari Kegelapan
25 Bab 25 Kembali ke Dalam Kegelapan
26 Bab 26 Desa yang Terkutuk
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Bab 1: "Langkah ke Dalam Bayang"
2
Bab 2: Jejak yang Hilang
3
Bab 3: Bayangan di Belakang
4
Bab 4: Kegelapan yang Menelan
5
Bab 5: Korban Pertama
6
Bab 6 Jejak Bayangan
7
Bab 7 Korban Bayangan
8
Bab 8 Pohon Kematian
9
Bab 9 Bayangan yang Tak Terhapus
10
Bab 10 Korban Baru
11
Bab 11 Bayangan yang Mengintai
12
Bab 12 Kebenaran Tersembunyi
13
Bab 13 Hutan Itu Hidup
14
Bab 14 Jerit dari Masa Lalu
15
Bab 15 Jejak yang hilang
16
Bab 16 Hutan yang Tidak Pernah Tidur
17
Bab 17 Penjaga yang Terperangkap
18
Bab 18 Jejak baru
19
Bab 19 Pintu yang Tidak Pernah Tertutup
20
Bab 20 Kembali ke desa
21
Bab 21 Jantung Kegelapan
22
Bab 22 Bisikan Yang Mengikuti
23
Bab 23 Kehilangan jati diri
24
Bab 24 Panggilan dari Kegelapan
25
Bab 25 Kembali ke Dalam Kegelapan
26
Bab 26 Desa yang Terkutuk
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!