Bab 20 Kembali ke desa

Malam itu, Arga berdiri di tengah Hutan Giripati, sendirian. Suara hutan mulai kembali—burung-burung malam berkicau, dan angin lembut mengusap daun-daun. Namun, suasana itu tidak membawa kedamaian. Ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang pernah menjaga hutan ini dengan seluruh keberadaannya: Danu.

Arga tidak pernah membayangkan beban yang kini ada di pundaknya. Sebelum menghilang, Danu telah mempercayakan hutan ini kepadanya—bukan hanya sebagai tempat, tetapi sebagai warisan yang sarat dengan makna dan tanggung jawab.

"Mengapa aku?" pikir Arga. Ia hanyalah manusia biasa, terlalu kecil untuk melawan bayangan besar yang pernah mencoba menghancurkan tempat ini. Tetapi pilihan itu sudah dibuat, dan hutan ini kini adalah bagian dari dirinya.

-

Pagi harinya, Arga kembali ke desa dengan langkah berat. Wajahnya kusut, pikirannya penuh dengan kenangan tentang pertempuran di dalam hutan. Namun, tidak ada yang percaya pada ceritanya.

Orang-orang hanya memandangnya sebagai pemuda aneh yang berani masuk ke Hutan Giripati sendirian. "Kamu beruntung bisa keluar hidup-hidup," kata mereka, meskipun ada tatapan penasaran di mata mereka. "Tapi jangan coba-coba masuk lagi."

Arga hanya tersenyum samar. Mereka tidak tahu bahwa tanpa Danu, desa ini tidak akan pernah aman. Tidak ada yang tahu bahwa malam-malam sunyi mereka terlindungi karena seseorang telah mengorbankan dirinya di dalam bayangan.

Hari-hari berlalu, tetapi Arga tidak bisa melupakan hutan itu. Setiap malam, ia bermimpi tentang Danu—sosoknya yang terbuat dari bayangan, tetapi dengan mata yang memancarkan ketulusan. Dalam mimpi-mimpinya, Danu tidak pernah berbicara. Ia hanya berdiri di tepi hutan, seolah-olah menunggu sesuatu.

Suatu malam, Arga mendengar bisikan samar di telinganya saat ia mencoba tidur. Bisikan itu bukan ancaman, melainkan panggilan lembut yang membujuknya untuk kembali.

“Arga… penjaga… datanglah…”

Ia terbangun dengan jantung berdegup kencang. Di kejauhan, dari arah Hutan Giripati, ia melihat cahaya samar seperti api kecil yang menari-nari di antara pepohonan. Cahaya itu tampak seperti menuntunnya.

Meski hati kecilnya penuh ketakutan, ia tahu bahwa ia harus kembali.

Ketika Arga sampai di dalam hutan, cahaya itu membawanya ke tempat di mana pohon raksasa pernah berdiri. Kini, hanya tanah yang rata dan bersih, tanpa jejak akar atau bekas pertempuran mereka sebelumnya. Namun, di tengah-tengahnya, berdiri sosok bayangan yang ia kenali—Danu.

Arga terpaku. "Bagaimana… kau masih di sini?" tanyanya dengan suara gemetar.

Danu tersenyum, meskipun sosoknya tampak lebih rapuh dari sebelumnya. “Aku tidak sepenuhnya pergi, Arga. Sebagian dari jiwaku tetap di sini, untuk memastikan kamu tidak sendirian.”

Air mata menetes di wajah Arga. "Kenapa harus aku, Danu? Aku bukan siapa-siapa. Aku bahkan tidak tahu apa yang harus kulakukan."

Danu mendekat, bayangannya seperti angin dingin yang menyentuh kulit Arga. “Kamu lebih dari cukup. Kamu memiliki keberanian untuk melawan kegelapan, sesuatu yang bahkan aku pun ragu bisa kamu lakukan. Hutan ini tidak membutuhkan kekuatan, Arga. Hutan ini membutuhkan hati. Dan kamu memilikinya.”

Kata-kata itu membuat Arga terdiam. Ia merasa dadanya sesak, antara rasa sedih dan haru yang bercampur menjadi satu.

“Ini terakhir kalinya aku bisa menemuimu,” ujar Danu. “Rohku tidak bisa bertahan lebih lama di sini. Hutan ini sudah memulai proses pemulihan, tapi itu membutuhkan waktu. Sampai saat itu, kamu harus memastikan tidak ada yang masuk terlalu dalam. Jangan biarkan apa pun membangunkan kegelapan itu lagi.”

“Bagaimana aku bisa melakukannya sendirian?” tanya Arga dengan suara serak.

Danu tersenyum lembut. “Kamu tidak sendirian. Hutan ini akan membantumu. Dengarkan suara anginnya, perhatikan gerakan pepohonannya. Kamu adalah bagian darinya sekarang, Arga. Seperti aku dulu.”

Air mata mengalir di pipi Arga. Ia ingin mengatakan banyak hal, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar. Hanya rasa kehilangan yang mendalam, bercampur dengan rasa hormat dan tanggung jawab.

“Terima kasih, Danu,” bisiknya.

Danu mengangguk. “Dan terima kasih untukmu. Aku bisa pergi dengan tenang, karena aku tahu hutan ini ada di tangan yang tepat.”

Perlahan, sosok Danu mulai memudar. Bayangannya bercampur dengan kabut malam, menghilang seperti debu yang terbawa angin. Dan akhirnya, ia benar-benar lenyap, meninggalkan Arga sendirian di tengah keheningan.

Sejak malam itu, Arga menjadi bagian dari Hutan Giripati. Ia sering kembali ke sana, bukan untuk menjelajah atau mencari sesuatu, tetapi untuk memastikan bahwa tidak ada yang mengganggu keseimbangan. Ia belajar membaca tanda-tanda hutan—suara burung, arah angin, dan getaran tanah.

Penduduk desa mulai memperhatikannya. Mereka tidak lagi menganggapnya aneh. Sebaliknya, mereka mulai menghormati Arga, meskipun mereka tidak sepenuhnya memahami apa yang ia lakukan.

“Arga adalah penjaga hutan itu,” kata mereka, meskipun mereka tidak tahu kebenarannya.

---

Hutan yang Tenang

Hutan Giripati kini lebih tenang, meskipun rahasianya tetap tersembunyi di dalam bayangan. Tetapi bagi Arga, setiap langkah yang ia ambil di antara pepohonan adalah pengingat akan pengorbanan Danu.

Dan di malam-malam tertentu, ketika angin berbisik lembut di antara daun-daun, Arga merasa bahwa Danu masih ada di sana, mengawasinya, memastikan ia tidak pernah merasa sendirian.

Meskipun berat, Arga merasa damai. Ia tahu bahwa ia telah menemukan tempatnya—sebagai penjaga terakhir Hutan Giripati, dan sebagai penerus Danu yang setia.

Episodes
1 Bab 1: "Langkah ke Dalam Bayang"
2 Bab 2: Jejak yang Hilang
3 Bab 3: Bayangan di Belakang
4 Bab 4: Kegelapan yang Menelan
5 Bab 5: Korban Pertama
6 Bab 6 Jejak Bayangan
7 Bab 7 Korban Bayangan
8 Bab 8 Pohon Kematian
9 Bab 9 Bayangan yang Tak Terhapus
10 Bab 10 Korban Baru
11 Bab 11 Bayangan yang Mengintai
12 Bab 12 Kebenaran Tersembunyi
13 Bab 13 Hutan Itu Hidup
14 Bab 14 Jerit dari Masa Lalu
15 Bab 15 Jejak yang hilang
16 Bab 16 Hutan yang Tidak Pernah Tidur
17 Bab 17 Penjaga yang Terperangkap
18 Bab 18 Jejak baru
19 Bab 19 Pintu yang Tidak Pernah Tertutup
20 Bab 20 Kembali ke desa
21 Bab 21 Jantung Kegelapan
22 Bab 22 Bisikan Yang Mengikuti
23 Bab 23 Kehilangan jati diri
24 Bab 24 Panggilan dari Kegelapan
25 Bab 25 Kembali ke Dalam Kegelapan
26 Bab 26 Desa yang Terkutuk
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Bab 1: "Langkah ke Dalam Bayang"
2
Bab 2: Jejak yang Hilang
3
Bab 3: Bayangan di Belakang
4
Bab 4: Kegelapan yang Menelan
5
Bab 5: Korban Pertama
6
Bab 6 Jejak Bayangan
7
Bab 7 Korban Bayangan
8
Bab 8 Pohon Kematian
9
Bab 9 Bayangan yang Tak Terhapus
10
Bab 10 Korban Baru
11
Bab 11 Bayangan yang Mengintai
12
Bab 12 Kebenaran Tersembunyi
13
Bab 13 Hutan Itu Hidup
14
Bab 14 Jerit dari Masa Lalu
15
Bab 15 Jejak yang hilang
16
Bab 16 Hutan yang Tidak Pernah Tidur
17
Bab 17 Penjaga yang Terperangkap
18
Bab 18 Jejak baru
19
Bab 19 Pintu yang Tidak Pernah Tertutup
20
Bab 20 Kembali ke desa
21
Bab 21 Jantung Kegelapan
22
Bab 22 Bisikan Yang Mengikuti
23
Bab 23 Kehilangan jati diri
24
Bab 24 Panggilan dari Kegelapan
25
Bab 25 Kembali ke Dalam Kegelapan
26
Bab 26 Desa yang Terkutuk
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!