Bab 7: Momen Romantis di Mall
"Ini gila," gumam Andrian pada dirinya sendiri. Jantungnya berdegup kencang saat dia berhasil sembunyi.
Sekretarisnya yang kini menjadi menyita pikirannya. Dia tahu Melinda, istrinya, akan memergokinya jika dia tidak hati-hati. Melinda adalah wanita yang cerdas dan penuh insting, di sisi lain, Kirana adalah sosok yang menggoda dengan senyum yang menawan, mengingatkan Andrian tentang semua yang telah hilang dalam hidupnya.
Andrian melangkah keluar, berusaha mengabaikan rasa bersalah yang menggerogoti hatinya.
Hari ini, mereka berdua berada di mall.
Kirana mengenakan dress ketat yang menempel sempurna di tubuhnya. Dengan rambut panjang yang tergerai dan senyum manis yang menghiasi wajahnya, ia tampak mempesona. Andrian merasakan detak jantungnya berdebar lebih cepat. Dia berusaha fokus pada tugasnya, tetapi kehadiran Kirana membuat semua perhatian tertuju padanya.
"Siap untuk pergi?" tanya Kirana, suaranya manja membuat pipi Andrian sedikit bersemu.
"Ya. Ayo kita pergi," balas Andrian, mencoba menyembunyikan ketegangannya.
Saat mereka berjalan di dalam mall, Andrian merasakan atmosfer semakin romantis. Kirana berjalan di sampingnya, tertawa riang saat bercerita tentang hal-hal lucu di kantor. Setiap tawa dan tatapannya membuat Andrian merasakan magnet yang menariknya semakin dekat dengan Kirana.
Mereka memasuki toko pakaian dan Kirana menunjukkan beberapa pakaian yang mungkin cocok untuk Andrian.
"Kamu harus mencoba ini," katanya sambil menunjukkan sebuah kemeja biru yang terlihat pas di Andrian.
Andrian tersenyum, dan saat ia mencoba kemeja itu, Kirana memujinya dengan suara lembut.
"Kamu terlihat sangat tampan, Andrian. Warna itu cocok sekali denganmu," godanya.
Andrian merasakan suasana hatinya semakin hangat. Tidak ada yang bisa membuatnya merasa seharum dan sepenuh ini.
Mereka melanjutkan berjalan, mencicipi makanan ringan dan saling melempar candaan. Dalam satu momen, Andrian menatap Kirana yang sedang menikmati es krim, dan ia merasa ingin menggenggam tangannya. Tanpa berpikir panjang, Andrian mencapai tangannya dan menyentuh lembut telapak tangan Kirana.
Kirana terkejut, tetapi senyumnya tak pudar. "Andrian…" panggilnya sembari menatap matanya. "Apa ini kamu menyetujui ucapan ku kemarin?"
Andrian merasakan getaran di hatinya. Dia tahu, ini adalah peluang emas untuk membuka hati. "Kirana, aku… aku merasa sangat nyaman dan bahagia bersamamu. Ternyata aku mempunyai perasaan yang lebih dari sekedar rekan kerja."
Dengan tatapan penuh kebahagiaan, Kirana membalasnya, "akhirnya kamu menyadari itu."
Mereka berdua berpandangan, merasakan aura magis di sekitar mereka. Andrian menggenggam tangan Kirana erat, dan mereka melanjutkan perjalanan sambil tertawa dan berkencan. Malam itu, dia merasa bahwa ini adalah permulaan dari sesuatu yang indah—sebuah romansa yang penuh dengan kejutan dan cinta.
Kirana menggoda Andrian dengan senyumnya yang menawan, sementara Andrian merasakan cinta tumbuh dalam hatinya. Dalam keramaian mall, di tengah hiruk-pikuk kehidupan urban, momen romantis mereka bersinar dengan kehangatan yang tak tertandingi.
"Apa yang ingin kamu lakukan malam ini?" tanya Kirana, suaranya sangat ceria.
Andrian mencoba mengalihkan perhatiannya dari pikiran tentang Melinda yang sedang di rumah, menunggu suaminya pulang.
"Bagaimana kalau kita makan dulu? Lalu kita bisa pergi nonton film?" jawab Andrian, suaranya terdengar lebih percaya diri dari yang ia rasakan.
"Ide yang bagus." Kirana menggandeng tangan Andrian, kebahagiaan terpancar dari wajahnya.
Andrian merasa guilty pleasure memenangi pertempuran dalam dirinya. Beberapa saat kemudian, mereka duduk di sebuah restoran mewah, suasana intim yang mendukung siapa pun untuk membagikan rahasia terdalam mereka.
Waktu berlalu dengan cepat, tawa dan cerita mengalir dengan bebas, seolah-olah mereka telah mengenal satu sama lain seumur hidup. Kirana dengan cerdas mengetahui cara menghidupkan suasana, membuat Andrian lupa akan realitas yang menunggunya di luar sana.
Saat makan malam hampir usai, Andrian memberi Kirana tatapan penuh arti. "Kirana, aku…," dia terdiam sejenak, mencari-cari obrolan yang tepat.
Namun, sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Melinda.
"Hai, sayang. Kamu lagi dimana?" pesan itu terasa seperti cambukan keras yang menampar semua keberanian Andrian.
Seolah-olah dunia runtuh seketika.
Andrian menatap Kirana dengan bingung, merasakan ketegangan yang bersarang di antara mereka. Kirana, dengan mata yang penuh rasa ingin tahu, mengangkat alisnya.
"Ada apa? Semua baik-baik saja, kan?"
"Ya, semuanya baik-baik saja," Andrian menjawab, meskipun dia tahu sebaliknya. Dalam hatinya, dia menyadari bahwa pertemuan dengan Kirana adalah terbentang nya dua jalan, satu menuju kebahagiaan dan cinta yang dia inginkan, dan satu lagi menuju kesedihan dan pengkhianatan.
"Kalau begitu, mari kita lanjutkan makan malam ini," Kirana bersinar, tidak menyadari rasa bersalah yang mendalam melanda Andrian.
Keduanya tersenyum, tetapi di balik senyuman itu, ada bayang-bayang dari pilihan yang harus segera dihadapi.
Andrian mencengkeram gelasnya lebih erat, mengingatkan dirinya untuk tidak terjebak lebih jauh. Tetapi saat ini, satu hal yang pasti, rasa cinta tak terduga ini semakin kuat, menantang komitmen yang sudah terjalin dalam pernikahannya. Dia tidak bisa terus bersembunyi, suatu hari, semua rahasia ini akan terkuak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments