Cemburu

Mata Isa menyipit saat mencicipi rasa kopi yang dibuat Rafa berbeda dari biasanya. "Ini bukan buatan kamu, iya kan? siapa yang buatkan?" tanya Isa mendesak Rafa agar menjawab.

Rafa kini kebingungan, dia tak mungkin mengatakan bahwa Jinan yang membuatkan kopi karena dia tak mau Isa memarahi Jinan. "Hehehe, itu Mbak OG yang bikin, enakkan? soalnya saya juga udah minum. Dia buatkan dua cangkir," jawab Rafa sekenanya.

"Baiklah, kalau begitu kamu silakan kerjakan ini!" titah Isa pada Rafa. Rafa pun gegas melaksanakan tugas yang diberikan Isa. Sampai waktunya istirahat pun, Isa masih akan menyuruhnya, tapi Rafa dengan sigap menolak.

"Hehehe, maaf Bos, sekarang waktunya makan siang, jadi saya pergi dulu, baay!" pamit Rafa pada Isa. Dia langsung melesat pergi tanpa menunggu jawaban dari Isa.

"Hmm, dasar bawahan gak ada akhlak!" gerutu Isa sembari menyandarkan tubuhnya ke belakang. Entah kenapa, dia malah teringat wajah imut istrinya. "Hmm, dia lagi apa ya, pengen ngajak dia makan siang, tapi bagaimana caranya. Ah, aku ada ide!" Isa langsung melesat pergi ke luar kantor setelah dia mendapatkan Ide cemerlang untuk mengajak Jinan makan siang tanpa membuka jadi dirinya.

Sementara itu Rafa, kini pergi ke tempat Jinan kerja di lantai bawah. "Eh, Pak Rafa. Ada perlu apa?" tanya salah satu OG, teman Jinan kerja.

"Oh, itu. Jinan mana?" Rafa malah balik bertanya.

"Di Pantry, sebentar, saya panggilkan."

OG itu bergegas menemui Jinan yang baru saja meletakkan alat kebersihan di tempat biasanya mereka menaruh. "Jinan, dicari Pak Rafa tuh!" kata Siska dengan sinis. "Kamu ada hubungan apa sama Pak Rafa, kok, baru kerja udah kenal Pak Rafa, jangan-jangan kamu gak dipecat karena dia ya?" tuduh Siska.

"Huss, Siska, jangan ngelantur ke mana-mana. Biarin aja Jinan dekat sama Pak Rafa, kan sama-sama single," sahut Reni, membela Jinan.

"Udah, udah! Jinan gak ada hubungan apa-apa sama Pak assistant, mungkin dia cuma ingin ucapin terima kasih karena tadi pagi Jinan nolongin dia bikin kopi buat Pak Bos," jawab Jinan menengahi pertengkaran mereka. Setelahnya dia keluar menemui Rafa.

"Ayo, jalan!" ajak Rafa. Jinan pun mengikuti. Mereka akhirnya berjalan berdampingan meski agak berjauhan. Karena meski Jinan tomboy dan hanya memakai hijab seadanya, tapi dia sadar kalau bukan mahram dan dia juga sadar dia sudah punya suami.

Di sepanjang jalan, banyak sekali karyawan yang berbisik-bisik menggosipkan Jinan, terutama karyawan yang menaruh hati pada Rafa. "Itu si OG baru, kok, akrab sama Pak Rafa, kurang ajar tuh! ayo kasih tahu Bu Dina, biar dikasih pelajaran tuh bocil!" seru salah satu karyawan.

"Ayo kita laporin!" sahut yang lain.

"Mau pesan apa?" tanya Rafa setelah mereka duduk di kantin.

"Terserah Om aja," sahut Jinan. Rafa mendengus kesal saat mendengar Jinan masih memanggilnya Om.

"Apa aku setua itu, Nan? Perasaan aku belum tua-tua amat, Nan?" tanya Rafa sembari melihat wajahnya di ponselnya. Jinan pun terkekeh mendengar ucapan Rafa.

Sementara itu Isa, setelah dia mengganti bajunya dengan setelan Jean's dan kaos pendek, juga memakai topi dan masker, dia langsung menuju tempat Jinan. "Maaf, Jinan di mana ya?" tanyanya setelah dia ada di depan pantri.

"Jinan pergi ke kantin bersama Pak Rafa, kamu siapa?" sahut salah satu OG sambil balik bertanya.

"Apa, dia pergi ke kantin bersama Rafa?" tanya Isa dengan suara lantang, tapi ketika dia melihat ekspresi perempuan di depannya yang terheran-heran melihatnya, dia pun melunakkan suaranya. "Maksud saya, saya tadi mencari dia karena dia memesan makanan dari kantin, tapi dia malah ke kantin. Ya udah, saya temui dia dulu."

Tanpa menunggu jawaban dari OG yang disapanya, dia langsung pergi ke kantin dengan menahan emosi. "Dasar Rafa, berani sekali dia menikungku. Kamu juga Jinan, punya suami malah jalan sama laki-laki lain? apa aku benar-benar tak menarik di mata kamu?" Isa terus menggerutu sepanjang jalan menuju kantin. Dia tak menghiraukan orang yang berpapasan dengannya.

"Itu mereka, mereka ketawa-ketiwi riang sekali. Ah, menyebalkan!" Isa berjalan menuju meja di mana Rafa dan Jinan duduk.

"Maaf, tempat ini sudah penuh, silakan cari tempat yang lain!" ucap Rafa pada Isa yang kini berdiri di sampingnya. Isa tak menjawab Rafa, tapi dia malah duduk di samping Jinan dan memegang tanganya.

"Eh, kamu apa-apaan, megang ..!" teriak Jinan saat merasakan tangannya dipegang, tapi dia diam seketika saat mengenali siapa yang di sampingnya. "Eh, hehehe, kok, Om di sini?" tanyanya sambil nyengir.

"Jinan, kamu kenal orang ini?" tanya Rafa penasaran.

"Hmm, dia ini hehe su ... eh, om sepupu Jinan?" jawab Jinan sekenanya. Rafa mengernyit mendengar jawaban aneh Jinan. 'Mana ada Om sepupu?' pikir Rafa.

Tanpa membuka suara, Isa langsung mengajak Jinan berdiri dan pergi dari kantin itu. "Eh, Om Assistant, maaf ya, Inan pergi, daah!" pamit Jinan tanpa menunggu jawaban dari Rafa karena memang Isa sudah menarik dia hingga keluar kantin.

"Kok, Om bisa tahu, Inan ada di sini?" tanya Jinan sepanjang jalan, tapi Isa hanya diam membisu.

Orang-orang di sekeliling mereka kini berbisik-bisik lagi tatkala melihat Jinan berjalan dengan laki-laki lain lagi. "Ih, gak nyangka ya, masih remaja kok, pandai gonta-ganti laki-laki."

Jinan dan Isa tak menghiraukan desas-desus itu, Isa membawa mereka ke parkiran dan langsung menyuruh Jinan masuk. "Masuklah!" titah Isa. Dia menggunakan mobil yang biasa dipakai sopirnya.

"Kenapa Om diam aja sih? Om marah?" Jinan mencoba bertanya lagi. "Oh ya, ini mobil dibawa Om, emangnya Bos Pak Deni gak akan marah?" celoteh Jinan tak mau berhenti meski Isa belum menjawab.

"Bosnya Pak Deni ya sama dengan Mas," jawab Isa. Sebuah kalimat yang mengandung dua makna. Maksud Isa, bahwa Bos Deni adalah dirinya, sedang Jinan tentu memahami lain, Bos nya Deni sama dengan Bosnya Isa.

"Oh, jadi Om kerja di kantor ini juga, sama dengan Jinan?" Jinan bertanya lagi. Isa hanya mengangguk. "Terus, Om kerja bagian apa? eh, Inan lupa, Om kan sopir ya." Jinan terus mengoceh sendiri, hingga membuat Isa tersenyum kemudian membuka maskernya.

Jinan yang baru ngeh dengan pakaian Isa, kini merasa terkagum-kagum melihat Isa memakai kaos pendek yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang atletis karena memang suka olah raga berat. "Wah, ternyata badan Om keren ya!" ucap Jinan tanpa dia sadari, sehingga membuat Isa tertawa bangga.

"Jadi kamu mengakui bahwa aku lebih ganteng dari assistantku itu?"

"Hah, Assistant, Om Isa?

Terpopuler

Comments

vj'z tri

vj'z tri

tuch kan sering keceplosan Isa 🤣🤣🤣🤣

2024-09-16

1

Zuzu Zalikha

Zuzu Zalikha

Duh, apa Isa akan ketahuan

2024-09-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!