Bab 11 Bayangan yang Mengintai

Tiga hari setelah Galih, Ratna, Rio, dan Siska memasuki Hutan Giripati, sebuah tim pencari dikirim oleh keluarga mereka. Tim ini terdiri dari lima orang—Eko, seorang ranger berpengalaman; Hana, antropolog yang tertarik pada cerita-cerita mistis hutan; Iwan, pemandu lokal yang mengenal daerah itu; dan dua polisi, Anton dan Lila, yang ditugaskan untuk menyelidiki kasus hilangnya kelompok tersebut.

Saat tim pencari tiba di desa terakhir sebelum pintu masuk hutan, penduduk setempat menolak memberikan bantuan. Mereka hanya menggeleng dengan wajah penuh ketakutan, mengatakan hal yang sama, “Hutan itu tidak akan mengembalikan mereka.”

Namun, Eko bersikeras. “Kami harus mencoba. Setidaknya kami menemukan tubuh mereka.”

Dengan membawa peralatan lengkap, termasuk peta, kompas, dan GPS, mereka memasuki Hutan Giripati.

---

Jejak yang Tidak Wajar. Di dalam hutan, suasana langsung berubah. Udara terasa berat, dan suara alam seperti burung atau serangga menghilang sepenuhnya.

“Kenapa sunyi banget di sini?” tanya Lila, sambil memegang pistol di tangannya.

“Ini biasa,” jawab Eko. “Tapi kalau terlalu sunyi, kita harus lebih waspada.”

Hana memeriksa tanah di sekitar mereka. Ia menemukan bekas jejak kaki—empat pasang, kemungkinan besar milik Galih dan teman-temannya.

“Mereka pasti lewat sini,” ujarnya sambil menunjuk arah jejak tersebut.

Namun, saat mereka mengikuti jejak itu, sesuatu yang aneh mulai terjadi. Bekas jejak itu tiba-tiba terhenti, seolah orang-orang yang meninggalkannya lenyap begitu saja.

“Itu nggak masuk akal,” gumam Anton.

“Tunggu, lihat ini.” Iwan menunjuk ke tanah di dekat sebuah pohon besar. Ada bekas cakaran besar di batang pohon, seperti cakar hewan raksasa.

“Di sini ada harimau?” tanya Hana, mencoba tetap tenang.

Iwan menggeleng. “Nggak ada yang segede ini.”

---

Saat mereka melanjutkan perjalanan, mereka menemukan benda-benda yang ditinggalkan oleh kelompok Galih. Sebuah kamera yang hancur setengah tertanam di tanah, sebuah botol air, dan sebuah jaket yang robek.

Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaan tubuh mereka.

Hana memungut kamera yang rusak itu, berharap masih ada sesuatu yang tersimpan di dalamnya. “Kita bawa ini. Mungkin ada petunjuk.”

Saat mereka berjalan lebih jauh, Eko tiba-tiba mengangkat tangan, memberi isyarat agar semua berhenti.

“Kalian dengar itu?” bisiknya.

Dari kejauhan, terdengar suara pelan, seperti seseorang menangis.

“Siapa itu?!” teriak Anton, mencoba mencari asal suara.

“Pelan-pelan,” ujar Eko, menenangkan. “Kita dekati.”

Mereka bergerak perlahan menuju suara itu, dan menemukan seorang gadis. Tubuhnya kotor, rambutnya kusut, dan matanya kosong. Itu adalah Ratna.

“Ratna?!” Hana segera mendekatinya.

Namun, saat mereka mendekat, tubuh Ratna tiba-tiba bergerak dengan gerakan kaku, seperti boneka yang ditarik tali. Matanya yang kosong kini berubah menjadi hitam pekat.

“Kalian harus pergi,” katanya dengan suara yang bukan miliknya. “Dia tahu kalian di sini.”

“Siapa ‘dia’?!” tanya Eko, mengguncang tubuh Ratna.

Namun, tubuh Ratna tiba-tiba mengejang, sebelum terjatuh ke tanah. Dari mulutnya keluar suara tawa yang menakutkan, meskipun tubuhnya kini tidak bergerak.

---

Ketakutan mulai melanda tim pencari. Mereka memutuskan untuk mendirikan kemah sementara untuk mengatur ulang strategi.

Namun, malam itu, teror kembali datang.

Lila, yang berjaga di luar tenda, melihat bayangan besar bergerak di antara pepohonan. Ia membangunkan Anton dan Eko, tapi saat mereka keluar, bayangan itu hilang.

“Pasti ada yang mengawasi kita,” ujar Lila, gemetar.

Saat mereka kembali masuk ke tenda, mereka menemukan Hana sedang memeriksa kamera yang rusak. Dengan bantuan alat, ia berhasil mengakses sebagian rekaman.

Rekaman itu menunjukkan detik-detik terakhir Rio. Di dalam layar, terlihat bayangan hitam besar yang mendekat ke arah kamera, diikuti oleh jeritan Rio. Namun, yang paling mengejutkan adalah rekaman terakhir.

Di sana, terlihat Galih memegang kamera, memandang langsung ke arah lensa, dan berkata dengan suara pelan:

“Kalau kalian menemukan ini, kalian harus keluar. Jangan mencari kami. Jangan pernah kembali ke sini.”

Hana menutup kamera itu, wajahnya pucat.

“Kita harus pergi,” katanya dengan suara bergetar.

Namun, sebelum mereka sempat bergerak, suara langkah berat terdengar di luar tenda, diikuti oleh bunyi ranting yang patah.

“Siap-siap,” bisik Eko, mengangkat senapan.

Bayangan besar itu muncul di depan mereka. Tubuhnya hitam pekat, matanya merah menyala, dan ia berdiri diam, memandang mereka.

---

Anton menembakkan senjatanya, tapi peluru itu seperti menembus udara kosong. Sosok itu tidak terpengaruh.

“Kita nggak bisa lawan dia!” teriak Iwan, mencoba berlari.

Namun, akar-akar pohon tiba-tiba muncul dari tanah, melilit kakinya dan menariknya ke bawah. Jeritan Iwan menggema di udara, sebelum ia lenyap di balik tanah.

Satu per satu, anggota tim mulai jatuh. Lila terhempas ke pohon dengan kekuatan tak terlihat, sementara Anton mencoba melawan tapi terlempar sejauh sepuluh meter.

Kini tinggal Eko dan Hana yang tersisa.

“Kita harus keluar dari sini!” teriak Hana.

Namun, saat mereka berlari, hutan mulai berubah. Jalan setapak yang mereka lalui menghilang, digantikan oleh pepohonan yang menjulang tinggi tanpa akhir.

Sosok hitam itu muncul di depan mereka lagi, kali ini lebih dekat.

“Kalian milikku sekarang,” suaranya bergema, dingin dan mematikan.

Eko mencoba menyerang dengan pisaunya, tapi sosok itu mengangkat tangannya, dan tubuh Eko tiba-tiba terhenti di udara. Dalam sekejap, tubuhnya terhempas ke tanah, tidak bergerak lagi.

Hana, yang kini sendirian, hanya bisa menangis.

Namun, sebelum sosok itu mendekatinya, ia mendengar suara berbisik di telinganya:

“Lari… sebelum semuanya terlambat.”

Ia menoleh, tapi tidak ada siapa pun. Tanpa berpikir panjang, Hana berlari sekuat tenaga.

---

Akhir yang Tidak Pernah Jelas

Pagi berikutnya, Hana ditemukan di pinggir hutan oleh seorang petani. Tubuhnya penuh luka, dan ia tidak berhenti mengigau tentang “bayangan besar” dan “akar yang hidup.”

Saat polisi datang, mereka tidak menemukan jejak anggota tim lainnya. Hutan itu kembali seperti biasa, hanya meninggalkan misteri yang lebih dalam.

Namun, Hana tahu satu hal pasti: Hutan Giripati tidak pernah benar-benar melepaskan korbannya.

Episodes
1 Bab 1: "Langkah ke Dalam Bayang"
2 Bab 2: Jejak yang Hilang
3 Bab 3: Bayangan di Belakang
4 Bab 4: Kegelapan yang Menelan
5 Bab 5: Korban Pertama
6 Bab 6 Jejak Bayangan
7 Bab 7 Korban Bayangan
8 Bab 8 Pohon Kematian
9 Bab 9 Bayangan yang Tak Terhapus
10 Bab 10 Korban Baru
11 Bab 11 Bayangan yang Mengintai
12 Bab 12 Kebenaran Tersembunyi
13 Bab 13 Hutan Itu Hidup
14 Bab 14 Jerit dari Masa Lalu
15 Bab 15 Jejak yang hilang
16 Bab 16 Hutan yang Tidak Pernah Tidur
17 Bab 17 Penjaga yang Terperangkap
18 Bab 18 Jejak baru
19 Bab 19 Pintu yang Tidak Pernah Tertutup
20 Bab 20 Kembali ke desa
21 Bab 21 Jantung Kegelapan
22 Bab 22 Bisikan Yang Mengikuti
23 Bab 23 Kehilangan jati diri
24 Bab 24 Panggilan dari Kegelapan
25 Bab 25 Kembali ke Dalam Kegelapan
26 Bab 26 Desa yang Terkutuk
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Bab 1: "Langkah ke Dalam Bayang"
2
Bab 2: Jejak yang Hilang
3
Bab 3: Bayangan di Belakang
4
Bab 4: Kegelapan yang Menelan
5
Bab 5: Korban Pertama
6
Bab 6 Jejak Bayangan
7
Bab 7 Korban Bayangan
8
Bab 8 Pohon Kematian
9
Bab 9 Bayangan yang Tak Terhapus
10
Bab 10 Korban Baru
11
Bab 11 Bayangan yang Mengintai
12
Bab 12 Kebenaran Tersembunyi
13
Bab 13 Hutan Itu Hidup
14
Bab 14 Jerit dari Masa Lalu
15
Bab 15 Jejak yang hilang
16
Bab 16 Hutan yang Tidak Pernah Tidur
17
Bab 17 Penjaga yang Terperangkap
18
Bab 18 Jejak baru
19
Bab 19 Pintu yang Tidak Pernah Tertutup
20
Bab 20 Kembali ke desa
21
Bab 21 Jantung Kegelapan
22
Bab 22 Bisikan Yang Mengikuti
23
Bab 23 Kehilangan jati diri
24
Bab 24 Panggilan dari Kegelapan
25
Bab 25 Kembali ke Dalam Kegelapan
26
Bab 26 Desa yang Terkutuk
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!