Marco menanggalkan hoody, kaus hingga bertelanjang dada. Kemudian menyerang Allura dengan pagutan bibir.
Resort khas bangunan Sunda menjadi saksi betapa membaranya Marco ketika mencumbu wanita cantik itu. Bibir yang terus berpagutan secara lembut terdengar cecapan tipis.
Sesekali, Allura mendorong dada Marco, tetapi di kesempatan berikutnya, Allura menikmati setiap kecup bahkan sentuhan lelaki muda itu hingga tersudut pada daun pintu.
Telah lama Allura tak mendapatkan hangatnya perilaku intim. Kini, dia seolah tak rela membiarkan Marco terlepas dari tubuh yang haus akan belaian mesra.
Allura mendongak membiarkan bibir Marco merembet ke lehernya. Desah mulai jadi hal yang Marco sukai, pemuda itu lebih bergairah.
Bibir sudah tiba pada belahan dada, tangan yang hampir saja meraba masuk ke dalam celana berbahan ringan pendek Allura, pada akhirnya Marco hentikan.
Marco mundur dengan deru napas yang masih bergemuruh begitu kasar. Allura hanya diam menurut saat Marco mengusap bibirnya yang basah, kemudian membetulkan kemeja big size-nya.
"Will you marry me?" Wanita itu bergeming, menatap Marco yang juga begitu dalam menyelaminya.
"Jangan bercanda, my sugar boy!" Allura tertawa, lihatlah betapa gilanya pemuda tampan ini, sungguh luar biasa.
"Aku tidak bercanda, Allura! Sudah kubilang aku tidak sedang gombal atau semacamnya, aku benar- benar menyukai kedekatan kita, bahkan ingin memiliki mu sepenuhnya."
"Marco!" tukas Allura. Marco hanya menjawab lirih yang penuh tekanan. "Apa salahnya?"
"Tugasmu bukan untuk jatuh cinta padaku, mengerti kan? Aku cuma bayar kamu buat membuktikan ke Nuel dan Silviana, bahwa aku sudah bisa move--"
Marco melumat bibir Allura kembali, dan wanita itu bergeming sesaat. "Kamu biasa saja dengan ciuman ini?" tanya Marco.
Allura paham, yah, dia tidak biasa saja saat bercumbu dengan Marco. Allura memiliki rasa yang entah itu apa, tapi yang jelas dia nyaman dengan kecupan pemuda ini.
Sebelumnya, dia bahkan tak pernah mau bersentuhan dengan siapa pun. Allura jadi berpikir, mungkin ini terjadi karena dia sudah lama tidak bercinta.
Namun, menikah bukanlah hal yang perlu Allura lalui kembali. "Marco, kamu tahu kan, usia ku 10 tahun lebih tua darimu!" tegurnya.
"Apa masalahnya?" sela Marco. "Mommy Dad-- Mmh ... Bapak ibuku bisa saling mencintai meskipun lebih tua ibu."
Ada kata yang Marco ralat, tapi sepertinya Allura tidak begitu mengamatinya. Allura justru lebih fokus pada ajakan menikah pemuda gila itu.
"Jangan sia- siakan masa lajang mu hanya untuk wanita gagal move on sepertiku."
"Kau bisa move on, Sayang," desak Marco, asal ada kemauan, Allura tidak harus menyerah dulu.
"Andai bisa seperti itu." Allura tak yakin bisa melupakan Emmanuellson yang sudah cukup lama menepati hatinya. Dia bahkan hilang kepercayaan terhadap pernikahan.
Apa lagi dengan pemuda play boy. "Kasih aku kesempatan untuk menunjukkan keseriusan ku, Allura," kata Marco.
Tertunduk, Allura menggeleng. "Kau hanya kekasihku selama aku mau, dan kita masih akan berhubungan selama aku mau."
"But, I want to marry you!" paksa Marco.
Allura mengangkat pandangannya, tatapan lekat pemuda itu benar- benar menunjukkan bahwasanya dialah seseorang yang sedang berjuang keras untuk menikahi dirinya.
Seakan, menguncinya agar terus terkungkung dalam jerat matanya yang tulus. Ah, entahlah, Langit bilang, pemuda ini satu- satunya mahasiswa play boy di kampus selain Langit.
Walau tergiur dengan tubuhnya yang bidang, Allura tidak akan terlalu gegabah menerima pria sembarangan lagi kali ini. Bahkan, dia lebih suka menjanda seumur hidupnya.
"Aku tidak akan pernah menikah, apa lagi, dengan hati yang masih amat sangat mencintai mantan suamiku, Marco."
Allura meraih selimut, membukanya, dan perlahan masuk ke dalam sana. Sementara, Marco diam tergagu di tempatnya.
"Kau boleh tidur memeluk ku malam ini, tapi tidak perlu menikahi ku."
Marco mendengus, ia angkat bahu dengan pandangan yang terbuang frustrasi, kemudian ikut ikutan meraih selimut tebal Allura untuk segera memasukinya juga.
Allura tersenyum, merasai dekapan hangat kekasih bayarannya dari belakang. Bisikan sendu Marco memaksa Allura terkekeh.
"Kenapa kau keras kepala sekali, Allura?"
"Kau juga keras." Allura membicarakan hal lainnya, sesuatu yang mengganjal di pantat, dan Allura yakin itu senjata ekslusif Marco.
"Besar juga sepertinya," imbuhnya terkikik.
Marco berdecak kemudian merenggangkan miliknya dari tubuh Allura. Yang mana, itu membuat Allura tertawa saat berbalik arah untuk berbaring menatapnya.
"Kenapa? Kamu takut aku merenggut perjaka mu hmm?"
"Kau boleh perkosa aku sepuas mu, jika kau berkata setuju untuk aku nikahi."
Allure tertawa lebih geli. "Tidurlah, Marco, aku tidak akan memaksa mu, kecuali kau yang memintanya padaku."
"Kamu menantang ku?" Marco meremas pinggang Allura yang lalu mendapatkan pukulan tangan Allura. "Sakit, Allura!"
"Tidur saja makanya!" Allura tak kalah teriak.
...\=\=~©®™~\=\=...
Pagi berselimut embun mengudara, di balik selimut putih nan tebal, Marco tidur dengan pulas hingga terik yang menerjang masuk ke ruangan, membuatnya beranjak dari mimpi.
"Allura?!" Marco berjingkrak, menatap ke sekeliling yang kosong. "Sayang?!"
Marco menyingkirkan selimut lalu berlari ke kamar mandi yang juga tak ada satu orang pun, ia lantas keluar dari kamar dan bertanya pada pihak penginapan.
"Nona Allura sudah check out."
Marco mendengus dingin. Semalaman dia memeluk Allura begitu nyaman, dan sialnya Allura cepat- cepat pergi dari hotel bahkan tidak membangunkan dirinya.
Marco kembali ke kamar hotelnya. Wajah menunduk, kaki jenjangnya berjalan gontai tak bersemangat, beberapa orang yang berpapasan menatap dada bidang jernihnya.
Di sela langkah, Allura menelepon ponsel yang digenggam. Tak banyak asumsi, Marco segera mengangkat. "Kamu di mana?"
📞 "Maaf pergi lebih dulu. Tapi, terima kasih pelukan hangatnya semalam, ya. Mulai sekarang, kau tidak perlu bekerja lagi."
"ALLURA!" Marco berteriak setelah panggilan dimatikan, tak peduli perhatian semua orang yang ada di sana tengah berpusat padanya.
...\=\=~©®™~\=\=...
Bukan Marco jika diam tak bergerak disaat dia inginkan sesuatu. Siapa Allura ini? Berani beraninya membuatnya candu lalu pergi.
Marco kembali ke Jakarta dengan motor gede pemberian Allura, penthouse yang pertama kali dia datangi. Sayangnya, tempat itu sepi tak lagi berpenghuni.
Marco yakin Allura kembali ke rumah utama keluarganya. Yah, Marco harus mencari tahu lewat teman- temannya di kampus.
Walau terlambat Marco datangi kampus dan menanyai banyak mahasiswa. Banyak yang tidak tahu rumah Langit, bahkan hingga sore menyemburkan jingga sang senja, Marco tak bisa temukan alamat rumah Langit Anggoro.
Cuaca sudah mendung, dia masih termenung di bangku perpustakaan sampai langkah heels terdengar mendekati duduknya. Gadis itu tersenyum ramah padanya.
"Aku dengar, kamu lagi nyari alamat rumah Langit, ya?" Marco mengangguk, lantas menerima uluran kertas dari gadis itu.
"Tapi aku butuh uang, tolong beri aku lima juta untuk alamat rahasia ini."
Tak banyak bicara, Marco meraih dompet lalu mengeluarkan Satu JT rupiah. "Aku tidak punya uang lagi, hanya ini yang tersisa. Jadi, aku tambah kiss dariku untuk mu, Nona!"
Gadis itu tercenung mendapatkan kecupan di pipinya yang lekas diraba. Marco berlari berlompatan saat keluar dari ruangan yang sudah hampir tiada lagi manusianya.
"I'm coming, mertua!" Kertas alamat itu Marco cium saking bahagianya. Malam ini, Allura harus melihat keseriusannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Yuyu sri Rahayu
marco sat set kaya king yach ingin menikahi alulla
2025-02-07
0
yeni NurFitriah
Waduh nekat juga si Marco datang ke rumah Esa.
2024-12-11
0
Nendah Wenda
pakai kiss segala marco
2025-01-12
0