Kata orang, jodoh tak ke mana. Dan Marco sempat berpikir jika pertemuan ke-duanya dengan Allura salah satu bentuk isyarat dari yang maha esa perihal jodohnya.
Namun, fikrahnya seolah terbantahkan oleh kehadiran seseorang. Kaesang Narendra Wardhana, manusia tinggi gagah 44 tahun yang Langit Anggoro tunjuk ialah ayahnya.
Malam yang kemarin selalu Marco biarkan larut hingga pagi. Tidak dengan saat ini yang jujur saja, Marco tak sanggup terpejam walau hanya sekerjap matanya.
Marco ingin menunggu hingga pagi, akan tetapi sulit melakukannya. Rasanya ada hal yang terus membumbung, untuk supaya dia angkat bicara kali ini juga.
Dua tahun lebih Marco keluar dari kehidupan Kaesang Narendra Wardhana. Marco tak pernah berhenti menunjukkan dirinya walau sering kali sang kakek menyusulnya pulang.
Hanya sesekali datang ke kediaman keluarga utama, sekedar membesuk Eyang dan Oma. Itu pun, tidak berjumpa dengan ayahnya yang bahkan tidak pernah terlihat mencarinya.
Sebagai putranya, tentu Marco tahu di mana biasanya sang ayah menginap saat datang ke negeri ini. Sebuah hotel dengan fasilitas paling luxury yang selama dua tahun terakhir tidak pernah lagi Marco nikmati.
Kali ini Marco memang harus bicara secara langsung dengan ayahnya. Kedatangannya ditolak oleh staf hotel, hingga dia menelepon Om Amas; salah satu asisten ayahnya.
Semua staf bergeming setelah meminta maaf pada Marco. Tadinya mereka pikir, Marco hanya orang yang mengaku- ngaku mengenal.
Marco tak menggubris apa pun, tujuannya ke sini hanya untuk bertemu sang ayah. Dan, setelah melalui banyak acara, menunggu, dia pun didudukan di hadapan Kaesang.
Meja makan panjang hanya dihadiri dua orang, anak dan ayah yang dingin. Kaesang di sudut kanan, dan Marco di ujung kiri.
Diam untuk beberapa saat, hening, benar- benar sunyi. Hanya mata mereka yang saling bersirobok dengan berbeda suasana.
Marco begitu rindu, mungkin sebaliknya pun seperti itu. Namun, agaknya sulit mencair ketika dua orang dengan watak yang sama kerasnya saling menginvasi.
Sampai, Marco yang akhirnya mengalah bersuara terlebih dahulu karena memang itulah yang menjadi tujuannya datang ke sini.
"Marco dengar, Papi mau menikah."
Jujur, Marco malu menanyakan ini, tapi dia perlu memastikannya lagi. Dan tak ada suara yang Kaesang keluarkan kecuali gerakan berdirinya lantas memacu langkah.
"Batalkan." Namun Marco segera bicara, sebelum orang itu berlalu. "Marco nggak mau punya ibu tiri!" ketusnya seraya berdiri.
"Harusnya kamu berpikir itu saat kamu membunuh istriku, Marco!" Kaesang berhasil menjatuhkan sebutir sesal yang tiba- tiba tergelincir dari mata Marco. "Kamu tahu Laluna tidak tergantikan, bukan?" lirihnya lagi.
Marco diam, tak ada yang bisa dia ucap detik ini, dia tahu dia salah. Bohong jika dia sudah memaafkan kesalahannya dulu, nyatanya Marco pun mengutuk keras dirinya.
Namun, apakah hidup harus berakhir setelah kehilangan? Bukankah ada yang lebih maha hak atas hidupnya? Selama yang memilikinya masih belum menutup nafasnya, Marco tidak akan pernah menyerah.
"Lalu kenapa harus ada pernikahan kedua?"
"It's about business!" Kaesang mengedik bahunya enteng. Yah, penyatuan ini akan membuat tendernya lancar, lalu kenapa tidak?
"Apa semiskin itu kah Kaesang Narendra sampai harus menikah dengan embel- embel business di dalamnya?!" tukas Marco.
Kaesang diam, mengoreksi tampilan rupa putranya. Sejauh dia memandang, Marco tidak terlihat seperti anak yang dibuang.
Pakaian mahal, sepatu mahal, wajah tampan yang cukup terawat. Marco bahkan lebih hebat darinya saat dia masih muda dahulu.
Sayangnya, kebanggaan itu tidak sama setelah anak ini merenggut nyawa istri kesayangannya. Andai istrinya masih hidup, tidak akan pernah Kaesang memberikan ibu tiri bagi anak bodoh ini.
"Marco tahu Marco anak pembawa sial, tapi wanita yang akan Papi nikahi, Allura pernah tidur satu kamar dengan putra mu!" Sekilas Marco terkekeh miring. "Tidak mungkin kan kita berbagi liur dari wanita yang sama?"
Satu tamparan mendarat di pipi kiri Marco seketika itu juga. "Jadi masih begini kualitas mu di luar rumah, hah?!" bentaknya.
Marco menunduk, sungguh, dia telah menyakiti hati seorang ayah. Menjadi pria yang hanya pandai bersenang- senang soal wanita dan berakhir dibuang, itulah Marco.
"Nyatanya hidup tanpa dukungan ayah dan ibu itu berat, Pi." Marco terdiam sejenak untuk membangkitkan rasa beraninya.
"Mmh, tidak," ralatnya kemudian. "Romo ... Kaesang ... Narendra ... Wardhana yang terhormat," tambahnya kemudian.
Marco tidak lupa jika Kaesang sudah bukan Papi yang dulu memamerkan ketampanan masa kecilnya di hadapan para kolega.
Mereka sudah bukan lagi anak dan ayah layaknya empat tahun lalu. Bahkan, Marco seperti tak pantas meminta sesuatu dari seorang Kaesang.
"Biarkan aku istirahat."
Lihat lah caranya menjentikkan jari dan memanggil para pengawal. Bahkan, Marco diapit dua bodyguard untuk diseret keluar.
Marco meronta- ronta. "Aku belum selesai bicara, Kaesang! Aku masih belum puas bicara! Jangan pernah menikah lagi, aku tidak sudi punya ibu tiri, apa lagi Allura!!"
"Dengar Kaes!"
Teriakan Marco menggaung, tetapi sayangnya ia hanya mendapatkan respon dingin dan hening dari seorang Kaesang.
"Aku rela kau coret dari kartu keluarga, bila perlu bunuh aku sekalian supaya dendammu terbalaskan Kaesang, tapi untuk Allura, jangan pernah kamu menyentuhnya!!"
...Marco🫂...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Yuyu sri Rahayu
nyesek aku thor masa anak dan bapak rebutan wanita yang bener saja ???/Sob/
2025-02-07
0
Nendah Wenda
bapaknya gila gak sadar sama takdir
2025-01-12
0
☠ȋ⏤͟͟͞Rἅyαyu𒈒⃟ʟʙᴄ🍂
tuh kan😌😌 ah ga like🤧🤧🤧
2024-10-16
0