Bab 12 Kebenaran Tersembunyi

Dua minggu setelah insiden terakhir di Hutan Giripati, Hana menjadi satu-satunya saksi yang kembali ke dunia luar. Namun, kehidupannya berubah drastis. Setiap malam, ia terbangun dengan mimpi buruk tentang bayangan besar dan tawa mengerikan yang terus menghantuinya.

Pihak berwenang mencoba menutup kasus itu dengan alasan "kecelakaan dalam hutan", tapi Hana tahu lebih dari itu. Ia tidak percaya pada penjelasan sederhana tersebut. Terutama karena beberapa malam terakhir, ia merasa ada sesuatu yang mengawasi dirinya.

Suatu malam, Hana menerima sebuah paket misterius di depan pintunya. Tidak ada nama pengirim, hanya sebuah kotak kecil yang berisi peta lusuh dan sebuah catatan bertuliskan:

“Kamu belum selesai. Kembali ke Giripati jika ingin tahu kebenarannya.”

Hana merasa ragu, tapi ada sesuatu di dalam dirinya yang berkata bahwa ia tidak bisa lari selamanya. Jika ia ingin bebas dari mimpi buruk ini, ia harus kembali.

---

Hana menghubungi seorang ahli supranatural, Pak Wira, yang dikenal sering menangani kasus mistis di daerah-daerah terpencil. Bersama dengan dua asistennya, Nanda dan Surya, mereka memutuskan untuk memasuki Hutan Giripati sekali lagi, kali ini dengan persiapan lebih matang.

“Mereka yang hilang belum sepenuhnya pergi,” ujar Pak Wira sebelum perjalanan dimulai. “Ruh mereka mungkin masih terjebak di sana, atau lebih buruk lagi… menjadi bagian dari hutan itu.”

---

Ketika mereka memasuki hutan, suasana terasa lebih gelap dan mencekam dibanding sebelumnya. Pak Wira membawa serangkaian benda ritual, seperti dupa dan manik-manik yang katanya bisa menangkal energi jahat.

Namun, semakin dalam mereka masuk, semakin aneh segalanya. Jalur setapak yang sebelumnya dilalui Hana kini tidak lagi sama. Pohon-pohon berubah posisi, dan suara-suara aneh mulai terdengar.

“Dengar itu,” bisik Nanda.

Suara bisikan samar terdengar dari pepohonan. Bisikan itu bukan suara manusia, tapi terdengar seperti jeritan yang ditahan.

“Mereka tahu kita di sini,” kata Pak Wira, wajahnya tegang.

Hana berhenti mendadak. Ia melihat sesuatu di tanah—sebuah kamera lain yang sudah tertutup lumut. Saat ia mengangkatnya, ia menyadari itu milik Rio.

“Ini… ini kameranya!” teriak Hana, napasnya memburu.

Pak Wira memandang kamera itu dengan serius. “Benda ini mungkin punya jawaban.”

Mereka memutuskan untuk memutar rekaman di kamera tersebut, meski layarnya rusak parah. Dalam rekaman, terlihat detik-detik terakhir Rio yang diakhiri oleh sosok besar dengan mata merah menyala. Namun, di bagian akhir rekaman, ada sesuatu yang lebih mengerikan:

Galih, yang mereka pikir sudah mati, terlihat sedang berjalan di antara pepohonan. Tapi ada yang aneh—kulitnya pucat, dan matanya hitam pekat, seperti tidak lagi hidup.

“Dia masih di sini,” bisik Hana dengan gemetar.

---

Malam itu, mereka memutuskan untuk mendirikan kemah di tempat terbuka, agar lebih mudah mengamati sekitar. Namun, tidak ada tempat yang benar-benar aman di Hutan Giripati.

Saat Nanda berjaga, ia melihat bayangan seseorang di kejauhan. Ia pikir itu salah satu teman mereka, tapi saat ia mendekat, bayangan itu menghilang. Tiba-tiba, tubuh Nanda terangkat ke udara tanpa sebab, dan sebelum ia bisa berteriak, ia ditarik ke dalam kegelapan.

Jeritannya membangunkan yang lain.

“Nanda!” teriak Hana, berlari ke arah suara.

Namun, mereka hanya menemukan bekas-bekas darah di tanah dan jejak kaki yang menuju ke arah pohon-pohon gelap.

“Dia sudah diambil,” kata Pak Wira, menatap ke arah pepohonan. “Hutan ini haus akan jiwa.”

---

Kehadiran yang Tidak Diundang. Hana, Pak Wira, dan Surya melanjutkan perjalanan dengan hati-hati. Namun, suasana semakin tidak bersahabat. Akar-akar pohon mulai bergerak, seperti mencoba melilit kaki mereka.

“Kita hampir sampai di pusatnya,” ujar Pak Wira.

“Tunggu, pusat apa?” tanya Hana.

“Hutan ini tidak hanya tempat biasa. Ada sesuatu yang menjadi sumber kekuatannya. Kalau kita bisa menghancurkannya, kita bisa menyelamatkan mereka yang terjebak.”

Namun, sebelum mereka bisa melangkah lebih jauh, sosok Galih muncul dari kegelapan. Ia berdiri dengan wajah datar, tatapannya kosong, tapi mulutnya melengkung membentuk senyum menyeramkan.

“Galih?” bisik Hana, setengah berharap.

“Bukan dia lagi,” jawab Pak Wira cepat.

Galih mengangkat tangannya, dan tiba-tiba akar-akar pohon menyerang mereka. Surya mencoba melawan dengan parang, tapi ia dengan cepat ditarik dan ditenggelamkan ke tanah seperti Nanda.

Kini hanya tersisa Hana dan Pak Wira.

---

Mereka akhirnya tiba di sebuah area terbuka di tengah hutan. Di sana, sebuah batu besar berdiri dengan goresan-goresan aneh yang bersinar merah. Di sekelilingnya, tampak bayangan-bayangan samar orang-orang yang pernah hilang di hutan itu, termasuk Siska, Ratna, dan bahkan Galih.

“Mereka terjebak di sini,” kata Pak Wira, mengeluarkan dupa dan memulai ritual.

Namun, saat ia mulai melafalkan mantra, sosok besar dengan mata merah menyala muncul dari balik batu.

“Kalian tidak akan mengambil mereka,” suara itu bergema, memekakkan telinga.

Pak Wira melanjutkan ritualnya meski sosok itu semakin mendekat. Batu besar itu mulai retak, dan bayangan-bayangan di sekitarnya mulai berteriak.

“Hancurkan batu itu!” teriak Pak Wira kepada Hana.

Hana mengambil parang Surya dan mengayunkannya ke batu dengan sekuat tenaga. Batu itu retak semakin besar, dan sosok hitam besar itu mulai melengking kesakitan.

Namun, sebelum batu itu hancur sepenuhnya, sosok hitam itu menyerang Pak Wira, melempar tubuhnya hingga menghantam pohon.

“Hana! Cepat!” teriak Pak Wira, napasnya tersengal-sengal.

Hana mengayunkan parang terakhir kalinya, dan batu itu pecah berkeping-keping.

---

Akhir yang Tidak Benar-Benar Akhir

Saat batu itu hancur, hutan mulai berubah. Akar-akar yang hidup berhenti bergerak, dan bayangan-bayangan di sekitar mereka menghilang satu per satu. Sosok hitam besar itu melolong sebelum lenyap menjadi debu.

Namun, Hana menyadari satu hal. Meski ia telah menghancurkan pusat kekuatan itu, hutan tidak sepenuhnya melepaskannya.

Ia keluar dari Hutan Giripati dengan tubuh lelah, hanya untuk menemukan bahwa tidak ada satu pun orang yang percaya padanya. Bahkan kamera yang ia bawa tidak merekam apa-apa, seolah-olah hutan itu menghapus semua bukti.

Namun, setiap malam, ia masih mendengar bisikan dari kegelapan.

Hutan Giripati belum selesai dengannya.

Episodes
1 Bab 1: "Langkah ke Dalam Bayang"
2 Bab 2: Jejak yang Hilang
3 Bab 3: Bayangan di Belakang
4 Bab 4: Kegelapan yang Menelan
5 Bab 5: Korban Pertama
6 Bab 6 Jejak Bayangan
7 Bab 7 Korban Bayangan
8 Bab 8 Pohon Kematian
9 Bab 9 Bayangan yang Tak Terhapus
10 Bab 10 Korban Baru
11 Bab 11 Bayangan yang Mengintai
12 Bab 12 Kebenaran Tersembunyi
13 Bab 13 Hutan Itu Hidup
14 Bab 14 Jerit dari Masa Lalu
15 Bab 15 Jejak yang hilang
16 Bab 16 Hutan yang Tidak Pernah Tidur
17 Bab 17 Penjaga yang Terperangkap
18 Bab 18 Jejak baru
19 Bab 19 Pintu yang Tidak Pernah Tertutup
20 Bab 20 Kembali ke desa
21 Bab 21 Jantung Kegelapan
22 Bab 22 Bisikan Yang Mengikuti
23 Bab 23 Kehilangan jati diri
24 Bab 24 Panggilan dari Kegelapan
25 Bab 25 Kembali ke Dalam Kegelapan
26 Bab 26 Desa yang Terkutuk
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Bab 1: "Langkah ke Dalam Bayang"
2
Bab 2: Jejak yang Hilang
3
Bab 3: Bayangan di Belakang
4
Bab 4: Kegelapan yang Menelan
5
Bab 5: Korban Pertama
6
Bab 6 Jejak Bayangan
7
Bab 7 Korban Bayangan
8
Bab 8 Pohon Kematian
9
Bab 9 Bayangan yang Tak Terhapus
10
Bab 10 Korban Baru
11
Bab 11 Bayangan yang Mengintai
12
Bab 12 Kebenaran Tersembunyi
13
Bab 13 Hutan Itu Hidup
14
Bab 14 Jerit dari Masa Lalu
15
Bab 15 Jejak yang hilang
16
Bab 16 Hutan yang Tidak Pernah Tidur
17
Bab 17 Penjaga yang Terperangkap
18
Bab 18 Jejak baru
19
Bab 19 Pintu yang Tidak Pernah Tertutup
20
Bab 20 Kembali ke desa
21
Bab 21 Jantung Kegelapan
22
Bab 22 Bisikan Yang Mengikuti
23
Bab 23 Kehilangan jati diri
24
Bab 24 Panggilan dari Kegelapan
25
Bab 25 Kembali ke Dalam Kegelapan
26
Bab 26 Desa yang Terkutuk
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!