Karina tertawa getir, tapi Intan malah terlihat semakin serius. "Apa jangan-jangan lo bener-bener udah diapa-apain sama dia?" tanya Intan, panik.
"Enggaklah, gila lo. Ya meskipun dia pernah ngajak, tapi sumpah, Tan, gue tolak ajakannya kok," ujar Karina, menggeleng cepat, berusaha meyakinkan Intan.
Tanpa basa-basi, Intan menarik tangan Karina. "Ayo, kita labrak Ricky di kelasnya," ucap Intan tegas, mengabaikan rasa takut Karina. Dia adalah sahabat terbaik yang Karina punya, dan mereka sudah berteman sejak SMP. Intan, dengan gaya tomboy dan sikap tegasnya, selalu ada untuk membela Karina.
"Tapi gue takut, Tan," Karina berkata dengan suara lirih, sementara tangannya masih ditarik oleh Intan menuju kelas Ricky.
"Nggak ada tapi-tapian! Gue nggak tahan lagi. Gue mau labrak itu cowok biar semua orang tau dia brengsek! Biar dia malu sekalian," geram Intan, wajahnya dipenuhi amarah.
Sesampainya di depan kelas IPS 1, Karina dan Intan langsung disuguhi pemandangan yang semakin menghancurkan hati Karina. Di sana, Ricky sedang duduk bersama Cila, tertawa dan bercanda tanpa beban, seolah tak ada yang salah.
Tatapan Karina mengabur oleh air mata yang mulai mengalir. Pemandangan itu terasa menusuk hati Karina. Cila, selingkuhan Ricky, terlihat bersandar manja di bahu Ricky, memeluk lengannya dengan mesra. Hati Karina semakin hancur melihatnya, sementara Intan yang berdiri di sebelahnya sudah tak bisa lagi menahan amarah.
"Heh, Ricky brengsek! Sini lo!" teriak Intan dengan suara lantang yang memecah keheningan kelas. Seketika, seluruh mata di kelas itu beralih ke arah Intan dan Karina, terkejut oleh teriakan menggelegar yang mengisi ruangan.
Ricky mengangkat kepalanya, wajahnya segera berubah sinis. "Mau apa lo kesini? Ganggu kedamaian kelas orang aja. Suara cempreng lo bikin sakit kuping," bentaknya, tanpa rasa bersalah sedikit pun, malah semakin menunjukkan sikap sombongnya.
"Eh lo! Manusia gak tau malu! Sini cepetan! Anjing lo!" teriak Intan, marah besar, menantang Ricky untuk mendekat.
Ricky berdiri dari kursinya dengan gaya angkuh, melangkah menghampiri Intan dan Karina yang masih berdiri di ambang pintu.
"Gue rasa gue tau tujuan kalian kesini. Cuman mau bikin ribut, kan? Lagian lo, Intan, apa sih ikut campur urusan gue sama Karina? Caper lo?" Ricky menyindir, senyumnya penuh ejekan.
"Dih, ngapain gue caper sama lo? Yang ada, lo harus minta maaf sama Karina! Bisa-bisanya lo selingkuhin dia!" Intan membalas, suaranya penuh kemarahan. Kedua remaja itu saling beradu mulut, tidak ada yang mau mengalah.
Sementara itu, Karina yang berada di belakang Intan semakin terhimpit oleh rasa sakit dan kecewa. Tubuhnya bergetar, air matanya tak tertahankan lagi. Tapi alih-alih ikut melawan, Karina justru bersembunyi di balik tubuh Intan, wajahnya tampak pucat.
Tanpa peringatan, tubuh Karina mulai melemas. Perlahan-lahan, lututnya tak lagi kuat menahan beban, dan dalam hitungan detik, Karina tergulai ke lantai.
Intan dan Ricky masih sibuk beradu mulut, sama sekali tidak menyadari kalau Karina sudah pingsan. Di sudut ruangan, Anton, salah satu teman sekelas Ricky yang sedang asyik membaca buku, adalah orang pertama yang menyadari kejadian itu.
"Eh, goblk! Itu Karina pingsan, lo berdua banyak bacot anjng!" teriak Anton, membentak Intan dan Ricky yang larut dalam perdebatan sengit. Suara Anton membuat mereka tersentak, dan Intan segera berbalik melihat Karina yang terkulai di lantai.
"Rin, lo kenapa?" teriak Intan panik, sambil berusaha menyadarkan Karina. Tangannya mengguncang-guncang bahu Karina, tapi tidak ada respons.
“Ton, tolongin gue bawa Karina ke UKS!” Intan meminta bantuan Anton, yang segera menghampiri dan mengangkat Karina dengan hati-hati.
Sesampainya di UKS, Intan duduk di sebelah Karina, menggenggam erat tangan sahabatnya yang masih belum sadar. "Rin, maafin gue, gue lupa lo punya trauma," sesal Intan, suaranya terdengar pelan dan penuh rasa bersalah.
Trauma masa kecil yang Karina alami karena kekerasan rumah tangga dari ayahnya selalu membuat tubuhnya bereaksi terhadap konflik keras, menyebabkan serangan kecemasan hingga kehilangan kesadaran.
Setelah lebih dari satu jam, Karina akhirnya sadar. Matanya perlahan membuka, tangannya terangkat memegang kepalanya yang masih terasa berat.
"Aduh, tan... kepala gue pusing banget," gumam Karina, berusaha duduk tegak. Melihat Karina siuman, Intan langsung memeluk sahabatnya erat-erat. "Rin! Maafin gue ya, gue emosi banget tadi sampai lupa mikirin keadaan lo," ucap Intan penuh penyesalan.
Karina tersenyum lemah, berusaha melepaskan pelukan Intan. "Udah, gapapa tan. Gue ngerti kok, lo cuma mau belain gue. Tapi udah cukup ya, tan. Gue gak mau keliatan lemah lagi di depan Ricky," ucap Karina, nadanya memohon. Intan mengangguk, walaupun hatinya masih penuh amarah pada Ricky.
"Yaudah deh, gue nurut sama lo. Tapi kalo lo mau balas dendam, gue bisa kok ikut berpartisipasi," ujar Intan, mencoba mencairkan suasana dengan senyum penuh arti. Karina hanya menggeleng, tapi senyum kecil muncul di wajahnya.
"Enggak tan, cukup. Gue cuma mau move on."
...****************...
Di kediaman Karina, ibu Mira tampak sibuk menyiapkan banyak makanan di meja makan. Pemandangan ini jarang sekali terlihat, membuat Karina yang baru pulang dari sekolah terheran-heran.
"Tumben nih banyak makanan, ada acara apa, Bu?" tanya Karina sambil mengambil salah satu kue dari meja makan. Namun, dengan sigap, ibunya langsung merebut kue itu dari tangannya.
"Jangan dimakan dulu!" ujar Bu Mira tegas. "Kenapa nggak boleh, sih, Bu? Karina lapar banget, baru pulang sekolah ini," keluh Karina sambil memandang ibunya dengan tatapan kecewa.
Ibu Mira tersenyum sambil terus menata makanan dengan hati-hati. "Sekarang kamu mandi dulu, terus dandan yang cantik. Hari ini ada tamu spesial," jawab ibunya, nada suaranya penuh antusias.
"Tamu spesial? Martabak spesial kali, Bu," jawab Karina kesal, sambil berbalik menuju kamarnya. Meski penasaran, Karina memutuskan untuk mengikuti permintaan ibunya.
Setelah mandi, Karina mulai berdandan. Ia menata rambut panjangnya dengan rapi, meski pikirannya masih bertanya-tanya siapa tamu yang dimaksud. Dari luar kamar, terdengar suara ibunya yang memanggil, "Karina, sudah belum dandannya? Sini bantu ibu, sebentar lagi tamunya datang."
"Bentar, Bu! Lima menit lagi," jawab Karina sambil merapikan sentuhan terakhir di rambutnya. Rasa penasaran mulai merayapi pikirannya—siapa tamu spesial yang membuat ibunya begitu bersemangat? Setelah selesai berdandan, Karina turun ke lantai bawah dengan gaun merah muda yang melengkapi kulit putihnya, serta rambut hitam ikalnya yang alami, membuatnya tampak anggun dan cantik.
"Nah, bagus gini dandannya. Anak ibu cantik banget," puji Bu Mira sambil memandang Karina dengan bangga. Karina sedikit merasa canggung dengan penampilannya yang mencolok. "Aduh, Bu, apa nggak berlebihan dandan begini? Kayak mau ke pesta aja," keluh Karina.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
spiderwomen
dih ricky🤨
2024-07-27
0