Murid Baru

Dion buru-buru melaju dengan mobil, perasaan panik menyelimuti. Sudah terlambat. Alisha pasti marah. Dia pacarku sejak dua tahun lalu, model terkenal dengan kulit tan eksotis dan tubuh sempurna—sosok yang selalu menuntut perhatian.

Mobil berhenti di depan mall. Di sana, Alisha berdiri dengan wajah kesal, jelas terlihat sudah lama menunggu.

"Sha, sorry... gue telat," kataku sambil keluar dari mobil, merasa bersalah. Alisha menatapku tajam.

"Kebiasaan banget, telat lagi!" gerutunya sambil masuk ke mobil, menyerahkan tas belanjanya untuk kusimpan di bagasi. Dia duduk tanpa berkata apa-apa.

Selama beberapa menit, hanya keheningan yang menyelimuti Dion dan Alisha. Rasanya semakin menyesakkan. Dion tahu, Dion harus memecahkan kebekuan ini.

“Sha, gimana hari ini? Belanja apa aja?” tanyaku, mencoba memulai percakapan, meskipun terdengar kaku.

“Biasa, baju sama tas. Tapi minggu depan ada keluaran terbaru, limited edition. Tambahin uang belanja ya,” jawabnya tiba-tiba dengan nada manja, seperti lupa akan kekesalannya tadi.

Dion tersenyum kecil, merasa lega walau masih ada sedikit rasa bersalah. “Iya, nanti aku tambahin. Tapi, jangan bad mood lagi ya.”Dion tahu Alisha suka belanja, dan aku selalu berusaha memanjakannya dengan uang, meskipun waktu yang bisa kuhabiskan bersamanya selalu terbatas.

...****************...

Sementara itu, Karina sudah mulai merasa mengantuk. Sejak tadi dia hanya duduk mendengarkan obrolan ibunya dan Tante Sindy yang seolah tak ada habisnya. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan Karina tak lagi sanggup mengikuti alur percakapan yang sepertinya akan terus berlanjut.

“Ibu, Tante, kayaknya aku harus tidur duluan deh. Besok pagi aku harus sekolah,” ucap Karina, suaranya sedikit serak karena kantuk yang mulai menguasai.

“Oh, ya sudah, Sayang.

Tidur saja. Eh, besok tante titip Dion ya di sekolah. Kalau dia bolos, laporin aja ke tante!” kata Tante Sindy sambil tersenyum penuh arti.

Karina hanya tersenyum kecil. “Tapi kan belum tentu aku sekelas sama Dion, Tan. Hehe,” jawabnya ringan, mencoba menutupi kantuk yang semakin berat.

“Ah, itu gampang. Tante bisa urus, nanti Dion bakal sekelas sama kamu,” jawab Tante Sindy santai.

“Hehe, iya, Tante,” balas Karina, kini suaranya mulai terdengar lemas. Matanya setengah terpejam.

“Ya sudah, Karina, tidur yang nyenyak ya. Selamat malam,” ucap ibunya sambil tersenyum penuh kasih.

“Iya, Bu. Selamat malam, Tante,” pamit Karina sebelum melangkah ke kamar.

Begitu pintu kamar tertutup, Karina segera merebahkan diri di kasur, berharap cepat tertidur setelah hari yang melelahkan.

...****************...

Keesokan Harinya di Sekolah

Karina berjalan lesu melewati koridor sekolah. Kurang tidur akibat malam yang panjang membuat tubuhnya terasa berat. Saat hendak memasuki kelas, tiba-tiba terdengar teriakan dari belakang.

“Karinaaa, tunggu!” Suara nyaring itu milik Intan, yang berlari-lari mengejarnya. Karina menghela napas, matanya berputar kesal.

“Kenapa sih, Tan? Lo teriak-teriak mulu, kepala gue bisa pecah dengerin lo tiap hari,” omelnya, berusaha menahan rasa jengkel yang muncul.

“Bawel amat, sini liat deh!” Intan tak mengindahkan protesnya, menarik tangan Karina dan menyeretnya ke arah gerbang sekolah.

“Ngapain lagi sih balik ke sini?” keluh Karina yang tadinya sudah hampir sampai ke kelas. Namun, begitu mereka sampai di gerbang, Intan berhenti dengan tatapan terpaku.

“Liat, Rin, ganteng banget kan?” Intan berbisik penuh kekaguman sambil menunjuk ke arah seorang pria yang baru saja memasuki gerbang.

Karina mengerutkan kening, masih bingung dengan sikap temannya. Di depan mereka, sekelompok siswa tampak berkerumun di sepanjang lorong sekolah. Seolah-olah ada selebriti yang datang, keramaian itu membuat suasana menjadi hiruk-pikuk.

Di tengah kerumunan, seorang pria melangkah dengan percaya diri. Wajahnya tampan, tinggi, dan senyum tipisnya membuat siapapun yang memandang terkesima. Seluruh perhatian tertuju padanya, seakan dunia berhenti sejenak hanya untuk memperhatikannya lewat.

Karina menatap sosok itu dengan ekspresi datar, tak yakin mengapa semua orang begitu terpana. Intan di sampingnya tampak berbinar-binar, seperti tak ingin melewatkan setiap detik dari momen itu. Semua orang berkerumun di lorong sekolah, seolah ada penyambutan presiden. Sosok tampan itu berjalan dengan penuh percaya diri, membuat setiap pasang mata yang melihatnya tak bisa berpaling.

Pria tersebut adalah Dion Mahendra, seorang artis pendatang baru yang sedang naik daun. Kabar bahwa Dion mulai bersekolah di SMA Maju Bangsa telah membuat seluruh sekolah gempar, termasuk Intan, yang tak henti-hentinya mengagumi Dion sejak tahu dia akan bersekolah di tempat yang sama.

"Karina, liat deh! Cakep banget kan?" seru Intan sambil memandangi Dion yang berjalan di antara kerumunan, matanya berbinar-binar. Karina hanya diam. Dia tidak terpesona seperti orang-orang di sekitarnya. Baginya, Dion hanyalah wajah populer yang sedang digilai banyak orang—tidak lebih. Tapi Intan? Dia jelas terpikat habis-habisan.

Di tengah keramaian, tiba-tiba sorot mata Dion bergerak, seolah mencari seseorang. Dan saat matanya bertemu dengan sosok yang dicarinya, dia langsung melangkah mantap ke arah itu. Tanpa peringatan, dia menarik tangan seorang gadis.

"Eh, mau dibawa ke mana, Karinaa?" teriak Intan kaget melihat Dion menarik Karina begitu saja.

Karina, yang sama sekali tidak menyangka akan ditarik seperti itu, hampir kehilangan keseimbangan. Sementara semua mata kini tertuju padanya, bisik-bisik mulai terdengar.

"Lihat deh, si Karina! Ada hubungan apa dia sama Dion?“Ada apa nih? “Kenapa Dion bisa kenal sama dia?” Karina semakin jengah dengan perhatian yang mendadak terpusat padanya. Dengan nada kesal, dia menepis tangan Dion.

"Eh, lo ngapain tiba-tiba tarik-tarik gue?" Dion menoleh dan menjawab dengan santai, seolah tidak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitarnya. "Anterin gue ke ruang kepala sekolah."

Karina menatapnya, bingung campur kesal. "Ya udah, tapi lepasin dulu tangan gue! Malu diliatin orang-orang begini!" ujar Karina dengan nada tak nyaman. Dion pun melepaskan tangannya, tapi tetap berjalan di samping Karina, meninggalkan kerumunan yang kini penuh dengan rasa penasaran dan spekulasi.

Karina berjalan di samping Dion, mengantarkannya ke ruang kepala sekolah dengan perasaan tidak nyaman. Tatapan tajam para siswa mengikuti setiap langkah mereka, membuat Karina merasa tertekan dan sedikit takut. Sesampainya di depan pintu ruang kepala sekolah, Karina berhenti.

"Tinggal masuk aja. Gue mau balik ke kelas," ujarnya dingin, mencoba segera melepaskan diri dari situasi yang membuatnya resah.

Namun, sebelum Karina sempat melangkah pergi, Dion tiba-tiba menarik tangannya.

"Bentar, tungguin gue di sini. Gue nggak tau kelas gue di mana," katanya dengan nada memaksa. Karina menatapnya dengan tatapan sinis.

"Bisa nanya kan? Cari aja sendiri," jawabnya tajam sebelum akhirnya melepaskan diri dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi.

Sementara itu, di sekitar sekolah, bisik-bisik mulai muncul. Para siswa dengan cepat membicarakan kedekatan Karina dan Dion, artis populer yang baru saja bergabung di sekolah.

“Gila, ya. Baru kemarin putus dari Ricky, sekarang udah deket sama artis! Cepet banget move on-nya,” gumam salah satu siswa dengan nada iri. Gosip itu segera menyebar, sampai akhirnya terdengar oleh Ricky dan Cila, yang sedang sarapan di kantin bersama geng mereka.

“Wih, cepet juga ya si Karina move on,” kata Agas, teman Ricky, sambil melirik ke arah Ricky yang wajahnya mulai memerah, namun dia tetap terdiam.

“Baguslah, jadi nggak ada yang ganggu hubungan gue sama Ricky lagi,” ucap Cila sambil tersenyum puas, matanya melirik Ricky seakan memastikan bahwa Karina tak lagi menjadi ancaman.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!