Balikan

Tiba di Butik Ibu Mira Setibanya di butik, Karina dan Dion masuk bersama, meski wajah Karina masih menunjukkan guratan kesedihan yang belum bisa ia sembunyikan. Ibu Mira, yang kebetulan berada di depan, tampak terkejut melihat Karina diantar oleh Dion.

"Aduh, Dion, makasih banget udah nganterin Karina," ucap Bu Mira dengan senyum hangat.

"Hehe, iya, Bu. Sama-sama, sekal

ian mau ambil baju juga," jawab Dion dengan ramah. "Oh, iya. Bentar ya, Ibu ambilin dulu," kata Bu Mira sambil berlalu ke bagian belakang butik untuk mengambil baju pesanan Dion.

Sementara menunggu, Dion melirik ke sekeliling butik. Namun, Karina yang tadi masuk bersamanya, kini entah ke mana. Dia mengernyit heran, mencari-cari dengan matanya.

"Lah, Karina kemana?" gumamnya dalam hati, merasa aneh karena Karina tiba-tiba menghilang.

Tak lama kemudian, Bu Mira kembali dengan membawa baju pesanan Dion. "Nih, Dion, bajunya udah jadi. Semoga suka ya," katanya sambil menyerahkan baju hasil desainnya.

"Pasti, Bu. Udah langganan di sini, selalu puas sama hasilnya," balas Dion sambil tersenyum, memeriksa baju itu sekilas. Namun, pikirannya masih terpaku pada Karina yang tiba-tiba menghilang.

Bu Mira, yang juga menyadari Karina tidak ada di sekitar mereka, ikut celingukan.

"Eh, tadi Karina mana ya? Kok gak ada?"Dion menggeleng pelan, masih bingung. "Gak tau, Bu. Saya aja baru sadar dia ngilang."Bu Mira tampak bingung, tapi tidak ingin terlalu memikirkan hal itu.

"Oh, yaudah deh. Dion, makasih ya udah nganterin Karina," ucap Bu Mira dengan senyum ramah.

Dion mengangguk sambil melihat jam tangannya. "Iya, Bu, saya pamit dulu ya. Masih ada pemotretan abis ini."Hati-hati di jalan ya, Dion. Makasih udah anterin Karina," balas Bu Mira sebelum Dion pergi.

Dion melangkah keluar butik, kepalanya masih dipenuhi tanda tanya tentang ke mana perginya Karina, tapi dia memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya.

...****************...

Di sisi lain, Karina sedang duduk di sudut kamarnya, wajahnya basah oleh air mata yang terus mengalir tanpa henti. Setelah Dion mengantarnya ke butik ibunya, Karina langsung pulang ke rumah, menutup diri di kamarnya, dan membiarkan rasa sedih yang selama ini ia tahan akhirnya meledak.

"Dasar cowok brengsek!" umpat Karina dengan suara bergetar. "Tai, kutu kupret! Bisa-bisanya dulu gue sayang banget sama dia..." suaranya semakin parau, terputus-putus di antara isak tangis. "Hiks..." Kring! Tiba-tiba, bunyi handphone-nya memecah keheningan kamar. Karina mengusap wajahnya, berusaha menenangkan diri, lalu mengambil ponselnya.

Pesan masuk

"Karina, gue mau ngomong sesuatu. Kita ketemu di kafe biasa."Pesan itu dari Ricky. Karina terdiam, perasaannya campur aduk. Ia menatap layar ponselnya dengan bingung. Ini pertama kalinya Ricky menghubunginya lagi setelah mereka putus, dan Karina tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Tapi, meski hatinya masih sakit, ada bagian kecil dalam dirinya yang ingin tahu apa yang akan Ricky katakan.

"Oke, gue dateng," balas Karina singkat, meski hatinya ragu. Ia pun mulai bersiap-siap, menyeka air matanya, merapikan rambut, dan mengganti pakaian. Ketika hendak keluar dari rumah, ponselnya kembali berbunyi. Kali ini dari Intan.

Pesan masuk

"Rin, gue mau nginep di rumah lo."Karina menarik napas panjang, matanya memandang pesan itu dengan kosong. Ia tahu Intan hanya ingin ada di sisinya, tapi saat ini pikirannya penuh dengan Ricky. Tanpa berpikir panjang, ia membalas pesan itu.

"Iya."Jawabannya singkat dan terburu-buru, karena dalam hatinya, ia hanya fokus pada satu hal: bertemu Ricky.

...****************...

Di Kafe

Ricky sudah duduk di sudut kafe, matanya menatap gelisah ke arah pintu. Tak lama kemudian, Karina tiba dengan langkah pelan, tatapannya masih basah oleh sisa-sisa air mata yang ia tahan sepanjang perjalanan. Tanpa basa-basi, ia langsung menghampiri Ricky, wajahnya dingin, penuh ketegangan.

“Mau apa lo ngajak gue ketemu di sini?” Karina bertanya sinis, suaranya gemetar, namun tegas.

Ricky menarik napas dalam, lalu dengan nada datar tapi berani, ia berkata, “Gue mau ngajak lo balikan.”

Karina tertawa kecil, penuh kepahitan.

“Gue nggak salah denger, kan? Kemarin lo baru selingkuhin gue, dan sekarang lo ngajak gue balikan?” Matanya menyipit, seolah mencoba memahami betapa tak tahu malunya Ricky bisa berkata seperti itu.

“Maafin gue, Rin,” Ricky memohon, suaranya lebih lembut. “Gue khilaf. Gue bisa putusin Cila sekarang, asal lo mau balikan sama gue.

”Karina terdiam. Ada sejenak rasa goyah dalam hatinya. Bagian kecil dari dirinya ingin mempercayai kata-kata Ricky. Tapi, saat itu juga, ingatan tentang apa yang terjadi pada malam itu kembali menghantam benaknya seperti gelombang yang menyapu habis apa pun di jalannya.

...****************...

Flashback

Malam itu, seharusnya menjadi malam istimewa bagi Ricky. Malam ulang tahunnya. Karina, yang ingin memberi kejutan, diam-diam keluar dari rumahnya meski bu Mira melarangnya pergi di malam hari. Ia tahu Ricky pasti senang. Namun, yang ia temukan bukanlah kebahagiaan, melainkan penghancuran hatinya yang paling dalam.

Di depan markas genk motor Ricky, Karina melihat dengan mata kepalanya sendiri. Ricky cowok yang ia cintai sedang bersama Cila, tangan mereka saling menggenggam. Dadanya sesak. Tanpa pikir panjang, ia langsung melabrak mereka.

“Ricky! Gue nggak nyangka lo bisa selingkuhin gue. Gue kurang apa sih buat lo?” tangis Karina pecah, air mata mengalir deras di pipinya. Ricky menatapnya dengan dingin, tak ada rasa bersalah di wajahnya.

"Lo tuh nggak asik, Rin. Susah diajak kemana-mana. Gue berasa nggak punya pacar," ujar Ricky tanpa perasaan, membuat Karina terhenti di tempat. “Beda sama Cila, dia bisa nemenin gue kapan aja, lebih perhatian. Jadi, ya... mending kita putus aja.”

Kata-kata itu menghantam Karina seperti belati tajam. Membuatnya sadar betapa rendahnya ia diperlakukan oleh orang yang dulu ia anggap sebagai cinta pertamanya.

...****************...

Kembali ke Kafe Karina menarik napas panjang, mencoba menenangkan hatinya. Ingatan itu begitu jelas di benaknya, dan rasa sakitnya masih terasa segar. Tatapan matanya kembali tajam, tak lagi ada keraguan.

“Gue udah denger semua alasan lo, Ricky. Tapi gue bukan cewek yang bakal terjebak dua kali di lubang yang sama.” Karina berkata pelan tapi penuh ketegasan. “Lo udah pilih Cila, dan sekarang lo harus tanggung jawab sama keputusan lo.

”Ricky terdiam, tak menyangka Karina akan bersikap sekeras ini. Karina bangkit dari kursinya, menatap Ricky untuk terakhir kalinya sebelum berbalik pergi.

“Gue nggak butuh cowok yang nggak tahu apa artinya setia,” ujar Karina dingin, meninggalkan Ricky yang hanya bisa terdiam di tempat. Ingatan tentang bagaimana Ricky dengan kejam memutuskan hubungannya membuat Karina semakin yakin dengan keputusannya.

Ketika Ricky memintanya kembali, ia hanya menjawab singkat, “Nggak, gue nggak mau,” dengan nada tegas dan dingin. “Ada lagi yang mau lo omongin?” tanya Karina sambil mengangkat sebelah alisnya, mempertegas sikapnya.

Ricky terdiam. Ia tidak menyangka Karina akan menolaknya secepat itu. Dalam hubungan mereka yang berlangsung selama dua tahun, Karina sering memaafkan Ricky, bahkan ketika mereka sempat putus beberapa kali. Tapi kali ini, perselingkuhan Ricky adalah sesuatu yang tidak bisa lagi dimaafkan oleh Karina. Baginya, "Kesalahan dalam hubungan masih bisa dimaafkan, kecuali perselingkuhan." Itu adalah prinsip yang selalu ia pegang teguh.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!