Bab 14 Jerit dari Masa Lalu

Hutan Giripati menyimpan cerita yang tidak pernah selesai. Orang-orang desa mengatakan, setiap kali ada orang yang masuk ke dalamnya, hutan itu akan merekam jejak mereka, menyerap energi mereka, dan menjadikan cerita mereka bagian dari dirinya. Namun, ada kisah yang lebih tua, yang terlupakan, tapi tetap hidup di dalam kegelapan.

Pada tahun 1973, seorang pria bernama Pak Mahendra, seorang arkeolog muda, dan timnya memasuki Hutan Giripati. Mereka mencari reruntuhan kuno yang konon tersembunyi di tengah hutan. Reruntuhan itu diyakini sebagai pintu gerbang ke alam gaib, tempat di mana roh-roh berkumpul. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang kembali.

Kini, lima puluh tahun kemudian, kisah mereka kembali menghantui desa-desa di sekitar Giripati. Penduduk melaporkan mendengar jeritan di malam hari, suara langkah kaki berat, dan melihat cahaya aneh dari dalam hutan.

---

Seorang wartawan muda bernama Danu memutuskan untuk menyelidiki cerita ini. Ia adalah seorang skeptis, menganggap semua kisah tentang Hutan Giripati sebagai takhayul belaka. Bersama timnya—Alin, seorang ahli sejarah; Bimo, seorang videografer; dan Sari, seorang pemandu lokal—Danu masuk ke dalam Hutan Giripati, membawa kamera, alat perekam suara, dan perangkat GPS.

“Jadi, tujuan kita apa? Bikin dokumenter atau ngebuktiin kalau hutan ini cuma hutan biasa?” tanya Bimo, setengah bercanda.

“Dua-duanya,” jawab Danu. “Kalau ada sesuatu yang bisa dijelaskan secara logis, kita akan jadi orang pertama yang melakukannya.”

Namun, Sari tampak tidak yakin. Ia sudah lama tinggal di desa sekitar hutan dan tahu bahwa tempat itu bukan sembarang tempat.

“Hutan ini punya keinginannya sendiri,” bisik Sari pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

---

Saat mereka masuk semakin dalam, mereka menemukan tanda-tanda yang aneh. Batu-batu besar dengan ukiran kuno berserakan di sepanjang jalan. Alin, yang ahli sejarah, mencoba membaca simbol-simbol itu.

“Ini seperti mantra perlindungan,” katanya. “Tapi, anehnya, banyak yang tampak dirusak dengan sengaja.”

“Dirusak siapa?” tanya Bimo.

“Entahlah. Tapi, kalau ini benar mantra perlindungan, berarti ada sesuatu yang berusaha membuka jalannya.”

Mereka melanjutkan perjalanan hingga menemukan sebuah kamp tua, ditutupi lumut dan hampir hancur. Di sana, mereka menemukan barang-barang yang tertinggal: buku catatan, perlengkapan masak berkarat, dan bahkan kamera tua.

Saat membuka salah satu buku catatan itu, Danu membaca sesuatu yang membuatnya merinding:

“Kami telah menemukannya. Tapi kami tidak sendiri. Mereka mengawasi kami. Jika ada yang membaca ini, jangan teruskan perjalanan.”

---

Malam pertama di dalam hutan, mereka mendirikan tenda di dekat kamp tua itu. Saat malam semakin larut, mereka mendengar suara aneh—seperti langkah kaki yang bergerak di antara pepohonan, diiringi bisikan samar.

“Sari, ada yang lewat?” tanya Danu dengan suara rendah.

Sari hanya menggeleng, tapi wajahnya penuh ketakutan.

Bimo mengambil kameranya dan mulai merekam. “Mungkin ini cuma hewan, kan?” katanya, mencoba menyemangati diri.

Namun, tiba-tiba suara itu berhenti, digantikan oleh kesunyian yang sangat mencekam.

Saat Bimo memutar kamera ke arah pepohonan, mereka semua melihatnya—sosok tinggi tanpa wajah, berdiri diam di antara batang-batang pohon, memandang ke arah mereka.

“Sial! Itu apa?!” teriak Bimo, menjatuhkan kameranya.

Saat mereka menoleh lagi, sosok itu sudah menghilang.

---

Keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan, meskipun ketakutan semalam masih menghantui. Setelah berjam-jam berjalan, mereka menemukan sebuah reruntuhan besar di tengah hutan. Pilar-pilar batu yang runtuh, sebuah altar besar, dan ukiran-ukiran kuno yang menggambarkan manusia berlutut di hadapan makhluk besar dengan banyak mata.

Alin memeriksa altar itu dengan cermat. “Ini seperti tempat pemujaan. Tapi… makhluk yang mereka sembah bukan dewa.”

“Lalu apa?” tanya Danu.

“Entahlah. Tapi ukiran ini menggambarkan sesuatu yang haus akan pengorbanan.”

Bimo mengarahkan kameranya ke altar, tapi tiba-tiba, suara gemuruh terdengar. Akar-akar pohon mulai bergerak seperti ular, melilit kaki mereka dan memaksa mereka untuk tetap diam.

Kemudian, dari balik reruntuhan, muncul sosok-sosok yang mereka kenali. Tapi itu tidak mungkin.

“Pak Mahendra?” bisik Alin, melihat pria tua dengan pakaian lusuh mendekati mereka.

Pak Mahendra tampak seperti manusia, tetapi matanya kosong, dan tubuhnya bergerak seperti boneka. Ia membuka mulutnya, tetapi suara yang keluar bukan miliknya.

“Kalian tidak seharusnya berada di sini,” katanya dengan suara yang dalam dan serak.

---

Pak Mahendra menjelaskan dengan suara monoton, seolah-olah ia hanya menjadi corong untuk sesuatu yang lebih besar.

“Hutan ini hidup. Ia adalah penjaga antara dunia manusia dan sesuatu yang lebih tua, lebih kelam. Mantra di batu-batu itu adalah segel untuk menjaga makhluk itu tetap tertidur. Tapi manusia, dengan keserakahannya, merusaknya.”

“Tapi kenapa kalian tidak kembali?” tanya Danu dengan suara bergetar.

“Kami tidak pernah bisa. Siapa pun yang masuk terlalu jauh menjadi bagian dari hutan. Dan kalian…” Pak Mahendra berhenti, matanya menatap tajam, “…kalian akan menjadi bagian darinya juga.”

Akar-akar pohon semakin erat melilit tubuh mereka, dan bayangan-bayangan mulai bermunculan dari reruntuhan. Sosok tanpa wajah yang mereka lihat malam sebelumnya kembali, kali ini lebih banyak, bergerak mendekat dengan pelan.

---

Danu, dalam kepanikan, ingat sesuatu dari buku catatan yang ia baca di kamp tua: “Satu-satunya cara keluar adalah dengan meninggalkan sesuatu yang berharga.”

“Apa maksudnya?” teriak Danu, mencoba mencari jalan keluar.

Sari, yang sejak awal merasa hutan ini hidup, menjawab dengan lirih, “Seseorang harus tinggal. Atau tidak ada yang bisa pergi.”

Mereka saling memandang. Keheningan hanya diisi oleh langkah sosok-sosok bayangan yang semakin dekat.

“Pergilah,” kata Sari tiba-tiba. “Aku sudah tahu ini akan terjadi.”

Sebelum mereka sempat menjawab, Sari melepaskan diri dari akar-akar dan melangkah ke altar. Ia menatap mereka untuk terakhir kali.

“Aku akan memastikan kalian keluar.”

Sosok-sosok itu menghilang bersamaan dengan tubuh Sari yang terserap ke dalam altar. Dalam sekejap, akar-akar itu melepaskan Danu, Alin, dan Bimo.

---

Keluar, tapi Tidak Bebas

Mereka berhasil keluar dari Hutan Giripati, tapi dengan harga yang besar. Sari tidak pernah kembali, dan kamera serta rekaman mereka tidak menunjukkan apa-apa.

Namun, malam berikutnya, Danu mendengar sesuatu di kamarnya—suara langkah kaki, disertai bisikan samar yang mengatakan:

“Kamu juga bagian dari kami.”

Hutan Giripati tidak pernah melepaskan siapa pun sepenuhnya.

Episodes
1 Bab 1: "Langkah ke Dalam Bayang"
2 Bab 2: Jejak yang Hilang
3 Bab 3: Bayangan di Belakang
4 Bab 4: Kegelapan yang Menelan
5 Bab 5: Korban Pertama
6 Bab 6 Jejak Bayangan
7 Bab 7 Korban Bayangan
8 Bab 8 Pohon Kematian
9 Bab 9 Bayangan yang Tak Terhapus
10 Bab 10 Korban Baru
11 Bab 11 Bayangan yang Mengintai
12 Bab 12 Kebenaran Tersembunyi
13 Bab 13 Hutan Itu Hidup
14 Bab 14 Jerit dari Masa Lalu
15 Bab 15 Jejak yang hilang
16 Bab 16 Hutan yang Tidak Pernah Tidur
17 Bab 17 Penjaga yang Terperangkap
18 Bab 18 Jejak baru
19 Bab 19 Pintu yang Tidak Pernah Tertutup
20 Bab 20 Kembali ke desa
21 Bab 21 Jantung Kegelapan
22 Bab 22 Bisikan Yang Mengikuti
23 Bab 23 Kehilangan jati diri
24 Bab 24 Panggilan dari Kegelapan
25 Bab 25 Kembali ke Dalam Kegelapan
26 Bab 26 Desa yang Terkutuk
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Bab 1: "Langkah ke Dalam Bayang"
2
Bab 2: Jejak yang Hilang
3
Bab 3: Bayangan di Belakang
4
Bab 4: Kegelapan yang Menelan
5
Bab 5: Korban Pertama
6
Bab 6 Jejak Bayangan
7
Bab 7 Korban Bayangan
8
Bab 8 Pohon Kematian
9
Bab 9 Bayangan yang Tak Terhapus
10
Bab 10 Korban Baru
11
Bab 11 Bayangan yang Mengintai
12
Bab 12 Kebenaran Tersembunyi
13
Bab 13 Hutan Itu Hidup
14
Bab 14 Jerit dari Masa Lalu
15
Bab 15 Jejak yang hilang
16
Bab 16 Hutan yang Tidak Pernah Tidur
17
Bab 17 Penjaga yang Terperangkap
18
Bab 18 Jejak baru
19
Bab 19 Pintu yang Tidak Pernah Tertutup
20
Bab 20 Kembali ke desa
21
Bab 21 Jantung Kegelapan
22
Bab 22 Bisikan Yang Mengikuti
23
Bab 23 Kehilangan jati diri
24
Bab 24 Panggilan dari Kegelapan
25
Bab 25 Kembali ke Dalam Kegelapan
26
Bab 26 Desa yang Terkutuk
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!