BAB 004

"Putramu sedang ada di perusahaan sebelah, Tuan, kemarin aku melihat Tuan muda Marco bersama dengan fotografer cantik."

Ruangan ini didominasi warna hitam, glamour semi kontemporer. Entah apa nama konsep dari detilnya, yang pasti ruangan ini tampak luxury walau sederhana.

Perusahaan property yang sudah berdiri sejak tahun 80 an ini masih berdiri kokoh bahkan masih menjadi perusahaan incaran para pencari lowongan kerja karena benefitnya.

Perusahaan yang didirikan oleh keturunan darah biru, bangsawan Keraton Yogyakarta, yang dinikahi pria Italia, dan hingga sekarang keturunannya berwajah campuran.

Kaesang Narendra Wardhana, presiden direktur dari R-build. Pria 42 tahun itu dihadapkan pada foto- foto kemesraan sang putra mahkota bersama wanita matang.

"Aku tahu kamu merindukannya."

Ray Den Mas Rafael sang ayahanda sudah cukup sepuh, tapi untuk urusan kebugaran Ray Den Mas Rafael juaranya.

"Sesekali besuk cucuku, Kaes," sarannya.

"Dia sudah bukan putraku, Pi. Jadi kalau Papi masih menganggapnya cucu, itu urusan Papi sendiri. Bukan urusan Kaesang lagi!"

Kaesang bangkit dari kursinya, keluar tanpa bicara sepatah pun kata lagi. Ada hal yang membuat Kaesang tak mau memaafkan putra pertamanya, sesuatu yang menyakiti hatinya.

Kaesang memiliki watak keras, dan saat dia bilang tidak akan mengakui Marco sebagai putranya lagi, maka yang terjadi akan tetap seperti itu hingga ajalnya tiba.

Namun, meski Marco dan Kaesang sama kerasnya, Oma Alula tetap tidak bisa melihat cucunya menderita. "Marco pasti kesulitan di luar sana, Pi," lirihnya pada sang suami.

Ray Den terkekeh menenangkan. "Marco cucuku, Sayang, sesulit apa pun dia di luar sana, tidak akan dia jatuh miskin."

"Marco punya bakat, Marco punya keberanian, Marco punya otak yang cerdas. Lelaki dengan talenta sepertinya, tidak akan pernah miskin kecuali pemalas!" tambah Ray Den.

...\=\=~©®™~\=\=...

Di lain tempat, tepatnya di penthouse milik Allura, di sinilah Marco berdiri. Matanya terus menyisir seluruh ruangan hingga tidak tersisa satu sudut pun yang lari dari pandangannya.

"Jadi tugas ku cuma jadi pacar?" Setelah cukup mengamati tempat mewah ini, Marco kembali menatap Allura yang bergumam.

"Hmm."

"Berapa lama?" Marco memastikan. Andai masih lama pun, tidak masalah.

"Sampai aku bosan."

Marco tertawa. "Wah, wah, kau yakin akan bosan dengan ciuman ku Nona?"

Sialan, selain percaya diri yang begitu kuat, Marco amat berani mendekatinya. Bahkan, pemuda itu mencondongkan tubuhnya, menipis jarak sambil memejamkan mata seperti meminta sebuah kecupan bibirnya.

"Mau apa kau?" tegur Allura.

"Berburu tiga juta lagi." Marco menunjukkan pipinya untuk dikecup, tapi justru mendapat cubitan geram Allura. "Awh!"

Allura mendorong Marco yang mengusap pipi hingga terjatuh di sofa malas. "Kau hanya boleh mencium jika aku mau!" katanya ketus.

"Ini tidak adil!" Marco protes. Dan detik berikutnya, pemuda itu dibuat terdiam oleh lemparan kontak motor. "Kunci motor mu!"

"Waw, BMW."

Allura bertolak dari ruangan, ia memasuki area kolam renang. Diikuti Marco yang sebelumnya melompat bangkit dari sofa.

"Itu motor mantan suamiku."

"Oh." Marco manggut kecil. Ternyata dia hanya kebagian sisa Emmanuellson saja.

Baiklah, tapi, tak apa. "Hari ini hanya motornya yang berpindah padaku. Bisa jadi, besok cinta tulus mu yang masih untuknya berpindah padaku juga."

Allura menampar mulut itu dengan handuk yang terselampir di kursi santai. "Kau banyak bicara sekali!"

Marco tertawa- tawa. "Tapi, Nona. Aku penasaran. Apa yang membuat mu ingin memiliki pacar? Apa kau kesepian di rumah sebesar ini?"

Allura menghela napas, sejatinya bukan karena kesepian, ia hanya ingin memiliki kekasih agar tidak terlihat lemah di mata Emmanuelle dan Silviana.

"Aku hanya tidak suka memiliki hubungan yang serius. Tapi, aku ingin mantan suamiku tahu, bahwasannya aku sudah move on."

Marco terkekeh remeh. "Sandiwara rupanya, tapi baiklah kalau kau memaksa Nona, dan semoga setelah ini, kau tidak benar- benar jatuh cinta padaku."

Mendadak, Allura melirik tajam. "Aku bukan wanita sembarangan, kamu tahu, keluarga ku bisa saja membunuhmu, andai kau bersikap kurang ajar padaku."

"Atyuutt..."

Marco pernah mendengar tentang keluarga Allura yang amat sangat Killer. Yah, bahkan ayah dan kakek Marco sering perang tender dengan orang- orang ini.

Andai saja Allura tahu, dia ini cucu dari pemilik perusahaan sebelah yang menjadi pesaing bisnis kakeknya. Mungkin, Allura takkan bersikap baik padanya.

Ah, sudahlah, Marco tak ingin mengingat keluarganya, dia di sini bersukur karena bisa mendapatkan pekerjaan yang mudah dengan bayaran lima kali lipat gaji UMR perbulan.

Allura mengerut kening seketika Marco mendekati tubuhnya. Bahkan mundur secara perlahan sesaat setelah Marco melepas satu persatu kancing kemeja putih hingga menanggal celana jeans-nya.

"K-kau mau apa hah?" Allura melirik ke belakang, ada kolam renang. Dan dia akan terjatuh sebentar lagi.

Maka, yang dilakukannya hanya stop di tempat hingga Marco meraihnya. "K-kau hanya boleh menyentuh ku j-jika aku mau, Marco!"

Allura memejamkan mata karena embusan napas dan bibir Marco sudah mengenai leher jenjangnya. Bahkan, tubuhnya sudah bersatu dengan lelaki itu, kini.

Marco mengendus- endus, tapi saat Allura berdesah, pemuda itu justru menceburkan diri ke kolam renang. "Aku mau berenang."

Sontak, Allura mengembuskan napas lega, di tengah tawa cekikikan Marco di kolam sana, Marco pasti menertawakan canggungnya.

Sebelum berpisah dari Emmanuelle, kurang lebih hampir satu tahun lamanya Allura tak disentuh seorang lelaki. Emmanuelle sudah tidak memberikan hak sedari berhubungan dengan Silviana.

Mendapatkan rangsangan geli, membuat Allura melanglang pikirannya. Apa lagi, selain postur, aroma tubuh Marco juga seksi sekali.

Marco masih tertawa di kolam. "Ah, ahh. Aku suka desah mu, Nona."

Seketika, Allura menendang air agar cipratannya mengenai Marco. "Dasar kurang waras! Berondong stress!" cacinya.

Marco terkikik, kemudian Allura berlalu dari tempat itu. Di dalam, Patricia baru saja tiba setelah mengambil uang cash dari ATM.

"Mana Berondong manis ku?" tanyanya.

"Ada di kolam." Allura duduk di sofa, sementara Patricia curiga dengan rona pipi mulus Allura. "Pipi mu merah. Kau sakit?"

"Tidak."

Allura menyentuh pipinya, kemudian membuyarkan angan kotor yang barusan menyinggahinya dengan menggelengkan kepalanya.

Patricia menyingkap jendela, di kolam sana Marco berenang dengan cepat. "Renangnya lumayan juga ... Kalau secepat itu gerakan tangannya. Bagaimana jika di atas ranjang."

Allura melirik tajam, baru saja pikirannya dia bersihkan, sekarang Patricia membuatnya kembali memikirkan Marco dan ranjang.

"Pikiran mu kotor sekali!" hardik Allura.

Patricia hanya menertawakan Allura yang diam- diam juga melirik Marco. "Kau saja menelan ludah barusan!"

Terpopuler

Comments

🌺𝕭𝖊𝖗𝖊-𝖆𝖟𝖛𝖆🌺

🌺𝕭𝖊𝖗𝖊-𝖆𝖟𝖛𝖆🌺

lho lho ..Thor...ak baru baca kisah Luna yg baru lahiran lho... anknya kembar prempuan to kok ini Marco ank pertama lakik?apa ak slh baca ato gmn Thor?

2025-02-24

0

Sweet Girl

Sweet Girl

Ceritain dong biar kamu juga gak terlalu terbebani.

2025-01-26

0

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Lihat berondong aduhai.... siapa yang g tergoda!??🤭🤭🤭

2025-03-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!