Melinda merasakan gelombang kecemasan menyelimuti hatinya. Ia mendapatkan kabar dari Anita, sahabatnya. Bahwa suaminya, Andrian, tidur bersama di sebuah kamar hotel dengan sekretarisnya, Kirana. Meski dia tidak memiliki bukti konkret, perasaan curiga telah menggerogoti pikirannya selama beberapa minggu terakhir.
Melinda berusaha menenangkan diri sambil mengemudikan mobilnya menuju tempat yang dicurigai. Sepanjang perjalanan, bayangan Andrian dan Kirana bercengkerama bersama dalam suasana intim terus terbayang di benaknya. Rasa sakit itu seperti jarum yang menusuk-nusuk hatinya.
"Tidak, Mas Andrian tidak mungkin melakukan ini…" gumam Melinda pada diri sendiri, meskipun hatinya meragukan.
Setelah parkir di depan hotel, Melinda melangkah dengan hati-hati ke dalam gedung. Napasnya terasa berat seolah beban di dadanya semakin bertambah. Ia merasa seolah semua orang di sekitarnya menatapnya, memahami kesedihannya. Melinda berusaha menyusuri lorong menuju lift, menekan tombol lantai yang dituju dengan tangan yang sedikit bergetar.
Ketika pintu lift terbuka di lantai yang dituju, Melinda melangkah keluar dan berjalan perlahan menuju kamar yang tertulis di dalam berita yang diterimanya. Suara detakan jantungnya semakin keras saat semakin mendekat. Dia merapatkan bibirnya, berusaha tidak letih menghadapi kenyataan yang mungkin akan dia temui.
Di depan pintu kamar, tangannya kembali bergetar. Melinda menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu. Tak ada jawaban. Dia mendengar suara tawa dari dalam kamar, suara yang sangat familiar. Tawa itu adalah tawa Andrian. Rasa cemasnya berubah menjadi campuran kemarahan dan sakit hati. Dia mendorong pintu perlahan.
Pintu itu terbuka sedikit, dan saat itu juga, Melinda melihat pemandangan yang mencengangkan. Andrian dan Kirana, terperangkap di dalam momen yang paling tidak diinginkan Melinda.
Mereka tengah bercengkerama di atas tempat tidur, tertawa dan saling menggoda seperti dua orang yang sedang jatuh cinta, tanpa mengetahui bahwa Melinda sedang menyaksikan itu semua. Melinda merasa dunia seakan runtuh.
Dia memejamkan mata sejenak, berusaha menahan air mata yang menyakiti, namun tak bisa dibendung lagi. Dengan gejolak emosi yang tak tertahankan, dia mendorong pintu dengan keras, membuka jalan untuk kebenaran yang pahit.
"Jadi ini yang kamu lakukan, Mas?" suaranya bergetar, menciptakan keheningan yang mencekam dalam ruangan. Andrian dan Kirana menoleh ke arahnya, wajah mereka berubah pucat seketika. Kirana mencoba merapikan pakaiannya, sementara Andrian tampak kebingungan dan takut.
"Mas… ternyata… kamu selama ini…" Melinda melanjutkan, suaranya dekat dengan teriakan. "Kamu sama sekali tidak menghormati, pernikahan kita!"
Andrian berdiri, wajahnya kelihatan bingung antara bersalah dan defensif. "Melinda, ini bukan yang kamu pikirkan… Aku bisa menjelaskan."
"Menjelaskan apa?" Melinda menyengir sinis, "Menjelaskan bahwa kamu memilih untuk berkhianat? Menjelaskan semua waktu yang kita habiskan, semua janji yang telah kita buat?!"
Suasana semakin panas saat Melinda melangkah lebih dekat, menatap tajam ke arah Kirana. "Kamu…" dia menggertakkan gigi, "Kamu sudah berani mengganggu hidupku!"
Melinda merasa marah dan hancur, tapi ada satu hal yang dia sadari, dia tidak akan membiarkan ini menghancurkannya. Dia berbalik dan pergi tanpa menunggu jawaban dari Andrian, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan dan rasa bersalah yang tak terkatakan. Dalam hati, Melinda berjanji untuk mengambil kendali atas hidupnya dan berjuang demi kebahagiaannya sendiri.
Di luar hotel, udara terasa lebih segar. Meskipun hatinya hancur, Melinda tahu dia harus maju. Perceraian mungkin menjadi pilihan, tetapi untuk saat ini, dia hanya ingin menemukan kembali jati diri dan kebahagiaan yang telah lama hilang. Dengan itu, Melinda menapaki jalan yang penuh harapan, menjauh dari bayang-bayang masa lalu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments