Disepelekan Orang

Isa menelan ludah karena gugup, dia kemudian tersenyum untuk mengalihkan perhatian Jinan. "Maksud Mas, itu assistannya Bos, si Rafa itu," jawab Isa meralat ucapannya barusan.

Jinan pun kini tertawa, "Ya, emangnya Inan harus bilang ke Om siapa yang lebih ganteng?"

Isa terkekeh, tapi dia terus menyetir hingga dia sampai di depan sebuah Cafe mewah. "Ayo turun!" titah Isa pada Jinan yang masih bengong karena merasa gugup berada di sebuah Cafe yang cukup mewah. Jinan yang berasal dari kampung, tentunya belum sekali pun pergi ke tempat mahal seperti itu.

"Om, ngapain kita ke sini, gak mau ah, nanti bayarnya mahal," ucap Jinan sambil berbalik arah, tapi Isa keburu menangkap tangannya.

"Eh, gak apa-apa, sesekali kita gak apa-apa makan di tempat begini. Ayo!" Isa kini menuntun Jinan, sementara Jinan tetap menolak.

"Om, Inan gak mau ah, sayang uangnya. Cafe ini mewah banget, pasti harganya bisa nyampe jutaan, masa Om mau ngabisin gaji sebulan cuma buat makan siang. Inan gak mau ah!" Jinan kembali menolak ajakan Isa. Hal itu membuat Isa bertambah tertarik untuk mengenal Jinan lebih jauh. Sifat gadis tomboy ini jarang ditemuinya.

'Waktu aku bersama Kimberly, dia setiap bertemu maunya pergi ke Cafe mahal dan dibelikan barang-barang branded. Sedangkan Jinan, sangat berbeda dengan Kimberly,' batin Isa.

"Eh, kenapa kalian berdiri di jalan?" seru seorang security sembari mendekat ke arah Jinan dan Isa.

"Hmm, gak ada apa-apa Om, kami salah tempat, ayo Om!" ajak Jinan sembari menarik tangan Isa, sementara Isa tentu saja menolak lagi.

"Eh, siapa bilang kita salah tempat. Jadi begini, Mas diteraktir teman, nanti dia yang bayar. Kan sayang kalau gak diambil, iya kan?" bujuk Isa yang sudah mendapat Ide agar Jinan mau diajak makan di Cafe.

Mendengar kata "gratis" Jinan langsung terlonjak gembira dan mau diajak masuk ke dalam.

"Misi Pak!" Isa berucap pada sang security. Security itu hanya mengangguk, kemudian mengabarkan pada pelayan Cafe bahwa ada yang mau makan, tapi diteraktir orang, sedangkan yang akan meneraktir, belum datang. Jadi, awasi mereka, takut gak bayar," ucap si satpam memerintahkan.

Setelah duduk, Isa meminta pelayan Cafe untuk mengantar menu, tapi ketika melihat seragam Jinan yang masih berpakaian OG, dan Isa yang hanya memakai kaos santai, pelayan itu memandangnya dengan pandangan sinis.

"Maaf, nanti kalian bayar mau pake apa, case, atau pakai kartu, kalau mau bayar pakai kartu biar sekalian saya bawa sekalian," ujar si pelayan itu dengan tatapan merendahkan. Pelayan itu berbicara begitu, karena dia takut kalau Isa tak akan membayar.

"Eh, Mbak. Di mana-mana selesai makan dulu, baru bayar. Kenapa Mbak buru-buru sekali?" tanya Isa menyelidik.

"Hmm, ya siapa tahu kalian nanti gak bayar," jawab si pelayan itu dengan nada sinis, membuat Isa naik pitam, tapi berusaha ia tahan.

"Apa ini managermu yang mengajari cara melayani tamu begini?" tanya Isa dengan nada dingin. Pelayan itu pun terkesiap, tapi dia kembali bersikap normal.

"Hmm, ini bukan dari Pak manager, tapi ini kan kewajiban karyawan menjaga agar Cafe gak rugi karena didatangi pencuri."

"Eh, Mbak. maksud kamu kamu mau bilang kami mau nyuri, sembarangan aja kalau ngomong!" Kini Jinan yang marah karena dituduh sembarangan.

"Bukan aku yang ngomong kalian pencuri, tapi ya asal kamu tahu, harga makanan di sini seharga gajih sebulan kamu sebagai OG, jadi apa kamu mampu membayar?" jawab si Pelayan itu. Kini Jinan merasa terpojok karena dia tak tahu harus menjawab apa.

"Sudah, duduk, Nan! dan kamu Mbak pelayan, kalau kamu tidak percaya kami bisa membayar, silakan panggil managermu!" seru Isa melerai Jinan.

Pelayan itu pun pergi ke belakang untuk memanggil manager Cafe.

"Om, mana orang yang mau neraktir, kalau gak ke sini, lebih baik kita pulang sekarang, sebelum mesan makanan. Ayo!" ajak Jinan sembari menarik tangan Isa, tapi Isa hanya tersenyum. Tak lama kemudian, manager Cafe itu pun datang dan menyapa.

"Maaf, Pak. Kalau memang Anda tak mampu membayar, sebaiknya silakan pergi dulu sebelum saya panggil security!" ucap Si manager itu dengan nada tak sopan, karena dia sudah diceritakan cerita bohong oleh si pelayan.

"Siapa yang kamu maksud tak mampu bayar?" tanya Isa sembari membalikkan badannya menghadap ke arah sang manager.

Mata manager itu pun melotot kala melihat siapa yang duduk di depannya. "Pak Isa, maaf!" Manager itu pun menunduk ketakutan.

Isa bangun dan mendekat ke arah manager itu seraya berbisik di telinga laki-laki yang sudah lama mengenal Isa itu. "Kalau kamu ingin kumaafkan, silakan buka chatku!" titah Isa. Manager itu pun langsung membuka ponselnya.

["Katakan sebagai permintaan maaf kamu, kamu akan membiarkan kami makan gratis di sini. Jangan mengatakan kalau aku pemilik Cafe ini!"] perintah Isa dalam chatnya.

"Saya mohon maaf, saya tak tahu kalau ini Anda. Kalau begitu sebagai permintaan maaf, saya akan menggeratiskan makanan apa pun yang Anda pesan di Cafe ini," tutur laki-laki itu seraya menunduk.

Isa pun mengangguk, seraya melirik ke arah pelayan Cafe di samping manager. "Tolong kamu ajari karyawan ini agar bersikap sopan pada pengunjung, jangan meminta tagihan dulu sebelum makanan diantarkan begini!" tutur Isa panjang lebar. Manager itu hanya menunduk dan mengangguk.

"Baik, kalau begitu saya permisi!" pamit sang manager.

Setelah selesai makan, Jinan masih ingin bertanya, tapi Isa tak mengizinkan. "Nanti aja saat Mas udah pulang kamu nanya lagi. Sekarang, ayo turun, kamu udah terlambat, Mas juga masih ada kerjaan," ucap Isa saat dia tiba di gerbang kantor. Jinan pun menepuk dahinya.

"Duh, iya ni, udah jam setengah dua. Duh, Inan pergi ya. Daah, Om!" Jinan buru-buru keluar dari mobil dan langsung melesat menuju gedung perusahaan, tapi sayangnya lift-nya malah sudah naik.

"Aduh, gimana ini, aku terlambat sampai setengah jam. Ini gara-gara Om Isa, ngajak keluar segala macam," gerutu Jinan dengan suara keras hingga terdengar oleh Isa yang baru masuk ke gedung dan akan naik lift husus direktur.

'Ya ampun, aku mau mengajak anak ini naik lift husus, tapi aku harus menutup wajahku rapat-rapat biar dia gak ngenalin aku,' batin Isa sembari menutup wajahnya dengan masker dan memakai kaca mata hitam, kemudian berjalan melewati samping Jinan. Dia membuka lift, kemudian menoleh ke arah Jinan dan memberi isyarat agar ikut dengannya.

"Eh, ini Om direktur?" tanya Dinan sok akrab. Isa hanya mengangguk dan langsung masuk, disusul oleh Jinan.

Terpopuler

Comments

Siska Sutartini

Siska Sutartini

uang tunai = cash
kalo case itu bukannya tempat/wadah ya Thor
jadi sedikit masukan mohon diperhatikan penggunaan bahasa Inggrisnya ya. banyak yg belepotan dan typo bertebaran juga seperti kata klien malah ditulis klayen.

2025-01-09

0

Zuzu Zalikha

Zuzu Zalikha

seru

2024-09-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!