Bab 7 Korban Bayangan

Hutan Giripati yang kini mereka tinggalkan terasa lebih menyeramkan daripada sebelumnya. Suasana mencekam seolah terus mengikuti Raka dan Bima, meski langkah mereka sudah jauh dari altar. Namun, hutan ini tidak akan melepaskan mereka dengan mudah—ia masih ingin lebih.

Ketika malam mulai jatuh lagi, keduanya terpaksa berhenti di sebuah lapangan kecil untuk beristirahat. Langkah mereka terlalu lambat karena tubuh mereka sudah kelelahan setelah pertempuran di altar.

"Apa kita aman di sini?" tanya Bima, suaranya serak.

Raka hanya mengangguk samar, meski ia sendiri tak yakin. Dalam hati, ia merasa bahwa hutan ini belum selesai dengan mereka.

Saat mereka duduk beristirahat, suara ranting patah terdengar dari kejauhan. Keduanya terdiam, jantung mereka berdegup kencang.

"Itu cuma angin, kan?" tanya Bima, berusaha meyakinkan dirinya.

Namun, suara itu semakin dekat. Bukan hanya ranting patah, tapi juga langkah kaki berat, seperti seseorang yang menyeret tubuh besar di atas tanah.

Raka mengeluarkan senter dari tasnya dan menyorot ke arah suara. Tapi cahaya itu hanya memperlihatkan kegelapan yang lebih pekat.

"Lari," bisik Raka.

Tanpa menunggu, mereka berdua segera bangkit dan berlari, meninggalkan lapangan kecil itu. Mereka tidak peduli lagi ke mana mereka pergi—satu-satunya tujuan mereka adalah keluar dari hutan.

---

Setelah beberapa menit berlari, mereka tiba di sebuah sungai kecil. Nafas mereka tersengal, dan tubuh mereka gemetar karena kelelahan.

"Kita nggak bisa terus lari kayak gini," kata Bima, mencoba mengatur nafasnya.

Namun, sebelum Raka sempat menjawab, suara langkah itu terdengar lagi—kali ini lebih dekat dari sebelumnya. Dari balik pepohonan, sesosok tubuh muncul. Bukan bayangan besar yang mereka temui sebelumnya, melainkan sesuatu yang jauh lebih aneh.

Itu adalah Andre.

Atau lebih tepatnya, sesuatu yang terlihat seperti Andre. Tubuhnya penuh luka, dengan darah mengering di sekujur kulitnya. Kepalanya menunduk, tapi mata hitamnya menatap mereka dengan intensitas yang membuat tubuh mereka membeku.

"And... Andre?" tanya Bima dengan suara bergetar.

Andre tidak menjawab. Sebaliknya, ia melangkah maju dengan gerakan kaku, seperti boneka yang ditarik tali. Mulutnya membuka, tapi yang keluar bukanlah suara manusia. Itu adalah bisikan lirih yang menyerupai doa, diulang-ulang tanpa henti.

"Raka, itu bukan Andre," bisik Bima. "Kita harus pergi."

Namun sebelum mereka sempat bergerak, sosok Andre tiba-tiba berlari ke arah mereka dengan kecepatan yang mustahil. Ia melompat ke atas Bima, menjatuhkannya ke tanah.

Bima berteriak, mencoba melepaskan diri, tapi cengkraman Andre terlalu kuat. Mata hitam Andre menatap langsung ke matanya, dan bisikan aneh itu berubah menjadi lolongan mengerikan.

Raka, dengan panik, mengambil batu besar dari dekat sungai dan menghantamkannya ke kepala Andre. Tubuh Andre terhuyung ke samping, memberi Bima waktu untuk melarikan diri.

Tapi meski darah mengucur dari kepalanya, Andre bangkit kembali, seolah-olah tidak merasakan sakit. Kini, ia tidak sendiri. Dari dalam hutan, lebih banyak sosok seperti Andre mulai bermunculan. Mereka semua memiliki luka yang sama, mata hitam, dan gerakan kaku.

"Mereka… mereka semua korban sebelumnya," kata Raka, menyadari fakta mengerikan itu.

---

Raka dan Bima terus berlari, mencoba menjauh dari sosok-sosok itu. Tapi ke mana pun mereka pergi, mereka selalu dikejar. Jumlah mereka terus bertambah, seperti hutan ini menciptakan lebih banyak makhluk setiap detik.

Saat mereka mencapai sebuah jurang kecil, Raka berhenti, melihat sekeliling dengan panik. "Kita nggak bisa terus lari. Mereka bakal terus ngejar kita sampai kita habis!"

"Lalu kita harus gimana?!" balas Bima.

Saat mereka berbicara, salah satu makhluk itu melompat dari kegelapan, hampir meraih Raka. Tapi sebelum makhluk itu berhasil, tubuhnya tiba-tiba terlempar ke belakang, seperti ditarik oleh kekuatan tak terlihat.

Dari bayangan pepohonan, sosok pria tua yang mereka temui sebelumnya muncul. Ia memegang tongkat yang kini bersinar dengan cahaya biru pucat.

"Kalian harus kembali ke tempat asal mereka," katanya tegas. "Hanya di sana mereka bisa dihentikan."

Raka dan Bima tidak punya pilihan lain selain mengikuti pria itu. Meski mereka takut, mereka tahu pria ini adalah satu-satunya harapan mereka untuk selamat.

---

Pria tua itu membawa mereka ke sebuah tempat yang berbeda dari altar sebelumnya. Ini adalah area terbuka, dengan tanah yang terlihat hangus dan penuh dengan tengkorak manusia. Di tengahnya berdiri sebuah pohon raksasa dengan akar yang melilit seperti tangan raksasa, memegang sesuatu di tengahnya—sebuah pintu lain.

"Itu sumbernya," kata pria tua itu. "Semua makhluk ini terhubung ke sana. Jika kalian menghancurkannya, mereka semua akan lenyap."

"Tapi gimana caranya?" tanya Bima, menatap pohon itu dengan ngeri.

"Kalian tahu jawabannya," jawab pria tua itu sambil memandang mereka dengan serius.

---

Akhir yang Mencekam

Raka dan Bima tahu bahwa menghancurkan pintu itu berarti mereka harus menghadapi bayangan besar sekali lagi. Tapi mereka tidak punya pilihan lain. Dengan keberanian terakhir yang tersisa, mereka mendekati pohon itu, sementara sosok-sosok gelap mulai bermunculan dari segala arah.

Ritual terakhir dimulai. Tapi kali ini, tidak ada jaminan mereka akan selamat.

Terpopuler

Comments

Tomat _ merah

Tomat _ merah

Ceritanyaa baguss thorr, mmpir balik ke ceritaku yg Terpaksa dijodohkan

2025-01-18

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: "Langkah ke Dalam Bayang"
2 Bab 2: Jejak yang Hilang
3 Bab 3: Bayangan di Belakang
4 Bab 4: Kegelapan yang Menelan
5 Bab 5: Korban Pertama
6 Bab 6 Jejak Bayangan
7 Bab 7 Korban Bayangan
8 Bab 8 Pohon Kematian
9 Bab 9 Bayangan yang Tak Terhapus
10 Bab 10 Korban Baru
11 Bab 11 Bayangan yang Mengintai
12 Bab 12 Kebenaran Tersembunyi
13 Bab 13 Hutan Itu Hidup
14 Bab 14 Jerit dari Masa Lalu
15 Bab 15 Jejak yang hilang
16 Bab 16 Hutan yang Tidak Pernah Tidur
17 Bab 17 Penjaga yang Terperangkap
18 Bab 18 Jejak baru
19 Bab 19 Pintu yang Tidak Pernah Tertutup
20 Bab 20 Kembali ke desa
21 Bab 21 Jantung Kegelapan
22 Bab 22 Bisikan Yang Mengikuti
23 Bab 23 Kehilangan jati diri
24 Bab 24 Panggilan dari Kegelapan
25 Bab 25 Kembali ke Dalam Kegelapan
26 Bab 26 Desa yang Terkutuk
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Bab 1: "Langkah ke Dalam Bayang"
2
Bab 2: Jejak yang Hilang
3
Bab 3: Bayangan di Belakang
4
Bab 4: Kegelapan yang Menelan
5
Bab 5: Korban Pertama
6
Bab 6 Jejak Bayangan
7
Bab 7 Korban Bayangan
8
Bab 8 Pohon Kematian
9
Bab 9 Bayangan yang Tak Terhapus
10
Bab 10 Korban Baru
11
Bab 11 Bayangan yang Mengintai
12
Bab 12 Kebenaran Tersembunyi
13
Bab 13 Hutan Itu Hidup
14
Bab 14 Jerit dari Masa Lalu
15
Bab 15 Jejak yang hilang
16
Bab 16 Hutan yang Tidak Pernah Tidur
17
Bab 17 Penjaga yang Terperangkap
18
Bab 18 Jejak baru
19
Bab 19 Pintu yang Tidak Pernah Tertutup
20
Bab 20 Kembali ke desa
21
Bab 21 Jantung Kegelapan
22
Bab 22 Bisikan Yang Mengikuti
23
Bab 23 Kehilangan jati diri
24
Bab 24 Panggilan dari Kegelapan
25
Bab 25 Kembali ke Dalam Kegelapan
26
Bab 26 Desa yang Terkutuk
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!