Tersiksa Kembali

Sonia bangun dengan seluruh tubuh yang terasa remuk, dia meringis karena menahan sakit akibat siksaan demi siksaan yang dilayangkan oleh Sean dalam dua minggu ini, tiada hari tanpa kekerasan yang Sonia alami. Dia benar-benar mengalami setiap amukan, cacian, hinaan hingga siksaan dari Sean.

Bukan hanya fisiknya saja yang sakit, namun Sean juga menyakiti hatinya, Sean selalu menghantam Sonia dengan perkataan yang begitu menusuk. Sonia berjalan ke kamar mandi dan berendam di dalam bathub, dinginnya air membuat rasa sakit di tubuhnya berkurang.

Sonia sudah diperbolehkan untuk keluar kamar dan bebas di dalam rumah itu, namun dia masih tidak boleh keluar rumah tanpa seizin Sean, Sonia juga tidak diberikan ponsel oleh Sean serta dia tidak diizinkan menggunakan sosial media sehingga saat ini Sonia seperti seorang tawanan.

"Pastikan dia makan dengan baik dan bergizi, saya tidak ingin dia sakit hanya karena makanan dari kalian tidak bermutu, mengerti." Kata Sean pada pelayannya.

"Iya tuan."

Sean pergi ke kantor, semalam dia menyiksa Sonia hampir 2 jam di dalam ruangan itu hingga Sonia lemah tak berdaya, namun seperti biasa, seberapa kuat Sean menyiksanya, wanita itu sama sekali tidak mengeluarkan suara rintihan dan kesakitan, dia menahan entah untuk apa, hal itu membuat Sean heran.

...***...

Malam harinya seperti biasa, Sean meminta Sonia untuk masuk ke ruang penyiksaannya, Sean sudah menunggu Sonia namun wanita itu tak kunjung datang. Sekitar 10 menit menunggu akhirnya Sonia dengan wajah pucat dan langkah gontai memasuki ruangan yang sudah dua minggu ini menjadi saksi kejamnya Sean.

"Kenapa kau lama sekali ke sini?" Suara Sean terdengar begitu dingin.

"Maafkan aku, aku baru selesai makan malam." Jawab Sonia, dengan langkah tegap Sean menghampiri istrinya itu lalu melayangkan tamparan di pipi Sonia hingga kepala dan rahangnya terasa sakit. Sean menjambak rambut Sonia dengan kuat hingga rambut itu tinggal dalam genggaman Sean.

"Aku tidak suka keterlambatanmu, kau mau tau apa hukuman mu malam ini?" Sonia hanya menggeleng dengan air mata yang sudah keluar dari sudut matanya karena kepala Sonia saat ini mendongak ke atas akibat jambakan tangan Sean di rambutnya.

"Kali ini aku tidak akan mencambukmu, tapi aku akan menamparmu sampai aku puas." Sonia terisak, hari ini seluruh tubuhnya sangat sakit, dia juga sedang demam tapi tidak terlalu panas.

Sean melepaskan jambakan di rambut Sonia lalu meminta Sonia duduk di kursi yang telah dia sediakan, dia mengikat tangan dan kaki Sonia.

Tanpa rasa kasihan sama sekali, Sean menampar kuat kedua pipi Sonia dengan tangannya hingga kepala Sonia terasa amat pusing, pipinya terasa sangat kebas sampai tamparan itu tak lagi terasa di pipinya, bibir Sonia berdarah karena robek, hidungnya juga mengeluarkan darah akibat kuatnya tamparan Sean.

"Aku rasa hukumanmu cukup sampai di sini, kau beruntung karena aku sedikit lelah dan butuh istirahat, kembali lah ke kamarmu." Sean melepaskan ikatan Sonia lalu keluar dari ruangan itu.

"Ayah, tubuh Sonia sakit yah, apa aku begitu lemah sehingga aku mengeluh seperti ini? Aku pikir jika sudah biasa disiksa maka akan baik-baik saja, tapi nyata nya semakin hari malah semakin sakit yang aku rasakan ayah hiks, Sonia sangat merindukan Sean yang dulu, Sonia butuh sandaran sekarang ayah." Desis Sonia dalam tangisnya karena merasa tidak kuat dengan perlakuan Sean.

Sonia tidak sanggup lagi untuk kembali ke kamarnya, dia tertidur di kursi tempat Sean menyiksanya tadi dengan kondisi wajah bengkak, bibir dan hidung berdarah serta kedua pipi memerah.

Sedangkan di dalam kamar, Sean menangis tanpa suara menatap telapak tangannya yang sudah memerah karena menampar Sonia tadi. Dia merasakan sakit teramat dalam ketika melihat istrinya terluka seperti itu, namun ego nya masih menuntut untuk terus membalaskan dendam pada Sonia.

"Kenapa kau tidak menjerit atau berteriak ketika aku menyiksamu Sonia? Kau membuat aku ikut merasakan sakit dari setiap tetes air matamu itu." Ujar Sean menatap foto Sonia yang terpajang besar di dalam kamarnya. Kamar Sean dipenuhi dengan foto Sonia, itulah alasan kenapa dia tidak mengizinkan Sonia memasuki kamar tersebut.

Sean membaringkan tubuhnya dan menetralkan hati hingga dia pun tertidur.

"Sean, tolong aku, tubuhku sakit Sean." Jerit Sonia pada Sean yang saat ini berdiri tak jauh darinya, alat-alat medis menempel di tubuh Sonia yang saat ini terbaring lemah.

"Sonia, kamu kenapa?"

"Apa aku akan tersiksa sampai mati? Apa tidak akan ada kebahagiaan dalam hidupku bersama denganmu? Aku mencintaimu Sean." Lirih Sonia sembari menahan rasa sakit di tubuhnya, lalu mata Sonia terpejam hingga monitor memperlihatkan garis lurus yang menandakan kalau Sonia meninggal dunia.

Sean terbangun dengan keringat yang membasahi wajahnya, dia mengusap wajah itu dengan gusar lalu menurunkan kaki dari tempat tidur.

"Cuma mimpi." Nafas Sean memburu, dia begitu takut kalau istrinya meninggal, Sean melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, Sean membawa langkahnya ke kamar Sonia tapi istrinya tidak ada di sana.

"Kemana dia?" Sean ingat kalau terakhir kali dia meninggalkan Sonia di ruang penyiksaan, dia kembali ke sana namun Sonia tetap tidak ada. Sean menjadi panik dan cemas, dia kembali ke kamar Sonia dan lega karena melihat Sonia sudah ada di dalam kamar.

Dia melihat kalau Sonia seperti habis mandi karena rambut Sonia basah.

"Ada apa Sean? Kok kamu kelihatan panik begitu?" Tanya Sonia.

"Abis dari mana kamu?"

"Aku ngak kemana-mana."

"Aku tadi ke sini tapi kamu nggak ada."

"Oh aku ketiduran di dalam bathub tadi dan ini baru ganti baju." Jawab Sonia lalu tersenyum, senyuman istrinya semakin membuat Sean terluka. Dia mendekati Sonia lalu meraba wajah sang istri yang terlihat bengkak dan merah akibat perbuatannya, mata Sonia juga terlihat sayu.

"Badan kamu panas sekali Sonia, kamu demam?" Tanya Sean.

"Iya sedikit, paling besok sembuh."

"Sedikit apanya, ini panasmu sangat tinggi, lebih baik kita ke rumah sakit."

"Jangan Sean, aku minta obat pereda nyeri saja, tubuhku sangat sakit."

"Tunggulah di sini, akan aku ambilkan, sudah jelas lagi demam, kenapa malah berendam tengah malam begini sih." Sonia tersenyum ketika melihat Sean mengkhawatirkan dirinya.

Sean datang membawakan obat pereda nyeri untuk Sonia dan juga obat oles untuk luka Sonia. Sean mengoleskan obat itu ke wajah istrinya lalu tak lama Sonia pun tertidur. Dia menatap wajah damai sang istri, wajah yang tidak pernah tersenyum ceria lagi semenjak menikah dengannya.

Timbul rasa iba dalam hati Sean, dia tidak tega melanjutkan dendamnya pada Sonia lagi. Sonia tidur sambil memeluk lengan kokoh Sean dan air matanya membasahi pangkal hidung mancung nya, Sean menghapus air mata itu dan mencium lembut pipi Sonia yang merah karena tamparannya.

"Kenapa kau masih ingin bertahan denganku Sonia? Apa yang kau inginkan sebenarnya? Kenapa kau sangat sulit untuk menjawab pertanyaanku mengenai Endro hm? Apa segitu cintanya kamu pada papa ku?" Sean terus bertanya sambil mengusap pipi Sonia.

Sonia mengeliat, dia tampak resah dan gelisah dalam tidurnya yang membuat Sean khawatir, panas di tubuh Sonia juga masih tinggi.

"Ayah, ayah." Kata itu yang keluar dari bibir Sonia.

"Sonia, bangun." Sean menepuk pelan pipi Sonia.

"Ayah, tubuh Sonia sakit yah, Sonia takut yah, ayah, tolongin Sonia, Sonia takut yah." Sean terpaku mendengar istrinya menggigau seperti itu, ternyata selama ini istrinya begitu ketakutan hingga terbawa tidur.

"Sonia bangun, bangunlah." Sonia membuka matanya lalu berusaha untuk duduk dibantu oleh Sean.

"Sean, kamu masih di sini? Kenapa belum tidur? Nanti kamu sakit." Sean tak tahan lagi, dia memeluk Sonia yang masih memberikan perhatian padanya.

"Besok kita ke rumah sakit ya, kita akan obati semua luka mu."

Deg

Sonia merasa perubahan dalam diri suaminya, hatinya menghangat ketika Sean berkata seperti itu.

"Aku nggak papa kok, kamu tidur aja, besok harus ke kantor kan."

"Bagaimana aku bisa tidur jika kamu sendiri tidak bisa tidur dengan nyenyak." Katanya masih dalam memeluk Sonia.

...***...

Vanno kembali diajak oleh Laura untuk makan pecel di warung Mbak Nem, dia sangat menyukai masakan di warung itu.  Mereka duduk di tempat biasa dekat dengan kipas angin, saat sedang ngobrol biasa, fokus mereka teralihkan ketika seseorang menyapa Vanno.

"Vanno." Sapa perempuan yang sangat dia kenal suaranya.

"Sonia." Vanno berdiri menyambut Sonia, dia begitu antusias melihat wanita cantik itu, Laura merasa tidak nyaman dengan sikap Vanno yang langsung berdiri ketika melihat Sonia, dia tau kalau Vanno sangat mencintai Sonia, Laura menggandeng lengan Vanno menandakan kalau Vanno adalah miliknya. Sonia hanya tersenyum melihat hal itu.

"Apa kabar kamu? Semenjak kamu berhenti dari kantor dan menikah dengan Sean, aku tidak pernah mendengar kabarmu lagi Son."

"Alhamdulillah aku baik Van, kamu sendiri gimana?" Tanya Sonia balik.

"Aku baik juga, Sean mana? "

"Ada kok, dia lagi beli rokok, nanti juga kesini."

"Oh bahagia banget pastinya kamu menikah dengan orang yang sangat kamu cintai."

"Alhamdulillah Van."

"Oh iya kenalin ini Laura, pacarku." Vanno sudah resmi menjalin hubungan dengan Laura.

"Oh aku Sonia." Sonia mengulurkan tangannya namun dengan malas Laura menyambut uluran tangan Sonia. Vanno yang posisinya berhadapan dengan Sonia, menatap lekat wajah wanita yang pernah dia cintai itu, Sonia makin terlihat cantik tapi sedikit kurus dari biasanya dan wajahnya juga pucat.

"Kamu sakit ya Son?" Tanya Vanno.

"Enggak, kenapa memangnya?"

"Kok wajah kamu pucat dan kamu juga agak kurus sekarang."

"Oh ini ya masa sih? Mungkin karena aku lagi diet." Jawab Sonia asal.

"Aku duduk dulu ya Van, kamu lanjut aja sama Laura." Saat Sonia membalikkan tubuhnya,  Sonia hampir menambrak pelayan yang akan mengantarkan pesanan Vanno, untung dengan sigap Vanno merangkul Sonia, baju Sonia sedikit terbuka dibagian pundaknya dan tanpa sengaja Vanno melihat bekas luka dan juga lebam di pundak dan punggung Sonia.

"Ah maaf mas." Ucap Sonia.

"Iya mbak nggak papa."

"Makasih Van, kalo nggak ada kamu mungkin makanannya udah jatuh."

"Iya sama-sama Son, kamu nggak papa kan?"

"Iya nggak papa." Sonia memilih bangku untuk tempatnya duduk, Sean sudah datang sambil membawa beberapa cemilan ringan untuk Sonia. "Kok lama?" Tanya Sonia.

"Iya, warungnya rame, jadi harus ngantri, kamu udah pesan?"

"Udah, percaya deh sama aku, ini adalah tempat makan pecel yang paling enak."

"Oh ya, yakin banget."

"Iya Sean, aku dulu sering banget makan di sini."

"Iya aku percaya kok."

Sudah seminggu mereka ada di Bandung dan sudah dua bulan mereka menikah, kehidupan Sonia juga sangat tenang karena Sean sangat sibuk dengan pekerjaannya. Walaupun Sean masih sering bersikap kasar padanya tapi tidak menyiksanya seperti saat di Jakarta.

Vanno masih kepikiran dengan luka yang ada di tubuh Sonia, luka itu tampak masih baru dan itu juga jelas bekas cambukan.

"Apa Sean melakukan KDRT pada Sonia?" Guman Vanno sambil menatap Sonia dan Sean.

Terpopuler

Comments

GuGuGaGa_90

GuGuGaGa_90

benar2 pasangan gila... mafia saja x seksa isteri mcm tu walaupun benci...

2024-12-05

0

GuGuGaGa_90

GuGuGaGa_90

aku harap, bila baca part last cerita ni Sonia meninggal...

2024-12-05

0

GuGuGaGa_90

GuGuGaGa_90

jgn berubah Sean... teruskan dgn demam gilamu itu.

2024-12-05

0

lihat semua
Episodes
1 Dilamar Bos
2 Butuh Kepastian
3 Sakit dan Kembali Bersama
4 Mencari Tahu
5 Cemburu
6 Perubahan Setelah Menikah
7 Pilihan
8 Penyiksaan
9 Tersiksa Kembali
10 Bertemu Sonia
11 Sakit
12 Emosi Kembali
13 Pembalasan Untuk Ibu Tiri
14 Kemesraan Malam
15 Kehidupan Baru
16 Pengakuan
17 Menyerang
18 Cemburu Pada Anna
19 Menemui Sean
20 Kamu Kenapa?
21 Ungkapan Rasa Fian
22 Marah
23 Cincin
24 Kegiatan Panas Yang Terganggu
25 Rencana Pembalasan
26 Membalas Perbuatan Nila dan Gladis
27 Pernikahan Vanno
28 Perasaan Vanno
29 Dibawa Paksa
30 Mengungkapkan Yang Sebenarnya
31 Menunaikan Kewajiban Yang Tertunda
32 Pertemuan Singkat
33 Akan Dititipkan
34 Kesan Pertama Yang Buruk
35 Mulai Dekat
36 Dia Putri Kesayangan
37 Berkumpul
38 Beruntungnya
39 Misi Memburu Miller
40 Kehamilan
41 Melamar Kiara
42 Menikahi Akriti
43 Pembunuhan Endro
44 Kejujuran Kiara
45 Diculik
46 Keguguran
47 Akhir Ethan-Kiara
48 Ingin Berpisah
49 Hanya Mimpi
50 Kekecewaan Mendalam
51 Berdamai Dengan Keadaan
52 Penyesalan Laura
53 Perubahan Sonia
54 Amukan Sonia
55 Jambu Air
56 Pergi Bersama
57 Kecelakaan
58 Kelahiran Zain, Zay dan Zoya
59 Angel Ivana
60 Kehadiran Derren
61 Ciuman Untuk Angel
62 Perhatian Angel
63 Ingin Musyawarah
64 Melampiaskan Kekecewaan
65 Umpatan Kenzo
66 Ternyata Sudah Menikah
67 Kilas Balik Dengan Angel
68 Berc*nta Kembali
69 Pernikahan Kenzo-Angel
70 Berkumpul Di Mansion Miller
71 Menjadikan Dia Tawanan
72 Mendapatkan Dia Kembali
73 Cerita Masa Indah
74 Kecantikan Sonia
75 Bersikap Dingin
76 Membujuk Sonia
77 Terpana Akan Kecantikannya
78 Izin Keluar
79 Matteo Denaro
80 Dalam Bahaya
81 Pergi Untuk Selamanya
82 Menjadi Gina Valencia
83 Ketahuan
84 Kepulangan Sang Istri
85 Pernikahan Tak Terduga
86 Resepsi Pernikahan
87 Perkumpulan Yang Bahagia
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Dilamar Bos
2
Butuh Kepastian
3
Sakit dan Kembali Bersama
4
Mencari Tahu
5
Cemburu
6
Perubahan Setelah Menikah
7
Pilihan
8
Penyiksaan
9
Tersiksa Kembali
10
Bertemu Sonia
11
Sakit
12
Emosi Kembali
13
Pembalasan Untuk Ibu Tiri
14
Kemesraan Malam
15
Kehidupan Baru
16
Pengakuan
17
Menyerang
18
Cemburu Pada Anna
19
Menemui Sean
20
Kamu Kenapa?
21
Ungkapan Rasa Fian
22
Marah
23
Cincin
24
Kegiatan Panas Yang Terganggu
25
Rencana Pembalasan
26
Membalas Perbuatan Nila dan Gladis
27
Pernikahan Vanno
28
Perasaan Vanno
29
Dibawa Paksa
30
Mengungkapkan Yang Sebenarnya
31
Menunaikan Kewajiban Yang Tertunda
32
Pertemuan Singkat
33
Akan Dititipkan
34
Kesan Pertama Yang Buruk
35
Mulai Dekat
36
Dia Putri Kesayangan
37
Berkumpul
38
Beruntungnya
39
Misi Memburu Miller
40
Kehamilan
41
Melamar Kiara
42
Menikahi Akriti
43
Pembunuhan Endro
44
Kejujuran Kiara
45
Diculik
46
Keguguran
47
Akhir Ethan-Kiara
48
Ingin Berpisah
49
Hanya Mimpi
50
Kekecewaan Mendalam
51
Berdamai Dengan Keadaan
52
Penyesalan Laura
53
Perubahan Sonia
54
Amukan Sonia
55
Jambu Air
56
Pergi Bersama
57
Kecelakaan
58
Kelahiran Zain, Zay dan Zoya
59
Angel Ivana
60
Kehadiran Derren
61
Ciuman Untuk Angel
62
Perhatian Angel
63
Ingin Musyawarah
64
Melampiaskan Kekecewaan
65
Umpatan Kenzo
66
Ternyata Sudah Menikah
67
Kilas Balik Dengan Angel
68
Berc*nta Kembali
69
Pernikahan Kenzo-Angel
70
Berkumpul Di Mansion Miller
71
Menjadikan Dia Tawanan
72
Mendapatkan Dia Kembali
73
Cerita Masa Indah
74
Kecantikan Sonia
75
Bersikap Dingin
76
Membujuk Sonia
77
Terpana Akan Kecantikannya
78
Izin Keluar
79
Matteo Denaro
80
Dalam Bahaya
81
Pergi Untuk Selamanya
82
Menjadi Gina Valencia
83
Ketahuan
84
Kepulangan Sang Istri
85
Pernikahan Tak Terduga
86
Resepsi Pernikahan
87
Perkumpulan Yang Bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!