Dibully Senior

Isa mengulum senyum saat melihat perempuan di sampingnya kini terlihat bertingkah aneh. Jinan berkali-kali bergerak ke sana kemari hanya karena penasaran dengan wajah laki-laki di sampingnya. "Kenapa perawakan sama bau perfume Pak Bos ini mirip Om Isa, ya? Ah, kamu ini mikir apa Jinan? Isa memang tampan, tapi kan dia cuma sopir. Gak mungkin suami kamu tiba-tiba jadi direktur? sadar Jinan, sadar!" gumam Jinan sembari menepuk-nepuk pipinya.

"Hmm, apa yang dipikirkan bocil ini, apa dia mengenaliku?" Isa bertanya-tanya dalam hatinya. Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di Lantai 10, di mana ruangan Isa berada. Tanpa menunggu Jinan, Isa gegas keluar dari Lift disusul oleh Jinan. Dia takut Jinan akan tahu identisanya.

"Jinan, kok, dia bersama Pak Isa, naik lift Pak Isa lagi?" gumam Vina yang baru tiba di lantai 10 menggunakan Lift umum. "Eh, Jinan. Berani sekali kamu. naik lift bersama Bos, dasar OG gak tahu diri!" tegur Vina pada Jinan ketika Jinan mau turun menggunakan lift umum.

Jinan memutar bola matanya dan menoleh ke arah perempuan yang dijuluki Mak Lampir. "Apa sih Tante, apa urusan Tante nanya kek gitu?" Jinan balik bertanya membuat Vina makin kalap.

"Eh, dasar bocil, masih manggil Tante. panggil aku Bu Vina, jangan manggil Tante! Kamu tadi belum jawab, kenapa kamu sampe naik lift sama Pak Direktur?" Vina bertanya dengan berapi-api. Sementara yang ditanya malah meledeknya.

"Kan udah Jinan jawab, bukan urusan Tante, Wueee!" jawab Jinan sembari memeletkan lidahnya dan gegas melesat menuju lift karena dia akan turun ke tempat kerjanya di lantai sembilan.

"Akhhh, dasar bocil! awas kamu!" ancam Vina dengan penuh kekesalan dan bahkan amarah yang menggelegak.

"Kamu kenapa Vina?" tanya Rafa yang heran melihat Vina terlihat marah-marah seorang diri.

"Eh, itu Pak Rafa. OG baru yang suka buat ribut, tadi dia keluar dari Lift husus bersama Pak Isa. Kan kurang ajar!" sahut Vina akhirnya curhat pada Rafa. Rafa tertegun mendengar ucapan Vina. Ada sebersit rasa cemburu yang menghinggap di hatinya.

"Kenapa dia jadi sama Pak Isa, bukannya dia bersama sepupunya?" gumam Rafa merasa heran.

Setelah kepergian Rafa, Vina segera pergi ke lantai bawah untuk menyebar fitnah pada Jinan. Sementara itu Jinan, kini sedang dimarahi oleh kepala OB. "Dari mana kamu, Nan? kenapa baru datang?" tanya Egi pada Jinan.

"Itu, Kak. Jinan diajak sepupu, jadi Jinan terlambat."

"Jangan banyak alasan. Karena kamu sudah terlambat, kamu dihukum harus pulang akhir waktu. Kamu harus beres-beres sebelum pulang!" titah Egi. Jinan pun mengangguk meski dengan bibir yang manyun.

"Ini semua gara-gara Om Isa. Iih, nyebelin!" gerutu Jinan sambil melaksanakan tugasnya.

"Nan, kamu dipanggil Bu Dina!" ujar salah satu teman Jinan. Meski dia merasa heran, tapi dia tetap pergi menemui Dina, yang bekerja di bagian keuangan.

"Kamu Jinan?" tanya Dina dengan sinis ketika Jinan sudah ada di ruangannya. Jinan menjawab dengan santai tak menyiratkan ketakutan sedikit pun.

"Oh, itu. Jinan habis makan di luar sama sepupu Jinan. Memangnya ada ya Bu?"

"Lancang kamu, tentu saja kamu harus dihukum Karena sudah terlambat," sahut Dina.

"Maaf ya, Bu. Jinan ini OG, yang tanggung jawab ya Kak Egi, bukan Bu Dina. Lagian, tadi Jinan udah dihukum, jadi Jinan gak mau dihukum lagi."

"Kurang ajar kamu! Berani sekali kamu membantah, aku akan membuatmu dipecat!" sergah Dina.

"Maaf, saya sibuk. Daah!" Jinan tak menghiraukan perkataan Dina. Dia langsung pergi keluar dari ruangan Dina, tapi dikejar oleh Dina dan kini malah dipergoki Vina.

"Kita hukum saja bocil nakal ini. Masih baru udah belagu!" teriak Dina sembari bermaksud mendorong Jinan hingga membuat Jinan tersungkur.

Brugg

"Aww!" teriak Jinan kesakitan saat dia terjatuh ke lantai.

Hal itu kebetulan disaksikan oleh Isa yang memang sedang mengawasi Jinan. "Dasar kurang ajar! berani sekali kalian bertindak kasar di perusahaanku!" teriak Isa sembari memukul meja hingga membuat Rafa tersentak.

"Ada apa, Pak?" tanya Rafa buru-buru menghadap.

"Rafa, cepat kamu susul ke lantai sembilan! mereka menganiaya Jinan. Katakan pada mereka, aku memecat Dina!" titah Isa dengan menahan amarah.

Rafa pun gegas melaksanakan perintah Isa. Benar saja, di lantai sembilan itu, dia melihat Jinan sedang terduduk dan dimaki-maki oleh Dina dan Vina. "Ada apa ini, apa yang kalian lakukan?" tanya Rafa lantang.

"Eh Mas, ini ... aku ...!" Dina gugup ketika ditanya Rafa, tapi dia segera mengarang cerita dan berjalan melenggok ke arah Rafa dengan genit.

"OG ini baru masuk dua hari tapi selalu berulah, kemaren kan bikin Mbak Vina jatuh, eh, sekarang malah terlambat!" ucap Dina dengan gaya manjanya membuat Rafa makin mundur.

"Enak aja menghukum Inan. Di mana-mana semua ada bagiannya. Saya udah dikasih hukuman sama kepala OB, ngapain Tante ikutan ngasih saya hukuman juga?" tukas Jinan kesal.

"Ya, betul. Apa yang dikatakan Jinan benar. Ngapain kamu ikutan ngasih hukuman yang bukan bidang kamu?" tanya Rafa dengan sinis pada Dina sehingga membuat Dina makin geram.

"Mas tega.!" tukas Dina.

"Silakan kamu menghadap Pak Direktur. Tadi beliau ingin bertemu," ujar Rafa pada Dina.

"Bagus, aku akan mengadukan ini sama Pak Isa, biar kalian tahu rasa!" Dina gegas pergi, disusul oleh Vina, sementara Rafa sendiri bergegas membantu Jinan bangun, tapi dia menolak bantuan Rafa.

"Gak usah Om, biar Inan bangun sendiri. Inan permisi dulu," ucap Jinan berpamitan dan langsung menuju pantri.

"Nan, kamu gak apa-apa?" tanya teman Jinan.

"Gak apa, apa, cuma lecet dikit," jawab Jinan santai. Sementara itu Isa kini terlihat benar-benar murka dengan kedua karyawatinya.

Brakk!

"Mulai hari ini kamu saya pecat!" ujar Isa lantang membuat Dina terkejut.

"Pak, kenapa saya yang dipecat, kan dia yang salah."

"Siapa yang salah, Jinan maksud kamu? memangnya apa urusanmu? kamu bagian keuangan, tanggung jawabmu adalah bagian keuangan, bukan kebersihan. Satu lagi, aku tidak mau mempunyai pegawai yang semena-mena menindas orang hanya karena dia bekerja sebagai OB atau OG. Karenanya silakan kamu keluar dari sini!" Dina terlihat ketakutan dan langsung pergi dari hadapan Isa.

Setelah Dina keluar, Isa beralih pada Vina yang masih mematung. "Kamu, kenapa kamu ikutan menindas Jinan? Tugasmu di lantai ini sebagai sekretaris saya. Kenapa kamu sampai ada di sana di jam kerja?" Isa bertanya dengan menatap Vina dengan tatapan dingin menusuk jantung.

"Saya, saya!" Vina tergagap tak mampu menjawab.

Terpopuler

Comments

Ma Em

Ma Em

Bagus Isa kamu harus tegas sama bawahan jgn biarkan pegawaimu berbuat semaunya apalagi sampai membuly.

2024-09-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!