Nightclub

“Oooh, begitu ceritanya,” Intan mengangguk-angguk, akhirnya mengerti. “Pantes si Dion tiba-tiba sok akrab banget sama lo waktu hari pertama dia sekolah,” lanjutnya dengan nada puas.

“Tapi gue masih bingung, ngapain nyokap lo ngajak liburan bareng Dion sama mamanya?” tanya Intan lagi, masih penasaran dengan maksud di balik liburan mendadak ini.

“Gue juga nggak tahu. Ya udahlah, nikmatin aja, Tan. Kapan lagi kita liburan ke Bali kayak gini,” jawab Karina santai, tak mau terlalu memikirkan motif di balik rencana itu.

...****************...

Pagi harinya, Ibu Mira dan Tante Sindy sudah siap untuk pergi ke pantai, lengkap dengan topi lebar dan pakaian pantai cerah mereka. Dari lantai satu villa, Tante Sindy memanggil dari bawah, “Karina, Intan, Dion, ayo cepat siap-siap! Kita mau ke pantai!” teriaknya dengan penuh semangat, membangunkan mereka yang masih terlelap di lantai dua.

“Aduh, masih pagi banget, gue masih ngantuk...” keluh Karina sambil menutupi wajahnya dengan selimut, merasa terganggu oleh teriakan dari bawah.

"Rin, ayo cepet bangun, nanti nyokap lo marah," ujar Intan sambil menarik selimut Karina, mencoba membangunkannya.

Tapi Karina hanya bergumam pelan, “Lo aja yang turun, gue masih mau tidur.

“Yaudah deh, gue tinggalin. Gue mau ke pantai,” jawab Intan sambil mengangkat bahu, akhirnya menyerah. Dia pun keluar dari kamar, meninggalkan Karina yang masih meringkuk di tempat tidur.

Setibanya di lantai bawah, Ibu Mira langsung bertanya, “Intan, mana Karina?”

“Masih tidur, Tante. Susah banget dibangunin dia,” keluh Intan sambil menggeleng pelan.

Ibu Mira hanya menghela napas panjang. “Ya sudah, biar Ibu yang bangunin dia,” ujarnya tegas, bersiap untuk memanggil putrinya dengan cara yang lebih efektif. Bu Mira naik ke lantai dua untuk membangunkan Karina. Di tangga, ia berpapasan dengan Dion yang baru saja keluar dari kamarnya.

"Eh, Dion udah bangun ya. Ibu mau minta tolong, bangunin Karina, soalnya ibu masih ada kerjaan di bawah. Bisa tolong bangunin dia?" ujar Ibu Mira tiba-tiba.

Dion merasa sedikit bingung, tetapi tidak bisa menolak. "O-oke, Bu," jawab Dion ragu, lalu menuju kamar Karina. Dengan pelan, ia membuka pintu dan melihat Karina masih terlelap.

"Karina, bangun," panggil Dion pelan. Namun setelah beberapa menit berusaha membangunkannya, Karina tetap tidak bergeming.

"Ya ampun, kebo amat nih orang," keluh Dion. Dia lalu melihat segelas air di meja. Terlintas ide iseng di benaknya.

"Ciprat!" Dion menyipratkan air ke wajah Karina. "Ugh, apaan sih, Tan?" Karina langsung terbangun, kaget, dan mengomel, sambil mengusap wajahnya yang basah. "Dion? Ngapain lo di sini?" tanyanya bingung melihat Dion yang berdiri di samping tempat tidurnya.

"Tadi disuruh bangunin lo sama Ibu Mira," jawab Dion, sedikit merasa bersalah. "Intan ke mana?" tanya Karina sambil melihat sekeliling kamar.

"Udah di bawah dia," jawab Dion, kemudian cepat-cepat keluar dari kamar, tak ingin menambah kemarahan Karina.

Setelah akhirnya bangun dan bersiap-siap, Karina turun ke lantai bawah. Mereka semua Karina, Intan, Dion, Ibu Mira, dan Tante Sindy bersiap pergi ke pantai yang letaknya tidak jauh dari villa.

Sebelum bermain di pantai, mereka mencari tempat makan di sekitar pantai untuk sarapan. Restoran itu memiliki pemandangan yang langsung menghadap ke laut, memberikan suasana tenang dan segar.

Saat mereka menikmati sarapan, Ibu Mira memulai obrolan, "Gimana, Dion? Seru nggak sekolah di Jakarta?" Dion tersenyum kecil, sambil menjawab, "Lumayan seru, Bu. Banyak yang baru buat saya."

"Bagus kalau gitu. Semoga betah ya di Jakarta," kata Ibu Mira dengan penuh harap. Selesai sarapan, tiba-tiba Tante Sindy mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Semua mata tertuju padanya, penasaran dengan apa yang akan dilakukan Tante Sindy.

Pagi itu, Tante Sindy tiba-tiba mengeluarkan beberapa tiket dari tasnya dan menyerahkannya kepada mereka.

“Nih buat kalian,” katanya sambil tersenyum. “Wiihhh, party nih!” seru Intan dengan antusias, langsung mengambil tiket tersebut tanpa ragu. “Mumpung lagi di Bali, kalian nikmatin liburannya!” tambah Ibu Mira sambil tersenyum. Karina, yang belum pernah ke tempat seperti nightclub sebelumnya, tampak ragu. Dia memandang tiket itu dengan sedikit cemas.

"Emang boleh, Bu?" tanya Karina, menatap ibunya.

"Yah, boleh lah. Kalian kan sudah legal, sekali-sekali nggak apa-apa menikmati liburan di Bali," jawab Ibu Mira dengan santai, memberikan izin yang tak terduga. Intan, yang paling bersemangat di antara mereka, langsung berteriak, “Let's go party, cuyyy!” Ekspresinya penuh kegembiraan, sudah tak sabar untuk bersenang-senang.

...****************...

Malam harinya, Karina dan Intan sudah siap untuk pergi ke klub. Karina, meskipun awalnya ragu, akhirnya tampil dengan pakaian yang cukup seksi—memperlihatkan pahanya yang mulus serta sedikit belahan dadanya. Di sisi lain, Intan tetap konsisten dengan gaya tomboynya, mengenakan celana jeans robek-robek dan jaket oversized. "Wow, Karina, lo seksi banget malam ini," komentar Intan dengan nada menggoda.

Karina hanya tersenyum malu. "Biasa aja kali, Tan. Gue nggak biasa dandan kayak gini."

“Ah, santai aja, Rin. Sekali-sekali nggak apa-apa, kita kan di Bali. Ayo nikmatin malam ini!” kata Intan dengan penuh semangat. Dion, yang juga bersiap untuk pergi bersama mereka, melihat Karina dengan tatapan yang sulit ditebak. Ada kekaguman di matanya, tapi dia tak mengucapkan sepatah kata pun, hanya tersenyum samar.

Mereka pun siap untuk memulai malam penuh keseruan di Bali. Karina dan Intan, yang baru pertama kali menginjakkan kaki di nightclub, langsung merasa canggung. Mereka berdiri di tengah keramaian yang penuh lampu warna-warni, musik yang menggema, dan orang-orang yang berpakaian lebih terbuka dari biasanya. Karina menarik napas, merasa sedikit menyesal mengikuti ide ini.

“Nyesel gue nurut sama lo, ini bajunya terbuka banget,” omel Karina sambil menatap sekeliling dengan gugup.

“Ah, ini kan nightclub, wajar dong pakai baju begini. Kali aja ada cowok yang nyangkut,” jawab Intan dengan santai, mencoba meyakinkan Karina bahwa semuanya normal.

Namun, kebingungan mereka semakin menjadi-jadi ketika Dion tiba-tiba pergi untuk mengangkat telepon. Dion adalah satu-satunya yang sudah akrab dengan dunia klub malam, dan sekarang dia menghilang entah ke mana. “Tan, kita harus ngapain sih di sini? Gue beneran ga ngerti,” tanya Karina, merasa makin gugup.

Intan mencoba menebak-nebak, “Kayaknya kita cuma harus joget-joget aja, Rin.” Dengan ekspresi kikuk, Intan mulai mencoba menari mengikuti irama musik yang keras.

Karina tertawa kecil melihat gerakan Intan yang aneh. “Joget lo kayak cacing kepanasan, Tan,” sindirnya sambil tersenyum geli.

“Terserah, yang penting jogetin aja! Biar nggak keliatan aneh,” jawab Intan tanpa peduli, tetap asyik dengan gerakan canggungnya. “Lagipula, si Dion ke mana sih? Kok ditinggalin gini?” Intan mulai kesal, melirik sekeliling mencari Dion yang tak juga kembali.

Karina menghela napas, setengah frustasi dan setengah ingin tertawa melihat situasi yang aneh ini. Dia merasa tidak nyaman berada di klub tanpa bimbingan Dion, tapi juga tak mau merusak malam dengan terus mengeluh.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!