Membuat Keributan di Kantor

"Ya ampun, kemana tuh bocah. Salahku juga kenapa aku gak beliin dia ponsel. Bagaimana ini, kalau aku pergi mencari dia, aku harus hadiri meeting penting, tapi kalau gak nyari, nanti dia beneran hilang, bisa berabeh. Itu kan anak orang? akhkkh!" Isa menggerutu sambil mengacak rambutnya.

"Rafa, cepat kemari!" titah Isa pada assistennya setelah dia merapikan penampilannya dan kembali berusaha tenang. "Kamu tolong handle meeting hari ini, aku akan keluar sebentar karena aku ada kerjaan penting," ujar Isa pada assistennya.

"Baik, Pak," sahut Rafa menyanggupi perintah bossnya. Setelahnya mereka berdua pun keluar ruangan, tapi mereka malah dikejutkan dengan keributan di luar ruangan.

"Ada apa itu? siapa yang ribut dengan sekretaris?" tanya Isa keheranan.

"Saya akan periksa, Pak," sahut Rafa. Laki-laki itu gegas menuju meja sekretaris, begitu juga Isa yang mengekori di belakang. Sepertinya dia lupa kalau dia harus mencari Jinan.

Sementara itu Jinan, kini sudah tiba di depan meja sekretaris. "Eh, bocil, mau kemana kamu?" tanya si sekretaris.

"Eh, si Tante ada di sini, eh tapi Jinan bukan mau nyari Tante, Jinan mau nyari Om direktur, mana dia?" tanya Jinan dengan polosnya.

"Om direktur kepalamu! emang kapan Pak Direktur nikah sama tante kamu?" ketus si sekretaris.

"Ckckck, Eh, Tante, baiknya Tante gak usah ikut campur, biar aku sendiri yang bilang ke dia, apa urusanku," Jinan kembali protes.

"Ada apa ini? Vina, siapa yang buat keributan?" tanya Rafa pada Jinan dan sekretaris bernama Vina itu.

"Eh, Pak Rafa, ini Pak. OG kurang ajar, dia ngepel lantai gak becus, bikin saya jatuh, terus saya aduin biar dipecat, dia malah protes, katanya gak terima dipecat," jawab Vina.

"Maaf, Om, si Tante boong. Jelas saya gak terima, karena saya dipecat atas kesalahan sepihak," Jinan menjawab tak mau kalah.

"Halah, kamu banyak omong!" sergah Vina.

"Sudah, sudah! nanti saya tanya Pak Direktur dulu, eh, kalian tunggu di sini!" Rafa segera menengahi. Dia berbalik mencari Isa tapi baru saja dia keluar dari ruang sekretaris, dia mendengar suara orang jatuh.

"Aww, kenapa lantainya licin sekali?" teriak Isa yang terjatuh karena lantai yang memang tadi dipel Jinan belum dia pel dengan benar karena keburu dipanggil HRD.

"Pak, ya ampun, bapak juga jatuh!" teriak Vina yang ikut melihat Isa, dia buru-buru mendekati Isa. "Ini semua gara-gara OG baru yang sok cerdas, dia sudah buat kita jatuh, setelah saya usul buat dipecat dia malah gak terima!" Vina terus mengompori. Karena Isa sedang pusing, dia asal bicara menyetujui untuk memecat karyawan itu tanpa menanyai orangnya.

"Ya udah, ini kesalahannya sudah fatal, katakan padanya, saya sendiri yang pecat dia!" sahut Isa berapi-api.

Mendengar suara Isa, Jinan kini mulai curiga. "Kok, suara dia mirip Om Isa?" Jinan bertanya-tanya sembari mendekat.

"Eh, bocil kurang ajar, kamu dengar kan? ini Pak Direktur sendiri yang bilang bahwa kamu tuh sudah dipecat. Ayo pergi dari sini!" ujar Vina sembari akan menarik tangan Jinan, tapi Jinan kembali berontak sehingga Isa yang masih memunggungi Jinan kini mendengar suaranya dengan jelas.

"Eh, kalian itu Zolim, aku gak terima. Pokoknya aku minta ganti rugi!" tolak Jinan tetap kekeh dengan pendiriannya.

"Kok, suara gadis ini mirip Jinan? ah, apa mungkin dia ini?" Isa bergumam dalam hatinya sembari sedikit menoleh. "Akhh, ya ampun, itu benar-benar si bocil tukang ribut itu. Ah, pantesan dari tadi dia bikin ribut. Duh, mana aku udah mecat dia. Bagaimana ini? kalau aku pecat, dia pasti sedih, tapi kalau gak dipecat, takutnya dia tahu siapa aku," batin Isa ketika dia benar-benar yakin bahwa gadis cerewet di belakangnya adalah Jinan.

"Syut ...syyt ... sini!" Isa memberi isyarat pada Rafa agar mendekat tanpa membalikkan badannya. Dia tetap dalam posisi semula memunggungi Jinan.

"Iya, Pak. ada apa? apa saya perlu memanggil HRD lagi?" tanya Rafa.

"Gak perlu, siniin map-nya!" titah Isa dengan berbisik meminta map di tangan Rafa sehingga membuat Rafa heran.

"Map, bukannya Bapak menginginkan saya menggantikan Bapak rapat hari ini," jawab Rafa.

"Duh, jangan banyak tanya, siniin!" Dengan cepat, Isa merebut map dari Rafa kemudian dia pakai untuk menutupi wajahnya. Dia kini berbalik menghadap Jinan dan Vina dengan menutupi wajahnya dengan map.

"Kenapa Bapak menutupi wajah dengan map?" tanya Rafa dan Vina tapi tentu dengan suara pelan. Sementara Jinan yang melihat itu malah tergelak menertawakan Isa yang kini berjalan melewatinya dengan tetap menutupi wajahnya dengan map.

"Ha ha, Om direktur kenapa menutupi muka dengan map, apa Om malu melihat Jinan?" tanya gadis kecil itu asal.

"Akhh, si bocil ini benar-benar bikin kesal!" gerutu Isa tapi dengan suara yang tak terdengar. Dia berjalan cepat menuju ruangannya.

Brakk.

"Huh, duh, hampir saja ketahuan statusku. Bisa-bisa kacau rencanaku untuk membuat si bocil gak betah. Eh, apa aku ini terlalu kejam ya," gumam Isa setelah dia berada di dalam ruangannya.

"Pak, apa saya boleh masuk?" seru Rafa dari luar ruangan.

"Masuk!" sahut Isa sembari duduk di sofa.

"Pak, kenapa Bapak balik lagi? katanya mau keluar? terus kenapa mapnya bapak bawa, kan saya harus meeting?" cerocos Rafa setelah berada di dalam ruangan.

"Diam kamu! kenapa kamu jadi ikut-ikutan cerewet seperti gadis itu sih?" protes Isa. Rafa pun terdiam.

"Eh, ngomong-ngomong bagaimana dengan bocil di luar, apa yang dia lakukan sekarang?" tanya Isa, Rafa mengernyit mendengar pertanyaan Isa.

"Oh, bukannya tadi Bapak merintah Vina mecat dia, ya jadi sekarang Vina merintah security buat ngeluarin dia dari kantor," jawab Rafa.

"Apa, Kenapa kalian sekasar itu padanya? suruh Vina mengurungkan semuanya. Kasih tahu mereka, biarkan gadis itu kerja, batalin pemecatannya!"

Rafa bertambah bengong melihat kelakuan Isa yang berubah drastis. "Tapi Pak?" Rafa berusaha membantah.

"Gak ada tapi-tapian. Perintahkan Vina membatalkan pemecatan bocah itu. Biarkan dia kerja asal jangan di lantai ini! cepat laksanakan perintahku!" ucap Isa mempertegas. Rafa pun terkesiap dan langsung menelefon Vina memberi tahu perintah Isa.

"Sudah, Pak. Apa meetingnya sudah bisa dimulai, karena saya takut kelayen kita lama menunggu," Rafa kembali memperingatkan.

"Oh iya, benar. Ya udah, Katakan pada Vina untuk ikut saya pergi meeting. Bawa map sama laptopnya! kamu tetap di kantor!" Isa kembali memerintahkan sesuatu yang membuat Rafa heran.

"Tapi Pak, katanya saya yang pimpin meeting, dan Bapak mau pergi karena ada urusan?"

"Jangan banyak tanya! orang yang kucari sudah ditemukan, jadi gak perlu mencarinya. Jangan lupa suruh Vina membatalkan pemecatan si bocil itu!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!