Sakit

Sean yang mendengar istrinya diantar oleh Vanno merasa geram dan tidak terima.

"Apa yang sudah kalian lakukan selama diperjalanan tadi? Apa kalian booking hotel dulu sebelum pulang?" Sonia terlihat begitu marah pada Sean yang sudah seenak jidat menuduh dirinya yang bukan-bukan.

"Kamu pikir aku serendah itu Sean? Bahkan tidak terlintas sedikitpun dalam benakku untuk berbuat serendah itu. Asal kamu tau ya, kalau bukan karena Vanno, mungkin aku sekarang ngak bakalan pulang." Geram Sonia pada Sean yang selalu berpikiran negatif padanya.

"Apa maksudmu? Apa ada orang yang menyakitimu?" Sonia memalingkan wajahnya dengan malas, sudah jelas pipinya merah bekas tamparan dan sudut bibirnya juga robek, bagian leher Sonia pun ada bekas merah karena dicekik oleh Nila tadi, dan dengan polosnya Sean bertanya ada yang menyakitinya, memang dia tidak punya mata apa?

"Mending kamu balik ke kamar kamu Sean, aku lelah dan ingin tidur, kalau mau menyiksaku ya besok saja, tolong beri aku waktu untuk istirahat malam ini."

"Kamu harus jelaskan dulu apa yang terjadi padamu."

"Aku akan menjelaskannya besok, sekarang aku mohon tolong kembalilah ke kamarmu, aku ingin tidur." Sean yang enggan balik ke kamarnya langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Sonia.

"Kamu ngapain?" Tanya Sonia heran karena Sean tidur di kasurnya.

"Joging, kamu ngak liat aku mau tidur." Jawab Sean ketus.

"Maksud aku, kamu ngapain tidur disini? Bukannya jijik ya tidur dekat denganku."

"Makanya kamu tidur di sofa sana."

Tanpa menjawab lagi Sonia mengambil bantal dan guling lalu tidur di sofa, karena tubuhnya sangat lelah jadi Sonia cepat terlelap sedangkan Sean masih dengan rasa penasarannya, "apa yang terjadi padanya tadi? Kenapa bisa pergi dengan Vanno, apa mereka sudah janjian sebelumnya?" Sean menggeleng menepis pikiran buruk pada Sonia, "gimana mau janjian, Sonia kan tidak aku berikan ponsel."

Sean berdiri dan mendekati Sonia yang kini sudah tertidur pulas, dia mensejajarkan wajahnya dengan wajah Sonia agar bisa melihat istrinya dari jarak dekat seperti ini. Wajah Sonia begitu teduh dan anggun, Sean merasa ada hal aneh di hatinya, dia begitu ingin memeluk Sonia namun terlalu gengsi untuk melakukan hal itu. Sean menatap setiap inci wajah istrinya dan meraba bekas kemerahan di pipi dan leher Sonia.

"Ini kenapa? Perasaan hari ini aku tidak memukulnya dan ini bekas cekikan." Batin Sean sambil terus menyentuh pipi dan leher Sonia.

"Kalau memang benar ada yang menyakitimu, aku akan memburu orang itu, hanya aku yang boleh menyiksamu bukan orang lain dan hanya aku pula yang boleh mencintaimu." Kata Sean pelan agar Sonia tidak terbangun.

Sean juga mengusap rambut Sonia dengan lembut, "pasti sakit ya." Katanya sambil membelai kepala Sonia sebab tadi dia menjambak rambut istrinya itu dengan kuat hingga ada beberapa helai rambut yang tersangkut di cincin pernikahannya.

Sean menatap iba pada Sonia, dia jadi bingung untuk melanjutkan dendamnya saat ini, sudah hampir dua bulan mereka menikah dan tidak pernah Sonia merasa aman darinya.

Sonia bergerak gelisah, keringat bercucuran dari keningnya, Sean yang melihat itu langsung menepuk pipi Sonia untuk membangunkannya, dia berpikir kalau Sonia sekarang sedang mimpi buruk.

"Son, bangun." Sonia membuka matanya dengan perlahan, kepalanya terasa begitu berat dan perlahan keluar darah dari hidung nya. Sean segera mendudukkan Sonia dan mendongakkan kepala Sonia ke atas agar darahnya tidak terus keluar.

"Kita ke rumah sakit ya."

"Tidak usah, aku baik-baik saja kok."

"Jangan ngebantah, nurut aja, aku ambil kunci mobil dulu." Sean berlari ke kamarnya dan mengambil kunci mobil, dia lalu kembali ke kamar Sonia, istrinya tidak terlihat lagi di dalam kamar.

"Sonia?" Panggil Sean di depan kamar mandi karena dia mendengar suara air.

"Sebentar." Jawab Sonia.

"Ayo ke rumah sakit cepat sebelum darahnya keluar banyak." Sonia keluar sambil menyumpal hidungnya dengan kapas.

"Aku nggak papa kok, cuma mimisan doang."

"Kamu udah pucat gini, tadi juga aku lihat kamu tidurnya gelisah kayak nahan rasa sakit."

"Udah biasa begitu kok, aku baik-baik aja, mending kamu tidur lagi."

"Ya nggak bisa gitu, ayo periksa ke rumah sakit, aku takut kamu kenapa-napa." Sonia tersenyum mendengar perkataan Sean.

"Kamu khawatir padaku ya?" Tanya Sonia sambil tersenyum.

"Tidak, kalau kau kenapa-napa, besok aku tidak bisa menyiksamu, mengerti." Senyum di wajah Sonia langsung hilang, hatinya sangat sakit mendengar jawaban Sean.

"Aku udah biasa kok begini, tiba-tiba kepalaku sakit dan mimisan, nanti bakalan hilang dengan sendirinya." Sonia tetap tidak mau di bawa ke rumah sakit. Sonia kembali membaringkan tubuhnya di sofa dan memejamkan mata.

"Tidur di atas kasur aja, jangan disini."

"Nggak papa kok, kamu tidur aja aku udah nyaman disini. Aku ngantuk banget." Sean menggendong paksa Sonia, dia tidak ingin mengambil resiko jika telat membawa Sonia ke rumah sakit. Sonia berontak ingin turun dari gendongan Sean, dia tetap tidak mau dibawa ke rumah sakit.

"Sean, aku baik-baik saja. Sakit begini udah biasa buat aku, aku nggak perlu dibawa ke rumah sakit."

"Diam atau aku akan melemparkanmu ke lantai dasar." Ancam Sean yang lelah dengan penolakan Sonia.

Sonia hanya pasrah dalam gendongan Sean dan mengalungkan tangannya ke leher Sean, dia membenamkan wajahnya di leher suaminya itu dan memejamkan mata menikmati aroma tubuh sang suami.

Sekarang mereka sudah berada di dalam mobil, Sean memacu kendaraannya dengan cepat agar Sonia segera mendapat pengobatan.

Sonia segera mendapat pengobatan saat sampai di rumah sakit." Gimana keadaan istri saya dok?" Tanya Sean cemas pada dokter.

"Dia kelelahan dan juga kurang tidur, untuk hasil lebih lanjut kita harus cek labor, takutnya nanti ada penyakit dalam yang serius." Jelas dokter.

"Lakukan apapun yang terbaik untuk istri saya dok."

"Baik, kami akan mengambil sample darahnya dan memeriksanya, ini akan memakan waktu." Sean hanya mengangguk, dia memasuki ruangan dimana Sonia terbaring lemah, Sean menggenggam tangan Sonia berharap istrinya segera sembuh.

"Kamu mau apa? Lapar nggak? Aku belikan makanan ya." Tanya Sean dengan lembut.

"Nggak kok, aku cuma pengen pulang aja Sean, aku nggak mau disini." Jawab Sonia dengan suara yang begitu lemah.

"Dokter belum bolehin kamu pulang, kamu juga akan diperiksa secara mendalam biar tau penyakitmu, aku takut jika kamu memiliki penyakit berbahaya." Sean mengemukakan kecemasannya.

"Kalau ternyata memang aku punya penyakit berbahaya, apakah kamu akan memaafkan kesalahanku dan akan menyayangiku lagi?" Sean tampak berpikir sejenak.

"Jangan bicara begitu, kamu tidak memiliki sakit yang berbahaya Sonia."

"Jika iya bagaimana? Apa aku masih memiliki kesempatan untuk bahagia denganmu?"

"Asal kamu tau, aku sangat mencintaimu, dari dulu sampai detik ini, hatiku hanya teruntuk padamu Sonia, jadi jangan bicara yang aneh-aneh lagi."

"Aku bahagia mendengarnya Sean." Senyuman terpampang jelas di wajah Sonia.

"Aku lapar, mau cari makanan diluar, kamu mau apa?"

"Aku hanya ingin tidur saja, jangan lama-lama di luar ya."

Mengangguk, Sean keluar dari ruangan istrinya, hatinya bimbang, antara takut dan juga senang. Takut jika memang Sonia memiliki penyakit yang parah, senang jika Sonia baik-baik saja tapi dia harus terus membuat Sonia sakit demi membalaskan dendamnya.

"Kenapa denganku? Aku begitu takut kehilangan dia tuhan." Lirih Sean.

Terpopuler

Comments

Lina ciello

Lina ciello

sakit parah mesti.. Wes meninggal o gpp ben nyesell. kprettt kuii 🤬😡

2024-12-02

1

lihat semua
Episodes
1 Dilamar Bos
2 Butuh Kepastian
3 Sakit dan Kembali Bersama
4 Mencari Tahu
5 Cemburu
6 Perubahan Setelah Menikah
7 Pilihan
8 Penyiksaan
9 Tersiksa Kembali
10 Bertemu Sonia
11 Sakit
12 Emosi Kembali
13 Pembalasan Untuk Ibu Tiri
14 Kemesraan Malam
15 Kehidupan Baru
16 Pengakuan
17 Menyerang
18 Cemburu Pada Anna
19 Menemui Sean
20 Kamu Kenapa?
21 Ungkapan Rasa Fian
22 Marah
23 Cincin
24 Kegiatan Panas Yang Terganggu
25 Rencana Pembalasan
26 Membalas Perbuatan Nila dan Gladis
27 Pernikahan Vanno
28 Perasaan Vanno
29 Dibawa Paksa
30 Mengungkapkan Yang Sebenarnya
31 Menunaikan Kewajiban Yang Tertunda
32 Pertemuan Singkat
33 Akan Dititipkan
34 Kesan Pertama Yang Buruk
35 Mulai Dekat
36 Dia Putri Kesayangan
37 Berkumpul
38 Beruntungnya
39 Misi Memburu Miller
40 Kehamilan
41 Melamar Kiara
42 Menikahi Akriti
43 Pembunuhan Endro
44 Kejujuran Kiara
45 Diculik
46 Keguguran
47 Akhir Ethan-Kiara
48 Ingin Berpisah
49 Hanya Mimpi
50 Kekecewaan Mendalam
51 Berdamai Dengan Keadaan
52 Penyesalan Laura
53 Perubahan Sonia
54 Amukan Sonia
55 Jambu Air
56 Pergi Bersama
57 Kecelakaan
58 Kelahiran Zain, Zay dan Zoya
59 Angel Ivana
60 Kehadiran Derren
61 Ciuman Untuk Angel
62 Perhatian Angel
63 Ingin Musyawarah
64 Melampiaskan Kekecewaan
65 Umpatan Kenzo
66 Ternyata Sudah Menikah
67 Kilas Balik Dengan Angel
68 Berc*nta Kembali
69 Pernikahan Kenzo-Angel
70 Berkumpul Di Mansion Miller
71 Menjadikan Dia Tawanan
72 Mendapatkan Dia Kembali
73 Cerita Masa Indah
74 Kecantikan Sonia
75 Bersikap Dingin
76 Membujuk Sonia
77 Terpana Akan Kecantikannya
78 Izin Keluar
79 Matteo Denaro
80 Dalam Bahaya
81 Pergi Untuk Selamanya
82 Menjadi Gina Valencia
83 Ketahuan
84 Kepulangan Sang Istri
85 Pernikahan Tak Terduga
86 Resepsi Pernikahan
87 Perkumpulan Yang Bahagia
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Dilamar Bos
2
Butuh Kepastian
3
Sakit dan Kembali Bersama
4
Mencari Tahu
5
Cemburu
6
Perubahan Setelah Menikah
7
Pilihan
8
Penyiksaan
9
Tersiksa Kembali
10
Bertemu Sonia
11
Sakit
12
Emosi Kembali
13
Pembalasan Untuk Ibu Tiri
14
Kemesraan Malam
15
Kehidupan Baru
16
Pengakuan
17
Menyerang
18
Cemburu Pada Anna
19
Menemui Sean
20
Kamu Kenapa?
21
Ungkapan Rasa Fian
22
Marah
23
Cincin
24
Kegiatan Panas Yang Terganggu
25
Rencana Pembalasan
26
Membalas Perbuatan Nila dan Gladis
27
Pernikahan Vanno
28
Perasaan Vanno
29
Dibawa Paksa
30
Mengungkapkan Yang Sebenarnya
31
Menunaikan Kewajiban Yang Tertunda
32
Pertemuan Singkat
33
Akan Dititipkan
34
Kesan Pertama Yang Buruk
35
Mulai Dekat
36
Dia Putri Kesayangan
37
Berkumpul
38
Beruntungnya
39
Misi Memburu Miller
40
Kehamilan
41
Melamar Kiara
42
Menikahi Akriti
43
Pembunuhan Endro
44
Kejujuran Kiara
45
Diculik
46
Keguguran
47
Akhir Ethan-Kiara
48
Ingin Berpisah
49
Hanya Mimpi
50
Kekecewaan Mendalam
51
Berdamai Dengan Keadaan
52
Penyesalan Laura
53
Perubahan Sonia
54
Amukan Sonia
55
Jambu Air
56
Pergi Bersama
57
Kecelakaan
58
Kelahiran Zain, Zay dan Zoya
59
Angel Ivana
60
Kehadiran Derren
61
Ciuman Untuk Angel
62
Perhatian Angel
63
Ingin Musyawarah
64
Melampiaskan Kekecewaan
65
Umpatan Kenzo
66
Ternyata Sudah Menikah
67
Kilas Balik Dengan Angel
68
Berc*nta Kembali
69
Pernikahan Kenzo-Angel
70
Berkumpul Di Mansion Miller
71
Menjadikan Dia Tawanan
72
Mendapatkan Dia Kembali
73
Cerita Masa Indah
74
Kecantikan Sonia
75
Bersikap Dingin
76
Membujuk Sonia
77
Terpana Akan Kecantikannya
78
Izin Keluar
79
Matteo Denaro
80
Dalam Bahaya
81
Pergi Untuk Selamanya
82
Menjadi Gina Valencia
83
Ketahuan
84
Kepulangan Sang Istri
85
Pernikahan Tak Terduga
86
Resepsi Pernikahan
87
Perkumpulan Yang Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!